
Hari ini adalah meeting untuk yang kedua kalinya bersama dengan Pedri Tores, entah mengapa Renan tidak begitu setuju Aruna ikut bersamanya, tapi jika ia tidak mengajak Aruna, misinya untuk menjadikan Aruna sekretarisnya sia-sia.
"Tidak usah berdandan terlalu cantik,"
"Aku berdandan seperti biasanya, kok."
"Tapi aku lihat lipstikmu terlalu tebal."
"Masa sih?" Aruna langsung berkaca di kaca spion mobil, ia melihat pantulan wajahnya, bibirnya terlihat biasa saja, tidak tebal seperti yang dikatakan Renan baru saja.
"Benar, kan apa yang aku bilang, lipstikmu terlalu tebal."
"Terserah pendapatmu apa, tapi buatku ini terlihat biasa saja!" Aruna sedikit kesal dengan Renan, karena ia terlalu berlebihan menilai penampilannya.
"Mulai besok aku akan mengganti semua peralatan make-up-mu."
"Renan kau baru saja membelikannya untukku dan sekarang kau mau menggantinya lagi?" Renan mengangguk yakin.
"Renan itu pemborosan, aku tidak mau!"
"Kau hanya tinggal memakainya saja,"
Aruna mencebikkan bibirnya, ia kesal dengan keputusan Renan secara sepihak. Mobil sedan berwarna hitam kini telah sampai di kantor perusahaan milik Pedri Tores. Perusahaan yang tak kalah besar dari perusahaan Renan. Aruna menatap kagum perusahaan yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Lihatnya biasa saja, dibanding perusahaan ini, jelas perusahaanku lebih besar."
"Iya aku tau, tuan Renan Ribeiro."
"Bagus kalau kau tau!" Aruna mengikuti langkah kaki Renan yang lebar, ia sedikit kesusahan mengejar Renan.
"Tunggu! Bisa tidak jalannya pelan-pelan saja."
Seketika Renan menghentikan langkah kakinya, mensejajarkan langkahnya dengan Aruna, Menggandeng tangannya, untung saja tangannya hanya terkena blezer panjang Aruna, hingga membuat dirinya tidak langsung bersentuhan dengan tangan Aruna. Renan dan Aruna diajak langsung oleh sekertaris Pedri ke dalam ruangannya.
"Silahkan masuk tuan!" ujar sekertaris Pedri.
"Terima kasih," balas Aruna. Di dalam ruangan sudah ada Pedri yang menunggu dan duduk manis di kursi kebesarannya.
"Selamat siang tuan Renan, maaf merepotkan Anda untuk datang ke kantor saya."
"Tidak masalah, lebih cepat lebih baik," ucap Renan ambigu.
__ADS_1
"Maksud anda?"
"Lebih cepat mendapat keuntungan, lebih baik kan, tuan Pedri."
"Oh, iya, benar apa yang anda katakan, semakin cepat kita mendapat keuntungan, semakin bagus untuk perusahaan kita."
"Apa kita bisa mulai sekarang?"
"Maaf tuan, aku melupakan sekertaris anda yang cantik ini, hai Aruna apa kabar?"
"B-baik seperti yang anda lihat."
Tidak ada obrolan yang berarti setelah itu, Renan dan Pedri benar-benar serius membicarakan produknya yang akan segera launching bulan depan. Renan melibatkan Aruna dalam proyek ini karena itu sebagai batu loncatan Renan dan juga alasan di kantornya mengangkat Aruna menjadi sekertaris pribadinya agar tidak ada yang curiga. Sebulan sudah Aruna menemani Renan memenangkan beberapa tender, dan Renan sudah meresmikan Aruna sebagai sekretaris pribadinya di kantor. Dan mulai besok ia akan kembali tinggal di rumahnya bersama dengan Ayah, Ibu tirinya dan juga.. Gloria.
Aruna mengemasi barang-barang yang akan ia bawa pulang, tidak banyak yang ia bawa, ia hanya membawa baju-bajunya yang memang ia bawa dari rumah. Ada sedikit perasaan pilu ketika akan meninggalkan rumah Renan, sedikit banyak waktu sebulan bukanlah waktu yang singkat, banyak kenangan yang ia ukir di sana bersama
dengan Renan. Meskipun Renan sudah secara terang-terangan menyatakan cintanya, entah mengapa Aruna masih tetap belum yakin.
"Kenapa kau tidak membawa semua baju-bajunya?"
"Tidak usah, nanti Ayah dan Ibu akan curiga."
"Aku akan mengantarkanmu pulang!"
Sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang bersuara kala itu, ada banyak kata-kata yang ingin ia ucapkan, tapi tenggorokannya seakan tercekat, hingga ia dengan susah payah menelan ludahnya kuat-kuat. begitupun dengan Aruna banyak untaian kata yang ingin ia ucapkan tapi ia bingung hendak memulainya darimana?
"Aruna."
"Renan."
Ucap Renan dan Aruna secara serempak, hingga mereka kembali terdiam.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Renan.
"Em.. bisakah Gloria kerja di kantormu? Pasti setelah aku pulang mereka akan terus-terusan memaksaku untuk memasukkan Gloria di kantor."
"Dasar pemaksa! Memangnya mereka siapa?"
"Apa bisa?" tanya Aruna lagi dengan sorot mata sendu, meminta kepada Renan untuk mengabulkan permintaannya.
Hembusan napas kasar keluar dari hidung Renan. "Baiklah, bilang padanya besok dia bisa bekerja, menggantikan posisimu."
__ADS_1
Aruna tersenyum tulus. "Terima kasih, kau adalah bos terbaik yang pernah aku kenal."
"Ayo aku antar pulang, sebelum malam kian larut."
Aruna mengangguk. "Baiklah."
Renan membantu Aruna membawa kopernya turun dari lantai atas, memasukkannya ke bagasi mobilnya, Aruna naik ke dalam mobil dan hendak memasangkan shittbelnya namun terlihat kesusahan, Renan yang tidak tega, membantunya memasangkannya.
"Sini biarku bantu!"
Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, hanya tinggal sejengkal jarak diantara keduanya, membuat Aruna merasakan hembusan napas Renan yang berat. Jika saja tidak ada efek yang ditimbulkan ketika ia menciumnya, mungkin Renan sudah menciumnya dengan apik. Jantung Aruna tak kalah hebat berdetak ketika berdekatan dengan Renan, sebenarnya Renan adalah laki-laki pertama yang menyatakan cintanya secara langsung, bukannya langsung diterima tapi Aruna seperti sedang mengulur waktu. Menunggu Renan membuktikan kesungguhan cintanya. Tidak mau naluri lelakinya terpancing Renan segera menjauhkan dirinya dari Aruna dan segera melajukan mobilnya.
"Apa nanti ketika sampai rumah aku harus turun? Memberikan penjelasan pada kedua orangtuamu?"
"Kalau kau tidak keberatan, aku harap kau mau menjelaskannya pada orangtuaku."
"Baiklah itu soal gampang."
Ketika dalam perjalanan Aruna memilih memejamkan matanya, sebenarnya hatinya sedikit tidak rela ketika ia akan kembali ke rumah, itu artinya ia akan memasuki rumah yang seperti neraka baginya. bukan rumahku surgaku.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Renan ketika Aruna tiba-tiba saja membuka matanya.
"Aku hanya rindu suasana rumah yang seperti dulu, dimana hanya ada aku, Ayah dan Mama."
Ketika menyebutkan kata Mama, terlihat mata Aruna yang mulai berkaca-kaca, Renan tau banyak kesedihan yang tengah Aruna tutupi.
"Jika kau diperlakukan tidak adil di rumah, datanglah ke rumahku."
Aruna mengelap cairan bening yang hampir saja mengucur dipipi dengan ibu jarinya. Ia terlalu segan jika Renan harus mengetahui kesedihannya.
"Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu Renan?"
"Kapan kau akan mulai mempercayaiku bahwa aku benar-benar mencintaimu."
Aruna menghembuskan napas berat. "Aku percaya!"
Meski hatinya tidak sepenuhnya yakin, tapi untuk saat ini ia memang percaya, jika Renan mencintainya, terlalu banyak perhatian yang telah diberikannya. Aruna tidak bisa terus menerus menggantungkan harapan palsu untuk Renan, biarlah waktu yang akan menjawabnya apakah nantinya Aruna akan benar-benar jatuh cinta kepada Renan?
"Aku akan ikut masuk bersamamu," Aruna mengangguk.
__ADS_1
Sampai di rumah, Renan benar-benar di sambut hangat oleh Gantari dan Alfaro. Bukan hanya sambutan hangat tetapi mereka juga menyajikan menu makan malam yang luar biasa spesial, Karena sebelum pulang Aruna bilang jika ia akan diantarkan oleh Renan.
"Mampus, aku tidak bisa memakan makanan manusia, Danilo aku harus apa?" tanya Renan dalam hati.