My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 23


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim ...


...


19.20 Rumah Sakit


"Ra malam ini gue temenin lo disini ya" pinta Dicky yang sedari tadi selalu berada di sisi ranjang Clara.


"Tapi gue nggak mau ngerepotin lo lebih banyak lagi" balas Clara.


"Apaan si ra, lo nggak ngerepotin sama sekali, gue malam ni nginap disini ya" pinta Dicky lagi.


"Yaudah serah lo deh" ucap Clara tersenyum.


"Nah gitu dong, kalau gitu gue pulang kerumah bentar ya, mau ambil pakaian dulu, oh iya, kalau lo butuh sesuatu pencet aja bel ini ya" ucap Dicky yang diangguki Clara.


Meskipun Clara tampak tersenyum, ia tidak bisa menyembunyikan rasa sedih di hatinya, bukan hanya karena Daren sudah berkali-kali menyakitinya, tapi ia tidak menyangka kalau seseorang yang pernah singgah dihatinya dulu habis ditangan Daren.


"Hiks .... Hiks ... James, maafin aku" ucap Clara menangis.


Clara benar-benar tidak menyangka apa yang sudah terjadi sekarang padanya, semua terasa seperti mimpi, tapi nyatanya semua nya tidaklah mimpi. Disaat Clara masih meratapi kepergian James, seseorang masuk kedalam tanpa permisi.


"Ra!"


"Ngapain lo disini?" tanya Clara ketus.


"Maafin aku" ucap Daren lirih. Ya, yang masuk tanpa permisi tadi adalah Daren, ia sengaja masuk ketika Dicky sudah pergi, dan sebenarnya Daren sudah berada dirumah sakit sejak sadar setelah ia pingsan dirumah Clara.


"Plis ra, maafin aku" ucap Daren mendekat.


"Stop!! nggak usah dekat-dekat!" balas Clara sambil menitikan air mata.


"Aku mohon sayang, a-aku tahu aku salah, aku udah nyakitin kamu, tapi aku ngelakuin semua itu karena aku takut kehilangan kamu"


"NGGAK USAH PAKAI SAYANG-SAYANG, LO UDAH KETERLALUAN, APA SALAH JAMES? DIA NGGAK TAHU APA-APA, DAN GUE BENCI SAMA LO!" ujar Clara histeris.


Melihat cara Clara membela James, Daren hilang kendali lagi.


"PLAAK" Daren menampar kuat pipi Clara.


Daren dan Clara sama-sama terdiam, terlebih Clara, dia tidak menyangka Daren masih sanggup menyakitinya disaat keadaannya seperti ini.

__ADS_1


"M-m-maaf ra, aku nggak sengaja" ucap Daren terbata sambil mencoba memegang pipi Clara.


"Sebelum gue panggil petugas, mending lo sekarang PERGI!" usir Clara sambil mendorong kuat tubuh Daren.


"T-ttapi ra, aku mau disini, jagain kamu"


"BULSHITT!! PERGI SANA LO!!!" ucap Clara berteriak yang mengundang para petugas datang keruangannya.


"Ada apa ini?" tanya satpam yang saat itu sedang berjaga di lantai ruangan Clara.


"Tolong pak, usir dia"


"T-tapi ra!"


"Ayo pak, sebaiknya anda keluar, kehadiran anda sudah menganggu ketenangan pasien" mendengar satpam yang berbicara seperti itu Daren ingin sekali mengoyak mulutnya satpam tersebut, namun diurungkannya.


"Gue bisa keluar sendiri, nggak usah pegang-pegang" ucap Daren kesal sambil pergi meninggalkan rumah sakit.


...


"AAAAAAAAAAAH, KENAPA REN, KENAPA SUSAH BANGET LO NAHAN EMOSI DIDEPAN CLARAAA??" teriak Daren sambil memandangi pemandangan dari atas bukit.


"ASAL KAMU TAU RA, AKU SELALU CEMBURU NGELIAT KAMU PERHATIAN SAMA COWOK LAIN, AKU NGGAK SUKA ADA COWO LAIN DISEKITAR KAMU, AKU MAUNYA CUMA AKU RA, CUMA AKU, KARENA KAMU MILIK AKUUUU!!!!" Daren berteriak semakin kencang.


Daren sengaja pergi keatas bukit, karena ia tidak ingin kekesalannya kali ini memakan korban. Dengan dia pergi keatas bukit, dia bisa melampiaskan kekesalannya pada diri sendiri.


"Hikss.. Hikss, kenapa nggak pernah ada yang ngerti posisi gue" ucap Daren terisak.


"Bunda, Daren kangen, hiks .. hiks .. Kenapa bunda pergi tinggalin Daren, hiks hiks" Daren menangis tersedu-sedu meratapi nasib dirinya sendiri sambil mengingat bundanya yang telah lama pergi meninggalkannya.


Semenjak bundanya tiada, Ayah Daren menikah kembali dengan seorang janda beranak satu, namun siapa sangka Mama tirinya ternyata sangat jahat, karena tidak segan-segan memukul dan melukai tubuh Daren, baik melukai dengan pisau, puntung rokok dan segala macam kekerasan fisik lainnya. Padahal saat itu usia Daren masih 7 tahun. Setiap luka yang didapat Daren, terpaksa ia bersihkan dan obati sendiri.


(gambar hanya sebagai ilustrasi dan pemanis saja) hehe



Sedangkan Ayah Daren tidak perduli karena beliau lebih mencitai istrinya ketimbang Daren sendiri. Sejak kecil Daren selalu seorang diri, setiap ada masalah yang menimpa dirinya, selalu dipendam sendiri, karena benar-benar tidak ada yang peduli padanya.


Namun Daren kecil tetap bertahan karena yakin suatu saat sifat Mama dan Abang tirinya pasti akan berubah, tapi siapa sangka, lambat laun sifat Daren lah yang berubah, dari yang penyabar menjadi tidak sabaran dan brutal.


Apalagi semenjak Ayahnya wafat dan hanya tinggal ia Mama dan Abangnya saja. Tentunya Mama dan Abangnya semakin menyiksa Daren, karena tidak tahan, Daren melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada orang lain yang sama sekali tidak bersalah. Semenjak itulah Daren mulai senang menyakiti, melukai bahkan membunuh orang lain tanpa ampun.

__ADS_1


...


at Rumah Sakit


"Ra, kamu jangan diam gini dong, aku khawatir, eh maksud gue lo"


"Uhh ni mulut ya, nggak bisa liat situasi" gumam Dicky dalam hati sambil memukul bibirnya pelan.


"Ki, gue boleh minta sesuatu?" ucap Clara akhirnya membuka suara setelah berjam-jam menutup mulutnya sambil bangun dari ranjangnya.


"Hah? b-boleh, lo mau apa? bilang sama gue, pasti gue kasih ra!" ucap Dicky heboh.


Clara langsung memeluknya, "Plis gue butuh pelukan saat ini, jangan dilepas" pinta Clara lirih.


"O...oke, k-kapan pun lo boleh meluk gue kok ra" jawab Dicky terbata sambil tersenyum bahagia dan membalas pelukan Clara.


"L-lo temanin gue malam ini ya, hem m-maksudnya itu, lo tidur disamping gue" pinta Clara lagi sedikit tak enak hati. Mendengar permintaan Clara, Dicky sedikit terkejut, namun Dicky langsung mengiyakan permintaan Clara. Lalu mereka langsung tidur untuk mengistirahatkan segala hal yang melelahkan hari ini.


...


Pukul 02.40 dini hari at Rumah sakit


"Brengsek!!! bener dugaan gue, Dicky memang ada rasa sama Clara" ucap Daren pelan sambil menahan emosinya, dan tanpa disadari, air mata Daren jatuh satu persatu.


"Hiks ... Hiks ... Gue selama ini emang brengsek ra, tidur bareng perempuan lain, tapi gue ngelakuin itu bukan karena kemauan gue sendiri, hiks .. gue takut ra, gue takut lo jatuh cinta sama cowok lain selain gue" ucap Daren lirih sambil pergi meninggalkan rumah sakit karena tidak ingin mengikuti hawa nafsunya dan nantinya malah menjadi bumerang buat dirinya sendiri.


•••


Sebelumnya author mau minta maaf, karena akhir-akhir ini suka telat update, selain karena lama direview, author juga disibukkan sama kerjaan, biasanya author nulis pas ada waktu senggang di tempat kerja, jadi mohon pengertiannya ya, tapi author akan mengusahkan secepatnya buat update, apalagi ngebaca komenntar kalian yang antusias, bikin author jadi semangat buat terus nulis. hehe Lafyu gaes ❤❤


•••


Sekian dulu dari author, makasih buat yang udah baca dan coment, so see you next chapt guys :)


•••


salam hangat


suci nazifah


 

__ADS_1


 


__ADS_2