
Hari semakin sore, jam kantor sudah berakhir semua orang yang sibuk bekerja seketika menghentikkan aktifitasnya, mereka segera mengemasi barang-barangnya dan segera keluar dari kantor. Termasuk gadis berambut sebahu ia hendak keluar dari ruangannya, namun kembali ia menghentikkan langkah kakinya membiarkan Renan dan Vela berjalan terlebih dahulu. Aruna menghembuskan napas berat, kejadian seperti ini, pasti akan selalu ia lihat untuk ke depannya. Tanpa mengurangi rasa hormatnya Aruna terus mengekor di belakang Renan dan juga Vela. Sesampainya di lantai dasar ia segera keluar pintu utama kantor dengan sangat tergesa, tapi ternyata di depan sana seseorang telah menantinya.
"Aruna," panggil Pedri.
Aruna melihat ke arah orang yang telah memanggil namanya, Pedri berdiri di samping mobilnya dengan penampilan yang masih mengenakan setelan kantor, sepertinya ia sepulang kantor ia sengaja menyambangi perusahaan tekno intel hanya untuk menjemput Aruna pulang.
"Pedri, kau sengaja ke sini?" tanya Aruna ketika ia sudah menghampiri Pedri.
"Iya aku sengaja ke sini hanya untuk menjemputmu pulang, jika aku tidak ke sini entah kapan aku bisa bertemu denganmu," jawab Pedri.
Senyum simpil terukir pada bibir gadis berambut sebahu, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk membuka hatinya dan melupakan kisahnya bersama dengan Renan.
"Cepat masuk!" titah Pedri seraya membuka pintu mobilnya untuk Aruna.
Aruna baru saja akan menolak ajakan Pedri, tapi melihat mobil Renan yang akan segera keluar dari parkiran, ia sengaja masuk ke dalam mobil Pedri.
"Pedri Tores," gumam Renan.
Meski tidak terima melihat Aruna bersama dengan Pedri, tapi Renan tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menahan amarahnya dalam dada.
"Ada apa Renan?" tanya Vela.
"Tidak ada apa-apa."
Saat sampai di depan rumah, saat itu juga Gloria baru saja sampai, mereka bertemu di halaman rumah, Aruna dengan lugu menyapa Gloria yang baru saja turun dari dalam mobil, namun sayang sapaannya tidak membuahkan hasil, Gloria melenggang pergi begitu saja tanpa peduli Aruna yang menyapa ramah padanya.
"Ada apa dengannya? Apa dia sedang datang bulan?" tanya Pedri.
"Aku nggak tau, mungkin dia lelah seharian bekerja di kantor," jawab Aruna.
"Apa aku boleh sering main ke sini?" tanya Pedri lagi.
"Tentu saja boleh, tapi kau tau sendiri kan, aku kerja dan jarang di rumah."
"Besok aku akan menjemputmu lagi."
"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu Pedri."
__ADS_1
"Tidak masalah, untuk wanita semanis kau, aku tidak merasa repot."
Pertemuan demi pertemuan sering terjadi antara Pedri dan Aruna, entah Pedri menjemputnya ke kantor atau pun, sengaja datang ke rumah untuk mengajak Aruna jalan keluar. Mungkin jika kejadiannya terjadi ketika mereka masih sekolah menengah atas mungkin Aruna akan merasa menjadi wanita yang paling terbahagia di dunia. Tapi tidak untuk sekarang, perasaanya sudah berubah, Pedri bukan lagi pria yang Aruna kagumi seperti dulu. Meski pun perhatian yang Pedri berikan sangat berlebihan tapi tak sedikit pun hatinya tersentuh. Aruna masih membutuhkan waktu untuk kembali menata hatinya yang baru saja patah seribu. Sepulang kantor, Pedri mengajak Aruna ke salah satu mall terbesar di kotanya, seperti biasa Aruna sudah berusaha menolaknya, tapi karena tidak enak hati akhirnya Aruna menyetujuinya.
"Kau mau makan apa? Sebaiknya kita makan dulu, pasti kau sangat lapar."
"terserah aku ikut saja."
Pedri mengajak Aruna makan di sebuah foodcourt, tanpa segan lagi pedri menggandeng tangannya, Aruna sempat merasa risi, namun karena pengunjung sangat ramai ia membiarkannya. Pedri seperti sangat tau makanan kesukaan Aruna ia memesankan makanan tanpa terlebih dahulu bertanya kepada Aruna, Aruna yang tidak fokus membiarkan pedri memesankan makanan untuknya, setelah beberapa menit makanan yang mereka pesan telah tersaji di atas meja.
"Pedri kau memesanku makanan ini?"
"Iya, bukankah kau sangat menyukai makanan jepang."
"Itu dulu, dan sekarang aku tidak menyukainya."
Pedri menaikkan kedua alis matanya. "Kenapa tiba-tiba kau tidak menyukai makanan jepang? Bukankah dulu ini makanan favoritmu?"
"Seiring berjalannya waktu, semuanya bisa berubah Pedri," ujar Aruna ambigu.
"Baiklah akan aku pesankan makanan yang baru, kau mau makan apa?"
"Hai, tuan Renan kebetulan sekali kita bertemu di sini."
"Iya sangat kebetulan sekali tuan Pedri," Renan menatap Aruna yang berdiri di samping Pedri.
Bukan sebuah kebetulan yang terjadi mereka bertemu di salah satu mall terbesar di kotanya, tapi Renan sengaja mengikuti Aruna dan Pedri, dengan dalih mengajak Vela berbelanja, Vela tidak curiga sama sekali ia pikir Renan benar-benar ingin membelikannya barang-barang yang baru.
"Vela apa kau mau tas baru?"
"tentu saja aku mau."
"Baiklah sekarang kita pergi ke mall."
Vela pikir renan benar-benar ingin membelikannya barang-barang keperluannya, tapi nyatanya setelah ia bertemu dengan Aruna, Vela tau motif Renan mengajaknya ke mall.
"Aruna ayo bantu aku memilihkan tas yang cocok untukku," pinta Vela.
__ADS_1
"Baik, ayo!"
Aruna dan Vela pergi meninggalkan Renan dan juga pedri, melihat dua pria tampan sedang berdiri pegawai toko menyuruhnya untuk menunggu di sofa yang telah di sediakan toko tersebut.
"Silahkan tunggu di sini tuan-tuan!"
Renan dan Pedri duduk berhadapan, mereka sama-sama sedang memandang ke arah gadis berambut sebahu yang sedang memilih tas.
"Aku sangat tertarik dengan sekertarismu tuan Renan."
Seketika wajah Renan berubah menjadi garang mendengar keterusterangan Pedri. Ia menatap pria yang ada di hadapannya.
"Jika dia mau denganmu aku tidak keberatan."
"tapi, aku lihat pandanganmu terhadap aruna penuh dengan cinta."
"Tau apa kau soal cinta."
"Aku hanya sedang menebak saja, pandanganmu terhadap Aruna tidak jauh berbeda ketika aku memandangnya."
"Omong kosong! Itu hanya kesimpulanmu saja!"
Pedri tersenyum semir, Sesama alki-laki Pedri dapat merasakan jika Renan menaruh persaan terhadap aruna, tapi kenapa Renan berusaha mengelaknya, apa dia malu?
"Renan bagimana menurutmu apa tas ini cocok untukku?" tanya vela seraya menunjukkan tas pilihannya pada Renan.
"Terserah kau saja, aku tidak tau!" jawab Renan tidak acuh.
Vela mendengus kesal. "Buat apa kau mengajakku ke sini, kalau tidak ada satu pun benda yang kau pilihkan untukku."
Vela pergi dengan menghentakkan kakinya, Aruna terlihat kebingungan apakah ia harus mengejar Vela atau tetap berada di sana, diantara Renan dan Pedri. Baru saja Aruna hendak mengejar Vela tapi Pedri melarangnya.
"Biarkan saja, biar tuan Renan yang mengurusnya, sekarang sudah bukan lagi jam kantor, jadi kamu bebas Aruna."
Pedri menarik tangan Aruna dan mengajaknya pergi dari sana, Renan ingin mencegah aruna untuk tetap tinggal bersamanya, namun bibirnya terasa kelu dan dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, Renan memandangi aruna yang berjalan semakin menjauh darinya.
***
__ADS_1
Bersambung
Untuk visual Aruna dan Renan cek di ig @siti_marriam14