My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 43


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim 



Sesampainya di gubuk, Daren dan Alfi langsung mendekati Dicky yang masih terbaring lemah di pojok dinding, wajahnya benar-benar pucat, seperti mayat hidup. Alfi menendang pelan kaki Dicky, guna mengetahui apakah dia masih hidup atau sudah mati.


“Masih hidup dia, nggak usah ditendang,” protes Daren.


“Ya elah, gue cuman nendang sedikit, sensi amat lo,” Alfi mulai berjongkok.


“Mau ngapain lo,?” tanya Daren bingung.


“Ssstt, diam dulu, gue pengen liat ekspresi dia doang,” jawab Alfi tersenyum manis ketika melihat ekspresi lemah yang terpampang di wajah Dicky.


“Ya sudah, mending kita langsung bawa saja dia pulang!” pinta Daren.


“Bentar doang, lagian mending dibunuh saja ren, nanggung atau enggak biar gue saja yang selesain, lo duduk manis saja disana!” ucap Alfi menggebu-gebu, terlihat dari raut wajahnya memancarkan ekspresi lapar.


“Ahh enggak, nggak boleh, apa kata anak-anak nanti kalau dengar kabar dia meninggal, gue belum siap masuk kantor polisi,” tolak Daren mentah-mentah.


“Astaga ren, ngapain di pusingin, bunuh saja polisinya, kalau perlu semuanya,” ujar Alfi memberi saran.


“Ha ha, iya habis itu gue jadi buron, nasib Clara gimana? Ya kali gue biarin dia ikut jadi buronan,” Daren menggeleng tidak percaya mendengar saran dari Alfi.


“Itu sudah resiko dia pacaran sama psychopath, lagian lo nggak takut apa kalau Dicky nanti buka mulut didepan orang-orang?” tanya Alfi memastikan.


“Enggak, gue nggak takut, ya sudah mending kita langsung bawa dia pulang,” Daren mencoba menggotong tubuh Dicky.


“Eh wait wait,” ucap Alfi menahan Daren.


“Apa lagi kutu aer?” Daren terlihat sangat kesal.


“Mending kita paksa dulu dia bangun, terus ancam supaya dia nggak buka mulut, gue nggak mau ya nantik malah semakin banyak masalah pas kita sudah sampai disana,” ujar Alfi berbisik.


"Ya sudah ya sudah, terserah lo saja, yang penting jangan lo bunuh ni orang," balas Daren pelan.


"Iyaaa, nggak bakal gue bunuh, sayang banget kayaknya lo sama ni orang," Alfi cekikikan, sedangkan Daren memberikan tatapan tajam dan ekspresi dingin.


"Apa lo natap-natap gue?" balas Alfi tak kalah dingin.


"Ha? nggak papa, ya sudah buruan bangunin," seru Daren mengalihkan pembicaraan.


Melihat ekspresi Daren membuat Alfi hampir tertawa terbahak-bahak, namun dia menahannya, karena dia ingin segera membangunkan Dicky.


"Hoi bangun, tidur mulu," Alfi menggoyang-goyangkan tubuh Dicky. Sesekali Alfi mencuil-cuil bekas darah yang ada dilengan Dicky lalu memasukkannya kedalam mulutnya.


"Aaarrggh enaknya," erang Alfi spontan.


Mendengar erangan Alfi yang cukup kuat, membuat Dikcy terbangun, "Aaauuhhh perih" Dicky merintih kesakitan.


"Akhirnya bangun juga lo" Alfi tersenyum miring.

__ADS_1


"Loh Alfi? Fi fi, tolongin gue please!!! tolong bawa gue kerumah sakit sekarang" Dicky memohon tanpa tahu apa yang sedang terjadi.


Dari jauh Daren terlihat menahan tawanya, "Dasar bego" gumam Daren pelan.


"Tenang tenang, Calm down baby, gue bakal bawa lo kerumah sakit, tapi ada syaratnya, gimana, setuju nggak?" tanya Alfi sambil menaik kan sebelah alis matanya.


"Oke, gue setuju apapun syaratnya, asalkan lo bawa gue sekarang juga kerumah sakit, oh iya, tapi habis itu kita kekantor polisi juga ya" Dicky kembali memohon.


"Banyak banget permintaan lo" protes Alfi.


"Ayolaah, tolong gue kali ini saja, gue janji bakal ceritakan semuanya sama lo, kenapa gue bisa kayak gini" ujar Dicky yakin.


"Tapi sayangnya gue nggak perduli sama lo" balas Alfi tersenyum smirk.


"M-mak .. m-maksud nya?" tanya Dicky terbata.


"Astaga pakai nanya, hoi broo! memangnya yang gue ucapin tadi kurang jelas?" Alfi bertanya pada Daren yang sedang duduk manis di dekat pintu depan.


"L-lo tahu Daren psycho?" tanya Dicky kaget.


Mendengar pertanyaan Dicky membuat Alfi sedikit kesal, "Ya sudah ya, mending kita lanjutin pembahasan tadi saja, gue bawa lo kerumah sakit, tapi dengan syarat lo harus mau ikutin apa yang gue bilang" 


"Emang apa syaratnya?" tanya Dicky curiga.


"Lo harus tutup mulut soal apa yang sudah dilakukan Daren sama lo selama ini dan terkhususnya hari ini, lo lupain semua, jangan pernah lo aduin ke SIAPA pun," Alfi menjelaskan dengan penuh penekanan.


"Enak saja, dia sudah bikin tangan gue hilang, Auhhh" Dicky kembali merintih kesakitan karena luka ditangannya sudah hampir mengering namun masih terasa sangat sangat perih.


Mendengar ucapan Alfi, Dicky meneguk salivanya kasar, dia berusaha mencernah apa sebenarnya yang terjadi disini, tapi tetap saja dia tidak bisa menebaknya.


"Fi sumpah gue nggak ngerti sama ucapan lo barusan, dia itu psycho dan nggak seharusnya lo bela, oke gue dulu sempat pernah ngebela dia, tapi akhirnya gue sadar, kalau yang diperbuatnya itu salah, dan sekarang dia malah memper alat lo buat gantiin posisi gue supaya dia bisa ngelampiasin hawa nafsu binatangnya dia gitu, iya fi?" ujar Dicky penuh emosi.


"PLAAAKKK!" Alfi menampar keras pipi Dicky.


Usai menampar Dicky, Alfi kemudian mencekik kuat leher Dicky penuh dengan emosi.


"Kekkggg....Hmmmmfff" Dicky tercekik sehingga tidak mampu berkata-kata lagi.


"Sekarang gue nggak mau tahu, mulai hari ini lo harus nurutin semua ucapan gue, gue minta lo setuju sama semua syarat yang gue ucap tadi, kalau sempat lo ngelanggar, nyawa lo taruhannya, setujuu???" tanya Alfi semakin menguatkan cengkraman tangannya.


Kemudian tanpa fikir panjang, Dicky langsung mengangguk lemah, dan akhirnya Alfi pun melepaskan cengkramannya.


"Good Boy" Daren tertawa sembari bertepuk tangan.


"HAH...HAHHH...HAHH" Dicky mengelus pelan lehernya sambil ter engah-engah.


Kemudiam tidak lama setelah itu, Daren mendekati keduanya.


"Eh idi*t, lo nggak usah sok merasa suci, dan merasa paling benar, lo sama gue itu sama, lo lupa sama apa yang sudah lo perbuat semalam, lo hampir merenggut kesuciannya Clara!" Daren mencengkram kuat leher Dicky.


"Jadi, nggak usah sok mau ngaduin ke polisi, yang ada lo juga ditangkap, atas tuduhan pelecehan seksual, dan lo juga harus ingat, lo juga pernah membunuh, sama kayak gue, jadi mungkin hukuman lo lebih berat ketimbang gue" ujar Daren kembali sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Daren, Dicky semakin kesal, karena yang diucap oleh Daren memang sangat benar.


"Oke gue setuju sama kalian berdua, dan buat lo fi, jangan sampai lo menyesal kayak gue karena ketika waktu itu mau saja menjadi anak buahnya si brengs*k ini!" 


"Hahaha, masih belum paham dia ternyata, bego bego," Alfi terkekeh pelan.


Sedangkan Dicky masih belum sadar dengan semua situasi yang terjadi kini.


Lalu akhirnya mereka pergi bersama keluar dari hutan, dan menuju kediaman Alfi, mereka sepakat untuk mengobati luka tangan Dikcy sendiri, tanpa campur tangan dokter, karena terlalu bahaya jika ada dokter yang tahu apa yang telah terjadi pada Dicky.


Dan sebenarnya, Daren mampu mengobati luka-luka itu, karena dia memiki pengalaman mengobati luka-lukanya sendiri sejak ia masih kecil.


...


Pukul 03.40 dini hari, akhirnya mereka bertiga sampai di kediaman Alfi.


"Akhirnyaa pulang juga lo ki, ya sudah ayok kita masuk dulu, gue sudah siapin semua yang lo suruh tadi ren pas di telfon" Baim mengarahkan mereka ke salah satu ruangan yang sudah dipersiapkan Baim dengan matang.


"Dicky" panggil Siska dan langsung memeluk Dicky erat.


"Akhirnya lo pulang juga hiks, gue takut banget kalau sesuatu terjadi sama lo hiks," Siska menangis di dekapan Dicky.


"Sudah sudah, lo tenang saja, gue nggak papa, yaa meskipun tangan gue harus hilang sebelah, tapi lo tenang saja, nggak perlu khawatir, karena ada Daren nantik yang bakal bantu obatin tangan gue," ujar Dicky menatap Daren sambil tersenyum.


"Oke gue percaya sama lo," Siska kembali memeluk Dicky erat.


"Cih, bagus juga akting si Dicky, baguslah, jadi semua bisa berjalan dengan lancar" Alfi tersenyum simpul.



Sekian dari author, terimakasih buat yang sudah baca, like dan berkomentar, see you next chapter ♥♥



Bonus (hanya sebagai ilustrasi saja, bukan pemeran yang sebenarnya)


• Alfi Fernando



• Daren Alonso



• Ini anggap saja waktu Daren dan Alfi lagi otw hutan tengah malam wkwkw



...


salam hangat

__ADS_1


sucinazifah


__ADS_2