My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 39


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim



Oh iya, sebelum baca jangan lupa klik ❤ nya ya, terimaksih ❤❤


22.00 wib


“Ini Dicky, Clara sama Daren pada kemana sih, lama banget baliknya,” ucap Dian khawatir.


“Udah, jangan dipikirin yan, kita percayakan saja semuanya sama mereka, mereka sudah besar dan dewasa, pasti bisa saling menjaga,” Alfi berusaha menenangkan Dian yang memang sedari tadi sangat mengkhawatirkan teman dekatnya itu.


“Tapi gimana kalau yang dibilang Dicky itu benar?” potong Siska bergidik ngeri.


“Astaga, bukannya lo cinta sama Daren selama ini?” protes Baim kesal.


“Ya gue memang cinta sama Daren, tapi kalau dia benar-benar psychopath, gue ogah lah hidup sama dia” ujar Siska menjelaskan yang disetujui Tina dan Yola.


Mendengar jawaban Siska Baim sedikit kesal “Sudahlah, lagian Dicky juga sudah klarifikasi kan kalau dia salah ngomong, jangan diperpanjang lagi, kalau memang Daren psycho, pasti Dicky sudah mati dari kemaren-kemaren.”


“Nah iya bener tu yang di bilang Baim, nggak usah bahas yang aneh-aneh deh Sis,” sahut Dian ikutan kesal.


“Hihh susah ngomong sama orang udik kayak kalian semua, dan ingat jangan salahain gue kalau kita bakal jadi santapan empuk bagi Daren selama liburan” Siska langsung berjalan menuju kamarnya.


“Apasih nggak jelas banget dia, sasaran empuk apaan, emang kita bantal, hahahaha” celoteh Baim tiba-tiba.


“Dasar kutu air, bisa aja becandanya,” ujar Alfi yang langsung merangkul Baim menuju lantai atas.


“Loh loh, kok kalian pada pergi kekamar sih? Nggak ada niatan buat nyari mereka nih?” tanya Dian memastikan.


“NGGAK ADA” jawab Alfi dan Baim kompak.


“His dasar kalian berdua nggak gunaa!!!!” teriak Dian kesal.

__ADS_1



“Hah hah hah” Dicky ter engah-engah setelah melakukan perjalanan cukup jauh sambil menggendong tubuh Clara.


Ya, saat ini mereka sedang berada di sebuah gubuk di tengah hutan yang rindang.


“Astaga, Clara ternyata berat juga, tapi nggak papa, setidaknya dia malam ini bakal jadi milik gue” ujar Dicky menyeringai.


“Clara, Clara, ini akibatnya kalau kamu nggak nurut sama aku, aku sudah berusaha memperlakukan kamu dengan baik selama ini, yaa memang awalnya aku cuman pura-pura cinta sama kamu, tapi lama kelamaan setelah kamu mengizinkan aku menyentuhmu, entah kenapa ada rasa candu yang sangat besar, dan jujur aku tidak bisa menahannya” ucap Dicky pelan sambil terkikik.


Dicky terus saja melihat Clara yang pingsan dari atas sampai bawah, “Waahh, benar-benar menarik, pantas saja Daren tergila-gila, doi sexy banget” Dicky tersenyum smirk.


Perlahan Dicky menjauh dari Clara, lalu keluar gubuk, dilihatnya sekeliling, “Hahaha, Daren Daren, bodoh banget sih lo, mau-mau nya ninggalin Clara sendirian hanya karena masalah sepele” ejek Dicky sambil duduk di depan gubuk tersebut.


“Untung saja nggak ada yang tahu kalau gue kesini, jadi gue bebas mau ngapain saja malam ini sama Clara” Dicky cekikikan. Kemudian dia segera masuk kembali setelah merasa situasi masih aman. Lalu mengunci pintu rapat.


Kemudian Dicky mendekati Clara perlahan “Hemm nyenyak sekali tidurnya, semakin membuatku tak tahan” batin Dicky.



Setelah memastikan tidak seorangpun mengikuti jejakku, lalu aku kembali masuk kedalam gubuk, dan melihat Clara terkapar lemah diatas ranjang dengan sangat sexy.


Perlahan aku menyentuh wajahnya, mencium pucuk kepalanya, dan ahh aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahannya. Kemudian aku langsung membuka satu persatu kancing baju Clara, setelah terbuka semua, aku hanya bisa mematung sambil meneguk salivaku yang tercekat dikerongkongan.


“Wahh indah sekali tubuh kamu sayang” aku mengamati setiap inci tubuh Clara dengan perasaan yang sudah bercampur aduk kemudian aku menghirup aroma wangi tubuhnya yang masih setengah terbungkus pakaian, lalu akupun mulai mengecup pelan tubuh indah Clara dimulai dari lehernya.


“Cup”


“Cup”


Baru dua kecupan langsung membuatku mendesah tanpa sadar, kemudian aku mulai menurunkan kecupanku dibagian sensitive nya, “cup”.


“Plakk”

__ADS_1


“BRENGS*K!!!!” pekik Clara sambil menampar kuat pipiku.


“Ah shit, dia bangun sebelum aku menuntaskannya” gerutuku dalam hati.



Daren POV


Melihat Clara meraung seperti itu semakin membuat hatiku sakit, ingin sekali aku memeluknya, namun entah kenapa ada sesuatu yang menahanku untuk melakukan itu.


Ya, inilah aku, aku merasa seperti pecundang yang tidak berani menghampiri kekasihnya sendiri. Lalu tanpa kusadari ternyata Dicky mengikuti Clara.


“Shit! Kenapa selalu ada dia, selalu saja menganggu, jika saja bukan karena Clara, sudah lama aku memusnahkan dirinya,” pekikku dalam hati.


“Eh eh, apa itu masudnya? Brengs*ek, berani-beraninya dia memukul kepala Clara seperti itu” ucap ku kesal sambil membuntutinya dari belakang.


Setelah berjalan selama sepuluh menit, aku kehilangan jejak, “Ahk brengs*k, kemana coba si brengs*k itu membawa Clara? Gue yakin banget, dia ngebawa Clara menuju kesini, tapi kenapa seakan tidak ada jalan lagi? Ayo berfikir Daren!” ucapku frustasi.


Kemudian tanpa diduga, aku melihat sedikit cahaya dari balik daun pepohonan, lalu aku mengikuti arah cahaya itu, dan akhinya, yes aku berhasil menemukan mereka, aku bisa melihat sepatu Dicky yang tertinggal didepan gubuk itu.


“Dasar newbie” ejekku dalam hati lalu bergegas mendekati gubuk itu perlahan.


Namun baru beberapa langkah mendekat, aku bisa mendengar dengan jelas teriakan Clara, seketika rasa kesal dalam diri ini memuncak entah apa alasannya, kemudian aku langsung berlari dan mendobrak pintu itu secara paksa.



Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah baca, like dan berkomentar, see you next chapter ❤❤



salam hangat


sucinazifah

__ADS_1


__ADS_2