MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 34 Menjadi Ratuku


__ADS_3

"Danilo apa yang ingin kau bicarakan?"


"Tuan, di dalam tubuh tuan sudah terdapat darah suci, kita bisa pulang ke planet asal kita, ditambah dengan kekuatan Vela kita bisa melakukannya tuan."


Renan menatap Danilo tajam. "Aku tidak mau pulang Danilo."


"Tapi tuan--"


"Aku bilang, saat ini aku tidak ingin pulang!"


Danilo hanya bisa pasrah atas keputusan Renan, sekali tuannya mengatakan tidak tetap sampai kapan pun akan tidak, jika tuannya sudah mengatakan iya maka sampai kapan pun akan tetap iya. Percakapan terhenti ketika Vela membuka pintu ruangan yang telah dari toilet. Vela mengernyit nampaknya telah terjadi percakapan yang serius antara Renan dan Danilo.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kita akan pulang ke planet kita?"


Danilo terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Vela, insting Vela sangat kuat tetapi Renan tetap dengan wajah datarnya tanpa mau menjawab pertanyaan Vela.


"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?"


"Vela, sebaiknya kau cepat kerjakan pekerjaanmu, jangan membuatku menunggu!"


"Baiklah-baiklah akan aku kerjakan."


Beberapa menit setelah Vela duduk di kursi kerjanya, Aruna kembali ke ruangan, ia berusaha menampilkan wajah tenang setelah kejadian di dalam toilet tadi. Tetapi Renan dengan jelas dapat melihat kegelisahan dalam benak Aruna, ia ingin bertanya namun gengsinya yang setinggi monas mengurungkannya untuk bertanya. Akhirnya Danilo yang mewakili pertanyaannya.


"Ada apa Aruna? Apa terjadi sesuatu?"


Aruna menatap Vela sekilas, lalu kembali menatap Danilo yang ada di hadapannya. "Tidak ada apa-apa semuanya baik-baik saja."


Aruba berjalan mendekati Vela, langkah kakinya menuju meja kerjanya rasanya teramat berat, ia takut Vela akan melakukan hal yang nekad.


"Aku pikir kau tidak akan berani masuk ke ruangan ini, ternyata nyalimu besar juga," ucap Vela setengah berbisik ketika Aruna sampai di meja kerjanya hendak duduk di kursi.


"Di sini aku bekerja jadi aku harus bertanggung jawab atas tugas-tugasku."


"Kau tidak sayang dengan nyawamu? Yang ada di ruangan ini bukan manusia semua, Kau bisa saja mati sia-sia sekarang juga."


Jantung Aruna berdebar kencang ketika Vela mengancamnya, ia hanya manusia biasa yang ingin bekerja dan menghasilkan uang kenapa harus menjadi rumit diantara manusia-manusia setengah binatang?


"Tolong jangan ganggu aku, aku di sini hanya untuk bekerja aku tidak ingin terlibat lagi diantara kalian."


"Oke, bagus kalau gitu!" ujar Vela dengan tersenyum simpul.


Mentari sudah bersembunyi dibalik langit-langit, Aruna bergegas keluar dari kantor perusahaan tekno intel, di seberang jalan sudah ada Pedri yang menunggunya. Renan hanya bisa memandangi Aruna dari kejauhan menghampiri Pedri dan lalu tersenyum hangat padanya, tanpa terasa tangannya terkepal kuat hingga jari-jari kukunya memutih.


"Kenapa kau tidak suka melihat Aruna dengan pria lain?" ejek Vela.

__ADS_1


"Diam kau--"


"Mulai sekarang kau harus menerima takdirmu Renan, takdirmu bersamaku bukan bersama manusia bumi."


"Selama jantungku masih berdetak, aku akan berusaha merubah takdirku."


"Kita lihat siapa yang akan menang? kegigihanmu, atau kau yang akan mengalah dengan takdirmu."


"Berhenti mengoceh Vela!"


Aruna pergi bersama dengan Pedri, tetapi dari belakang mobil mereka terlihat Gloria mengikutinya. Seketika bibir Renan tersungging ke atas pikirnya Pedri tidak akan mudah mendekati Aruna karena Gloria.


"Aku akan mengajakmu makan ke suatu tempat."


"Apa boleh kali ini aku yang menentukan tempatnya?"


Pedri terdiam tidak biasanya Aruna meminta sesuatu padanya membuat Pedri tersenyum samar, itu artinya Aruna sudah tidak lagi merasa sungkan terhadapnya.


"Tentu saja boleh, apa pun itu selagi aku bisa mengantarmu, akan aku antar hingga ke ujung dunia sekali pun."


"Kau ini sangat berlebihan, aku hanya ingin makan di suatu tempat, yang sesuai dengan lidahku," ujar Aruna seraya tersenyum menampilkan deretan gigi-giginya.


Aruna menyuruh Pedri menghentikan mobilnya di dekat alun-alun, ia mengajak Pedri makan di kedai pinggir jalan.


"Kita makan di sini?"


"Aku suka makan di tempat ini, aku pikir kau tidak menyukai tempat seperti ini."


"Aku sering makan di pinggir jalan Pedri, menyesuaikan isi kantong," ucap Aruna dengan terkekeh.


Aruna memesankan makanan untuk dirinya dan juga Pedri, duduk lesehan dengan atapnya langit-langit yang ditaburi bintang-bintang.


"Kapan kau terakhir makan di sini?"


"Minggu lalu."


"Oh, ya?"


Seketika Aruna mengangguk sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Tempat makan ini, penuh kenangan antara aku dan kedua orang tuaku, ketika Mama masih hidup aku sering makan di sini jika malam Minggu."


"Kebetulan sekali malam ini malam Minggu, jadi kau tidak usah merasa sedih ada aku yang akan selalu menemanimu makan di sini," ujar Pedri seraya menggenggam tangan Aruna, membuat Aruna mematung.


Aruna melepaskan tangan Pedri yang menggenggam tangannya, ia berpura-pura menyelipkan rambutnya yang menjuntai ke depan.


"Ayo di makan, ini rasanya enak sekali," ujar Aruna dengan tersenyum kaku.

__ADS_1


Saat mereka asik makan, tiba-tiba saja Gloria datang dan langsung duduk di samping Pedri.


"Hai, kebetulan sekali kita bertemu di sini."


Tanpa persetujuan Aruna dan Pedri, Gloria memesan makanan tanpa sungkan.


"Sejak kapan kau makan di tempat seperti ini Glori?" tanya Pedri yang lebih kepada menyindir.


Gloria menggigit bibir bagian bawahnya, ternyata Pedri masih ingat jika dirinya tidak pernah suka makan di pinggir jalan.


"S-sejak kemarin-kemarin, Aruna sering mengajakku makan di tempat ini dan rasanya sangat enak, makanya aku datang lagi ke sini."


Aruna menatap Gloria seraya menaikkan kedua alis matanya, ia tidak pernah sekalipun mengajak Gloria makan di sana. Pernah sewaktu-waktu Aruna mengajaknya makan, namun Gloria selalu menolaknya, katanya makan di pinggir di jalan bukan seleranya, makan di pinggir jalan kotor dan tidak higenis. Apa sekarang Gloria berubah pikiran?


Aruna dan Pedri makan dengan begitu lahapnya, hingga ia menjilat jari-jarinya dengan nikmat, berbeda dengan Gloria yang merasa tersiksa, ia hanya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sebesar bulatan kelereng.


"Glori kenapa makananmu masih utuh? Ayo di makan ini sangat enak," ujar Pedri.


Gloria tersenyum kikuk, ia tidak bisa memaksakan makan di sana, jika dipaksa mungkin saja ia akan muntah di situ juga.


"Tiba-tiba saja perutku merasa kenyang, setelah melihat kalian makan."


"Kau ini hanya bisa membuang-buang makanan."


Pedri mengambil makanan Gloria dan memakannya, membuat Gloria menelan ludahnya dengan susah payah, tidak bisa dipungkiri perutnya sangat lapar, karena sepulang kantor adalah waktunya untuk makan, tapi kali ini ia hanya bisa melihat Pedri makan dengan sangat nikmat sedangkan dirinya hanya bisa ternganga dengan suara keroncongan dari dalam perutnya.


"Semuanya berapa manga?" tanya Pedri.


"Semuanya seratus tiga lima ribu."


Pedri memberikan uang dua lembar berwarna merah kepada pedagang tersebut.


"Kembaliannya ambil aja mang."


"Udah makanannya enak harganya murah lagi."


"Itulah alasannya kenapa aku suka makan di sini."


Gloria hanya mendengarkan obrolan Aruna dan Pedri, perutnya yang meminta ingin segera diisi akhirnya ia memutuskan meninggalkan Aruna dan Pedri, ia beralasan akan bertemu dengan teman lama di sebuah restoran. Ketika Aruna hendak membuka pintu mobil, Pedri menarik tangannya dan membawanya duduk di kursi besi yang ada di pinggir jalan.


"Kenapa kau mengajakku ke sini? Ini sudah malam kita harus segera pulang."


"Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu Aruna."


Aruna mengerutkan keningnya menunggu kalimat penting yang akan Pedri katakan.

__ADS_1


"Aku ingin hubungan kita lebih dari seorang teman, aku ingin menjadikanmu ratuku dalam kehidupanku."


Aruna membeku seketika daun-daun yang sedang bergoyang akibat angin menjadi berhenti bergerak, laju-laju mobil yang kencang pun ikut berhenti.


__ADS_2