
Bismillahirrahmanirrahim …
….
Sesampainya dirumah Clara
“Hallo tante” sapa Daren ramah.
“Hallo juga ganteng” Jawab mama Indah sambil mengelus pelan kepala Daren.
“Ayok masuk ren, biar tante ambil minum sama cemilan dulu.” Ucap Mama kembali sambil berjalan menuju dapur.
“Yaudah kamu duduk dulu” pinta Clara yang diangguki Daren.
“Mama kamu baik sama aku, aku senang rasanya” ucap Daren mengusap pelan tangan Clara.
“Iya aku juga senang, nggak nyangka mama ngasih lampu hijau, beda banget waktu sama mantan-mantan aku, mama lumayan cuek dulu” ucap Clara mengenang kisahnya dulu.
“Oo iyadong aku kan ganteng, pintar lagi, rajin juga” Daren mengatakan dengan gaya sombongnya.
“Hahaha iya kamu emang ganteng, makanya aku cinta” balas Clara malu-malu.
“Ehheem, ini minuman sama kuenya, silahkan dimakan” ucap Mama Indah tersenyum hangat lalu duduk di hadapan Clara dan Daren.
Sembari Daren memakan dan meminum makanan yang sudah dihidangkan, mama Indah tiba-tiba bertanya.
“Gimana sekolah kamu ren”
“Ih mama, bukannya nanya gimana sekolah aku, kok malah nanya Daren” potong Clara dengan sengaja mencibirkan mulutnya.
Daren yang melihatnya sangat gemas dan ingin sekali memeluk Clara saat itu juga, namun dia menahannya, karena tidak ingin membuat kesan yang tidak baik didepan calon mertua.
“Hehe, baik tante, dan lancer-lancar juga” jawab Daren sedikit takut, karena bagaimanapun saat ini Daren sedang berusaha menarik perhatian Mama Clara agar di restui hingga kepelaminan.
“Kalau tante boleh tahu, kamu disini tinggalnya dengan siapa?”
Daren terdiam sejenak, dia bingung apakah harus mengatakan yang sejujurnya, atau berbohong tentang latar belakang keluarganya.
__ADS_1
“Emm saya tinggal sendiri tante” jawab Daren sesingkat mungkin.
“Orang tua kamu?” tanya Mama Indah lagi.
“Maa” protes Clara, karena dia takut Daren tidak bisa mengontrol emosinya.
“Ra, nggak papa, wajar kok mama kamu nanya” potong Daren lembut.
“Nah Darennya aja nggak papa kok” balas Mama merasa menang.
“Emm orang tua saya udah meninggal, bunda saya meninggalnya waktu saya masih kecil, kalau papa saya pas saya masih remaja. Dan sekarang saya cuman punya ibu tiri dan seorang abang, tetapi mereka tidak tinggal dengan saya, karena mereka diluar kota tan.” Jawab Daren jujur meskipun perihal ibu tirinya dia berbohong.
“Yaampun, maaf ya nak Daren, tante turut berduka mendengarnya” ujar Mama Indah prihatin.
“Iya nggak apa-apa kok tante” balas Daren tersenyum.
Clara yang mendengar ucapan Daren tentang keluarganya cukup syok, karena selama ini Daren memang belum menceritakan tentang latar belakang dirinya. Namun Clara juga merasa sakit mendengar penjelasan Daren, dan mulai saat itu Clara berjanji akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi dan ingin membantu Daren keluar dari rasa sakit yang sudah dialaminya selama ini.
“Oh iya tan, Daren izin pulang dulu ya, udah malam soalnya” ucap Daren menyalami Mama Indah dan bergegas menuju mobilnya.
…
“Ngapain lo nyuruh gue kesini?” tanya Daren dingin.
Dicky tersenyum licik, “Kita taruhan aja gimana?”
“Taruhan apa maksud lo?” jawab Daren sinis.
“C L A R A” eja Dicky.
“BUKHH” Daren langsung menghajar Dicky.
“Brengsek!! Berani banget lo jadiin Clara barang taruhan” ucap Daren kesal sambil terus menghajar Dicky.
“BUGGH”
“SREEETTT”
__ADS_1
“AAAKHH Bangsat!!!” kesal Daren karena Dicky menendang bagian vitalnya dan langsung menyayat lengan Daren panjang. Alhasil darah berceceran disekitar mereka.
“Ahahaha gimana? Nikmat kan rasanya disayat?” ejek Dicky merasa menang meskipun kondisinya saat ini sudah babak belur.
Setelah mencoba mengambil nafas secara teratur, Daren langsung mengejar Dicky, dan sontak saja Dicky langsung melempar pisau yang ditangannya kearah Daren, namun dengan sigap Daren mengelak.
“HAHAHA, sekarang lo nggak punya senjata lagi, jadi gimana, udah siap cod an sama malaikat maut?” ucap Daren mengejek.
“SHIT!!” gumam Dicky pelan.
Karena situasi yang mulai tersudut, Dicky langsung berlari sekencang-kencang nya agar terhindar dari Daren.
“Brengsek! Dasar cupu lo!!!” teriak Daren mengacungkan jari tengahnya.
“Kurang ajar emang si Dicky, Akhhh Darah, Ahahahaha” Daren tertawa senang melihat Darah segar yang terus menetes dari tangannya sendiri.
“No, no, no, enggak ren, lo nggak boleh senang, lo harus bisa sembuh, demi Clara” gumam Daren berusaha tidak terbawa suasana karena bahagia melihat Darah dimana-mana.
….
Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah like, baca dan komentar, see you next Chapt ❤
….
salam hangat
suci nazifah
__ADS_1