MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 18 Menghargai Pasangan


__ADS_3

"Dia pikir aku nggak punya hati apa? seenaknya mempermainkanku, dasar manusia kucing sialan," umpat Aruna seraya menyedot minuman dingin hingga tandas.


Zora yang sedang berjalan menghampiri Aruna, ia mendengar umpatan Aruna yang sedang menggerutu kesal.


"Kau kenapa sih, Runa? Kok marah sama kucing?" tanya Zora seraya mendaratkan bokongnya di sisi Aruna.


"Oh.. itu anu nggak bukan apa-apa kok," sangkal Aruna.


"Maksudnya kucing siapa?"


"I-itu k-kucing di rumah, bikin kesel, udah cepetan pesan makan, sebelum jam makan siang habis."


Zora bergegas memesan makanan, sesuai perintah Aruna. Aruna mengusap dadanya, ia sedikit lega karena Zora tidak memperpanjang pertanyaannya.


"Haduh, untung saja."


Zora kembali seraya membawa nampan yang berisi makanan ke meja Aruna.


"Kau tau tidak? Tadi Gloria yang menggantikanmu meeting sama Pak Renan."


"Tau."


"Kau sengaja menyuruh dia meeting?


Aruna menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak."


"Kau tau kenapa dia bisa menggantikanmu meeting?"


Aruna menggelengkan kepalanya kembali. "Emang kenapa?"


"Gloria bilang, kau yang menyuruh dia, untuk menggantikanmu meeting."


"Wah nggak bener, aku nggak pernah nyuruh dia buat gantiin aku meeting."


"Kalau aku jadi kau, aku kasih kartu merah si, Gloria."


"Kartu merah emangnya main bola," ucap Aruna dengan terkekeh.


"Nih anak hidupnya tenang banget, kau tau tidak, secara halus Gloria itu mau ngambil posisimu."


"Ya udahlah biarin, Rezeki itu nggak akan kemana, kalau emang udah rezeki kita pasti akan sampai ke kita, kalau bukan rezekinya mau usaha sampai gimanapun kita nggak bakalan dapet."


Zora manggut-manggut ia setuju atas ucapan Aruna. Ketika jam makan siang sudah habis, Aruna sedikit malas masuk ke dalam ruangannya, ia takut masih ada Gloria di sana.


"Sebaiknya aku ke toilet dulu," gumam Aruna.


"Lho, kau mau kemana? Jam makan siang sudah habis," tanya Zora.


"Aku mau ke toilet dulu, kau duluan saja."


Zora meninggalkan Aruna yang pergi menuju toilet. Aruna membasuh telapak tangannya, butuh waktu beberapa menit ia di dalam sana, memastikan Gloria sudah benar-benar pergi dari sana.


"Harus berapa lama aku di sini? Apa Gloria sudah pergi dari sana?" tanyanya.


Dengan hati yang sangsi Aruna berjalan menuju ruangan Renan, saat menekan gagang pintu ia sedikit ragu, tapi pada akhirnya ia membukanya juga.

__ADS_1


"Permisi."


Aruna sedikit lega, ketika masuk ke dalam ruangannya, tidak ada Gloria bersama Renan. Dan di dalam terlihat kosong.


"Kemana mereka?" gumam Aruna.


Gadis berambut sebahu berjalan cepat, menuju meja kerjanya. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya. Tapi tak lama pintu ruangan terbuka lebar, menampilkan sosok Renan, Danilo dan juga seorang perempuan cantik, bertubuh tinggi bak seorang model. Aruna tidak tau siapa perempuan itu, cukup lama bekerja di perusahaan Tekno Intel tapi Aruna tidak pernah melihat sosok perempuan tinggi itu.


"Siapa perempuan cantik itu?" gumamnya.


"Aruna," panggil Renan.


"Iya?" jawabnya.


"Perkenalkan dia Vela, yang akan menjadi model di perusahaan kita."


"Halo nona Vela, aku Aruna," sapa Aruna.


"Hai Aruna," balas Vela datar tanpa sedikitpun memandang Aruna.


"Sombong sekali perempuan ini," umpat Aruna pelan.


"Kamu bicara apa Aruna?" tanya Renan.


"Oh, bukan apa-apa kok."


Mereka berempat duduk di sofa, untuk membicarakan sebuah kontrak kerja dengan model yang baru saja Renan kenalkan.


"Kalau menurutku, kostum yang itu kurang cocok di tubuh nona Vela," sela Aruna ditengah perbincangan mereka.


Senyap, ruangan yang sudah dingin akibat volume pendingin ruangan yang cukup tinggi, seketika menjadi terasa gerah akibat Vela yang secara terang-terangan menolak usulan Aruna.


"Pokoknya aku mau memakai kostum yang ini," pinta Vela tanpa mau dibantah.


"Baiklah, terserah. Aku serahkan semuanya padamu Vela, aku yakin kostum apapun yang kau pakai akan cocok di tubuhmu yang indah itu."


Renan memuji perempuan lain dihadapan Aruna, membuat Aruna seketika mencebikkan bibirnya.


"Aruna bisakah kau mengambilkan kami air putih yang dingin? Aku haus," titah Vela.


"Oh tentu saja bisa nona Vela, tunggu sebentar aku akan membuatkannya."


Aruna pergi menuju pantry yang ada di lantai bawah. Dan setelah Aruna pergi, Vela berpindah tempat duduk di dekat Renan dan bergelayut manja dibahunya.


"Renan aku kangen denganmu, kenapa kau memperkenalkanku pada karyawanmu sebagai seorang model, aku ini kekasihmu Renan, ayo kita pulang ke planet kita, aku akan membantumu dengan kekuatan yang aku miliki, kita akan sama-sama pulang dari planet bumi ini."


"Jaga sikapmu Vela, hubungan kita sudah berakhir, aku mau menerimamu di sini karena aku kasihan padamu--" Renan menarik napas sejenak. "Di planet bumi ini kau tidak kenal dengan siapapun kecuali kita berdua, lebih baik kau kembali pulang," lanjutnya.


"Aku akan pulang tapi aku mau denganmu."


"Aku tidak bisa pulang bersamamu Vela."


"Sampai kapan kau akan berlama-lama di sini? Menunggu yang tidak pasti."


"Sampai kami mendapatkan darah suci," timpal Danilo.

__ADS_1


"Darah suci itu tidak ada Danilo, jadi kalian mendingan pulang bersamaku dengan menggunakan kekuatanku."


"Darah suci itu ada!"


"Danilo!" sergah Renan dengan sorot mata yang sudah menyala merah. Ia tidak suka Danilo memberitahu Vela, jika mereka sudah menemukan darah suci, dan bisa segera pulang ke planet asalnya. Atau Vela akan bertindak di luar nalar hanya untuk agar Renan bisa kembali pulang ke planetnya.


"Danilo apa maksudmu darah suci itu ada?" tanya Vela dengan alis mata saling bertautan.


Pada saat yang bersamaan, Aruna masuk dengan membawa tiga botol air mineral dingin. Seketika perbincangan ke tiga manusia yang bukan berasal dari bumi itu menghentikan percakapannya.


"Nona Vela ini air dinginnya," ucap Aruna seraya menyodorkan botol air mineral kepada Vela, saat Aruna menunduk Vela dapat mencium aroma tubuh Aruna, jika Aruna memiliki bau khas darah suci.


"Darah suci?" gumam Vela.


Untuk memastikan Aruna mempunyai darah suci ia harus memegang tubuhnya, apakah ada sengatan seperti aliran listrik, Vela sedang mencari cara bagaimana bisa bersentuhan dengan Aruna.


"Aruna tolong bukakan tutup botolnya?" pinta Vela yang sebenarnya hanya modus belaka.


"Biar aku yang membukanya," sergah Renan.


Renan dapat melihat, jika Vela sedang berusaha untuk menyentuh tubuh Aruna.


"Jangan sembarangan, dia hanya gadis biasa," bisik Renan.


"Aku mencium aroma darah suci pada tubuhnya, jadi aku harus memastikannya, kenapa wajahmu tiba-tiba berubah menjadi pucat?"


"A-aku tidak pa-pa," Renan berusaha tenang, agar Vela tidak mencurigainya. Vela memang mempunyai kelebihan yang berbeda dibanding Renan dan Danilo, Vela memiliki penciuman yang kuat terhadap aroma-aroma yang menurutnya sangat istimewa.


Saat Vela hendak berpamitan pulang, Aruna merasa aneh terhadap sikap Vela yang tiba-tiba berubah menjadi lebih santun terhadapnya.


"Aruna aku senang bisa bertemu denganmu," ucap Vela seraya memeluk Aruna. Aruna segan untuk membalas pelukan Vela.


"Hah i-iya."


"Aku berharap kita bisa berteman baik ke depannya," Vela menggenggam tangan Aruna, dan benar saja ternyata setelah ia memegang tangan Aruna, tubuhnya terasa tersengat aliran listrik. Renan yang baru saja menyadarinya ia segera menarik Vela ke luar dari ruangan.


"Ikut denganku!"


"Tidak usah terburu-buru Renan, santai saja kita sudah menemukan apa yang kita cari."


"Dengar Vela, berani kau menyentuh Aruna sedikit saja, kau akan tanggung akibatnya."


"Renan aku tidak mengerti jalan pikiranmu sekarang, bukankah kau ingin segera pulang dari planet bumi ini?


"Itu dulu sebelum aku bertemu dengannya--"


"Renan darah suci sudah ada di depan mata, kau tunggu apa lagi? Kita mulai semuanya dari awal, maafkan aku karena aku yang sudah membuatmu terdampar di planet bumi ini."


"Semuanya sudah terlambat Vela, kau bukan lagi wanita istimewa yang ada di dalam hatiku."


"Tidak, aku tidak percaya, kau cinta mati denganku, bahkan kau rela berada di planet bumi ini demi aku, kan?"


"Itu dulu ketika aku menjadi pria yang paling bodoh, mencintai wanita yang tidak bisa menghargai pasangannya."


Dibalik pintu yang sedikit terbuka, Aruna membatu di tempat mendengar kalimat Renan yang baru saja diucapkannya.

__ADS_1


__ADS_2