
Pedri Tores adalah pria pertama yang Aruna kagumi ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas, namun sangat disayangkan gayung tak bersambut, Pedri menyukai Gloria, dan lebih menyakitkan lagi bagi Aruna mereka menjalin kasih, membuat hati Aruna patah seribu. Tiga tahun mengagumi tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan kini Gloria dan Pedri sudah menjadi mantan kekasih, Aruna tidak tau apa yang menyebabkan keduanya memutuskan untuk berpisah ketika kelulusan sekolah.
"Kau Aruna 'kan?" tanya Pedri.
"I-iya aku Aruna," jawab Aruna gugup.
"Lama tidak bertemu, kau sekarang tampak lebih cantik."
"Terima kasih."
"Oh, jadi kalian saling mengenal tuan Pedri?" sahut Renan.
"Iya kita teman sekolah tuan Renan."
Tidak mau pria lain memuji kecantikan Aruna, Renan lantas langsung saja mengajak Pedri berdiskusi tentang proyek yang akan mereka lakukan. Aruna hanya bicara jika Renan menyuruhnya, jika tidak ia diam menjadi pendengar yang baik. Kesepakatanpun terjalin, Renan dan Pedri menandatangani kontrak kerjasamanya.
"Baiklah tuan Renan semoga kerjasama kita berhasil, dan Aruna pastinya kita akan lebih sering bertemu lagi," ucap Perdi seraya tersenyum manis kepada Aruna, dan tentu saja membuat Aruna salah tingkah, senyuman manis Pedri yang dari dulu Aruna sukai.
Pedri pergi dari sana terlebih dahulu meninggalkan Aruna dan Renan. Renan mendapati Aruna yang terlihat salah tingkah, ketika Pedri tersenyum padanya, Renan tau pasti ada sesuatu antara Aruna dan Pedri, apapun itu Renan akan mencegah Aruna menyukai pria lain, kecuali dirinya. Setelah Pedri pergi tak lama Renan dan Aruna juga pergi dari sana, mereka hendak kembali ke kantor. Sesampainya di ruangannya Renan melempar tas kerjanya ke sembarang arah, membuat Danilo terjengkat kaget.
"Danilo cari tau, hubungan Aruna dan tuan Pedri, kenapa tadi Aruna terlihat salah tingkah ketika bertemu dengan tuan Pedri."
"Baik tuan."
"Danilo, aku tidak mau Aruna tersenyum pada setiap lelaki manapun, senyuman itu hanya untukku."
"Lalu saya harus apa tuan?"
"Terserah apa yang akan kau lakukan, asal Aruna tidak tersenyum pada lelaki manapun."
"Tapi tuan--"
Sorot mata Renan berubah menjadi berwarna merah ketika Danilo hendak melayangkan protes, Ketika mata Renan sudah berubah menjadi merah Danilo hanya bisa menunduk takut.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya aku bisa menahan Aruna untuk tidak tersenyum?" tanya Danilo dalam hati.
__ADS_1
Di meja kerjanya, Renan terlihat gelisah ia terus memikirkan Aruna, ia takut Aruna banyak di sukai para pria, Renan terus mengawasi Aruna yang sedang bekerja bersama tim satu divisi dengannya. Aruna terlihat akrab dengan seluruh tim di divisinya tanpa terkecuali, membuat Renan bergegas berdiri untuk menghampiri Aruna. Bisa saja Renan memanggilnya lewat telepon atau menyuruh Danilo untuk memanggil Aruna, tapi karena hatinya sedang terasa panas tanpa pikir panjang lagi, ia berjalan dengan tergesa ke ruangan kerja Aruna.
"Aruna," panggil Renan yang berdiri dibibir pintu, membuat obrolan Aruna dan yang lainnya terhenti.
"I-iya Pak?" jawab Aruna gugup.
"Ke ruangan saya sekarang!"
Renan pergi begitu saja, setelah menyuruh Aruna untuk segera ke ruangannya. tidak ada yang berani berbicara ketika Renan masih berada di sana. Dan setelah Renan pergi mereka kompak mengusap dadanya masing-masing.
"Runa, cepetan sana pergi! Daripada nanti Pak Renan ke sini lagi, bisa copot nih jantungku," ucap Zora.
"Iya, buruan sana pergi! Kamu bikin ruangan ini horor tauk nggak," sahut teman yang lain.
"Iya-iya aku pergi."
Dalam hati Aruna terus bertanya, kenapa Renan sesuka hatinya memanggil dirinya pada saat jam kerja. Padahal sudah sering Aruna bilang, kalau di kantor perlakukan ia seperti karyawan yang lainnya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Aruna masuk ke dalam ruangan Renan.
"Kau itu kebiasaan--" baru saja Aruna hendak melayangkan protesnya pada Renan, tapi ketika ia masuk ke dalam ruangannya, ruangan gelap, tidak ada cahaya sama sekali.
"Kenapa ruangannya gelap sekali," gumam Aruna.
"Kau tau hari ulang tahunku?" tanya Aruna dengan pandangan sudah mengembun.
"Jangan lupa aku ini bosmu, jadi aku tau."
Setelah meniup lilinnya, reflek Aruna memeluk Renan dengan air mata sudah mengalir deras dipipinya, ia tidak menahan rasa haru di dalam dadanya. Seumur hidupnya ia tidak pernah mendapatkan kejutan ulang tahun. Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Renan, ia berdiri kaku ketika Aruna tiba-tiba saja memeluknya,
tentunya dengan bibir yang terus tersungging. Dibalik kejutan ulang tahun yang dilakukan Renan, ada Danilo yang sedang bercucuran keringat, karena ia dengan secepat kilat mencari kue ulang tahun untuk Aruna.
"Kalau bukan karena aku, anda tidak akan mendapat pelukan tuan," gumam Danilo.
Dengan lirikan matanya, Renan menyuruhnya untuk pergi meninggalkan ruangannya, Danilo yang sudah paham, ia lekas segera pergi dari sana.
"Kenapa nggak di rumah aja ngasih kuenya?" tanya Aruna dengan polosnya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak suka? kalau begitu sepulang dari kantor kita akan cari tempat untuk merayakan ulang tahunmu."
"Bukan begitu, aku suka, kok. Terima kasih atas kejutannya."
"Aku punya hadiah untukmu."
Renan memberikan kotak buludru berwarna biru pada Aruna. Dengan segera Aruna membukanya, di dalamnya terdapat sebuah gelang dari emas putih dengan ukiran bunga mawar sangat indah hingga Aruna menatapnya tanpa berkedip.
"Bagus sekali, pasti harganya mahal."
"Sini aku pakaikan!"
Aruna menurut ia membiarkan Renan memakaikan gelangnya, tapi sedetik kemudian Aruna mengernyitkan dahinya, melihat Renan memakai sarung tangan.
"Tanganmu sakit? Kenapa pakai sarung tangan? Sini aku lihat."
"Jangan! Ini tidak pa-pa kok."
Renan berusaha menghindari Aruna yang akan memegang tangannya dan membuka sarung
tangannya.
"Kalau sampai kita bersentuhan aku takut kamu sakit Aruna," gumam Renan.
Aruna menatap gelang pemberian Renan yang sudah melingkar di pergelangan tangannya, gelang yang diberikan Renan kepada Aruna bukanlah gelang sembarangan, gelang itu di desain dengan alat teknologi canggih agar bisa melacak keberadaan Aruna dimanapun berada. Karena ia mendapatkan berita jika musuh sebangsanya sedang
mencari darah suci. Dan artinya keberadaan Aruna dalam bahaya. Sebenarnya ia mendapatkan berita itu seminggu yang lalu, kemudian ia membuat gelang tersebut dengan waktu yang sangat singkat.
"Aku baru pertama kali, melihat gelang seperti ini," katanya.
"Itu aku desain khusus untukmu, baguskan?"
"Sangat bagus, terima kasih.”
"Aku tidak hanya ingin ucapan terima kasih darimu saja--"
__ADS_1
"Lalu kau mau apa dariku? Aku tidak punya apa-apa untuk aku berikan kepadamu."
"Aku mau-- kau Aruna!"