My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 36


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim 



Sesampainya di kediaman Baim, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 sore, mereka kemudian memasuki rumah Baim dengan perasaan was-was.


“OHMYGOD, wajah kalian kenapa?” Clara berteriak heboh sambil menyentuh wajah Dicky dan Daren secara bergantian.


Melihat Clara yang lebih peduli dengan luka Dicky ketimbang dirinya, Daren menjadi kesal.


“Akhh kenapa sih Clara lebih mentingin Dicky ketimbang gue, kalau aja nggak ada Baim dan yang lainnya, udah gue hajar mereka berdua” Batin Daren tersakiti.


“Yaampun my Honey Daren, sini aku bersihin lukanya” ucap Siska Khawatir sambil membawa air kompres yang diambilnya dari dapur.


Daren tidak melawan, dia membiarkan Siska menyentuh wajahnya dan mengobati luka-lukanya. Sejenak Clara tertegun ketika melihat Siska dan Daren berduaan, ia marah dengan dirinya sendiri, karena bagaimana mungkin dia lebih mementingkan Dicky ketimbang kekasihnya sendiri. 


“Anjir ini pasangan yang tertukar ya?” celetuk Baim tertawa.


“Lagian lo berdua pada kenapa sih? Berantem lagi nih jangan-jangan?” lanjut Baim lagi.


“Enak aja, kita itu tadi diserang sekelompok preman, lo kan tahu sendiri kami itu cuman berdua, sedangkan mereka bersepuluh, ya kalah atuh akhinya, syukur-syukur bisa lolos” celetuk Daren menjawab pertanyaan Baim.


Mendengar jawaban Daren, Baim tidak serta merta langsung percaya, dia juga ingin mendengar jawaban dari mulut Dicky.


“Eh ki, itu bener yang dibilang Daren?”


“Dasar psychopath, mantap banget bohongnya” batin Dicky melamun.


“Hoi! Ah elah ni anak bukannya ngejawab pertanyaan gue malah ngelamun” protes Baim sambil memukul bahu Dicky.


“Anj! Sakit bangs*t!!” teriak Dicky kesakitan.


“Baim, jangan dipukul” sahut Clara kesal.


“Iya, iya maaf nggak sengaja gue, yaudah mending lo berdua istirahat gih dikamar gue, biar cepet sembuh itu lukanya” ucap Baim sambil berlalu meninggalkan mereka.


“Yaudah, gue balik dulu, gue istirahat dirumah aja” sahut Daren langsung berdiri hendak beranjak menuju pintu keluar.


“Aku ikut ya” ujar Clara takut-takut.


“Eh apaan lo main ikut-ikut” protes Siska cepat.


“Gue pacarnya, wajar dong kepengen ikut” balas Clara tak mau kalah.


“Nggak usah, kamu disini aja sama mereka, aku ada urusan, besok jam lima subuh, aku janji udah sampai disini” ujar Daren dingin kemudian berlalu pergi.


Mendengar jawaban Daren, Clara tidak berani berkutik lagi, nyalinya ciut duluan, dan tanpa mereka sadari, waktu sudah menunjukkan pukul 19.20 wib. Lalu Dicky mengajak Clara untuk bergegas beristirahat, karena Baim, Alfi, dan Siska cs sudah pergi ke kamar mereka masing-masing yang sudah disediakan Baim.


“Ayok ra, mending kita istirahat sekarang”


“Iya ra, yuk kita kekamar, gue udah ngantuk nih” protes Dian tak sabar.

__ADS_1


“Hemm yaudah ayok” ucap Clara pelan menuruti permintaan Dian dan Dicky.


“Yaudah gue duluan ya, lo lama banget jalannya” protes Dian lagi yang sudah tidak sabar ingin tidur.


Dian akhirnya meninggalkan Clara berdua dengan Dicky yang masih berada di bawah tangga.


“Kalau gitu gue keatas ya ki, kasian Dian sendiri” ucap Clara lemah.


“Tunggu ra” Dicky memegang lengan Clara.


“Apalagi?”


Dicky mendadak diam, ia bingung harus bagaimana. Melihat Dicky hanya diam, Clara hendak pergi lagi, karena moodnya juga sedang tidak bagus. 


“Makasih ra” Dicky mendadak memeluk Clara, erat.


Dipeluk Dicky secara tiba-tiba, Clara mematung, perasaannya bercampur aduk. Kemudian tanpa disadari air mata Clara menetes perlahan.


“Makasih ra, makasih karena kamu masih perhatian sama aku” ucap Dicky tersenyum senang yang masih memeluk Clara erat.


“Daren maafin aku, aku bingung, aku cinta sama kamu, tapi aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini Dicky seakan mampu mengalihkan kamu, tapi percayalah cinta aku masih buat kamu sayang” batin Clara menangis.


“Ra” ucap Dicky melepaskan pelukannya.


“Hei, kamu kenap eh maksudnya lo kenapa nangis?” tanya Dicky khawatir.


“Nggak, gue nggak papa, lo nggak perlu makasih ke gue, lo itu sahabat gue, makanya gue juga peduli sama lo, yaudah mending kita istirahat ki, gue juga sudah sangat lelah hari ini” pinta Clara lembut.


“Oke baiklah” Dicky mencium pelan kening Clara.


Bukannya merasa bersalah, Dicky malah tertawa dan berlari menuju kamarnya yang berada diatas. Kemudian Clara pun menyusul setelah berusaha menenangkan rasa degdegan yang dirasakannya setelah Dicky menciumnya.


Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tidak sengaja melihat mereka berdua, dia adalah Alfi.


“Jadi Dicky masih berniat ngerebut Clara dari Daren? Gue fikir Dicky sudah taubat, eh taunya masih aja ngembat Clara dibelakang Daren” Alfi menggeleng tidak percaya.


….


00.40 Wib at Gedung Tua Kota A.


Daren berjalan menaiki tangga perlahan sambil menyeret bungkusan besar dengan tatapan dinginnya, lengkap dengan sarung tangan merah, topi merah dan pakaian yang serba merah.


Setelah menyusuri beberapa lantai, akhirnya Daren berhenti tepat di lantai nomor dua dari atas. Dia meletakkan bungkusan besar itu didepannya, dan segera mengeluarkan alat-alat yang disimpan di dalam saku jaketnya. Setelah mengeluarkan beberapa alat kesayangannya, Daren menelfon seseorang.


“Lo dimana? Kenapa petinya belum sampai?” tanya Daren penuh penekanan.


“Dalam waktu sepuluh menit, itu peti harus sudah ada disini, kalau enggak nyawa lo taruhannya” Daren segera menutup ponselnya.


Dilihatnya bungkusan besar itu dengan tatapan mengejek, “Hahaha Welcome Back Daren” ucapnya tertawa terbahak-bahak. Lalu segera dibukanya bungkusan besar itu kemudian dia berjongkok dan mengambil pisau tumpul yang berada diisampingnya.


“Hemmfff, hhmmmffft” teriak seseorang seolah berkata jangan.

__ADS_1


Namun Daren tidak memperdulikannya, dia tetap saja mencoba menusuk pisau tumpulnya itu di bagian seseorang yang ingin berteriak tadi. Ya ternyata isi bungkusan yang dibawa Daren tadi adalah sesosok manusia yang sangat dibencinya. Yaitu ibu tirinya dan Abangnya Bobby.


Darah segar keluar dari betis kaki Bobby karena Daren dengan sengaja menusuk-nusuk bagian itu dengan pisau tumpul nya.


“Ammfffh, Hmmmm” teriak Bobby pasrah dengan berlinang air mata.


Disisi lain, ibunya sudah histeris karena melihat putra kesayangannya di sakiti. Bahkan ibu tirinya bersujud dengan keadaan terikat, memohon ampun kepada Daren supaya dia menghentikan aksinya.


Namun Daren tetap tidak memperduliknnya, dia malah menendang tubuh ibu tirinya, karena sudah berani mengganggu aksinya. Kemudian Daren kembali focus dengan Bobby, diambilnya gunting besar, lalu Daren tersenyum sebentar sambil berkata “Tahan ya abangku, ini akan sedikit menyakitkan”.


Setelah nya Daren langsung memotong jari-jari kaki dan tangan Bobby.


“Kkkrraaaaakkkhhhh” berulang kali bunyi patahnya tulang persendian Bobby terdengar, Daren benar-benar menikmatinya, bahkan Daren merekamnya melalui ponselnya, namun berbeda dengan ibu tirinya yang sudah pingsan duluan.


Sedangkan Bobby, dia masih dalam keadaan sadar, namun sangat lemah. Lalu Daren dengan sengaja membuka penutup mulut Bobby.


“Anji*g lo! Lepasin gue anak haram!” umpat Bobby kesal penuh amarah.


Mendengar ucapan Bobby, Daren menatapnya dingin yang membuat nyali Bobby menjadi ciut.


“Praaaangggg” Daren memukul kepala Bobby kuat menggunakan kunci tang besae yang berada disampingnya. Darahpun kembali bercucuran dengan deras.


“Hahahaha” Daren tertawa melihat Bobby yang langsung tergeletak. Namun sedetik kemudian tawa Daren menghilang, dia melihat dengan benar tubuh Bobby, di goncang-goncangkannya kuat-kuat, guna memastikan apakah dia sudah mati apa masih hidup. Dan ternyata nyawa Bobby telah melayang.


Mengetahui nyawa Bobby sudah tidak ada lagi, Daren berteriak sekeras-kerasnya, “AAKKKHHH, Kenapa dia secepat ini matinya? Gue belum puas bangs*at nyiksanya, AAKKHHHKK” teriak Daren kesal lalu menendang mayat Bobby berkali-kali.


“Bangs*t!!!! gue nggak terima lo mati sebelum puas disiksa” Daren terus menginjak-injak kepala Bobby yang sudah hancur.


Kemudian dia menenangkan dirinya, dilihatnya jam ditangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Yang mana dia kini hanya punya waktu sekitar 2,5 jam lagi.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Daren bergegas mengumpulkan jari kaki dan tangan Bobby kedalam kantong plastik besar, namun sebelum dimasukkan, Daren menghirup pelan Darah yang berada disekitar Jari kaki dan tangan Bobby kemudian dia tertawa.


"Ahahahaha segarnyaaa, gue suka ini, gue rindu sama bau ini, Hahahaha" Daren tertawa ditengah malam yang sunyi.


Kemudian tidak lama kemudian, suara mobil terdengar sedang melaju kearah Daren, lalu seseorang keluar dari mobil dan mengeluarkan peti yang sudah dipesan Daren, seseorang tersebut sengaja membawa mobil karena digedung ini memang disediakan akses kendaraan untuk ke lantai teratas, namun karena bangkrut, bangunan itu menjadi tidak terawat.


"Ini bos petinya"


"Bagus, bagus, sekarang lo bisa pergi, tapi tidak menggunakan mobil ini, jalan kaki" titah Daren yang tidak mampu di lawan oleh orang tersebut.


"Baik bos" ucapnya pergi dengan tenang.


Setelah seseorang tersebut pergi, Daren bergegas memasukkan jasad Bobby kedalam peti dan tubuh ibu tirinya ke peti satunya lagi, seutas senyum terpampang di wajahnya, "nikmatilah malam yang panjang ini bu, akhirnya kau akan merasakan apa yang kurasakan dulu."


Saat semuanya beres, Daren langsung memasukkan kedua peti tersebut kedalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya kembali kerumah.


...


Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah baca, like dan komentar, see you next chapter ♥


...

__ADS_1


salam hangat


sucinazifah


__ADS_2