My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 38


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim



“Daren, tunggu jangan pergi” teriak Clara sambil berlari mengejar Daren.


“Ra, nggak usah dikejar” Dicky menahan tangan Clara dan langsung memeluk tubuh Clara erat.


“LEPAS!” teriak Clara sambil mendorong Dicky lalu, “Plaak Plaak” Clara menampar pipi Dicky dua kali di kiri dan kanan.


“Stop Dicky, Stop! Gue mohon berhenti, mulai sekarang jangan pernah dekatin gue lagi”


“Tapi Ra, dia nggak pantas buat lo, dia itu Psycho!” teriak Dicky tanpa sadar.


“Hah Psycho?” ucap Baim dan yang lainnya kompak.


“PLAAAAK” kali ini Clara menampar pipi Dicky sekuat tenaganya. Sampai Dicky terhuyung hampir terjatuh.


“Gue peringatin sekali lagi sama lo, mulai sekarang jauhin gue, gue cintanya sama Daren, tolong lo sadari itu!” kecam Clara.


“Dan untuk kalian semua, nggak usah dengar yang dibilang Dicky. He’s Crazy” ucap Clara sambil berlalu dengan raut wajah yang sangat kesal.


Ketika Clara pergi menyusul Daren.


“Maksud lo apa ngomong kayak gitu ki?” tanya Siska menyelediki.


“Emm itu ng-nggak ada maksud apa-apa, gue emosi aja tadi” jawab Dicky berusaha tenang.


“Haha, ya pastilah, mana mungkin Daren Psychopath, yang ada lo kali Psychonya” ejek Alfi tertawa.


“Haha ya sudahlah, mending kita balik, udah basah nih baju gue” ucap Dian memotong.


“Iya, yuk yan sini aku bareng aku baliknya” ujar Baim merangkul Dian.


“Yuk” balas Dian membalas rangkulan Baim.


“Cih” gerutu Alfi kesal. Lalu Yola dan Tania langsung merangkul Alfi dari sisi kiri dan kanan.


“Udah, wajah lo nggak usah kusut gitu fi, kan masih ada kita berdua” ujar Tania genit.


“Nggak sudi gue!” balas Alfi kesal sambil mendorong Yola dan Tania, kemudia ia pergi mengikuti Baim dan Dian dari belakang,


"Hiih sok ganteng banget lo" teriak Tania Yola barengan.

__ADS_1



Daren POV


“AAAAAAAA” aku berteriak kencang dari atas tebing.


“Aiissh kenapa ra, kenapaa?” tanyaku frustasi. Namun hanya segelintir angin yang berhembus seakan menjawab pertanyaan yang ku lontarkan.


Kemudian sejenak aku memejamkan mata, lalu mengambil nafas pelan dan membuangnya perlahan.


Seketika aku ingat sesuatu, “seharusnya aku nggak boleh gegabah seperti ini, Clara memang salah, tapi seharusnya aku nggak membiarkan dia disana, karena peluang Dicky untuk mendekati Clara akan semakin besar”, gumamku.


Bagaimana jika Dicky menyakiti Clara, aku tahu betul siapa Dicky, 2 tahun cukup bagiku untuk mengenal sifatnya, dia tidak mencintai Clara, dia hanya terobsesi, karena dari dulu, kami selalu berbagi wanita, aku bagian membunuh, Dicky bagian memakai.


“AAAKKH” teriakku frustasi.


Aku benar-benar khawatir saat ini, Dicky memang tidak mempunyai naluri Psycho, tetapi dia salah satu pria yang tergolong bejad yang kutemui selama ini.



Disisi Lain …


“DAREEENNN, KAMU DIMANA? DAREEEEEN!” teriak Clara frustasi, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 18.30.


“Apasih, nggak usah ikut campur, kalau lo mau balik, balik aja sono duluan” balas Clara ketus. Lalu ia bergegas pergi mencari Daren lagi.


Dicky diam-diam mengikuti Clara.


Sudah hampir tiga jam Clara mencari Daren tanpa henti, rasa khawatir mengalahkan rasa lelahnya saat ini.


“Huaaaa Daareeen, hiks … hikss, kamu dimana?” Clara akhirnya menangis.


“Ma .. hiks … maafin aku, huhuhu, aku janji nggak bakalan dekat-dekat lagi sama cowok lain, tapi jangan tinggalin aku Daren, hiks hiks” isak Clara tiada henti sambil terduduk lemas disamping pohon besar.


Dari sudut lain seseorang terus memantau pergerakan Clara diam-diam.


“Ra, ayolah udah jam berapa ini? Biarin ajalah dia pergi, paling nantik balik lagi” ucap Dicky tiba-tiba sambil memegang bahu Clara.


“LEPAS!!!” titah Clara kesal.


“Ayok ra kita pulang sekarang, jangan bikin gue kesal” jawab Dicky tanpa berdosa.


“PERGI gue bilang, lo budek ya? gue nggak mau lagi dekat-dekat sama lo, seharusnya dari dulu gue nggak dekat sama lo ki”

__ADS_1


“Sudah terlambat ra, lo harus tanggung jawab, lo juga mau-mau ajakan kemaren gue sentuh, gue cium dan gue peluk” Dicky tersenyum smirk.


“Plaak” Clara menampar Dicky lagi.


“Cih, berani banget lo nampar gue?” Dicky member tatapan sinis.


Mendapat tatapan tajam dari Dicky membuat nyali Clara jadi ciut. Namun tidak serta merta Clara memperlihatkan ketakutannya, dia tetap berusaha memberikan ekspresi tenang.


“Ikut gue sekarang” titah Dicky.


“Enggak! Gue nggak mau, gue mau cari Daren sampai ketemu” balas Clara beranjak pergi. Namun Dicky menahan pergelangan tangannya.


“Lepas ki, gue capek ya berdebat mulu sama lo, mending lepas sebelum kesabaran gue benar-benar habis” ucap Clara tajam.


“Wohoo, kalau lo natap gue kayak gitu, semakin gue bergairah ngeliat lo ra” ucap Dicky tertawa. Mendengar ucapan Dicky, Clara meneguk salivanya kasar.


“Apa mau lo sebenarnya?” tanya Clara gregetan.


“Pakai ditanya, ya mau diri lo lah” Dicky menyilangkan tangannya.


“Sayangnya gue nggak mau” balas Clara cuek. Mendengar jawaban Clara membuat Dicky semakin kesal. Kemudian Dicky menggendong Clara secara paksa.


“Eh eh, lepasin gue!” teriak Clara sambil memukul punggung Dicky dengan tangan mungilnya. Karena tidak mempan juga, akhirnya Clara mencubit pinggang Dicky sekuat tenaga.


“AAAAKKHHH” teriak Dicky menahan sakit sambil menjatuhkan Clara.


“Auchh, kampr*et ni anak, dikira nimpuk tanah nggak sakit apa” Batin Clara menggerutu. Lalu diam-diam Clara mencoba kabur dari Dicky.


Baru selangkah Clara berlari, “Plaaaak” Dicky menampar kepala Clara dari belakang. Kemudian ia menggendong tubuh Clara dan berjalan mamasuki kawasan hutan.


...


Jangan lupa kasih kritik dan saran, karena dengan adanya kritik dan saran dari kalian semua, bisa membuat author belajar supaya menjadi yang lebih baik lagi kedepannya, terimakasih atas perhatiannya ♥


...


Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah baca, like dan komentar, see you next chapter ♥


...


salam hangat


sucinazifah

__ADS_1


__ADS_2