MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 25 Harus Membenci


__ADS_3

Hamparan tanaman yang hijau begitu sedap dipandang mata terasa begitu sejuk dan menenangkan, seorang gadis berambut sebahu tengah duduk di antara rerumputan yang hijau. Ia tidak tau kenapa tiba-tiba berada di sana, sendiri tanpa seorang pun, yang menemani.


"Kenapa aku ada di sini?" tanyanya.


Hembusan angin menggoyangkan dedaunan yang begitu lebat, gadis berambut sebahu memutuskan untuk berdiri memetik salah satu bunga mawar merah yang terlihat begitu merona, namun sayang saat memetiknya ia tidak memperhatikan duri yang ada pada tangkainya, yang ia lihat hanya sekuntum bunga mawar merah yang sangat cantik, tangannya mengeluarkan darah akibat duri yang menancap.


Tiba-tiba saja seorang pria berambut cokelat datang menghampirinya dan menyedot tangannya yang berdarah, tak ada rasa takut sedikit pun, dalam benaknya. Yang ia lihat pria itu sangatlah tampan, namun seketika pria tampan itu berubah menjadi sangat menakutkan dengan gigi bertaring dan sorot mata yang berwarna merah.


"Lepaskan aku! Kau itu apa sebenarnya?"


"Darah suci, darahmu sangat berarti untukku."


"Aku tidak mau, lepaskan aku--"


Gadis berambut sebahu meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari seseorang yang akan mengambil darahnya, peluh membasahi wajahnya yang pias karena ketakutan.


"TIDAK!" teriak Aruna.


Setelah tiga minggu tidak sadarkan diri untuk kali pertamanya Aruna terbangun dengan rasa takut merongrong dalam benaknya. Melihat Aruna sudah sadarkan diri, senyum penuh kelegaan terbit di bibirnya, Renan mendekati ranjang yang penuh dengan kabel medis, tapi gadis yang berada di atasnya, menatapnya penuh dengan kebencian.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau ada di sini?"


"Aku Renan, Renan Ribeiro."


"Aku tidak mengenalmu, kau bukan manusia, pergi dari sini!"


"Aruna tenanglah, jangan banyak bergerak."


"Pergi kau dari sini--"


"Aruna tenanglah!"


"Suster-suster tolong!"


Seketika suster yang sedang berjaga pada saat itu berhambur mendekati Aruna.


"Tenanglah nona Aruna," ucap suster berusaha menenangkan.


"Suster tolong usir laki-laki ini dari dalam kamarku, aku takut, aku tidak mau melihatnya!"


Ada apa dengan Aruna? Kenapa Aruna ketakutan melihat Renan? Bukankah dia sudah tau jika Renan bukan manusia biasa? Kenapa sekarang dia menjadi takut?

__ADS_1


Segala pertanyaan berkecamuk dalam benak pria berambut cokelat. Ia menatap Aruna dengan sendu, tersirat kembali rasa bersalah dalam dirinya.


"Tuan sebaiknya, tuan keluar dari ruangan ini demi kesehatan pasien!"


Renan tidak bisa membantah permintaan suster itu, karena itu perintah dari Aruna. Renan segera keluar dari dalam ruangan dengan perasaan gelisah.


"Suster aku mohon, jangan biarkan pria tadi masuk ke dalam kamarku!"


"Baik nona."


Melihat Renan sudah tidak ada di dalam kamarnya, membuat Aruna menghembuskan napas lega dan kembali memejamkan matanya. Para suster yang merawat Aruna selama tiga minggu menatap aneh ke arah ranjang.


"Kenapa dia bisa lupa dengan tuan Renan?"


"Pada hal, tuan Renan orang yang menjaganya selama ini bahkan dia tidak pernah absen sekali pun."


"Apa karena luka pada kakinya mengenai urat saraf?"


"Mungkin, bisa jadi seperti itu."


Saat keluar dari dalam ruangan Aruna, Renan segera mencari Danilo, ia butuh penjelasan mengenai Aruna yang tiba-tiba membencinya.


"Saya di kantor tuan."


"Jemput aku di rumah sakit sekarang juga!"


"Baik tuan."


Danilo merasa ada yang aneh dengan tuannya, biasanya Renan akan menelepon hanya untuk meminta baju ganti dan menyuruhnya membawanya ke rumah sakit, lalu kenapa sekarang ia memintanya untuk menjemputnya?


Tidak berapa lama Danilo sampai di halaman parkir rumah sakit, ia mencari keberadaan tuannya yang ternyata sudah menunggunya sejak tadi. Wajah datar dan masam kala itu Danilo melihatnya.


"Kita pulang ke rumah!"


"Baik tuan."


Renan tidak bisa meluapkan kemarahannya di sembarang tempat, karena akan sangat berbahaya bagi dirinya atau pun, orang lain. sesampainya di rumah Renan segera masuk ke dalam kamarnya, ia meluapkan semua kekesalannya di sana, sebelum mencari tahu tentang Aruna yang telah membuatnya begitu sangat prustasi.


Kamar yang tertata rapi, kini terlihat sangat kacau, cermin yang hancur, ranjang yang rusak, lemari yang patah, Renan melakukannya hanya dengan sekali pukulan tapi mampu membuat semuanya hancur, puas melampiaskan kemarahannya, ia segera keluar mencari Danilo.


"DANILO."

__ADS_1


"Iya tuan--"


"Apa kau tau penyebabnya kenapa Aruna tiba-tiba membenciku dan takut padaku?"


"Kenapa dia bisa membencimu tuan?" tanya balik Danilo.


"Danilo kalau aku tau jawabannya, aku tidak akan bertanya padamu."


"Kita tidak melakukan pengobatan yang dokter Fred sarankan, tapi Aruna murni sembuh asli dengan perawatan medis manusia pada umumnya. Dan meskipun kita memakai cara yang dokter Fred sarankan, dampaknya tidak akan seperti itu tuan."


Pria berambut tidak terlalu lebar itu menggusar rambutnya. "Kenapa menjadi rumit seperti ini Danilo?"


"Saya akan mencari tau penyebabnya tuan."


Hari berganti menjadi malam, Renan masih tetap dengan kegelisahannya, Aruna yang tiba-tiba begitu sangat membencinya membuatnya terus bersikeras berpikir apa penyebabnya, Danilo yang diperintahkan mencari tahu penyebabnya, bahkan hingga larut malam dia belum juga kembali.


"Aruna," ucap Renan dengan lirih.


Segala kenangan bersama gadis berambut sebahu begitu saja muncul dalam memorinya, membuatnya tersenyum sendiri mengingatnya.


"Aruna aku memang bersalah telah menyakitimu, tapi jangan hukum aku dengan membuat jarak di antara kita. Aku tidak bisa."


Untuk pertama kalinya, pria berambut cokelat menjatuhkan setitik cairan bening dari kelopak matanya, ia tidak pernah merasakan rasa sakit hati yang begitu menyayat batinnya. Renan yang masih di selimuti rasa kegelisahan berbeda dengan gadis yang kini sudah lebih membaik kondisinya dari semula. Gadis itu memakan makanan yang dibawakan oleh Alfaro dan Gantari baru saja. Mereka memang sering membawakan Aruna makanan ke rumah sakit, tapi mereka semalam pun, tidak pernah tidur di rumah sakit. Alasannya adalah Alfaro harus bekerja pagi dan Gantari melarangnya untuk menginap di rumah sakit menemani Aruna. Berbeda ketika Gloria yang sakit semuanya akan berada menemani Gloria hingga Gloria sembuh dari sakitnya, meskipun harus menguras tenaganya.


"Makannya yang banyak Runa, supaya kamu cepat pulang dari sini."


"Iya Yah, Runa juga pengin banget cepetan pulang dari sini."


Meskipun Alfaro tidak selalu menemani Aruna di rumah sakit, tapi Aruna berusaha maklum dan berusaha berlapang dada menerima segala keadaan walaupun ketidak adilan yang ia rasakan.


"Makasih ya Yah, udah nyempetin waktunya untuk ke sini jenguk Runa."


"Iya, kamu, tuh harusnya selalu bersyukur punya orang tua seperti kita, iya kan, Yah?" timpal Gantari.


"Dimana tuan Renan, Runa?" tanya Alfaro.


Deg


Seketika Aruna menghentikan makanannya, masih teringat jelas diingatannya seorang wanita bertubuh tinggi datang pada malam hari sebelum Aruna terbangun dari mimpinya. Wanita itu datang dengan beberapa pesuruhnya masuk ke dalam ruangan Aruna tanpa seorang pun, yang melihatnya karena mereka menggunakan kekuatan gaibnya.


"Aruna kau harus ingat, jauhi Renan, atau dia akan membunuhmu dan mengambil darahmu untuk menjadikannya lebih kuat dan kembali pulang ke planet asalnya, dan kau akan mati sia-sia, jangan dibutakan karena cinta, kalian terlahir dari dunia yang berbeda, sampai kapan pun, kalian tidak akan pernah bisa hidup bersama."

__ADS_1


__ADS_2