MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 17 Siapa Renan Ribeiro


__ADS_3

Pepatah mengatakan jika kita mengingat seseorang disaat sedang bersedih, itu artinya orang yang kita ingat itu mencintai kita, dan kali ini Aruna sedang merasakan kesedihan yang teramat dalam akibat pertengkarannya dengan Gloria, dimana Alfaro sama sekali tidak adil terhadapnya. Saat kesedihan melanda Aruna teringat ucapan Renan.


"Datanglah ke rumahku, jika kau merasa tidak diperlakukan tidak adil di rumahmu sendiri."


Kalimat itu seketika muncul dibenak Aruna, tapi ia baru saja melarikan diri dari rumah Renan, bagaimana bisa ia kembali ke sana untuk menenangkan diri. Aruna menyiramkan air pada tubuhnya dengan air mata yang terus mengalir dipipi. Untuk yang kesekian kalinya Aruna merasa jika Ayahnya yang sekarang bukan Ayah kandungnya. Aruna merasa sendiri.


"Ma, Aruna harus apa sekarang? Apa Aruna harus menyerah?" ucap Aruna lirih.


Puas menangis seorang diri di dalam kamar, Aruna bersiap untuk pergi ke kantor. Tadinya ia tidak akan pergi ke kantor untuk menghindari Renan, tapi di rumah ia malah merasa lebih tidak nyaman jika dibandingkan dengan bertemu Renan.


"Runa, cepetan keluar, kalau lo nggak keluar juga gue tinggal," teriak Gloria.


"I-iya sebentar."


Tak lama setelah itu Aruna keluar dari dalam kamar menghampiri Gloria. Setelah terjadi pertengkaran yang cukup menguras air mata Aruna, Gloria seperti menganggap tidak terjadi apa-apa, ia bersikap seperti biasanya. Seperti biasa mereka berpamitan kepada Alfaro dan Gantari sebelum pergi ke kantor. Belum sampai di kantor tapi Gloria menurunkan Aruna di pertengahan jalan.


"Turun lo!" titah Gloria.


"Maksudnya apa Glori? Kita bisa telat datang ke kantor."


"Kita? Cepetan turun lo dari mobil gue!"


"Glori, kau tidak bermaksud meninggalkan aku di jalan 'kan?"


"Udah tau, pake nanya segala lagi lo. Buruan turun!"


Dengan sangat terpaksa Aruna turun dari dalam mobil, dan mobil Gloria melesat jauh meninggalkan Aruna. Gloria menurunkan Aruna di jalanan yang sepi, jarang ada taksi ataupun angkutan umum yang lewat di jalan itu.


"Aku harus minta bantuan siapa?" Aruna membuka ponselnya mencari kontak yang setidaknya bisa menolongnya untuk sampai di kantor.


Aruna melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, jarum pendek sudah menunjuk angka delapan, artinya jam kantor sudah masuk.


"Aku sudah telat, apa yang harus aku lakukan?"


Dari jauh sebuah mobil membunyikan klaksonnya kepada Aruna, tapi Aruna tidak peduli, ia takut orang yang akan berniat jahat kepadanya.


Tin.. tin.. tin...


Suara klakson mobil terus berbunyi, tapi Aruna tetap geming, ia tidak berani melihat ke arah mobil tersebut.


"Aruna, hey.. ini aku Pedri."


Seketika Aruna menolehkan kepalanya, memastikan jika itu benar-benar Pedri, Pedri menepikan mobilnya dibahu jalan, ia menghampiri Aruna.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

__ADS_1


"A-aku sedang menunggu taksi, untuk pergi ke kantor."


"Kantor?"


"Iya kantor."


"Ayo masuklah ke mobilku, aku akan mengantarkanmu sampai kantor."


Aruna sedikit ragu, tapi ia memaksakan diri masuk ke dalam mobil Pedri. Pedri membukakan pintu mobil untuk Aruna, hingga Aruna sedikit canggung atas perlakuan Pedri terhadapnya.


"Silahkan!"


"Terima kasih."


Pedri benar-benar mengantarkan Aruna tepat di depan kantor Tekno Intel. Aruna turun dari dalam mobil tak lupa Pedri membukakan pintunya untuk Aruna.


"Terima kasih banyak, maaf sudah merepotkan," tutur Aruna segan.


"Tidak masalah, jika butuh bantuan telepon saja aku."


Aruna mengangguk seraya tersenyum simpul, dari jarak lima meter seseorang yang telah memperhatikan interaksi antara Aruna dan Pedri, mulai mengeraskan rahangnya yang berbentuk kotak, matanya menyala merah, ia tidak


suka melihat Aruna tersenyum pada pria lain.


"Tuan, ayo cepat kita sudah ditunggu di ruang meeting."


"Aku akan buat perhitungan dengannya, agar dia tau, siapa Renan Ribeiro sebenarnya."


Renan dan Danilo segera pergi dari tempat itu menuju ruang meeting, sedangkan Aruna ia sudah pergi beberapa menit lalu. Aruna masuk ke dalam ruangan Renan dengan tergesa, sebelum Renan selesai meeting ia harus segera duduk di kursinya.


"Untung saja dia sedang meeting."


Harusnya ketika Renan akan meeting dengan seseorang, sebagai sekertarisnya harusnya Aruna yang mempersiapkan segalanya, tapi malah Danilo yang masih mengerjakan tugas-tugasnya. Aruna menghidupkan komputernya, ia melihat jadwal selanjutnya untuk Renan, ternyata setelah meeting nanti, jadwal Renan kosong, artinya ia akan segera bertemu dengannya.


"Apa yang harus aku lakukan, jika aku bertemu dengan Renan? Apa aku harus berbasa-basi menyapanya? Tidak-tidak itu akan terlihat bodoh sekali."


Aruna menatap layar komputer yang ada di hadapannya, tetapi pikirannya sedang berkelana memikirkan cara, agar tidak terlalu canggung di depan Renan. Lama menunggunya kini Renan dan Danilo masuk ke dalam ruangannya.


Aruna bergegas berdiri hendak menyapa Renan, tapi Renan mengacuhkannya, Aruna menaikkan kedua alis matanya ia sedikit tidak mengerti kenapa tiba-tiba Renan tidak peduli dengan kehadirannya?


"Apa dia marah karena aku telat masuk kantor?" tanya Aruna dalam hati, jelas Renan mendengarnya dan sedikit menyunggingkan bibirnya.


"Kau kenapa baru datang Aruna? Meeting sudah selesai, untung saja ada Gloria yang membatu kami persentasi," ujar Danilo.


Aruna menunduk merasa bersalah. "Maafkan aku."

__ADS_1


"Danilo, ajak Gloria makan siang di ruanganku, aku harus ucapkan terima kasih padanya."


Seketika pandangan Aruna tertuju pada Renan, jadi itu alasan Gloria menurunkannya di pertengahan jalan, agar ia bisa ikut meeting dengan Renan.


"Biar aku saja yang akan mengajaknya untuk makan siang nanti di sini," sahut Aruna.


"Tidak usah, Danilo yang akan memberitahunya," sergah Renan.


Bahkan untuk sekedar memberitahu Gloria pun, Renan tidak mengizinkannya. Apa Renan sebegitu marahnya kepada Aruna? Renan memang marah kepada Aruna, tapi bukan karena Aruna telat datang ke kantor, melainkan karena ia datang ke kantor bersama dengan Pedri dan tersenyum padanya. Jika kembali mengingat itu Renan akan kembali mengeraskan rahangnya dan sorot matanya berubah berwarna merah.


"Kalau begitu saya permisi," Aruna kembali pergi ke meja kerjanya.


Saat mengerjakan tugas-tugas kantornya, diam-diam Aruna mencuri pandang ke arah Renan yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Ia masih tidak percaya kemarin Renan masih mengemis cinta padanya dan sekarang ia acuh terhadapnya.


"Dasar laki-laki sama aja, gak manusia tulen, nggak setengah manusia, semuanya sama, sama-sama playboy cap kadal," gerutu Aruna.


diseberang sana, ditemani Danilo, Renan mengerjakan pekerjaan kantornya, Danilo menaikkan kedua alis matanya, baru kali ini Renan tidak peduli dengan kehadiran Aruna.


"Tuan sebenarnya apa yang tuan rencanakan?" tanya Danilo.


"Aku hanya ingin Aruna tau siapa Renan Ribeiro, tidak ada yang bisa lepas dariku jika aku sudah menyatakan iya."


Danilo menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa ia mengerti maksud dari Renan, pada jam istirahat, Gloria dengan sangat bangga mengumumkan ke semua teman kantornya, jika ia di undang makan siang oleh Renan, karena telah membantu Renan meeting tadi.


"Permisi," ucap Gloria.


"Masuk!" titah Renan.


Renan sudah duduk di sofa menunggu kedatangan Gloria, di hadapannya sudah ada beberapa hidangan untuk Gloria.


"Pak Renan yang memesankan makanan ini untukku?" tanya Gloria.


"Iya, silahkan dimakan! itu sebagai ucapan terima kasih karena kau telah membantu saya tadi meeting."


Seketika Aruna menatap Renan lekat. "Apa dia sedang menyindirku?" batin Aruna. Kembali Renan menyunggingkan bibirnya karena mendengar suara hati Aruna.


Gloria makan dengan lahapnya, hingga ia tidak memperhatikan Renan, makan atau tidak, karena makanan yang ada di hadapannya sungguh sangat memanjakan lidahnya.


"Sorry--" ucap Renan seraya mengelap bibir Gloria dengan tisu karena ada bekas makanan yang menempel di bibirnya. Pada saat yang bersamaan Aruna melihatnya, tubuhnya mulai terasa dingin, sedangkan hatinya terasa panas, melihat perhatian Renan pada wanita lain. Aruna bergegas berdiri berjalan cepat menuju pintu dan segera keluar dari dalam ruangan, karena ia tidak sanggup jika harus menyaksikan adegan seperti tadi.


Bruk...


Aruna menutup pintu dengan sangat kencang, hingga berdentum nyaring. Gloria sedikit terjengkang kaget, berbeda dengan Renan yang tersenyum semak atas tindakan Aruna baru saja.


"Ini belum seberapa Aruna, aku akan membuatmu tidak bisa jauh dariku."

__ADS_1


__ADS_2