
Bismillahirrahmanirrahim
…
Pukul 09.00 pagi, satu persatu penghuni rumah akhirnya bangun. Yang pertama bangun ialah Dicky, lalu disusul yang lainnya. Kemudian mereka bergegas menuju ruang sarapan.
“Wihh siapa nih yang masak tadi pagi?” Baim heboh sendiri.
“Gue, Clara bareng Yola juga tadi,” jawab Dian tersenyum bangga.
“Lah berarti kalian habis masak tidur lagi gitu?” tanya Alfi yang diangguki oleh mereka bertiga.
“Wahh memang calon idaman banget lo yan,” goda Baim. Sedangkan Dian hanya menggelengkan kepalanya heran.
“Kamu sudah sembuh ra?” Daren memegang lembut kening Clara, lalu mengajak Clara duduk tepat disampingnya.
“Iya, aku sudah sembuh kok, cuman masih sedikit lelah” ucap Clara sambil menyandarkan kepalanya dibahu Daren.
“Cih, yang sakit parah itu Dicky, malah elo yang kecapean sampai sekarang,” celetuk Siska sinis.
Mendengar ucapan Siska, Clara dan Daren diam saja, karena mereka berdua sudah sepakat untuk tidak terpancing dengan ucapan yang keluar dari mulut Siska maupun Dicky.
“Ya sudah, nggak usah didengerin omongan mak lampir, mending sekarang kamu sarapan, kamu mau makan pakai sambal apa yang?” tanya Daren lembut sambil mengambilkan nasi untuk Clara.
“Aku mau ayam” rengek Clara manja.
"Siap Nyonya Clara," Daren membungkuk kearah Clara, sedangkan Clara tersenyum lembut kearah Daren.
“HEI HEI HEI, tolong ya jangan mesra-mesraan didepan kami yang masih single ini, kasihani lah kami pak, buk” Baim meringis pura-pura ingin menangis.
“Bukan salah gue kalau lo masih single, makanya cari pacar, jangan berduaan mulu sama Alfi,” ujar Daren menggoda namun tangannya masih sibuk mengurus Clara.
Belum sempat Baim dan Alfi protes, Siska langsung memotong “Apa sih kalian semua nggak ada yang jelas, tinggal makan doang susah banget, dan lo juga ra, nggak usah lebay deh, pakai diambilin nasi segala” cibir Siska sinis.
“Lo itu yang lebay Sis, tinggal makan doang juga malah marah-marah nggak jelas,” potong Dian cepat.
“Oooh sudah berani ya lo sekarang?” Siska mulai berdiri dari kursinya.
“Gue berani ya sama lo, cuman karena gue malas berkasus disekolah saja makanya gue nggak mau cari ribut sama lo selama ini,” Dian ikut-ikutan berdiri dari kursinya.
Dicky yang melihat tingkah laku Siska hanya bisa menggeleng pelan, mau marah tidak mungkin, karena sosok yang dia punya kini hanya Siska. Alhasil dia memilih diam sambil mencuri-curi pandang kearah Clara.
Sedangkan Clara dengan sengaja membuang muka jika bertatapan dengan Dicky, karena rasa sakit hatinya terhadap Dicky belum hilang, dan sepertinya tidak akan pernah hilang.
Melihat Dicky masih sempat-sempatnya mencuri-curi pandang kearah Clara, Daren langsung menendang kaki Dicky, karena Daren dan Dikcy duduk berhadapan, kemudian Daren langsung memberi tatapan tajam.
__ADS_1
“ADDUUUUHHH SUDAH SUDAH” teriak Baim berusaha melerai.
“BISA NGGAK SIH KALIAN MAKAN DENGAN TENANG? HUFFF sesak nafas gue teriak-teriak,” Baim mengelus dadanya pelan.
“Ayolah gaes, tujuan kita itu kesini buat liburan, jadi mari buat suasana nya senormal mungkin, mari juga kita lupakan kejadian tadi malam, dan jangan ada yang bertengkar lagi” pinta Alfi dengan raut wajah yang serius.
Mendengar ucapan Alfi mendadak semuanya terdiam, dan mulai melanjutkan santapannya masing-masing. Daren yang melihat Alfi tersenyum seketika.
“Nih yang minumnya,” ujar Daren pelan sambil mengelus pelan kepala Clara.
“I Love you,” bisik Daren sangat pelan. Lalu Clara membuat symbol hati dari tangannya, seakan mengatakan kalau dia juga mencintai Daren.
Tiba-tiba Alfi menendang kaki Daren dari samping.
“Aduhh, Anj” Daren hampir mengumpat, lalu memberikan tatapan tajam kearah Alfi.
“Why?” tanya Alfi seolah tidak tahu apa-apa, lalu diam-diam dia tersenyum. Sedangkan Daren sudah kesal setengah mati.
…
Setelah semuanya selesai makan pagi yang sebenarnya sudah sangat telat itu, Siska pergi keluar rumah dan berjalan sendirian kearah pantai.
“AHHHHHHHHKKKKKK” teriaknya frustasi.
“Kenapa sih dengan gue? Kenapa gue masih saja cemburu ngeliat Daren perhatian sama Clara?” Siska mengusap rambutnya gusar.
“Hoooi, lo curang ya, ke sini nggak ngajak-ngajak,” ucap Dicky mengejutkan Siska. Dibelakang Dicky ada Daren, Clara, Alfi, Baim, Dian, Yola dan Tania ikut menyusul.
“Eh elo ki, gue cuman mau menghirup udara segar doang, makanya langsung kesini, oh iya, gimana tangan lo? Masih sakit?” tanya Siska sedikit khawatir.
“Lumayan, tapi ya gue masih sedikit tertekan dengan keadaan gue sekarang, gue nggak percaya diri saja, apalagi harus pakai tangan palsu” ucap Dicky lirih sambil melihat tangan palsu yang kini berada di tangan kanannya.
“Lo nggak perlu merasa sedih, kan masih ada gue disini” Siska merangkul Dicky berusaha memberi kekuatan untuk teman dekatnya itu. Kemudian Dicky pun ikut merangkul pinggul Siska, lalu kedua nya sama-sama tersenyum.
Yap, entah kenapa Dicky dan Siska menjadi dekat satu sama lain, terlebih Siska, tanpa ada yang tahu, Siska ternyata diam-diam menaruh hati terhadap Dicky, walaupun itu baru ia sadari akhir-akhir ini.
Namun dia juga heran dengan perasaannya sendiri, jika dia mulai mencintai Dicky, kenapa dia masih merasa cemburu terhadap Daren, entahlah Siskapun tidak tahu apa jawabannya.
“Sis, astaga lo ngelamun lagi” Dicky terkekeh pelan.
“Ayok sini, kita gabung sama yang lain, benar yang dibilang Alfi tadi, mending kita lupain dulu semua nya untuk sesaat, mari kita bersenang-senang bareng yang lain.” Dicky menarik pelan tangan Siska. Dan segera bergabung bersama anak-anak yang lain yang kini sudah berada tengah pantai.
Disaat mereka tengah asik bermain bersama, ponsel Clara tiba-tiba berdering.
“Eh ra, itu kayaknya suara ponsel lo” ujar Dian pelan.
__ADS_1
“Oh iya lo bener yan, emm temanin gue kesana yok, gue masih takut kalau sendiri,” ucap Clara memohon yang di setujui Dian.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Daren sedikit berteriak.
“Aku mau ke pinggir pantai sebentar” ucap Clara sambil menunjuk arah pinggir pantai.
“Aku temanin ya,”
“Nggak usah sayang, aku sama Dian saja”.
Lalu Daren mendekat ke arah Clara, “Yakin?” tanya Daren khawatir sambil menangkup lembut pipi Clara, karena dia tahu kalau Clara masih trauma jika berjalan sendirian, dia takut kalau Dicky akan melecehkannya lagi.
“Iya aku yakin, kan sama Dian” Clara berusaha meyakinkan Daren.
“Oke baiklah, hati-hati, love you” Daren tersenyum manis.
“Love you too,” Balas Clara terkekeh, lalu bergegas kepinggir pantai bersama Dian.
Sesampainya di pinggir pantai, Clara langsung mengambil ponselnya yang berada di pondok pantai, sedangkan Dian menunggu sambil duduk di bebatuan besar, tidak jauh dari tempat Clara berdiri.
“Bryan?” Kening Clara berkerut berusaha mengingat siapa pria yang sudah menelfonnya sampai lima kali panggilan tak terjawab muncul di pemberitahuan ponselnya.
…
Hayoo, siapa yang masih ingat sama yang namanya Bryan? Kira-kira kenapa ya dia menelfon Clara?
…
Oke, ini bonus pict Dicky dan Siska, ketika mereka lagi saling ngerangkul di pantai, cocok nggak? (Tak akan bosan author ingatkan, ini hanya sebagai ilustrasi ya hehe)
…
Sekian dari author, terimakasih buat yang sudah baca, like dan berkomentar, see you next chapter ♥♥
…
Oh iya semuanya, author mau bertanya nih, menurut kalian bagusnya cerita ini dilanjutkan sampai mereka masuk dunia perkuliahan atau segera ditamatkan? tapi jika ditamatkan, author rencananya akan membuat season 2 nya, tapi kemungkinan besar akan author lanjutkan di lapak ini juga, namun akan ada beberapa pemain baru dan beberapa konflik tambahan.
So jangan lupa dijawab ya, author butuh pendapat kalian, terimakasih ♥♥
...
salam hangat
__ADS_1
sucinazifah