My Korean Oppa

My Korean Oppa
kim han-bin


__ADS_3

Pagi hari nya di sebuah apartment mewah hanbin sudah menyelesaikan rutinitas pagi nya, seperti berolahgara, menikmati secangkir kopi, dan membaca beberapa kabar berita dari ponsel nya.


semua kegiatan itu sudah dia lakukan dari dulu, bangun tidur tepat saat alarm nya menyala di pukul 6:00, dia langsung mengambil segelas penuh air putih dan meminum nya hingga tidak tersisa setetespun, dan langsung beralih ke ruangan yang sudah dia renovasi menjadi tempat gym pribadi nya, dia hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk berolahraga karena setelah itu dia harus membersihkan seluruh badan nya, agar dia masih punya waktu untuk bersantai sebentar menikmati secangkir kopi kesukaan nya.


tepat jam 7, dia langsung bergegas turun ke loby, dimana supir yang sekaligus asisten pribadi nya sudah menunggu


"selamat pagi." sapa Jiwan dengan ramah begitu hanbin berjalan ke arah nya


"pagi" jawab hanbin tanpa expresi, dia langsung masuk ke dalam mobil dan memeriksa beberapa berkas yang sudah Jiwan siapkan


"tadi pagi ibu jang menelfon saya lagi, dia terus mendesak saya agar anda segera pulang ke rumah" ucap Jiwan dengan santai nya, karena tidak ada respon dari hanbin, jiwan mengintip yang sedang di lakukan boss nya itu dari kaca


"telfon lah ibu jang sesekali, kasihan dia terus menerus menelfon ku cuman menanyai kabar anak yang terlalu sibuk."


"jangan di angkat kalau gitu" jawab hanbin simple


"semakin tidak di angkat, akan semakin jadi dia meneror ku setiap menit" ucap Jiwan sedikit emosi "waktu istirahatku semakin berkurang setiap malam nya karena beliau selalu rutin menelfonku, bahkan sampai pagi haripun beliau lah yang membangunkaku hanya untuk mengingatkan jangan sampai anak nya telat sarapan"


Jiwan dan hanbin sudah saling mengenal dari saat mereka kecil, ayah jiwan dulu bekerja sebagai supir papa hanbin semasa hidup nya, ketika beliau meninggal saat itu jiwan dan hanbin masih berusia 13 tahun, dan saat itu juga papa hanbin membawa jiwan dan juga ibu nya ke rumah mereka, dan sejak saat itu pula mereka menjadi semakin dekat dan sudah seperti saudara kandung.

__ADS_1


"apa yang kalian bicarakan setiap hari nya?" tanya hanbin dengan tersenyum


"apalagi kalau bukan menggosipkan mu, setiap malam yang ibu jang tanyakan selalu sama, apa yang anakku lakukan seharian ini? apa makan siang nya tepat waktu? Jiwan-na kamu jangan terlalu sering memberikan hanbinku pekerjaan yang berat" ucap Jiwan dengan menirukan ucapan ibu jang selama ini.


"sesekali kamu telfon dia, kasihan setiap hari nya yang dia obrolin selalu kamu ke ibu, dia ingin mencarikan mu calon istri kata ibu"


"nanti aku telfon ke rumah." jawab hanbin pelan, dan bisa Jiwan tebak. nanti nya itu akan dia lupakan begitu mereka sampai di kantor, dan akan terlupakan kata menelfon rumah sampai Jiwan mengingatkan nya lagi.


sejak Hanbin resmi menggantikan posisi papa nya di kantor, hanbin jadi semakin sibuk dengan urusan pekerjaan yang tidak pernah habis nya, dan memang ketekunan nya dalam pekerjaan bisa di acungin jempol, terbukti dari pesat nya kemajuan produk makanan nya beberapa tahun ini..


tapi di balik itu semua hanbin semakin jauh dari keluarga, semenjak mempunyai apartmen sendiri dia semakin jarang pulang ke rumah, semakin jarang bertemu mama nya bahkan jarang juga dia menelfon walau hanya sekedar menanyakan kabar..


sesampai nya di kantor, mereka ber2 langsung pergi ke lantai 5 dimana tempat kerja hanbin berada


"hari ini bukan nya jadwal kita ke pabrik.?" tanya hanbin begitu dia duduk di kursi nya


"memang nya hari ini yaahh." jawab Jiwan dengan mengingat ngingat kembali jadwal hanbin hari ini, hanbin sudah memasang tampang dingin ke arah jiwan


"aku undur karena hari ini kamu harus bertemu dengan klien kita dari jepang" ucap Jiwan dengan menunjukkan berkas berkas yang akan hanbin bahas dengan klien itu

__ADS_1


"kamu saja yang gantiin aku ketemu mereka, aku lagi malas harus ngeladenin Keiko ngobrol panjang lebar" ucap hanbin santai. mendengar itu Jiwan langsung mengerutkan kening nya


"Ok. aku akan menemui nona keiko. sebagai ganti nya hari ini kamu harus telfon ke ibu jang, agar nanti malam aku bisa istirahat dengan tenang" jawab Jiwan mengambil kembali berkas berkas di depan Hanbin.


"cerewet" ucap hanbin melirik Jiwan yang meninggalkan ruangan nya..


Jiwan langsung ke ruangan nya, meletakkan beberapa berkas yang tidak perlu dia bawa, karena pertemuan kali ini hanya pertemuan biasa, ngobrol santai membahas kerja sama yang sudah mereka jalani, dan kenapa hanbin menolak bertemu dengan keiko bukan karena dia menyepelekan kerja sama mereka selama ini, melainkan hanbin tidak mau meladenin keiko yang selalu saja kekeh merayu nya dengan terang terangan..


"dina apa kamu bisa pergi dengan saya bertemu klien?" tanya Jiwan pelan


"maaf pak lee, tapi hari ini kerjaan saya sedang menumpuk." jawab dina dengan sangat menyesal


"Ok Ok. tidak masalah." jawab jiwan dengan ramah, dia kemudian melihat ke sekeliling ruang ini, memperhatikan setiap orang yang sedang sibuk dengan komputer masing masing. "APA ADA YANG SEDANG TIDAK SIBUK DISINI??" teriak Jiwan penuh harap, karena dia tidak mau menemui keiko sendirian


"saya pak." jawab seseorang mengangkat tangan nya dari pojokan


"kamu pegawai magang yah?" tanya Jiwan menghampirinya "nama kamu siapa."


"yeri, han hyeri pak."jawab yeri dengan menunjukkan senyuman manis nya

__ADS_1


"tapi kamu masih magang, belum bisa saya andalkan" ucap jiwan pelan, dia lalu melihat ke arah meja Dio "Dio kamu bangun, ikut saya sekarang ." ucap Jiwan lalu pergi meninggalkan mereka semua .


__ADS_2