My Korean Oppa

My Korean Oppa
BAG 18


__ADS_3

"loe pindah ke mana? besok biar gw yang bantuin loe pindahan" kata fero sembari memasukkan barang barang yeri ke dalam box


"pindah kemana nya lain kali gw kasih tau. tugas loe cuma bantuin gw malam ini doang" jawab yeri


"curiga gw sama kerjaan sampingan loe ini. loe beneran enggak lagi kerja yang aneh-aneh kan?" fero menghentikan aktifitas nya. kini dia sudah menatap yeri dengan penuh banyak kecurigaan


"aneh-aneh gimana maksud nya. loe mah selalu curiga mulu sama gw, kan tadi gw bilang. nanti gw ceritain semua nya tanpa ada sisa sama loe fero" ucap yeri yang sudah mulai greget dengan rasa penasaran fero


"kan sama ajah. mending sekarang ajah, ngapain nunggu nanti nanti kalau ujung nya bakal di ceritain juga" gerutu fero


plaakkkk


yeri langsung melempar kepala fero dengan buku yang kebetulan ada di samping nya dengan greget. kalau itu buku tidak melayang dan mengenai kepala nya, fero akan terus nyerocos sampai yeri benar-benar hilang kesabaran


"sakit hyeri" keluh fero memegang kepala nya sembari manyun "loe mah gak ada lembut lembut nya sama abang sendiri" ucap fero menunjukkan wajah sedih


"gak usah drama yah" protes yeri yang semakin galak "habisin itu makanan nya, terus kerja lagi biar gw bisa kebagian tidur" oceh yeri yang langsung beranjak dari duduk nya ke dalam kamar. yeri langsung memulai berkemas dari baju-baju nya yang dia langsung masukan ke dalam koper, karena pada dasar nya koleksi pakaian yeri tidak terlalu banyak jadi itu selesai dengan cepat dan tidak membutuhkan waktu satu jam.


sedangkan fero sudah berfokus pada pekerjaan nya membersihkan ruang tamu, dapur dan kamar mandi. terlihat jelas pada mereka berdua kalau mereka sudah sangat kelelahan membersihkan seluruh apartemen itu sampai pukul 2 pagi tanpa sedikit pun bersantai.


"Huuuuhhhh.... pinggang gw mau patah rasa nya." keluh fero sudah meluruskan badan nya di lantai dapur

__ADS_1


"mandi sana, terus tidur biar. biar gw yang kerjain sisa nya, lagian udah selesai juga" kata yeri yang sedang mendorong koper-koper nya ke samping pintu


"gak sanggup lagi gw bangun nya" kata fero tanpa bergerak sedikitpun dari posisi nya


"tidur ajah disitu" yeri memberikan bantal pada fero agar dia tidur. dan benar saja tidak berselang berapa lama fero sudah terlelap dengan memeluk bantal yang yeri berikan


sedangkan yeri melanjutkan pekerjaan nya yang sudah tinggal membersihkan sampah-sampah yang berserakan di lantai sebelum dia beristirahat.


sejenak yeri memperhatikan keseluruhan ruangan itu dengan sangat rinci, dia kembali mengingat 4 bulan lalu saat pertama kali dia tinggal disini. walau hanya menyewa, tapi yeri sudah sangat senang karena dia selalu merasa tenang karena dia punya tempat tujuan malam hari nya untuk pulang, mengingat selama ini dia selalu merasa terbebani dan merasa tidak nyaman setiap menumpang pada saudara jauh orang tua nya.


"19 tahun umurku sekarang. hidup sendiri, bekerja keras sendiri untuk bertahan hidup. tidak ada sedikitpun terpikirkan di benak kalau suatu saat aku bisa mempunyai rumah sendiri, tapi sekarang pikiran itu berbeda, karena harapan itu ada." ucap yeri dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajah nya setiap kali dia mengingat kontrak itu.


******


sepanjang perjalan terlihat jelas di wajah nya kalau dia sangat gugup. dia terus saja memperbaiki posisi duduk nya agar lebih nyaman lagi, tapi tetap saja itu tidak berguna karena semakin dia terus memperhatikan jalanan, detak jantung nya akan semakin kencang. pertanda kalau dia akan segera sampai di apartemen hanbin


tidak butuh lama untuk mobil itu sampai di sebuah gedung apartemen yang sangat besar dan mewah. karena kondisi jalanan juga yang sangat lancar jadi hanya butuh 25 menit untuk supir memarkirkan mobil itu tepat di lobby utama


"sudah sampai yeri" sapa jiwan yang sudah menunggu kedatangan yeri didepan sendirian


"pak lee" sapa yeri balik dengan menunjukkan senyum nya, ada perasaan tidak enak saat yeri bertatapan dengan jiwan. perasaan minder karena dia takut jiwan punya pikiran kalau dia wanita murahan, yang mau menikah kontrak hanya demi mendapatkan sebuah imbalan rumah

__ADS_1


"biar saya yang bawa ke atas pak" ucap jiwan mengambil alih koper koper yeri


"biar saya bawa sendiri pak lee" ucap dista mengambil koper nya dari tangan jiwan, yeri akan semakin tidak enak hati kalau jiwan yang membawa barang-barang nya


"kamu bawa satu saja, barang kamu juga tidak terlalu banyak" kata jiwan ramah, tidak ada tanda-tanda di wajah jiwan kalau dia akan mencibir yeri dengan pandangan yang aneh "ayo ke atas, hanbin sudah menyiapkan semua nya"


"iya" jawab yeri singkat.


hyeri mengikuti langkah jiwan dari belakang. dan sesekali yeri juga memperhatikan area gedung apartemen yang akan dia tinggali sekarang. dan ini tidak bisa di bandingkan dengan gedung apartemen nya kemarin, ibaratkan nilai itu 1 banding 9 jarak kemewahan arsitek gedung nya.


"nanti kamu juga akan dapat kartu akses untuk masuk rumah. jangan di hilangkan, karena kamu tidak akan bisa masuk gedung kalau hilang" jelas jiwan panjang lebar


sesampai nya di lantai 15 yeri semakin takjub begitu melihat hanya ada 3 pintu rumah di lantai ini, bisa di bayangkan sebesar apa isi rumah orang-orang ini kalau di lantai ini hanya ada 3 pemilik rumah.


"ayo silahkan masuk" ucap jiwan membukakan pintu rumah hanbin pada yeri


dengan sedikit membungkukkan badan nya dengan sopan pada jiwan, yeri masuk ke dalam rumah hanbin dan langsung mendapati si pemilik rumah, yaitu hanbin tengah duduk di salah satu sofa besar nya sembari melihat pada arah kedatangan yeri dengan jiwan


yeri tidak bisa menyembunyikan expresi kagum nya begitu menoleh pada sekeliling rumah ini. tanpa yeri sadari dia juga reflek membuka mulut nya pertanda kalau dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.


"kagum nya bisa di lanjutkan nanti saja. sekarang kamu duduk" kata hanbin membuat yeri langsung sadar kembali

__ADS_1


"yeri ini surat kontrak pernikahan kalian selama setahun kedepan. dan ini kontrak untuk larangan yang harus kamu hafal dan pahami" ucap jiwan memberikan dua lembar kertas yang harus yeri tanda tangani "di surat kontrak pernikahan itu juga sudah ada syarat yang kamu inginkan, dan dalam beberapa hari saya akan kasih surat asli kepemilikan apartemen hanbin atas nama kamu" jelas jiwan dengan teliti


mendengar jiwan menyebutkan apartemen itu akan menjadi milik nya, lengkap dengan nama yeri yang akan ada di surat kepemilikan itu membuat yeri sangat lega dan bahagia, tinggal beberapa langkah lagi impian nya mempunyai hunian akan terwujud. dan ini bukan mimpi melainkan nyata.


__ADS_2