My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 37


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim,



04.00 Wib Daren tiba di Rumahnya, kemudian ia membawa peti-peti itu masuk dan Daren memasuki ruang rahasia yang hanya di ketahui dirinya sendiri. Setelah itu, Daren bergegas menyusun peti-peti yang dibawanya tadi berjejer dengan peti yang lainnya. (Posisi petinya berdiri ya, terus disandarkan ke dinding, jadi posisi mayatnya berdiri didalam peti)


“Nah beres" Daren tersenyum senang.


“Oia astaga, ibu kan belum mati” Daren menepuk kening kepalanya pelan. Kemudian bergegas membuka tutup peti berwarna kuning. Dilihatnya posisi ibunya masih sama, terikat dan pingsan.


“Haha kaget-kaget lo situ” Daren tertawa geli membayangkan bagaimana ekspresi ibunya nanti ketika sudah siuman dan sadar kalau dirinya sedang berada didalam ruangan yang penuh dengan potongan tubuh mayat. Daren ingin sekali melihat ekspresi itu, tetapi tidak bisa, karena dia pun diburu waktu.


Lalu Daren bergegas keluar dari ruangan, dan pergi mandi. Setelah mandi Daren menuju rumah Baim. Dan benar saja tepat pukul 05.00 subuh Daren sudah sampai di kediaman Baim.



Daren langsung memasuki rumah Baim.


“Aish bikin kaget aja lo kampr*t” umpat Baim kesal.


“Sorry, gimana sudah selesai beres-beresnya?” Daren bertanya.


“Sudah dong, tinggal berangkat” sahut Alfi.


“Oia, Clara mana?”


“Disini” Clara memeluk Daren dari belakang.


“Ahh kamu, I miss you” Daren membalikkan tubuhnya menghadap Clara dan langsung mencium pelan kening kekasihnya.


“Plaaak” Baim melempar bantal kearah mereka berdua.


“Nah syukuriin, siapa suruh mesra-mesraan dirumah gue” ejek Baim.


“Sayang jangan, Baim cuma bercanda” ucap Clara menenangkan Daren sambil mencium dada bidang Daren.


Melihat Clara dengan beraninya melakukan itu membuat pipi Daren merona.


“Eh muka kamu kenapa? Kok merah? Kamu nggak tidur ya semalam? Sampai merah gitu mukanya” Clara mengkhawatirkan Daren.


“Duhh bego banget pacar gue, dasar nggak peka” batin Daren gemas.


“Nggak papa, aku cuman sedikit lelah aja, Oia yok kita berangkat sekarang” pinta Daren yang disetujui semua.


Mereka memasuki mobil masing-masing sesuai kesepakatan bersama. Daren mengendarai mobil berwarna Putih, yang di isi Baim, Yola, Tania, Dian dan dirinya sendiri. Sedangkan di mobil Hitam di isi Alfi, Clara, Siska dan Dicky sebagai sopir.


Clara dan Daren memang tidak diizinkan semobil, karena mereka tidak tahan jika harus melihat kemesraan Daren Clara disepanjang perjalanan.


Kondisi Mobil yang dikendarai Daren aman-aman saja, mereka asik bersenda gurau bersama, bernyanyi bersama, namun berbeda dengan Daren, dia terpaksa pura-pura senang harus se mobil dengan teman-temannya, karena bagaimanapun Daren sangat tidak setuju jika Clara harus satu mobil dengan Dicky.


Konidisi mobil yang dikendarai Dicky juga aman-aman saja, namun mereka lebih banyak diam dari pada berbicara. Posisi duduk Clara tepat disebelah Dicky, karena Siska tidak mau bersebelahan dengan Clara, akhirnya Alfi mengalah dan duduk disebelah Siska.


Selama diperjalanan Dicky terus saja curi-curi pandang melihat Clara, sedetik kemudian Dicky mulai mencoba meraih tangan Clara. Siska yang melihat itu sangat senang, karena rencananya dengan Dicky berjalan mulus tanpa hambatan. Berbeda dengan Alfi, dia tidak menyangka Dicky senekat ini.


“Dasar kampr*t ni orang, berani-beraninya ngerebut pacar teman sendiri, dasar nggak tahu malu” umpat Alfi dalam hati.


“Ki, mending kamu fokus nyetir aja” ucap Clara pelan.


“Cuma pegang bentar ra, gue kangen” ucap Dicky berbisik ditelinga Clara lalu mengecup pelan telinga Clara.


“Dicky!” protes Clara pelan karena disana ada Alfi, dia tidak ingin Alfi sampai mengadukan hal ini ke Daren.


“Ekkheemn” Alfi berdehem keras. Sontak Dicky melepaskan genggamannya. Disisi lain Siska semakin senang, karena menurutnya sangat beruntung jika Alfi mengetahui hal ini.


Clara lagi-lagi menyesali perbuatannya “Kenapa sih dengan gue akhir-akhir ini? Kenapa mudah banget baper sama Dicky, oke gue akui gue nggak punya perasaan lebih terhadap Dicky, tapi kenapa gue nggak mau nolak kalau Dicky mulai nyentuh gue” rutuk Clara dalam hati.


“Bagaimana kalau Daren sampai tahu? Gue nggak siap ditinggal Daren, karena mau bagaimanapun gue cinta banget sama dia” batin Clara menahan tangis. Kemudian Clara memaksa matanya untuk tidur, karena dia tidak mau hal itu terjadi lagi.


Hampir 10 Jam perjalanan, akhirnya mereka tiba dilokasi liburan. Ya mereka tiba di Yogyakarta, tepatnya di wilayah pantai Jogan Gunung Kidul, kemudian mereka masuk kedalam pekarangan rumah yang sangat luas dan besar.


“Wihh memang orang kaya lu fi” celetuk Baim terpukau.


“Iya dong” jawab Alfi sombong.


“Huuu Dasar” ejek yang lainnya tidak terima.


“Yaudah ayo kita masuk” ajak Alfi.


Saat mereka berjalan memasuki rumah, Daren menggenggam tangan Clara lembut, lalu merapatkan tubuhnya dengan tubuh Clara, lalu berbisik dengan suara serak “Aku kangen”


“Aku juga” cicit Clara pelan kemudian mengecup singkat pipi Daren.

__ADS_1


“Mulai nakal ya” Daren mengusap pelan kepala Clara.


“Kan kamu yang ajarin, ahaha” ujar Clara tertawa. Lalu mereka memasuki rumah Alfi dengan perasaan senang.


Dari belakang, Siska dan Dicky terlihat menahan amarah, lalu mereka berdua menyusul masuk kedalam.


“Oke, kamar tidurnya sama seperti yang di tempat Baim aja ya, kalau gitu silahkan kekamar kalian masing-masing, bagi yang mau istirahat silahkan, namun bagi yang ingin jalan-jalan disekitaran ini silahkan juga, have fun gays” Alfi menjelaskan dengan detail lalu pergi menuju kamar tidurnya.


“Have Fun too” jawab yang lainnya kompak.



Pukul 16.30 Wib


Daren dan Clara sudah sepakat untuk pergi jalan-jalan sore ini. Mereka menyusuri pantai dengan berjalan kaki, karena memang rumah Alfi tidak jauh letaknya dari Pantai.


Berjalan berdua di tengah udara yang sejuk, membuat dua insan ini tidak ingin lepas satu sama lain. Daren selalu senantiasa menggenngam tangan Clara erat, setiba nya dipantai, mereka bermain bersama.


“Aaaaahh” teriak Clara kencang.


“Eh kamu ngapain?” tanya Daren panik.


“Ya teriak lah, ngapain lagi”


“Nanti kalau ada yang dengar gimana?”


“Astaga Daren, biarin aja, lagian mana ada orang disini selain kita berdua” ucap Clara sambil mencolek dagu Daren.


Seketika Daren langsung tersenyum nakal. Lalu dia segera memeluk Clara dan memutarkan tubuh Clara.


“Aaahhh DAREN AKU TAKUUTT, HAHAHA” Clara berteriak heboh.


Mendengar teriakan Clara, akhirnya Daren menurunkan Clara lalu memeluknya erat. Clara membalas pelukan Daren dengan erat.


Kemudian Clara mendadak melepaskan pelukannya, lalu ia berkata “Ayo kejar aku, kalau kamu berhasil, aku bakal kasih kamu hadiah” ucap Clara yang langsung berlari kearah laut.


“Hei, jangan kesana larinya, bahaya!” ucap Daren khawatir.


“Ayoo ren kejar aku” teriak Clara lagi.


Sedetik kemudian Daren langsung mengejarnya.


Daren Pov


Setibanya dipantai, Clara langsung berteriak heboh, ya ampun aku benar-benar gemas dibuatnya, lalu aku memeluknya, mengangkatnya tinggi kemudian memutarnya dengan tempo sedang.


Melihat tawanya membuat jantungku bergetar, kemudian dia mengatakan kalau dirinya takut, aku langsung menghentikan aksi ku dan langsung memeluknya erat, bermaksud ingin membuatnya kembali tenang.


Lalu tiba-tiba dia melepaskan pelukannya, dan memintaku untuk mengejarnya dengan imbalan aku nantik akan diberinya hadiah jika aku berhasil menangkapnya.


Sebenarnya dalam sekejap aku mampu menangkapnya, tapi itu tidak akan seru, alhasil aku akan bersandiwara didepannya.


“Clara tunggu, lari kamu jangan kecepatan, aku susah ngejarnya” ucapku mulai mengejar.


Selama hampir lima menit aku berupura-pura mengejarnya, sampai akhirnya aku tidak sabar lagi untuk menangkapnya karena aku penasaran hadiah apa yang akan kudapatkan nanti.



Sementara di kediaman Alfi


“Daren sama Clara kemana, ada yang tahu?” tanya Dicky penasaran.


“Ya pergi pacaranlah” jawab Dian yang disambut gelak tawa Alfi, Baim, Yola dan Tania.


“Nah bener, paling lagi ciuman, ahahaha” celetuk Baim tertawa.


“Anjay, dasar lo im” sahut Alfi memukul bahu baim.


“Ya sudah, jadi kita kapan nyusulin mereka?” tanya Siska memotong.


“Ngapain disusul, mending kita dirumah aja, biarin ajalah mereka berdua mesra-mesraan sekarang, lagian bentar lagi hujan turun, mending kita dirumah, sekalian bikin cemilan buat nantik malam” usul Alfi yang disetujui Baim, Dian, Yola dan Tania.


Mendengar teman se csnya menyukai saran Alfi, Siska semakin jengkel.


“Ya sudah, kalian istirahat saja, gue sama Siska mau main keluar dulu, bosan soalnya kalau nggak kemana-mana” ujar Dicky yang langsung bergegas menuju area Pantai.



“Yeaaay dapat!” ucap Daren heboh.


“Aaaa kamu lama banget nangkapnya, aku capek tahu lari dari kamu” gerutu Clara sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


‘Cup’


‘Cup’


Daren mencium cepat bibir Clara.


“Makanya jangan digitukan bibirnya, aku kan jadi gemas” ucap Daren sambil kembali mencium bibir Clara, kali ini cukup lama. Mereka terus saling bercumbu ditengah ombak pantai yang hilir berganti menghandam daratan.


Kemudian Daren melepaskan ciumannya, digendongnya tubuh Clara menjauhi pantai, menurut Daren disana terlalu bahaya untuk mereka berdua, karena ombak bisa kapan saja menghantap tubuh mereka.


Daren menduduk kan Clara diatas bebatuan yang tertutupi pohon besar. Kemudian Daren kembali mencium Clara.


‘Cup’


‘Cup’


‘Cup’


Mulai dari kedua mata, hidung dan yang terakhir Daren mencium lembut bibir Clara lama, seakan masing-masing dari mereka tidak ingin melepaskan ciuman itu.


Lalu Clara mulai melepaskan ciumannya, terlihat raut kekecewaan terpapar di wajah Daren, kemudian Clara mengecup pelan kening Daren sambil tersenyum manis, setelah itu beralih mengecup lama bibir Daren.


“Umhh” Daren mendesah pelan. Kemudian membalas mencium bibir Clara yang menurutnya sangat manis. Tidak lama kemudian hujan turun membahasi tubuh mereka berdua, namun Daren dan Clara tetap enggan melepaskan. Mereka malah semakin panas bercumbu dibawah derasnya hujan sore itu.


Tiba-tiba “Ekhhem” seseorang berdehem keras yang ternyata adalah Dicky.


Clara langsung melepaskan pagutannya, terlihat raut syok dari matanya, berbeda dengan Daren, dia menatap Dicky dan Siska tajam.


“Astaga ki, lo bikin kaget aja, gue fikir siapa” Clara terlihat kesal.


“Yaelah dasar cewek murahan, diam aja deh lo” potong Siska.


“SISKA” Daren meneriaki Siska.


“Kalian kenapa sih, ganggu tahu nggak” protes Daren menahan emosinya.


“Hei, hei, hei tenang tenang, kenapa ini?” Baim dan yang lainnya tiba-tiba datang dengan membawa payung.


“Nggak papa, gue heran aja ada orang yang nggak malu mesra-mesraan ditempat umum” jawab Dicky yang sudah terlihat sangat kesal.


“Dicky lo kok ngomongnya gitu sih? Lagian itu hak gue sama Daren, bukan juga urusan lo” balas Clara tak kalah kesal.


“Iya bener tu yang dibilang Clara” potong Alfi tiba-tiba.


“Maksudnya?” tanya Baim tidak mengerti.


Alfi terlihat berfikir, kemudian dia langsung tersenyum smirk sambil berkata “Ya maksud gue, masih masuk diakal kalau Daren sama Clara bermesraan di depan umum, toh mereka statusnya memang sepasang kekasih, lah yang onoh bukan pacar cuman sebatas sahabat tapi berani-beraninya mencium kekasih temannya sendiri didepan umum” Alfi menyindir Dicky dengan lugas.


“Maksud lo si Dicky?” Baim menunjuk Dicky.


“Ya siapa lagi, dan lebih parahnya, yang cewek dengan senang hati menerima ciuman itu” Alfi tersenyum menyindir.


Semua nya sontak menatap Clara, Clara benar-benar terpojok, tubuhnya kaku, hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi, bahkan dia tidak berani melirik Daren.


“Nggak usah ngarang cerita bangs*t!” Daren mencengkram kerah Alfi.


“Eits, tenang kawan, buat apa gue ngarang-ngarang cerita, nggak ada untungnya juga buat diri gue, gue ngasih tahu ini karena gue kasihan sama lo yang mau-mau aja ditipu sama mereka berdua” jawab Alfi tenang sambil menunjuk Dicky dan Clara.


“GUE NGGAK PERCAYA, NGGAK MUNGKIN CLARA NGEKHIANATIN GUE, GUE MAU BUKTI!” teriak Daren frustasi.


“Oke, gue punya kok buktinya, tapi sebelum lo liat, lo boleh tanya dulu sama Clara, setidaknya lo pasti akan lebih puas kalu buktinya keluar dari mulut Clara sendiri” ucap Alfi memandang tajam Dicky.


Daren kemudian beralih menghadap Clara sambil menahan tangis.


“Maaf” ucap Clara pelan, padahal belum sepatah katapun yang terlontar dari bibir Daren.


Mendengar ucapan Clara, Daren sudah bisa menebak semuanya, kemudian ia pergi meninggalkan mereka semua dan pergi entah kemana.



adakah yang penasaran bagaimana sosok Alfi?


...


Sekian dari author, makasih buat yang sudah baca, like dan berkomentar, see you next chapter♥♥



Ohiya, masih adakah yang baca cerita ini? Terus kalau boleh author minta, jangan lupa kasih kritik dan saran ya, karena dengan adanya kritik dan saran dari kalian semua, bisa membuat author belajar supaya menjadi yang lebih baik lagi kedepannya, terimakasih atas perhatiannya ♥


...

__ADS_1


salam hangat


sucinazifah


__ADS_2