MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
27 Lingkaran


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang lagi Aruna memutuskan untuk keluar dari perusahaan Renan, pada hal ia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Namun karena ia tidak mau mengambil resiko akan keselamatannya, Aruna benar-benar memantapkan hatinya untuk segera angkat kaki dari perusahaan tekno intel. Tapi ada seseorang yang sangat menentang atas keputusan yang telah Aruna buat. tangannya terkepal kuat hingga jari kukunya memutih.


"Aku tidak bisa memecatmu tanpa alasan Aruna," ucap Renan penuh dengan penekanan.


"Kenapa? Bukankah setiap orang berhak untuk keluar dari perusahaan dengan alasan pribadi," sanggah Aruna.


"Tapi tidak dengan perusahaanku! Kau bisa saja keluar dari perusahaan ini, tapi kau harus ingat surat yang telah kau tanda tangani, apa kau tidak membacanya?"


Aruna mengernyit heran. "Hanya kontrak kerja kan?"


Renan tersenyum sumbing. "Danilo, bawa ke sini surat kontrak yang telah dia tandatangani."


Tanpa menunggu instruksi selanjutnya, Danilo segera bergegas pergi mengambil surat kontrak yang telah Aruna tanda tangani.


"Silahkan dibaca!" titah Danilo seraya memberikan surat kontrak kepada Aruna.


Aruna membaca dengan seksama surat kontrak yang telah ia tanda tangani, seketika matanya membola sempurna melihat nominal angka yang tertera di kertas tersebut.


"Apa? Lima milyar?"


Renan mengangguk yakin, karena memang isi surat kontrak tersebut jika Aruna keluar dari perusahaan atas kemauannya sendiri maka ia harus membayar denda sebesar lima milyar.


"Bagaimana? Apa sekarang kau masih bersikeras ingin keluar dari perusahaan ini?"


Aruna membatu, dalam hati ia mulai menghitung sisa uang yang ada di tabungannya, dan ternyata sama sekali tidak mencukupinya bahkan setengahnya pun, tidak.


"Jadi sekarang sudah jelaskan, Aruna Isvara? Silahkan kembali ke meja kerja Anda, karena banyak pekerjaan yang menunggumu."


"Tapi--"


Aruna tidak bisa melakukan apa pun, selain menuruti kemauan Renan. Ia kembali ke meja kerjanya dengan perasaan kacau, niat hati ingin menjauh dari Renan tapi tidak bisa. Vela menatap kepergian Aruna dengan tatapan yang susah diartikan, ia tidak memikirkan ke arah sana, jika begitu mungkin Vela terlebih dulu akan menyiapkan uang untuk Aruna membayar denda.


"Sialan." gumam Vela.


Aruna bekerja seperti biasanya, sekejap ia melupakan misinya untuk menjauh dari Renan, tapi ia kembali teringat kala itu ketika dirinya bertemu dengan Vela di dalam toilet, Vela dengan kasarnya mendorong tubuh Aruna.


"Kau harus ingat, jauhi Renan, aku akan menyiapkan uang untukmu, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, mau bagaimana pun, kalian dilahirkan tidak untuk hidup bersama."


"A-aku mengerti," jawab Aruna gugup.


Setelah kembali dari toilet Aruna kembali bersikap tidak acuh terhadap Renan. Ia akan berbicara dengannya ketika memang ada sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


"Ini berkas yang harus ditandatangani."


Renan menatap Aruna sekilas lalu ia kembali menatap kepada berkas yang harus ditandatanganinya. Ketika Renan menandatangani berkas ia begitu terlihat mempesona, wibawa dan kharismanya tidak bisa disembunyikan Renan benar-benar membuat Aruna kembali menatapnya tanpa berkedip tanpa ia sadari.


"Apa ada lagi?" tanya Renan.


"Aruna apa ada lagi?" tanya Renan lagi yang akhirnya membuat Aruna kembali tersadar dari lamunannya.


"T-tidak ada Pak."


"Dasar bodoh, kenapa kau masih menatapnya, ingat Aruna dia itu bukan manusia jangan sampai kau terjebak lagi dengan pesonanya," batin Aruna, yang otomatis Renan dapat mendengarnya, Renan hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum simpul.


Di suatu tempat, wanita dengan postur tubuh tinggi sedang menyusun rencana untuk mengeluarkan Aruna dari perusahaan tekno intel.


"Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang lima milyar?" tanya Vela kepada pesuruhnya.


"Manusia di bumi bisa mendapatkan uang, dengan cara bekerja nona."


"Kau menyuruhku bekerja," tunjuk Vela pada dirinya sendiri.


"Iya nona."


Vela memang mendapatkan bayaran ketika dirinya menjadi model di perusahaan tekno intel, tapi uang yang ia dapatkan sudah habis tanpa tersisa, ia membeli seluruh kebutuhannya di bumi tanpa terkecuali.


Keinginan Vela tidak semudah membalikkan telapak tangan, Renan tidak menerima Vela untuk bekerja di sana. Karena alasan pribadi dan juga karena alasan kantor yang memang sedang tidak membutuhkan pekerja baru.


"Renan aku mohon terima aku bekerja di sini, aku sudah tidak punya uang lagi, jika aku bekerja di sini aku akan mendapatkan uang," mohon Vela.


"Tapi saat ini perusahaan sedang tidak merekrut pegawai baru Vela, kau harus mengerti."


"Renan aku mohon, apa kau tega membiarkan aku menjadi gelandangan di jalan."


"Sebaiknya kau pulang ke planet kita, di sini bukan tempatmu."


"Renan aku mohon jangan usir aku dari bumi, aku akan pulang jika bersamamu."


Renan menghembuskan napas kasar. "Baiklah, akan aku pikirkan."


"Makasih Renan," Vela menghambur memeluk Renan dengan senyum terus terukir di bibirnya yang berwarna merah.


Aruna yang baru saja masuk, seketika ia mematung di daun pintu, ia ragu untuk meneruskan langkah kakinya, entah mengapa tubuhnya terasa mendingin melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kau harus bisa Aruna, lupakan semua tentang Renan," gumam Aruna.


Dengan langkah perlahan akhirnya Aruna memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Renan. Langkahnya begitu terasa berat seakan ia membawa beban yang sangat berat.


"Aruna," panggil Renan.


"Iya Pak."


"Tolong siapkan meja dan kursi baru, karena Vela akan bekerja di sini."


"B-baik Pak."


Aruna berpikir mungkin Vela orang yang spesial yang bisa masuk ke perusahaan dengan sangat mudah. Berbeda dengan dirinya yang membutuhkan waktu agar bisa bekerja di sana. Aruna segera memesan meja dan kursi toko furniture langganan perusahaan tekno intel yang sering memasok meja dan kursi ke sana. Tak selang berapa lama meja dan kursi pesanan tiba di kantor. Aruna bergegas turun ke bawah untuk memastikan terlebih dahulu apakah pesanan meja dan kursinya sesuai dengan pesanannya.


"Saya akan turun untuk mengeceknya."


Aruna turun ke lantai dasar, untuk melihat meja dan kursi pesanannya. Ia segera menyuruh tukang untuk membawanya ke lantai atas. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Zora di dalam lift.


"Itu meja kursi buat siapa?" tanya Zora.


"Ada karyawan baru."


"Kok, aku nggak tau, ada karyawan baru masuk kantor."


"Ini lewat jalur spesial, jelas kau tidak akan pernah tau."


"Maksudnya?"


"Udah, ya aku duluan!"


Aruna pergi meninggalkan Zora begitu saja, tanpa peduli Zora yang meminta penjelasan.


"Itu anak kebiasaan bikin orang penasaran."


Meja dan kursi yang baru kini sejajar dengan meja milik Aruna, Aruna tidak tau jabatan apa yang diberikan Renan kepada Vela. Tapi mengapa meja dan kursinya ada di dekat mejanya?


"Pak, apa saya sekarang bisa kembali bekerja? Meja dan kursi sudah terpasang rapi."


Renan yang sedang sibuk melihat berkas-berkas yang ada di mejanya, ia baru menyadari jika meja dan kursi untuk Vela sudah terpasang rapi.


"Aruna bantu Vela, mengerjakan pekerjaannya, dia masih baru dan belum paham semua pekerjaannya."

__ADS_1


"B-baik Pak."


Kenapa Renan selalu sengaja membuat dirinya berada dalam lingkaran diantara dirinya dan Vela?


__ADS_2