My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 42


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim



Pukul 01.40 di Kediaman Alfi.


“Ra, lo beneran nggak papa kan?” tanya Dian khawatir setelah membantu membersihkan tubuh Clara.


“Iya, lo nggak perlu cemas, gue baik-baik saja kok, yaa walaupun masih sedikit syok,” ucap Clara lirih, berusaha menyembunyikan ketakutannya di hadapan semua orang.


“Ya sudah, mending lo sekarang istirahat, lo juga yan istirahat,” ujar Baim lembut.


“Iya, makasih Im,” balas Dian sambil menyuruh Baim segera keluar dari kamar mereka.


Setelah keluar dari kamar Dian dan Clara, Baim melihat Siska masih duduk termenung di lantai bawah, kemudian Baim bergegas turun mendekati Siska.


“Lo nggak tidur sis?” Baim bertanya.


“Apa peduli lo gue tidur apa enggaknya?” balas Siska ketus.


“Aih lo kenapa sih sebenarnya? Semenjak sore kemarin sifat lo itu berubah, sadar nggak sih?” Baim kembali bertanya.


“Bukan urusan lo, mending tidur aja sana, gue masih mau disini, gue mau nungguin Dicky,” jawab Siska pelan.


“Cih, lo suka ya sama Dicky?” Baim menaikkan sebelah alisnya.


“Sembarangan banget kalau ngomong, gue sekarang nggak suka sama siapa-siapa, nggak sama Dicky dan nggak juga sama Daren,” ujar Siska dingin.


“Anjir secepat itukah hatimu berhenti berjuang?” ucap Baim dramatis.


“Plaak!” Siska memukul bahu Baim.


“Mau sampai kapan gue berjuang? Ahhkk, ya sudah lah nggak perlu dibahas, yang pasti sekarang, perasaan gue buat Daren benar-benar hilang,” ujar Siska pelan.


“Alaaah, bilang aja karena lo takut, takut kalau omongan Dicky memang benar,” Baim menyenggol bahu Siska bermaksud menggodanya.


“Ya coba deh lo fikir, kalau dia beneran psycho, itu ngeri banget Im, lo nggak takut apa?” Siska bergidik ngeri.


“Astaga Siska, kan Dicky sudah bilang kalau dia salah ngomong, kenapa lo jadi parnoan gini sih? Lagian kalau Daren psycho apa buktinya?” tanya Baim memojok kan Siska.


“Yaaa mana gue tahu, ah bodo lah, yang pasti gue masih belum percaya sepenuhnya sama Daren sekarang,” jawab Siska kesal sambil pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


“Lah dia ngambek, huuu dasar lebay, nggak mungkin lah Daren psycho, aneh-aneh saja tu anak,” Baim menggeleng heran, dan segera membaringkan tubuhnya di sofa karena sudah mengantuk.



Disisi lain ..


“Makasih fi, karena lo tadi sudah berhasil ngeyakinin mereka tentang ucapan gue,” Daren menepuk pelan bahu Alfi.


“Santai aja bro, lagian itu sudah tugas gue buat ngelindungin lo” Lalu mereka terkekeh bersama.


“Jadi dimana sebenarnya lo simpen si Dicky?” tanya Alfi to the point.


“Ya digubuklah, dimana lagi” Daren menggeleng heran.


“Oo, terus mau lo apain dia? Kenapa lo nggak langsung bunuh saja, kalau sampai dia buka mulut gimana?” tanya Alfi penasaran.


“Haha anjir, santai santai, lo main nyerocos aja, nanti kalau ada yang dengar gimana?” Dicky terkikik pelan.


“Mana ada orang normal lalu lalang dijam segini,” jawab Alfi tertawa.


“Ooo jadi lo sudah ngaku ni nggak normal juga?” Daren terkekeh.


“Anjirr, suka bener kalau ngomong,” Alfi mengumpat.


“Hei, seharusnya lo itu ber terimakasih sama gue, demi lo gue rela pura-pura lugu, pura-pura lemah dan pura-pura culun dihadapan mereka semua, sampai-sampai harga diri gue diinjek-injek satu kelas, dan karena kecupuan itu, mana pernah mereka ngehargai gue,” balas Alfi kesal mengingat masa-masa kelamnya ketika masih di sekolah.


“Ahahahah, dia malah curhat,” Daren cekikikan.


“Bughh!” Alfi memukul kuat punggung Daren.


“Ahaha iya iya, ampun,” Daren masih cekikikan.


“Haha, duhh bentar-bentar, haah capek gue ketawa mulu, hemm oke tapi lo memang benar sih, kalau bukan karena acting lo yang sangat bagus itu, mungkin sekarang gue sudah lama mendekam dipenjara,” ucap Daren sambil mengingat kembali ketika polisi datang kesekolahnya.


“Makasih ya bro,” ujar Daren serius.


“Ah lebay banget lo pake makasih segala, eh tapi ya ren, setelah gue pkir-pikir, sebenarnya siapa sih yang sudah berani ngaduin perbuatan lo waktu itu?” Alfi mencoba berfikir keras.


“Hemm entahlah, gue nggak tahu, lagian sebenarnya gue nggak pernah peduli juga sama tu polisi, karena saat itu, Clara selalu berada disamping gue, dia itu ibarat obat buat gue fi, makanya gue cinta banget sama dia, dan gue nggak akan biarin satu cowok pun mendekati dia,” kenang Daren tersenyum.


“Se cinta itu kah lo sama Clara?,” tanya Alfi sambil memperlihatkan senyum tipisnya.

__ADS_1


“Ya, apapun bakal gue lakuin buat dia, bahkan gue rela menukarkan nyawa gue buat selamatin dia,” Daren tersenyum lembut sambil memikirkan Clara.


"Selamatin? Emang Clara dalam bahaya ya?" tanya Alfi lugu.


"Ah elah, dia polos beneran ternyata, itu maksudnyaa kalau seandainya dia lagi dalam bahaya bambwaaank" Daren menjitak kepala Alfi pelan.


"Ooo gitu, bilang dong" Alfi terkekeh.


"Waaahhh stress gue ngobrol sama lo" ujar Daren frustasi.


"Apasih, orang gue nanya doang, oh iya ren, tapi gue senang tau liat lo sama Clara, lo itu seperti punya tujuan sekarang, dan jiwa pembunuh yang sudah lo bangun sendiri itu, seakan mulai runtuh perlahan, meskipun terkadang tiang emosi dari bangunan lo itu masih sangat kokoh,” 


Mendengar ucapan Alfi, Daren terkekeh pelan, “Lo sendiri nggak ada niat buat berhenti?” tanya Daren.


“Cih, meskipun gue punya niat besar buat sembuh, itu nggak akan pernah bisa ren, karena jiwa psycho yang ada didiri gue ini murni karena keturunan, bukan seperti lo yang lo bangun sendiri akibat kesakitan yang nggak pernah bisa lo lampiaskan ketika masih kecil,” 


“Hemm lo yakin?” tanya Daren.


“Maksudnya?” jawab Alfi heran.


“Lo yakin gue bakalan bisa sembuh? Soalnya gue pernah coba buat ke psikiater, mereka bilang, untuk sembuh total itu tidak mungkin dan hampir mustahil bisa, tapi kalau untuk sementara (meringankan gejala) itu mungkin bisa,” Daren tersenyum kecut.


“Lo nyesal sekarang?,” tanya Alfi tersenyum.


“Hemm nggak lah, ini sudah menjadi pilihan gue dari dulu, jadi nggak ada kata menyesal,” Daren berusaha tertawa.


“Huuff ya sudah mending sekarang kita lanjutin perjalanan ketempat si Dicky, oh iya, ngomong-ngomong soal Dicky, dari awal gue kan sudah bilang, seharusnya waktu itu lo langsung bunuh saja si Dicky, kalau sudah dibunuh, nggak bakal gini akhirnya,” Alfi menggeleng heran.


“Nggak papa lah, anggap saja dia mainan yang sedang asyik gue mainin,” ujar Daren tersenyum smirk.


“Fiuuhh, bukan gitu, sadar nggak sih, lo itu hampir terjebak sama perbuatan lo sendiri, liat Siska, dia sudah mulai curiga karena ucapan Dicky,” Alfi mengingatkan Daren.


“Tinggal dibunuh doang, kelarkan?” Daren tersenyum simpul.


“Arrrgggghh sakit kepala gue ngomong sama lo, gimana mau sembuh kalau yang ada di otak lo, bunuh bunuh,” Alfi berteriak frustasi melihat tingkah laku Daren yang tidak pernah berubah dari dulu. Sedangkan Daren tertawa saja melihat sifat Alfi yang juga tidak pernah berubah sejak dulu.



Sekian dari author, terimakasih sudah membaca, memberikan like dan berkomentar, see you next chapter ♥♥


… 

__ADS_1


salam hangat


sucinazifah


__ADS_2