MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 19 Pengorbanan


__ADS_3

Waktu pulang jam kantor telah tiba, Aruna turun dari Dari gedung perusahaan Tekno Intel dengan langkah yang gamang, ia masih memikirkan hubungan antara Yuta dan Vela, Vela seorang perempuan cantik, tinggi kata yang tepat untuk perempuan itu adalah sempurna, tidak ada cacat sedikitpun pada wajahnya. Lalu kenapa mereka berpisah? Apa Vela manusia biasa? Hingga mereka memutuskan untuk berpisah, pikiran Aruna terus menerka nerka. Saat tiba dilantai bawah baru saja ia keluar dari pintu utama perusahaan, sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapannya. Ia tau siapa pemilik mobil itu.


"Pedri kau kenapa ke sini? Mau ketemu Pak Renan?" tanya Aruna.


"Tidak, aku ke sini untuk menjemputmu pulang."


"T-tidak usah repot-repot aku bisa pulang sendiri."


"Aku takut kau tidak mendapat angkutan umum lagi, makanya aku ke sini."


Gloria yang baru saja keluar dari pintu utama perusahaan menghampiri Aruna dan Pedri.


"Hai Ped, aku senang bisa bertemu denganmu lagi."


"Hai."


"By the way, ngapain ada di sini?" tanya Gloria.


"Aku menjemput Aruna pulang."


"Jemput Aruna?"


Pedri mengangguk yakin, seketika wajah yang penuh binar itu menatap Aruna dengan tatapan skeptis, Aruna menunduk takut tidak berani menatap wanita yang ada di hadapannya yang mana adalah kakak tirinya.


"Dia--"


"Dia akan pulang bersamaku tuan Pedri," sahut Renan yang entah tiba-tiba muncul diantara mereka.


Pedri mengalihkan pandangannya menatap pria berambut cokelat dengan tatapan penuh nanya, kenapa Aruna harus pulang bersamanya? Jam kantor sudah selesai kenapa harus pulang bersama dengan Renan?


"Sekarang sudah bukan jam kantor lagi, tuan Renan, harusnya anda membiarkan karyawan anda pulang dan beristirahat."


"Mohon maaf, dia masih bawahan saya, jadi saya yang berhak memutuskan dia pulang atau tidak."


"Anda tidak bisa memerintahnya sesuka hati tuan Renan, dia manusia biasa yang butuh istirahat bukan robot suruhan anda."


rahang persegi itu mulai mengeras, hampir saja matanya menyala merah, jika Danilo tidak memperingatinya.


"Tuan--" bisik Danilo.


"Cepat suruh Aruna masuk ke dalam mobil!" ucap Renan seraya berlalu pergi.


"Aruna, masih ada pekerjaan yang harus kita selesaikan, cepat ikut saya," titah Danilo.

__ADS_1


Aruna mengikuti langkah kaki Danilo menuju mobilnya yang ada di parkiran, tapi sebelumnya ia berpamitan kepada Pedri sebelum meninggalkannya.


"Maaf aku tidak bisa pulang denganmu, terima kasih sudah menyempatkan waktunya datang ke sini."


Meskipun dengan hati yang ragu, tetap saja Aruna menuruti perintah Renan.


"Ada pekerjaan apa? Bukankah semua pekerjaan sudah aku selesaikan tadi di kantor."


Sunyi, hanya terdengar suara deru mesin mobil yang melaju semakin cepat, baik Danilo maupun Renan enggan untuk menjawab pertanyaan Aruna.


"Kenapa Pedri bisa menjemputmu ke kantor?"


"Aku tidak tau, kenapa dia tiba-tiba menjemputku."


"Aruna, aku tidak suka melihat kau dengan laki-laki lain."


"Renan aku ini single jadi wajar ada pria yang mendekatiku."


Kepalan tangan pria berambut cokelat membuat urat-urat di tangannya terlihat jelas, matanya menyala merah, hembusan napas kasar ia keluarkan.


"Aku bilang, aku tidak suka Aruna. Kau adalah milikku."


Renan menekankan kata milikku dengan sangat jelas ditelinga Aruna. Hingga bulu romanya merinding. Rasanya sangat aneh ketika dicintai dengan segitu hebatnya. Sebelum mengetahui Renan bukanlah manusia biasa Aruna sempat mulai jatuh hati padanya, wanita mana yang tidak akan jatuh hati kepada Renan Ribeiro, laki-laki tampan dan kaya. Tapi poin terpenting bagi Aruna bukanlah itu, Aruna mulai jatuh hati kepada Renan karena Renan memperlakukannya bak seorang putri raja, ia merasa menjadi wanita yang paling istimewa.


Tiba-tiba saja Danilo mengerem mendadak, hingga kepala Aruna sedikit terbentur kursi depan.


"Aaawwwhh...," ringis Aruna.


"Danilo kenapa berhenti mendadak?" tanya Renan dengan intonasi yang tinggi.


Danilo tidak menjawab, ia sedang fokus melihat tiga motor yang tiba-tiba berhenti di depan mobilnya. Satu motor berisi dua orang, jika tiga motor berarti jumlah mereka menjadi enam orang.


"Tuan mereka mencoba menghalangi mobil kita," aku Danilo kepada Renan.


"Siapa mereka?"


Danilo menggeleng pelan, sepertinya mereka komplotan penjahat, ke enam orang itu segera menghampiri mobil Renan dan menggedor kaca jendelanya.


"Keluar kalian semua!"


Melihat segerombolan orang menggedor-gedor kaca jendela mobilnya, Aruna mulai duduk memojokkan diri dan menutup mukanya dengan telapak tangan.


"Siapa mereka? Aku takut," ucap Aruna lirih.

__ADS_1


"Diamlah di sini, aku akan keluar menghadapi mereka dengan Danilo."


Renan dan Danilo keluar dari dalam mobil menghadapi komplotan penjahat itu, jalanan yang mereka lalui memang tidak terlalu ramai, ada beberapa mobil dan motor yang melintas tetapi mereka semua seolah tidak melihat kejadian itu, kehidupan di ibu kota sangatlah keras meskipun kejahatan di depan mata mereka seakan tidak peduli. Mereka memilih menyelamatkan diri sendiri dibanding menolong orang lain.


"Kalian butuh uang berapa? Aku akan memberikannya, kalian tidak perlu menjadi penjahat untuk mendapatkan uang."


"Kami tidak butuh uang anda, kami butuh wanita yang ada bersama dengan anda."


Seketika wajah pria berambut cokelat yang tenang berubah menjadi bengis, ia tidak akan membiarkan laki-laki manapun mengambil Aruna dalam hidupnya, walau hanya sedetik.


"Sebaiknya kalian minggir, kami hanya mau perempuan itu, atau kalian akan--"


Salah satu komplotan penjahat itu belum sempat, menuntaskan kalimatnya, tapi Renan telah menendangnya hingga tersungkur, akhirnya terjadilah perkelahian antara dua lawan enam. Aruna menyaksikan dari dalam mobil dengan raut cemas. Renan meninju, menendang, memelintir para komplotan penjahat itu, hingga salah satu


dari mereka memecahkan kaca mobil Renan mencoba membuka pintu mobil hendak membawa Aruna pergi dari sana.


"Aku tidak mau, lepaskan aku."


Aruna meronta berusaha melepaskan diri dari penjahat itu, namun sayang tenaga Aruna kalah kuat, hingga penjahat itu berhasil membawa Aruna keluar dari dalam mobil.


"Lepaskan, Renan tolong aku--"


Renan yang mendengar teriakan Aruna, ia langsung berlari ke arah Aruna namun sayangnya, belum sempat sampai salah satu dari komplotan penjahat itu menusukan pisau belati pada perutnya, tapi Renan berhasil menangkisnya hingga pisau belati itu terkena telapak tangannya.


"Renan--"


"Hentikan atau kalian mati sia-sia di sini."


Renan naik pitam kemarahannya mudah tersulut jika bersangkutan dengan Aruna. Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang hingga dedaunan dan batu berterbangan di udara. Sekali saja Renan menggerakkan jemarinya maka semua yang ada di dekatnya akan hancur lebur. Melihat cuaca yang berubah menakutkan para komplotan itu meninggalkan tempat itu. Aruna berlari ke arah Renan untuk melihat keadaannya.


"Renan mereka sudah pergi."


Renan membuka matanya, tapi tiba-tiba saja Renan menyemburkan darah dari dalam mulutnya.


"Renan kau kenapa? Danilo lihat apa yang terjadi?"


Aruna panik, tiba-tiba saja tubuh Renan ambruk di hadapannya. Danilo segera membawa Renan pulang ke rumah untuk mendapat pengobatan. Di dalam perjalanan Aruna terus memandangi wajah Renan yang terpejam di pangkuannya. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya tapi ia urungkan untuk bertanya pada Danilo.


"Dia telah menghabiskan seluruh tenaga dalamnya, sampai tidak sadarkan diri hanya untuk menolongmu Aruna!" seru Danilo.


"Apa dia akan kembali sembuh?" tanya Aruna lirih.


Danilo membisu membuat Aruna dirundung rasa bersalah. Karena dirinya Renan rela mengorbankan nyawanya. Di tempat lain seorang wanita cantik yang mempunyai bentuk tubuh yang indah tengah memarahi anak buahnya.

__ADS_1


"Dasar kalian tidak berguna, cuma disuruh bawa perempuan lemah saja kalian gagal."


__ADS_2