
Di dalam ruangan yang bernuansa gold Aruna tengah menatap sepasang manusia dari planet yang berbeda dengannya sedang bercumbu mesra, kesal pasti, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kenapa harus aku yang melihat semua itu," gumam Aruna.
Aruna terus berpura-pura tidak melihat apa yang sedang Renan dan Vela lakukan, tapi untuk terus berpura-pura
harus sampai kapan, akhirnya Aruna memutuskan untuk pergi dari dalam ruangan dengan hati yang begitu terasa panas.
"Hey, pekerjaan sedang banyak, kau mau kemana Aruna?" tanya Renan.
"Di sini gerah, saya permisi keluar sebentar ambil minuman dingin Pak," jawab Aruna.
Vela yang duduk dipangkuan Renan menatap Aruna dengan kening mengkerut merasa aneh atas jawaban Aruna, ruangan sudah memakai pendingin kenapa dia merasa kepanasan?
"Apanya yang gerah? Aku tidak merasa kepanasan," sahut Vela.
"Sudahlah biarkan saja dia keluar mungkin dia memang kepanasan."
Mendengar ucapan Renan yang sepertinya sangat setuju dirinya untuk segera keluar ruangan, Aruna berjalan
cepat meninggalkan ruangan yang terasa panas bagi dirinya. Sesampainya di pantry Aruna segera membuka kulkas dan mengambil minuman dingin meneguknya hingga tandas.
Aruna mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya. "Kenapa masih terasa panas?"
Aruna duduk melamun di dalam pantry, tiba-tiba saja Zora masuk ke dalam sana.
"Aruna ngapain duduk di situ? Emang nggak ada kerjaan jadi sekertaris Pak Renan?"
"A-ada banyak malah."
"Terus ngapain duduk di sini?"
"Aku haus, makanya aku ada di sini Zora."
"Aku dengar di dalam ruangan, Pak Renan ada pacarnya, ya?"
Aruna mengangguk lemah. "Ada."
Seketika Zora tersenyum mengejek. "Aku tau kenapa kau ada di sini, pasti karena merasa iri, kan?"
"Enak saja kalau ngomong, nggak kok!" elak Aruna.
"Udahlah ngaku aja nggak usah pura-pura."
"Bisa diem nggak--"
Akhirnya tawa Zora pecah mengisi pantry, ia sangat menikmati wajah Aruna yang seketika berubah menjadi merah padam.
"Jadi sekarang kau sudah mulai suka Pak Renan, nih ceritanya."
Aruna membisu, ia tidak bisa lagi mengelak ucapan Zora.
"Nyeselkan sekarang Pak Renan udah punya pacar? Makanya jangan sok-sokan nolak, direbut cewek lain baru kelabakan."
"Ih, apaan sih!"
"Ya udah, deh selamat menikmati hati yang panas, hehehe."
Zora pergi meninggalkan Aruna sambil tertawa puas.
"Zora awas kau, ya!"
__ADS_1
Aruna tidak terima Zora pergi meninggalkannya dengan menertawakannya.
"Oh, ya ampun aku ini kenapa, sih? Aku tidak seharusnya merasa seperti ini, aku harus bersikap biasa saja."
Akhirnya Aruna memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan, saat masuk ke dalam ruangan ternyata di dalam tidak ada siapa-siapa.
"Kemana mereka?"
Aruna berpikir mungkin Renan dan Vela pergi ke suatu tempat, tapi di dalam kamar pribadi yang terdapat di dalam
ruangan Renan, ia mendengar suara sesuatu.
"Suara apa itu?" gumam Aruna.
Aruna berjalan mendekati pintu kamar pribadi Renan, menempelkan telinganya di pintu agar dengan jelas bisa mendengar suara apa yang ada di dalam kamar, dan ternyata suara ******* wanita.
"Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Aku harus apa? Apa aku kembali ke luar? Atau aku buka pintunya?"
Aruna mondar-mandir di depan pintu dengan wajah yang bingung, ia tidak tau harus melakukan apa?
"Mereka tidak seharusnya melakukan itu--"
Akhirnya Aruna memutuskan untuk mengetuk pintunya.
Tok.. tok.. tok...
Sekian menit Aruna menunggu di depan pintu, tapi pintu belum juga terbuka.
"Kenapa lama sekali."
Saat Aruna melihat gagang pintu bergerak, dia sedikit menjauh dari pintu, orang yang membukanya adalah pria
"Ada apa?" tanya Renan malas.
Aruna membeku di tempat, dia belum menyiapkan alasan untuk Renan, tapi otaknya saat ini sedang berpikir keras.
"A-ada berkah yang harus ditandatangani, i-iya benar berkas Pak--"
Renan menghembuskan napas kasar. "Bawa ke meja saya."
Aruna bergegas mengambil berkas di atas mejanya. Membawanya kepada Renan yang sudah duduk di kursi.
"Ini Pak," ucap Aruna seraya memberikan berkas kepada Renan.
Dengan cepat Renan menandatangi berkasnya, hati Aruna sedikit berdebar dia takut jika Renan akan memarahinya
karena telah mengganggunya. Tapi dengan wajah datar Renan mengembalikan berkasnya kepada Aruna.
"Apa ada lagi?"
"T-tidak ada Pak."
Setelah mendapat tanda tangan Renan, baru saja Aruna hendak kembali ke meja kerjanya, tapi suara Vela yang baru saja keluar dari dalam kamar mengurungkan niatnya.
"Sayang aku harus pulang," ucap Vela.
"Aku akan menyuruh Danilo untuk mengantarkanmu pulang."
"Tidak usah aku bisa pulang sendiri, ada anak buahku yang akan menjemputku pulang."
"Baiklah hati-hati di jalan."
__ADS_1
"Aku akan meneleponmu jika sudah sampai," pamit Vela seraya mencium pipi Renan sekilas, reflek membuat Aruna memalingkan wajahnya.
Hening menyelimuti ruangan itu setelah kepulangan Vela. Aruna kembali ke meja kerjanya dengan perasaan yang
aneh. sedangkan Renan kembali bekerja menatap layar komputer yang ada di hadapannya.
"Aku harus melupakan perasaanku ini!" ucap Aruna dalam hati.
Tiba-tiba saja Renan melihat ke arah Aruna, ia berpikir Aruna sedang berbicara tapi ternyata tidak.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
Aruna menaikkan kedua alis matanya. "Tidak."
Renan kembali menatap layar komputernya, sedangkan Aruna kembali dilanda kegelisahan.
"Ya, benar aku harus melupakannya," ucapnya lagi dalam hati.
Kembali Renan mendengar Aruna berbicara, membuat ia kembali menatapnya, penuh tanya.
"Kau bicara apa tadi coba ulangi lagi."
Aruna langsung menggelengkan kepalanya. Membuat Renan semakin dibuat bingung. Ia mendengar suara Aruna tanpa harus Aruna berbicara.
"Apa dia mendengar apa yang ada dalam hatiku?"
"Aruna stop jangan bicara lagi, aku pusing."
Aruna terjengkat kaget karena Renan tiba-tiba berteriak padanya, membuat ia menjatuhkan gelas yang ada di atas
meja.
Prang
"Maafkan aku," ucap Aruna seraya menunduk.
Aruna tidak menyadari jika pecahan gelas yang jatuh terkena kakinya, saat ia hendak berjalan ia baru menyadari
jika kakinya berdarah.
"Aaawwwhh," erang Aruna.
Aruna berjalan mengambil kotak obat yang ada di dalam lemari, dan darah yang mengucur di kakinya berserakan di
lantai. Renan merasa ada yang aneh dengan penciumannya, ia mencium sesuatu yang tidak biasa di indera penciumannya.
"Bau apa ini?"
Aruna duduk di sofa, mencabut beling yang menancap di kakinya. Meskipun ia tidak berani, tapi ia terpaksa melakukannya agar kakinya tidak semakin mengeluarkan banyak darah. Renan yang mencium aroma aneh di hidungnya, ia mengikuti jejak darah Aruna yang tercecer di lantai, dan berjongkok di hadapan Aruna memperhatikan kaki Aruna.
"Aruna bau apa ini?"
Aruna mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Apa kau mencium bau sesuatu yang aneh?"
"Tidak."
Renan semakin mendekatkan dirinya, rasanya ia ingin memakan darah itu, dorongan di dalam dirinya semakin kuat, hingga ia mengangkat kaki Aruna ke dalam pangkuannya meresapi bau khas darah suci Aruna.
"Jangan lakukan itu, lepaskan kakiku!"
__ADS_1