
Matahari mulai bersinar di sebelah timur, cahayanya masuk ke dalam celah-celah jendela kamar, hingga menyorot pada gadis berambut sebahu yang sedang tertidur lelap di atas ranjang yang empuk. Sayup-sayup terdengar kicauan suara burung-burung yang sepertinya ada di atas genteng, tetapi gadis itu tetap enggan membuka matanya, ia menarik kembali selimut tebal yang membungkus tubuhnya, tanpa sengaja tangannya meraba sejumput rambut yang otomatis membuat matanya terbuka lebar. Seketika mata yang tadinya enggan terbuka kini mata itu membulat sempurna.
"Aaaaaaa... Kenapa tuan tidur di sini?" teriak Aruna.
"Ini kamar saya!" jawab Renan datar dan kembali memejamkan matanya.
Aruna mengalihkan pandangannya pada setiap sudut kamar itu, dan ternyata benar ia masih berada di rumah Renan.
"Tuan kenapa saya bisa tidur di sini?" tanya Aruna seraya menggoyangkan tubuh Renan yang sedang terbaring.
Seketika Renan merubah posisinya menjadi terduduk menghadap Aruna. Ia menatap gadis berambut sebahu yang ada di hadapannya. Jika ia perhatikan gadis yang ada di hadapannya adalah gadis yang biasa saja tetapi entah mengapa ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu, bukan hanya memiliki darah yang suci, tetapi Renan merasa jika gadis itu juga mempunyai sesuatu yang belum ia ketahui.
"Semalam kau sendiri yang naik ke atas ranjang saya."
"Benarkah seperti itu tuan?" Renan mengangguk yakin.
"Memalukan," batin Aruna.
"Maafkan saya tuan, atas ketidaksopanan yang telah saya lakukan."
"Saya bisa maklum, pasti kau lelahkan."
"Tuan, tapi tuan tidak memanfaatkan situasi semalam, kan?"
"Apa yang bisa saya harapkan dari tubuhmu yang biasa saja itu."
Mendengar kalimat yang sepertinya mengejek bentuk tubuhnya Aruna mendengus kesal. "Biarpun begini tapi saya juga perempuan tuan."
"Tubuhmu bukan selera saya."
Baru saja Aruna hendak membalas ucapan Renan, tapi niatnya ia urungkan, karena Renan tiba-tiba saja membuka bajunya di depan Aruna, hingga Aruna dapat dengan jelas melihat tubuh Renan yang mempunyai roti sobek. Aruna menelan ludahnya dengan susah payah.
"Tuan apa yang anda lakukan?" tanya Aruna dengan mata terpejam.
Renan memakai jubah handuknya menghampiri Aruna seraya menyentil keningnya. "Apa yang kau pikirkan, saya mau mandi."
"Aaawww..." Erang Aruna seraya memegang dahinya.
Ketika Aruna hendak pulang untuk mengganti pakaiannya, tiba-tiba saja Danilo datang dengan membawa beberapa keperluan Aruna, dari mulai baju hingga make-up.
"Tuan ini untuk saya?"
"Kau pikir untuk siapa? Tuan Renan?"
Aruna menatap dengan binar kebahagian semua benda yang ada di dekatnya. Ia tidak pernah menggunakan baju dengan merk semahal itu, bukan hanya baju tapi kini yang akan menghiasi tubuhnya adalah brand ternama di dunia.
"Apa aku bermimpi memakai semua benda ini, bahkan dalam mimpi pun, aku tidak pernah berani memimpikannya."
Danilo membawa Aruna ke kamar yang lain, agar Aruna bisa bersiap-siap untuk segera pergi ke kantor. Renan dan Danilo sudah menunggu di ruang makan, mereka sengaja menyiapkan sarapan pagi untuk Aruna meskipun mereka tidak memakannya. Aruna diantar beberapa pembantu turun dari lantai atas, karena jika tidak sudah dipastikan ia akan tersasar. Aruna memakai rok span selutut, kemeja berwarna putih yang dibalut blazer kotak-kotak, rambut sebahunya seperti biasa tergerai indah, ditambah dengan paduan make-up natural, membuat penampilan Aruna pada pagi itu terlihat begitu perfect.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan, maaf saya terlambat."
"Silahkan duduk, dan cepat makan."
Melihat sajian yang tertata rapi dan menggugah selera Aruna makan dengan begitu lahapnya.
"Kenapa tuan Renan dan tuan Danilo hanya melihat saya makan? Saya jadi tidak enak," ucap Aruna dengan mulut mengembung penuh dengan makanan.
"Kami sudah makan," jawab Danilo.
Aruna menyelesaikan makannya tanpa peduli Renan dan Danilo yang memperhatikannya. Hingga Aruna bersendawa ia baru saja mengelap bibirnya dan menyudahi makannya.
"Maaf tuan saya tidak sengaja."
"Apa sudah selesai? Kita harus segera berangkat ke kantor sekarang."
Renan dan Danilo berjalan di depan, sedangkan Aruna mengekor di belakangnya, Aruna yang berjalan terus menunduk tanpa sengaja menabrak punggung lebar Renan yang berhenti mendadak.
"Aduh.. maaf Pak!"
Tanpa sengaja bedak yang Aruna pakai menempel di baju jas Renan yang berwarna abu tua.
"Jalan itu lihat ke depan, bukan ke bawah Aruna."
"Maaf Pak!"
"Tuan bisakah kita ke rumah saya terlebih dahulu, saya ingin menjelaskan sesuatu kepada keluarga saya kalau semalam saya--"
"Tidak perlu, semalam Danilo sudah meminta izin pada keluargamu, Danilo bilang kau ada tugas ke luar kota."
"Apa ke luar kota tuan?"
Renan mengangguk. "Dalam waktu satu bulan."
"Apa? Satu bulan tuan? Memangnya saya akan dikirim ke kota mana tuan?"
"Banyak nanya, lihat saja nanti," sahut Danilo.
Semua mata tertuju pada Aruna yang nampak dengan penampilan yang berbeda, terlebih lagi Aruna berjalan di belakang Renan, membuat semua karyawan wanita iri melihatnya.
"Lihat anak baru itu?"
"Pasti pake pelet."
"Iya, kok bisa sih jalan bareng Pak Renan."
"Kita harus kasih pelajaran buat anak baru itu."
Sebelum Renan masuk ke dalam ruangannya ia meminta Aruna datang ke ruangannya pada jam istirahat.
__ADS_1
"Memangnya ada apa tuan?" tanya Aruna dengan raut wajah bingung.
"Banyak sekali pertanyaanmu itu, nanti juga tau!" kembali Danilo yang menyahuti Aruna.
Aruna sedikit mencebikkan bibirnya, lagi-lagi jawaban seperti itu ketika Aruna bertanya. Jam istirahatpun tiba, sesuai perintah Renan, Aruna bergegas ke ruangan Renan.
"Kau mau kemana?" tanya Zora.
"Aku disuruh ke ruangan Pak Renan, nggak tau kenapa," jawab Aruna seraya bergegas pergi meninggalkan Zora.
"Aku pergi dulu ya!" pamit Aruna.
Tok.. tok.. tok...
"Masuk!"
Aruna segera menekan gagang pintu, setelah mendapat perintah seseorang dari dalam menyuruhnya untuk masuk.
"Duduk!" titah Renan.
Aruna duduk berhadapan dengan Renan, ia memberikan satu map berwarna kuning kepada Aruna.
"Baca dan pelajari itu, kau akan menjadi sekertaris saya, dalam waktu satu bulan kau akan mendapat pelatihan di rumah saya."
"Jadi maksud tuan, ke luar kota dalam waktu satu bulan itu saya di rumah tuan mempelajari berkas-berkas ini? Seumur hidup saya, saya baru mendengarnya, untuk menjadi seorang sekertaris harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu selama satu bulan."
"Gajimu akan saya naikkan dua kali lipat!"
"Dua kali lipat tuan?"
Aruna mulai menghitung gajinya dengan jari jemarinya, lalu kemudian terpancar rona kebahagiaan di wajahnya.
"Baiklah tuan saya bersedia," ucap Aruna dengan mata berbinar. "Apa saya boleh keluar sekarang!" sambungnya.
Semenjak keluar dari ruangan Renan, tak hentinya bibir Aruna tersungging ke atas. Kapan lagi ia mendapatkan kesempatan yang sangat luar biasa, baru pertama kali kerja tapi ia sudah suguhi gaji yang fantastis. Sebelum kembali ke ruangannya Aruna pergi ke toilet terlebih dahulu.
"Dewi Fortuna sedang berpihak padaku, syukurlah dengan begitu aku tidak akan merepotkan Ayah lagi," Aruna bermonolog sendiri ketika masuk ke dalam bilik toilet.
Ketika Aruna menekan handle pintunya, ternyata toiletnya tidak bisa dibuka, Aruna mulai terlihat panik, ia sedikit trauma ketika berada di dalam ruangan kecil, karena ketika kecil ia juga pernah di kunci di dalam toilet oleh Gantari, waktu itu Aruna merengek ingin membeli es krim tapi Gantari malah menguncinya di dalam toilet.
"Hei, tolong siapapun di luar, tolong saya pintunya terkunci--"
"Tolong.. tolong.. tolong..."
Namun sayang tak ada seorangpun yang mendengarnya, karena perusahaan Tekno Intel sangat luas. Cukup lama di dalam toilet membuat tubuh Aruna bergetar, dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, lututnya sudah tidak menopang lagi berat badannya, ia terduduk di depan pintu bilik toilet dengan kesadaran seadanya.
"T-tolong..." ucap Aruna lemah.
Renan yang berada di dalam ruangannya ia merasakan kontak batin dengan Aruna, ia mulai khawatir dengan keadaan Aruna, tidak membuang waktu ia mulai mencari keberadaan Aruna lewat cctv. Seketika bola matanya membulat sempurna melihat keadaan Aruna yang terkulai lemah di dalam toilet.
__ADS_1