
beberapa hari kemudian.
hyeri baru saja selesai membersihkan seluruh isi rumah. kemarin malam saat suasana rumah sedang damai, tiba-tiba saja dia marah-marah tidak jelas. dan imbasnya hyeri yang terkena protes dengan menyalahkannya. dia bilang rumahnya sudah sangat kotor karena hyeri belum membersihkan seluruh ruangan dalam beberapa hari kemarin. tapi hyeri yakin kalau itu hanya akal-akalan hanbin saja ingin mengerjainya di hari libur begini. di lihat kotor dari mana ini rumah? jelas-jelas tidak ada satupun debu yang menempel di ruangan ini.
walaupun dia sangat sibuk kemarin-kemarin, karena harus bertemu dengan Louis sepulang kerja untuk mengikuti les bahasa yang sudah Louis dan jang atur untuk nya, jadi mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan mereka berdua. tapi walaupun dia sangat sibuk, dia tetap menjalankan segala pekerjaan rumah nya dengan baik. jadi kotor dari mana yang hanbin lihat sekarang?
"mwohaneungeoya?" tanya hanbin yang baru saja keluar dari tempat Gym
"masak. aku sedang membuat japchae" jawab hyeri sembari mengaduk japchae
"japchae. memang bisa?" kata hanbin mengerutkan kening
"gampang. cuma soun goreng doang kok" jawab hyeri santai "oppa mau coba, ini sudah matang" hyeri menunjukkan japchae nya yang terlihat sangat menggoda
"boleh" hanbin langsung menarik kursi dan duduk di depan hyeri "geunde, kenapa ini banyak sekali kamu membuatnya. siapa yang mau menghabiskan japchae sebaskom ini? dan itu, tumpukan gimbab kamu yang membuatnya?" tanya hanbin menunjuk pada gulungan gimbab yang terlihat seperti gunung di meja makan
"Oh itu" hyeri langsung mengambil tumpukan gimbab itu dan membawa ke hadapan hanbin "aku berencana mau bertemu fero hari ini. jadi aku membuat makanan ini untuk fero dan tante" kata hyeri mulai memotong gimbab nya
"geuge nuguya?"
"fero itu teman sekaligus kaka, dan mamanya juga sudah seperti pengganti orang tuaku. bisa di bilang mereka keluargaku" jelas hyeri dengan tersenyum "ngomong-ngomong aku akan bertemu dengan fero di apartemen yang oppa kasih. dan perlu oppa tahu kalau aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari fero. sama seperti oppa yang percaya sepenuhnya pada pak lee, aku juga begitu pada fero" ucap hyeri menatap hanbin dengan perasaan was-was
"asal dia bisa jaga rahasia aku tidak begitu perduli" respon hanbin santai "bagaimana dengan les mu?" tanya hanbin
__ADS_1
"lancar. Louis oppa sangat bagus mengajarnya. aku bahkan sudah banyak menghafal beberapa ucapan sehari-hari" jawab hyeri dengan senang
"baguslah. paling tidak dia sedikit berguna dan punya kerjaan disini" kata hanbin sembari menikmati japchae nya
"tapi aku penasaran, apa Louis oppa benar-benar pengangguran seperti yang eomma bilang?" tanya hyeri
"pengagguran mana yang punya penghasilan puluhan juta won bahkan lebih setiap bulannya" ucap hanbin menatap hyeri "belum lagi kalau proposal yang dia kerjakan sampai lolos. bisa ratusan juta won yang dia dapat"
"aku gak ngerti apa yang oppa omongin" kata hyeri
"jelas nya itu Louis terlalu bodoh karena masih saja main-main sesuka hatinya. dia tidak punya niatan untuk memanfaatkan kegeniusannya untuk dirinya sendiri, tapi malah keluyuran kesana kemari tidak jelas seperti itu" ucap hanbin geleng-geleng kepala menceritakan Louis
"Louis oppa genius?" tanya hyeri kaget
"ya tuhan. yang aku lihat beberapa hari ini Louis oppa selalu saja bertingkah seakan kita berdua seumuran. bahkan terkadang kelakuannya kelewat konyol" kata hyeri tidak percaya
"yah itu yang aku maksud. dia bodoh. itu kenapa aku sama sekali tidak pernah cocok dengan nya, kalau saja dia sedikit lebih berambisi, mungkin sekarang dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri dengan sukses. mungkin bisa lebih sukses dari perusahaan keluarganya yang taeyong hyeong pegang"
"ya setiap orang kan punya pilihan sendiri-sendiri dalam hidupnya. termasuk Louis oppa. dia lebih senang bekerja dengan caranya sendiri. yang terpentingkan tidak menyusahkan orang lain"
"dangkal sekali cara berpikirmu" celetuk hanbin "kamu mau jam berapa kesana nya. lagian memang kamu sudah tahu letak apartemen nya dimana" kata hanbin
"setelah memotong gimbab ini aku berangkat. dan fero bilang dia tahu lokasinya, jadi nanti dia jemput aku di bawah" jawab hyeri
__ADS_1
"suruh temanmu langsung kesana, biar kamu ikut aku. aku juga ada urusan di daerah sana" kata hanbin
"iya ok" sahut hyeri melirik hanbin yang masih menikmati makanannya dengan tenang
******
siang hari nya hanbin membawa hyeri untuk pertama kali nya melihat apartemen lamanya. hyeri begitu sangat bersemangat ingin melihat langsung apartemen yang hanbin bilang sudah menjadi miliknya dengan sah itu. rasanya seperti mimpi bagi hyeri kalau dia bisa memiliki huniannya sendiri.
"turun" ucap hanbin begitu mobil yang dia bawa sudah terparkir di depan lobby
"iyah" jawab hyeri dengan semangat "akhirnya sampai juga" ucap hyeri dengan takjub nya melihat bangunan gedung yang tinggi di depannya itu "apa ini mimpi. aku salah satu pemilik dari hunian di gedung ini" gumam hyeri dengan terharu
"kamu sedang apa. buruan ambil makananmu itu dan ayo masuk, panas disini" oceh hanbin
"Oh iya maaf" dengan cepat hyeri langsung mengambil tas yang berisikan makanan untuk fero dari dalam mobil "kita langsung masuk aja, fero masih lama katanya" ucap hyeri mengikuti hanbin dari belakang.
mereka pun akhirnya masuk ke dalam gedung itu. walaupun gedung itu terbilang bangunan lama, dan arsitektur nya terlihat sangat sederhana tapi hyeri begitu mengagumi semua yang ada di gedung ini. di mata hyeri bangunan gedung ini sangat mewah, mungkin mengalahkan gedung apartemen milik hanbin yang jelas-jelas masuk dalam jajaran apartemen kelas atas.
"ini kuncinya. kamu yang buka" kata hanbin memberikan kunci apartemen itu pada hyeri
"kenapa aku jadi terharu megang kunci doang" ucap hyeri memandangi kunci di tangannya "oppa, kunci ini milik aku sekarang?" tanyanya pelan
"ya iya. kunci cadangannya ada pada jiwan hyeong, nanti akan di kasih dengan surat-surat lengkapnya setelah kontrak kita selesai. untuk sementara kamu hanya megang satu kunci" jelas hanbin
__ADS_1
"iya tidak apa-apa" jawab hyeri. dia langsung menggunakan kunci itu untuk membuka pintu di hadapannya sekarang. deg-degan, karena untuk pertama kalinya dia akan melihat rumah yang sudah beberapa minggu ini dia selalu terbawa mimpi. rumah yang akan membuatnya tenang karena mulai saat ini dia sudah punya tujuan untuk pulang, dan dia juga sudah tidak perlu lagi merasa iri terhadap orang lain yang sudah memiliki segalanya di usia muda. karena sekarang diapun sudah memiliki sebuah rumah walau dia harus bekerja dengan cara apapun itu.