
Bismillahirrahmanirrahim …
…
Author Pov
Masa skors pun berakhir, meskipun Clara dan Dicky di Skors, Daren tetap pergi kesekolah seperti biasanya, namun dia benar-benar tidak membiarkan Dicky mendekati Clara selama dia tidak berada disisi Clara.
Dan Clara juga sudah tinggal dirumahnya sendiri bersama mamanya, karena Dicky sengaja menelfon mama Clara memberitahu kalau Clara sedang sakit, tujuannya agar mama Clara melihat luka-luka di sekujur tubuh Clara dan otomatis Clara pasti tidak bisa berbohong lagi.
Namun Ekspetasi tidaklah seindah Realita, Clara benar-benar melindungi Daren, karena bagaimanapun dia tidak ingin mama nya malah membenci Daren. Mengetahui hal itu, Dicky benar-benar tidak habis fikir dengan jalan fikiran Clara.
Pagi ini Daren dan Clara pergi sekolah bersama, dan itu semakin membuat Dicky cemburu. Namun tidak ada yang memperdulikan perasaan Dicky, karena mayoritas siswa dan siswi SMA Danuarta malah terlihat seperti membenci Dicky.
“Baim, kekantin yok selagi pak Willy belum masuk” usul Dicky sambil berdiri dari bangkunya.
Namun Baim malah tetap diam dan bersikap acuh tak acuh, dia sibuk saja dengan gadget yang ada tangannya.
“Im, lo kenapa dah? Ayok temanin gue kekantin” ucap Dicky lagi sambil memegang bahu Baim.
“Apaan sih! Nggak usah sok akrab deh, gue nggak sudi berteman sama orang bar-bar kayak lo” jawab Baim sinis.
“Anjirr, andai aja lo semua tahu, Daren lebih bar-bar ketimbang gue, tapi kenapa gue yang dimusuhi” gumam Dicky dalam hati sambil pergi menuju kantin sekolah.
Melihat perlakuan Baim seperti itu, membuat Clara sedih, dia tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi rumit seperti ini. Ingin rasanya dia menghibur Dicky, tetapi dia takut Daren akan marah padanya.
…
Kantin sekolah Danuarta
“Siska!”
“Ngapain lo manggil-manggil gue” jawab Siska sinis.
“Ayolah, gue tau lo nggak punya alasan buat ngebenci gue” jawab Dicky sambil duduk di hadapan Siska.
“Ya adalah, lo udah mukulin My Honey Daren waktu itu, jadi gue berhak dan punya alasan buat ngebenci elo”
__ADS_1
“Oh come on Sis, lo mending lupain itu sekarang, gimana kalau kita kerjasama aja” tawar Dicky.
“Kerjasama bareng lo? Ogah” ejek Siska.
“Anjir, gue serius, kita kerjasama bareng buat misahin Daren dan Clara” ucap Dicky lagi sambil mengecilkan volume suaranya.
“Gue nggak setuju” balas Siska cuek.
“Loh kenapa?” tanya Dicky heran.
“Gue nggak mau maksain Daren buat jatuh cinta sama gue, lagian kalau gue mau, gue udah dari dulu-dulu ki pakai cara kotor buat dapetin Daren.”
“Sok suci lo, kayak nggak pernah ngelakuin kejahatan aja” balas Dicky sinis.
“Mau lo apa sih sebenarnya? Mana pake ngatain segala lagi” bentak Siska.
“Hehe tenang tenang dulu ya, m-maksud gue itu, nggak capek apa lo nungguin Daren, dia nggak bakal jatuh cinta sama lo sis, mending lo ikutin saran gue.” ucap Dicky lagi perlahan.
“Lo suka pasti sama Clara” tebak Siska. Mendengar pertanyaan Siska, Dicky hanya bisa tersenyum malu.
“Hemm sudah gue duga, yaudah kali ini gue ikutin kemauan lo, tapi kalau nggak berhasil, awas aja” ancam Siska.
Namun belum jauh Siska berjalan “Eh Sis, nanti pulang sekolah gue kerumah lo ya” teriak Dicky pelan supaya siswa lain tidak mendengar.
“Oke” Siska membuat isyarat setuju dengan jemarinya.
“Yess, akhirnya Siska mau juga kerjasama bareng gue, dan gue bisa dengan cepat misahin mereka.” Dicky tertawa licik.
“Maafin gue ra, gue terpaksa ngelakuin cara ini supaya lo bisa lepas dari Daren dan jadi milik gue seutuhnya” gumam Dicky dalam hati.
Disaat Dicky lagi melamun, tiba-tiba tangan seseorang menyentuh lengannya “Ki, maafin gue ya” yang ternyata itu adalah Clara.
“Eh Clara, sini duduk disamping gue” jawab Dicky dengan wajah sumringah.
“Jadi lo nggak marah sama gue?” tanya Clara antusias.
“Marah sama lo? Haha ya enggak atuh ra, mana mungkin, gue udah lupain semuanya kok tenang aja” jawab Dicky tersenyum lembut.
__ADS_1
“Makasih ya ki, gue lega banget dengarnya” balas Clara tersenyum lebar, lalu tanpa sengaja memeluk Dicky dari samping.
“Eh maaf ki, gue terlalu happy jadi spontan, maaf ya” ucap Clara tak enak hati.
“Iya nggak papa kok ra, gue malahan senang” jawab Dicky sambil tertawa ringan.
“Apaan sih, yaudah gue balik kekelas dulu ya, takutnya Daren nyariin” lalu Clara pergi meninggalkan Dicky sendiri, selama perjalanan menuju kelasnya, Clara benar-benar merutuki perbuatannya, bagaimana kalau Daren melihat hal itu, bisa tamat riwayatnya.
…
“Nih, gue punya senjata satu” ucap Siska menyodorkan ponselnya kehadapan Dicky.
Namun bukannya melihat, Dicky malah sibuk-sibuk senyum sendiri.
“Anjir, fix ni anak cinta banget keknya, dipeluk gitu aja udah bahagia banget, hemm tapi beruntung banget sih si Dicky, gue sedikitpun belum pernah di peluk Daren” gumam Siska sedih.
Lalu “Woi Dicky, ini buruan liat, gue buru-buru ini” protes Siska akhirnya.
“Ha? Eh maaf maaf sis, lo bilang apa tadi?” tanya Dicky tersadar dari lamunannya.
“Liat ini astagah” kesal Siska sambil kembali menunjukkan ponselnya.
"Wess mantap banget ini, lo emang paling handal sis" puji Dicky mengacungkan jempol.
"Siska gitu lo, yaudah mending mulai hari ini, kita kumpul-kumpulin dulu bukti apa yang bakal kita liatkan kemereka berdua, yang nantinya bisa bikin mereka berpisah." usul Siska.
"Oke ide yang bagus itu, gue setuju pakai banget" balas Dicky sambil berjalan menuju kelasnya yang disusul Siska dari belakang.
•••
Sekian dulu dari author, makasih buat yang udah baca dan coment, so see you next chapt guys :)
•••
salam hangat
suci nazifah
__ADS_1