MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 37 Mengingatkan


__ADS_3

Suara-suara itu mulai mendekati persembunyian Aruna, gadis sebahu itu segera bersembunyi di balik tembok dekat dengan tirai.


Krek


Telinga Aruna mendengar dengan sangat jelas jika pintu kamar tempatnya bersembunyi sudah terbuka, jantungnya berdebar tidak karuan ia takut jika manusia-manusia setengah binatang itu akan menemukannya. Lantas jika mereka menemukannya apa yang akan mereka lakukan terhadapnya? Aruna sedikit lega ketika ia mendengar jika pintu telah tertutup kembali, ia pun mulai keluar dari persembunyiannya.


"Syukurlah mereka sudah pergi."


Saat Aruna melangkahkan kakinya ia mendengar suara seseorang dari belakangnya.


"Akhirnya aku menemukannya."


Aruna terjengkat kaget, ketika mendengar suara manusia-manusia setengah binatang itu ada di belakangnya.


"Jangan mendekat, dan jangan sentuh aku."


"Di sini wilayah kami manusia bumi, kau tidak akan bisa keluar dari kastil dengan mudah."


Aruna berjalan mundur, ia mendekati jendela dan membuka slotnya. Semakin manusia-manusia binatang itu mendekatinya ia semakin melangkah mundur dan kini berada di dekat jendela berniat melompat dari sana.


"Renan tolong aku--" teriak Aruna.


Manusia-manusia setengah binatang itu tersenyum remeh kepada Aruna.


"Untuk apa kau memanggil nama Renan, dia itu sama seperti kami dan tidak akan menolongmu."


"Tidak! Renan tidak seperti itu."


Manusia-manusia setengah binatang itu semakin mendekati Aruna, dan Aruna reflek semakin melangkah mundur, mundur, dan mundur, akhirnya Aruna terjatuh dari atas jendela ke bawah.


"Aaaaahhhh ..."


Tubuhnya menggelinding dan kepalanya membentur benda yang sangat keras.


"Aaawwww ..." ringis Aruna seraya memegang kepalanya yang terasa sakit akibar terbentur benda yang sangat keras, perlahan Aruna membuka matanya, mengedarkan segala pandangannya ke segala arah ternyata Aruna berada di dalam kamar dan baru saja terjatuh dari atas ranjang.


"Apa aku hanya bermimpi? manusia-manusia setengah binatang itu hampir menangkapku."


Aruna bangkit seraya memegang kepalanya yang terasa sakit, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia melihat ke arah jam dinding yang terpasang di dalam kamarnya, ternyata jarum pendek menunjuk ke angka tiga.


"Masih jam tiga, kenapa aku bermimpi seperti itu? Apa itu artinya sebagai pertanda jika aku dan Renan tidak akan bisa bersama?"


Pagi seperti biasanya Aruna akan pergi ke kantor, hari ini tidak seperti biasanya Aruna merasa tidak bersemangat pergi ke kantor. Ia memikirkan mimpinya semalam begitu nyata namun hanya mimpi. Ketika Renan memanggilnya meminta berkas kepadanya Aruna nampak melamun dan tidak mendengar suara Renan.


"Aruna! Bawa berkas-berkas yang sudah di tandatangani ke sini."


Aruna masih diam, sambil menyangga dagunya dengan tangan, pikirannya sedang berkelana.


"Aruna!"


"Aruna!"


"Kau kenapa Aruna?"


Aruna terkejut ketika suara Renan menggelegar di telinganya. Dan Vela sangat puas ketika mendengar Renan membentak Aruna.


"Hah, iya Pak ada apa?"


"Kau itu kenapa Aruna? Bawa semua berkas yang sudah di tandatangani ke sini."


"Baik Pak, tunggu sebentar saya akan menyiapkannya."


Aruna menyiapkan berkas-berkas yang Renan minta. Merasa sudah benar ia membawanya ke hadapan Renan.

__ADS_1


"Ini Pak berkasnya."


Renan menatap lekat wanita berambut sebahu yang ada di hadapannya, membuat Aruna merasa terintimidasi.


"Apa dia tidak akan peduli padaku jika aku dalam bahaya?" tanya Aruna dalam hati.


Dengan sangat jelas Renan mendengar isi hati Aruna, membuat ia mengernyit dan semakin menatap lekat Aruna penuh tanya.


"Permisi Pak!"


Aruna melenggang pergi kembali ke meja kerjanya.


Ada apa dengannya? Kenapa tingkahnya aneh sekali?" gumam Renan.


Aruna berjalan gontai hendak menuju kantin, setelah mendengar bel istirahat kantor berbunyi, ia butuh penyegaran agar tidak selalu memikirkan mimpinya semalam.


"Aruna tunggu!"


Aruna menghentikan langkah kakinya menunggu seseorang yang akan menghampirinya.


"Zora."


Kedua wanita itu berjalan bersama menuju kantin, tapi kembali langkahnya terhenti Gloria menarik paksa Aruna untuk ikut dengannya.


"Glori kau mau bawa aku kemana?"


"Mana handphonemu?"


Aruna mengeluarkan telepon genggam miliknya dari saku celananya.


"Telepon Pedri sekarang juga, bilang padanya pulang kantor dia harus jemput ke sini."


"T-tapi Glori--"


Aruna menurut ia mencari kontak Pedri dan meneleponnya, tidak begitu lama panggilannya langsung terjawab.


"Halo Pedri," Aruna melirik ke arah Gloria memintanya membatalkan niatnya, namun ia malah mendapat tatapan sinis dari Gloria.


"P-pulang kantor bisakah kau menjemputku?" tanya Aruna ragu.


"Baiklah Terima kasih," Aruna mengakhiri panggilan teleponnya.


"Sudah."


"Ingat Runa ketika pulang kantor, kau jangan keluar gedung kantor sebelum aku dan Pedri pergi, biar aku yang akan melanjutkan rencanaku."


"Baiklah!" ujar Aruna seraya mengangguk paham.


Aruna kembali menghampiri Zora yang sudah terlebih dulu memesan makanan.


"Kenapa kau mau menurutinya Aruna? Harusnya kau menolaknya.


" Aku tidak bisa mengabaikan permintaannya Zora."


Zora mendengkus kesal. "Kau ini seperti kacungnya saja."


"Sudahlah lebih baik kita makan sekarang aku lapar."


Saat mereka sibuk dengan makanannya kini Vela yang menghampiri mereka saat mereka sedang makan.


"Haduh ada apa lagi sih?" gumam Zora.


"Mana aku tau," balas Aruna

__ADS_1


Tanpa permisi Vela duduk di depan mereka, dan memperhatikan mereka sedang makan.


"Kenapa? Kau mau Vela?" tanya Zora.


"Tidak terima kasih."


"Aku ingin bicara dengan Aruna, bisa kalian makannya lebih cepat?"


Mendadak Zora terbatuk-batuk mendengar ucapan Vela, dia siapa seenaknya menyuruh makan lebih cepat, pikir Zora.


"Kau tidak apa Zora?" ujar Aruna seraya memberikan gelas air kepada Zora.


"Kenapa kau selalu dicari banyak saingan runa?" tanya Zora pelan.


"Saingan? Maksudnya?"


"Iya mereka berdua, Vela dan Gloria sama-sama menyukai laki-laki dan ternyata laki-laki tersebut suka padamu."


"Kau ini ngomong apa sih Zora?"


"Apa sudah selesai?"


"Vela kami ini sedang lapar, tidak bisa di buru-buru, jadi lebih baik kau yang sabar menunggu, dan kalau kau tidak mau menunggu silahkan pergi dari sini," ujar Zora yang otomatis mendapat cubitan dari Aruna.


"Aaawwwhhh, kau ini kenapa mencubitku?"


Vela dengan sabar menunggu Zora dan Aruna selesai makan, selesai makan Zora tak kunjung meninggalkan kantin ia sengaja duduk berlama-lama agar mengetahui maksud Vela.


"Bisakah kau tinggalkan kami berdua?"


"Kenapa Vela? Aku ini juga teman kantormu dan juga Aruna, kenapa aku harus pergi?"


"Aku ingin berbicara berdua dengan Aruna, tanpa ada siapa pun."


Baru saja Zora akan menyanggah perkataan Vela tapi Aruna terlebih dahulu memintanya untuk mengerti dan segera pergi meninggalkannya berdua dengan Vela.


"Zora, sudahlah jangan memperumit masalah, aku akan segera menyusulmu ketika sudah selesai berbicara dengannya.


"Baiklah aku pergi sekarang."


Dengan sangat terpaksa Zora pergi meninggalkan Aruna dan Vela, kini di meja kantin hanya tinggal Aruna dan Vela yang saling berhadapan, Aruna menunggu Vela berbicara padanya, tanpa mau bertanya terlebih dahulu.


"Aruna."


"Iya?"


"Bagaimana dengan mimpimu semalam?"


Seketika Aruna memandang Vela dengan penuh tanya, kenapa Vela menanyakan tentang mimpi semalam padanya?


"Apa maksudnya Vela?"


"Itulah gambaran yang akan terjadi jika kau bersama dengan Renan, semua bangsa kami tidak akan menyetujuinya."


"Kenapa kau bisa tahu mimpiku?"


"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku tahu mimpimu, karena akulah yang membawamu ke alam mimpimu semalam."


"Vela kau benar-benar keterlaluan, kau tidak perlu melakukan hal seperti itu hanya untuk menjauhkan aku dengan Renan."


Vela berdiri sedikit mencondongkan badannya pada Aruna. "Tapi kau perlu diingatkan agar tidak lupa siapa dirimu dan siapa Renan!"


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2