
"Ayah, Ibu, tuan Renan sedang buru-buru, dia tidak bisa lama-lama di sini, iya kan tuan?"
"Oh, iya, benar apa yang Aruna katakan, saya buru-buru maaf tidak bisa mencicipi makanannya."
Kali ini Aruna menyelamatkannya untuk tidak memakan makanan manusia. Entah mengapa Renan sedikit tidak tidak tenang, atas perlakuan Aruna yang menyuruhnya untuk segera pulang.
"Baiklah, tuan dan nyonya Alfaro saya permisi!" pamit Renan.
Aruna mengantarkan Renan hingga masuk ke dalam mobilnya, tidak mau berprasangka yang tidak-tidak Renan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aruna. Ketika Renan sudah pergi Gantari menagih janji kepada Aruna untuk segera memasukkan Gloria ke perusahan.
"Gimana? Kamu bisa kan, memasukkan Glori ke perusahaan?" tanya Gantari dengan tatapan mengintimidasi.
Gantari berani bertanya seperti itu, karena Alfaro sudah masuk ke dalam kamar. Aruna sudah sangat yakin pasti pertanyaan seperti ini yang akan muncul dari mulut Gantari, bukannya bertanya bagaimana keadaannya? tapi malah bertanya soal pekerjaan untuk Gloria.
"Besok Glori sudah mulai bisa bekerja Bu," ucap Aruna sedikit malas.
"Apa kamu bilang? Yang benar? Kamu tidak bohongkan?"
"Ibu mau jawaban seperti itu, kan? Itu jawabannya, besok Glori sudah bisa bekerja di perusahaan bersama dengan Runa, Bu!"
"Nah gitu dong, itu baru namanya anak Ibu," ucap Gantari seraya memeluk Aruna. Aruna hanya mematung tanpa membalas pelukan Gantari, Ibu tirinya hanya akan memeluknya disaat ia bisa mengabulkan permintaannya.
Aruna menghela napas panjang. "Runa beresin piring dulu Bu!" Aruna bergegas meninggalkan Gantari melepaskan pelukannya begitu saja.
"Aku harus cepat-cepat kasih tau Glori, kalau besok dia harus pergi ke kantor, --itu anak jam segini belum pulang juga," ucap Gantari seraya melihat jam dinding yang menempel di tembok.
Mentari pagi kala itu begitu terasa hangat ketika menyorot pada kulit seorang gadis berambut sebahu, ia sudah rapi dengan setelan kantornya, menunggu Gloria yang masih berdandan di dalam, lama berdiri ia merasa kakinya terasa kesemutan, hingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Gloria terlebih dahulu.
"Enak bener lo, masuk mobil duluan, bukain gue pintu!" titah Gloria yang berdiri di samping mobilnya.
Aruna turun dari dalam mobil, hendak membukakan pintu mobil untuk Gloria, setelah pintu mobil terbuka, Gloria langsung masuk dan dengan sengaja menginjak kaki Aruna dengan memakai sepatu heelsnya, membuat Aruna sedikit meringis namun tidak bersuara, karena di sana ada Gantari dan juga Alfaro yang tengah memperhatikannya.
"Ayah, Ibu, Runa pergi kerja dulu ya."
"Jaga Gloria jangan sampai dia kerja yang berat," ujar Gantari.
Aruna tidak menjawab ia hanya membalasnya dengan senyuman. Aruna tidak seperti Gloria yang bisa membeli mobil sendiri, Gloria memang sudah sedari dulu menjadi model hingga ia bisa membeli mobil. Berbeda dengan Aruna yang hanya bisa membantu membersihkan rumah setelah pulang sekolah.
"Apa Pak Renan sudah mempunyai seorang kekasih?" tanya Gloria tanpa mengalihkan pandangannya."
"A-aku tidak tau!"
"Sudah hampir dua bulan, kau bekerja di kantornya, masa nggak tau siapa kekasihnya."
"A-aku benar-benar tidak tau Glori."
Aruna semakin gugup dibuatnya, tidak mungkin ia bilang bahwa saat ini Renan mencintainya. Gloria mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya di stir mobil, sepertinya ia sedang memikirkan bagaimana caranya menarik perhatian Renan.
"Glori ini ruangan kerjamu, dan teman-teman perkenalkan ini Gloria yang akan menggantikan posisiku di sini."
Aruna langsung memberikan meja kerjanya kepada Gloria, dan memperkenalkan Gloria pada teman-teman satu divisi dengannya. Lalu setelah itu ia mengajak Gloria menemui Renan di ruangannya.
"Kita mau kemana?" tanya Gloria yang terlihat mulai tidak nyaman dengan sepatu heels yang digunakannya karena terlalu lama berjalan.
__ADS_1
"Kita ke ruangan Pak Renan."
Senyum terpancar dari bibir Gloria, ketika Aruna mengajaknya untuk menemui Renan. Ia sudah menantikan momen itu sejak tadi.
Tok.. tok.. tok...
"Masuk!" sahut orang yang ada di dalam.
Ketika masuk ke dalam ruangan direktur utama, di sana bukan hanya ada Renan, tetapi juga ada Danilo yang sepertinya sedang membahas sebuah proyek.
"Permisi Pak, perkenalkan ini Gloria, yang akan menggantikan posisi saya," ujar Aruna seraya menunduk.
"Danilo kasih tau dia, pekerjaan yang harus dia lakukan!"
"Baik tuan."
"Tunggu dulu Pak, saya punya sesuatu buat Pak Renan, dan ini sebagai tanda terima kasih saya, karena Pak Renan sudah menerima saya bekerja di sini," sahut Gloria.
Gloria mengeluarkan kotak bekal yang ada di dalam tasnya, ia memang sudah menyiapkannya dari rumah, tentu saja bukan masakannya tapi masakan Gantari.
"Ini untuk Pak Renan, silahkan dimakan Pak!" ujar Gloria seraya membuka kotak bekalnya yang berisi roti sandwich, dan seketika membuat Renan terbatuk-batuk melihatnya. Aruna yang melihatnya ia langsung saja mengambil kotak bekal Gloria dan memakan roti sandwichnya.
"Glori, Pak Renan tidak suka makanan seperti itu," ucap Aruna seraya menggigit roti sandwichnya.
"Aruna, itu untuk Pak Renan, kenapa kau makan, ayo balikin!" pinta Gloria dengan raut wajah memerah menahan amarah.
"Tunggu! Saya memang tidak suka makanan seperti itu, daripada mubajir mendingan Aruna yang makan, iyakan Danilo?"
"T-tapi tuan, aku masih mau di sini."
Danilo segera mengajak Gloria keluar dari ruangan Renan, setelah kepergian Mereka berdua, di dalam ruangan hanya ada Renan dan Aruna yang sedang sibuk menggigit roti sandwich. Renan memperhatikan Aruna yang sedang makan di hadapannya, sudah dua kali Aruna menyelamatkannya untuk tidak makan makanan manusia, apakah Aruna sudah tau bahwa Renan sebenarnya bukan manusia?
"Apa kau akan tetap di situ? Saya sudah siapkan meja kerja untukmu."
"Dimana ruangan kerjaku sekarang?" tanya Aruna seraya mengelap bibirnya dengan tisu.
"Di sana!" tunjuk Renan pada meja yang tidak jauh dari mejanya, hanya terhalang kaca pembatas."
"Itu ruangan kerjaku sekarang?" Renan mengangguk yakin. "Kenapa satu ruangan denganmu? Bukankah ini khusus ruangan direktur utama?" sambungnya.
"Memangnya kau berharap mendapat ruangan dimana?"
"Bukan begitu, aku tidak enak dengan yang lain."
"Sudahlah jangan terlalu banyak memikirkan orang lain, pikirkan saja dirimu sendiri Aruna."
Meski sempat menolak, akhirnya Aruna tetap menduduki meja kerja barunya. Hingga sore tiba Aruna mendapat pesan dari Renan jika ia harus pergi ke pesta bersamanya, karena Pedri yang mengundangnya, untuk merayakan
keberhasilan kerjasama antar kedua perusahaan. semua karyawan di undang tanpa terkecuali.
"Ini untukmu!" seru Renan seraya memberikan totebag berwarna abu kepada Aruna.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Gaun pesta untuk nanti malam, datanglah bersama dengan Gloria. Aku menunggumu di sana." Aruna hanya menatap kepergian Renan, lalu berganti menatap totebag yang ada di atas meja.
"Apa maksudnya menungguku di sana? Bagaimana jika aku tidak datang?" tanya Aruna dalam hati.
Tepat pukul delapan malam, Aruna dan Gloria sudah sampai di depan gedung pesta. Aruna memakai dress yang berikan Renan kepadanya, dress berwarna merah selutut dengan lengan panjangnya sesiku model brukat dan kerah jepang. Aruna terlihat anggun dan sangat mempesona. Gloria memakai dress berwarna hitam panjang dengan belahan sampai paha, hingga terlihat sangat seksi. keduanya sama-sama cantik namun dengan versi yang berbeda.
"Aku yakin, di dalam akan banyak CEO muda yang datang, iyakan Runa?"
"E-entahlah aku tidak tau!"
Berbeda dengan Gloria yang sudah terbiasa datang ke sebuah pesta, Aruna nampak gugup karena ia tidak terbiasa datang ke tempat pesta.
"Yaelah, ini anak katro banget, gue duluan ya!" Gloria pergi begitu saja meninggalkan Aruna yang tengah gugup setengah mati.
"Lebih baik aku pulang saja."
Baru saja Aruna hendak melangkahkan kakinya meninggalkan gedung itu, tetapi suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Aruna."
"Hah iya?"
"Kau mau kemana ayo masuk!" ajak Renan.
Renan menyilangkan tangannya agar Aruna menggandeng tangannya, tentunya Renan sudah mempersiapkannya dress yang digunakan Aruna satu set dengan sarung tangan yang Aruna pakai saat ini. Aruna tidak bisa menolak ia mengikuti apa kata Renan.
"Aku tidak biasa ke pesta," bisik Aruna.
"Tenanglah ada aku."
Semua mata tertuju pada Aruna dan Renan yang baru saja masuk ke ballroom, Aruna dan Renan nampak serasi karena dress yang digunakan Aruna senada dengan setelan jas yang gunakan Renan. Renan mengajak Aruna duduk di salah satu meja, tak berapa lama Pedri datang menghampirinya.
"Selamat malam tuan Renan," sapa Pedri.
"Malam tuan Pedri," balas Renan.
"Aku lihat, kalian tampak serasi malam ini."
"Terima kasih."
"Ayo kita bersulang!" Pedri mengangkat satu gelasnya, Renan terdiam apa yang harus ia lakukan, detik selanjutnya Arunalah yang membalas mengangkat gelasnya.
"Mari bersulang tuan Pedri, untuk keberhasilan perusahaan kita."
Aruna dan Pedri sama-sama meminum gelasnya masing-masing, untuk yang ketiga kalinya Aruna menolongnya. Renan menatap lekat Aruna yang telah beberapa kali menyelamatkannya. Tiba-tiba saja di luar suara petir
menggelegar sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, Renan sudah mendapatkan pesan dari Danilo bahwa ia harus segera meninggalkan tempat pesta. Renan pergi meninggalkan Aruna ke kamar kecil tanpa Renan tau bahwa sebenarnya Aruna mengikutinya dari belakang.
"Kemana aku harus bersembunyi?" batin Renan.
Hujan di luar tiba-tiba saja lebat, Renan yang baru sampai di dekat pintu bilik toilet seketika berubah menjadi kucing hitam. Aruna membulatkan kedua matanya, kali kedua ia melihat Renan berubah menjadi seekor kucing, bahkan kali ini penglihatannya sangat jelas.
"Renan menjadi seekor kucing? Apa dia manusia setengah binatang?" tanya Aruna dalam hati.
__ADS_1