MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 30 Menjatuhkan


__ADS_3

Pria berambut cokelat melihat jam tangan yang melingkar pada tangan kiri Aruna, jam yang sangat terlihat mewah, pasti jam pemberian Pedri kemarin. Gelang pemberiannya ternyata Aruna sudah tidak memakainya lagi dan sudah berganti menjadi jam tangan keluaran terbaru.


"Jam tanganmu bagus?"


"Oh, ini pemberian Pedri kemarin."


Wanita bertubuh tinggi baru saja tiba di ruangan dan langsung memeluk Renan erat.


"Maaf aku terlambat, apa ada sesuatu hal yang aku lewatkan?"


"Permisi Pak."


Aruna pergi meninggalkan Renan dan Vela, ia kembali ke meja kerjanya.


"Vela lepaskan, jaga sikapmu di kantor."


"Kenapa begitu Renan? Ini kantormu dan aku bebas melakukan apa pun."


"Vela, aku tidak mau para pegawaiku berpikiran yang bukan-bukan tentangku."


"Para pegawaimu atau hanya Aruna saja?"


Renan memicingkan matanya, ia terlihat tidak senang atas ungkapan Vela, sindiran yang begitu telak untuknya.


"Sekarang cepat kembali ke meja kerjamu Vela!"


Vela mendengus kesal, tapi meski begitu ia menurut bergegas ke meja kerjanya. Vela menatap Aruna dengan sinis, sedangkan orang yang ditatapnya tidak acuh malah ia sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Nanti siang kita akan bertemu dengan klien," ujar Renan.


"Baik Pak," jawab Aruna.


"Aku ikut!" sahut Vela.


Renan terdiam, ia sedang berpikir apakah Vela juga harus ikut bersamanya meeting? Sedangkan tugasnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan meeting kali ini.


"Aku mohon Renan, aku ikut bukan hanya sekedar ikut, tapi aku juga mau tau dan mau mempelajarinya," rayu Vela.


"Oke baiklah."


"Kesempatan bagus, aku akan mempermalukan Aruna di depan umum, kita lihat saja apa yang akan terjadi denganmu!" ucap Vela dalam hati.


"Pukul sepuluh kita akan berangkat."


Aruna hanya mengangguk pelan, sedangkan Vela tersenyum senang. Waktu yang di nanti akhirnya tiba, Danilo merasa aneh kenapa Renan membawa dua wanita sekaligus?


"Tuan kenapa anda mengajak nona Vela meeting kali ini?"


"Biarkan dia ikut, bisa sambil belajar juga."

__ADS_1


Danilo menganggukkan kepalanya, Danilo pikir semua urusan meeting kali ini Vela yang mengurusnya, tapi ternyata masih Aruna.


"Kau duduk di depan, aku dan Renan duduk di belakang," titah Vela.


Aruna menurut ia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Mobil melaju membelah jalanan ibukota yang ramai.


"Aruna apa kau sudah mempersiapkan persentasi untuk meeting sekarang? tanya Renan.


"Sudah Pak," jawab Aruna.


"Bagus, aku tidak mau ada kesalahan kali ini."


Di samping Renan, Vela sedang menahan tawa, ia ingin segera melihat Aruna dipermalukan di depan umum.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat pertunjukan yang akan membuatku tertawa puas."


"Apa maksudnya?"


"B-bukan apa-apa."


Tak berapa lama mereka sampai di depan gedung perusahaan yang akan menjadi tempat meeting. Vela sengaja berjalan di belakang ia membiarkan Aruna berjalan terlebih dahulu. Semua investor dan stap kantor perusahaan itu sudah berkumpul, Aruna mempersiapkan bahan untuk persentasi Renan.


"Silahkan dimulai persentasinya tuan Renan."


Renan segera menyuruh Aruna untuk memutar bahan yang akan ia persentasikan di depan layar. Namun yang muncul bukan bahan persentasi yang sudah Aruna siapkan tapi film kartun yang otomatis membuat orang yang ada di ruangan itu tertawa.


Danilo segera mengotak-atik laptop yang Aruna pegang, ternyata bahan persentasinya tidak ada di dalam laptop.


"Dimana kau menyimpannya Aruna?"


"Aku sudah menyimpannya, dan aku tidak tau kenapa tiba-tiba datanya hilang."


Danilo segera membisikan sesuatu pada Renan, memberitahunya jika data persentasi untuk hari ini hilang. Meski begitu Renan tetap melanjutkan persentasinya tanpa adanya layar monitor, ia benar-benar hanya mengandalkan kemampuannya. Meeting hari itu selesai meskipun Renan mendapatkan investor dan tender berhasil ia raih, tapi ia tidak puas dengan bahan persentasinya sendiri.


"Kau lihat kan Renan sekertarismu ini tidak becus kerja, data sepenting itu dia hilangkan," ujar Vela memanasi.


"Maaf tapi aku benar-benar tidak sengaja menghilangkannya, sebelum berangkat aku sudah mengeceknya terlebih dahulu."


"Lain kali, aku tidak mau mendengar kata maaf!"


Aruna berdiri kaku, menatap kepergian Renan, Kali ini benar-benar memang kecerobohannya kenapa data sepenting itu bisa hilang? Melihat Renan yang acuh terhadap Aruna, Vela sangat menikmati momen itu, dari belakang mereka ia sedang menertawakannya.


"Besok-besok jangan diulangi lagi," ujar Danilo.


Aruna mengangguk lemah, ia merasa pekerjaannya hari ini hanya sia-sia.


"Apa yang harus aku lakukan agar Renan mau memaafkan aku?"


Gadis berambut sebahu mengaduk-aduk cangkir kopi tanpa mau menghentikannya. Tatapannya kosong pikirannya sedang bercabang kemana-kemana.

__ADS_1


"Ngapain duduk di sini sendiri? Ngaduk-ngaduk kopi?" tanya Zora yang ikut mendaratkan bokongnya di sebelah Aruna.


"Hari ini kerjaanku gagal Ra."


"Gagal kenapa? Apanya yang gagal?"


"Data untuk persentasi tadi hilang."


"Apa? hilang? Aku nggak bisa bayangin wajah marahnya Pak Renan."


"Jangan dibayangin nanti nggak bisa tidur."


Zora bergidik ngeri. "Terus persentasinya gimana?"


"Persentasinya tetap berjalan tanpa adanya bahan yang udah aku bikin."


"Untung Pak Renan pinter, coba kalau nggak hilang deh, tuh proyek besar."


Aruna mengiyakan ucapan Zora, pasalnya meeting yang baru saja Aruna lewati adalah meeting terpenting sepanjang perjalanan karir Renan.


"Coba ingat-ingat apa laptopnya kena virus?"


Aruna menggeleng cepat. "Nggak laptopnya masih sehat, kok."


"Kayanya lupa ngesave, deh."


"Nggak juga, aku masih ingat betul sebelum aku berangkat aku cek dulu datanya, dan datanya masih ada, nggak tau kenapa pas mau persentasi hilang."


"Kalau gitu pasti ada orang yang hapus datanya."


Seketika Aruna tercenung, ucapan Zora bisa saja benar, jika data persentasinya ada seseorang yang menghapusnya tapi siapa orang yang telah berani-beraninya menghapus data sepenting itu? Tidak mungkin orang kantor kan?


"Nggak mungkin."


"Aruna, jadi orang jangan polos-polos amat, kita nggak tau sikap orang di belakang kita, jangan tertipu dengan casing yang menutupi dirinya yang sebenarnya."


"Aku nggak mau berburuk sangka sama orang, sebelum benar-benar ada buktinya."


"Aku yakin Vela yang sudah melakukannya!"


"Hus, jangan sembarangan ngomong, tidak mungkin kan, dia mau menjatuhkan perusahaan ini."


"Bukan perusahaan yang ingin dia jatuhkan Aruna, tapi kau Aruna, dia ingin menjatuhkan kau di depan Renan."


Gadis berambut sebahu membatu, apa yang diucapkan Zora bisa saja benar dan juga bisa saja salah. Sejak pembicaraannya dengan Zora, Aruna memutuskan untuk menyelidiki sendiri siapa orang yang sudah menghapus data sepenting itu. Aruna kembali ke dalam ruangannya kebetulan Renan dan Vela tidak ada di dalam jadi dia bisa leluasa membuka cctv untuk melihat orang yang telah menghapus datanya.


Seketika bola matanya membulat sempurna, dugaan Zora ternyata benar, jika Vela adalah orang yang telah menghapus datanya, hanya untuk menjatuhkannya di depan Renan.


"Aku harus memberi tahukan semuanya kepada Renan."

__ADS_1


__ADS_2