
Bismillahirrahmanirrahim
…
Setelah puas menikmati indahnya laut di pantai, mereka bergegas pulang menuju penginapan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
“Wahh nggak kerasa sudah mau sore saja, gue fikir masih jam satu siang” celetuk Dian heboh.
“Iya, benar banget yan, gue juga nggak sadar, hahaha” sahut Baim membenarkan ucapan Dian. Sedangkan Clara dan yang lainnya hanya diam saja, sambil tersenyum kecil sesekali.
Sesampainya di penginapan tepatnya di kediaman Alfi, mereka memasuki kamar masing-masing.
…
(Kamar Clara dan Dian)
“Ra, lo kenapa sih dari tadi diam mulu, ada yang dipikirin ya?” tanya Dian sambil berbaring disamping Clara.
“Nggak papa, gue cuman lagi kecapean doang,” balas Clara sambil berusaha menutup matanya.
“Lo serius?” tanya Dian sekali lagi.
“Iya Dian sayang, gue serius pake banget,” Clara mencoba tersenyum.
“Oke baiklah, gue percaya sama lo,” jawab Dian tersenyum.
Disaat mereka ingin tidur, tiba-tiba ponsel Clara bergetar.
“Drrrrttt…Drrrrrttt”
“Anjir kaget gue!” teriak Clara heboh. Sedangkan Dian hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu. Lalu Clara segera mengambil ponselnya dan melihat siapakah orang yang menghubunginya.
“Bryan lagi?” gumam Clara pelan. Mengetahui itu dari Bryan, seketika tubuh Clara terasa kaku.
“Ra! Lo kenapa diam? Angkat atuh, kasian itu yang nelfon,” ujar Dian menyenggol lengan Clara pelan.
“Eh I .. Iya kalau gitu gue angkat dulu ya,” jawab Clara sedikit terbata, lalu dia pergi keluar jendela dan menutup jendela tersebut agar Dian tidak mendengar pembicaraan mereka.
“Ya elah si Clara, pakai keluar segala, untung gue nggak kepo-kepo banget, lanjut tidur aja kalau gitu gue” cicit Dian pelan.
“Ha..Hallo Bryan” sapa Clara gugup.
“Hai Clara, syukurlah kamu masih ingat sama saya, jadi saya tidak perlu perkenalan lagi,” jawab Bryan tersenyum dibalik telefon.
“Oke, jadi seperti yang saya katakan dulu, saya akan menghubingi kamu lagi jika saya sudah menemukan bukti-bukti kuat untuk menahan Daren, kekasih kamu,” sindir Bryan terkesan mengejek.
Sedangkan Clara hanya mampu menelan salivanya. Ia benar-benar terkejut, tidak menyangka jika Bryan mengetahui semuanya secepat ini.
“Hallo Clara, kamu masih disana bukan?” panggil Bryan memastikan, karena Clara benar-benar terdiam seperti patung.
“I..i.iya, saya masih disini pak Bryan,” balas Clara sangat pelan.
“Haha baguslah, oh iya Clara sepertinya kita harus bertemu, karena kalau hanya mengobrol via ponsel akan memakan waktu yang lama.” Usul Bryan.
“Emm tapi saya sekarang sedang tidak berada di Jakarta Pak,” jawab Clara memberi alasan.
“Tenang, saya juga tidak dijakarta saat ini, saya juga tahu kamu berada dimana sekaranag dan menginap dimana, jadi kita akan bertemu di café yang sedikit jauh dari tempat penginapan kamu, terus kalau bisa jangan sampai Daren tahu,” ucap Bryan sedikit mengancam.
“Baiklah,” jawab Clara pasrah.
“Oke, nantik saya kirim alamatnya via chat, sampai jumpa Nona Clara tersayang,” Bryan langsung mengakhiri panggilan. Sedangkan Clara bergidik ngeri mendengar ucapan Bryan.
__ADS_1
“Dasar Polisi genit,” cicit Clara kesal.
“AAAAAHHHH, apa yang harus gue lakukan sekarang, gimana coba caranya keluar dari rumah ini tanpa sepengetahuan Daren.” Clara memijit kepala nya pelan.
…
Setelah bersiap-siap, Clara memeriksa seluruh ruangan, ternyata semua penghuni tengah tertidur pulas termasuk Daren. Lalu tanpa membuang waktu Clara bergegas keluar menuju café yang sudah ditentukan oleh Bryan.
Cukup jauh memang jaraknya, sehingga Clara harus memesan ojek online untuk menuju kesana.
Setelah hampir setengah jam diperjalanan, akhirnya Clara sampai di tujuan, tidak lupa membayar mang ojek dengan uang cash, lalu Clara segera memasuki café tersebut.
…
17.15 Wib Café ABC.
“Hai Clara,” sapa Bryan sambil merentangkan tangannya.
“Hai juga PAK Bryan,” ucap Clara menegaskan pengucapannya, agar Bryan sadar akan posisinya.
“Jangan galak-galak atuh, dan satu lagi jangan panggil saya Pak, saya ini masih muda,” bela Bryan.
“Iya terserah bapak saja kalau gitu, jadi apa yang ingin bapak bahas dengan saya?” tanya Clara to the point.
Mendengar ucapan Clara, Bryan terkekeh pelan. “Ngeri juga ni cewek, bisa-bisanya dia tidak terpesona dengan kegantengan gue” Bryan bergumam didalam hati sambil terus memperhatikan Clara.
Tahu kalau dirinya sedang diperhatikan, membuat Clara risih, “Dasar cabul” cicit Clara pelan yang masih terdengar jelas oleh Bryan.
“Apaaa? Hahaha” bukannya marah, Bryan malah tertawa.
“Clara, Clara, kamu itu semakin cantik kalau sedang marah seperti itu,” Bryan tersenyum manis.
“Deg”
“Cieee mukanya merah,” goda Bryan sambil mencolek pelan pipi Clara.
“BRYAAN!!” panggil Clara sedikit berteriak.
“Hahaha, oke baiklah mari kita langsung saja, jangan marah Clara, saya hanya bercanda saja tadi,” Bryan terkekeh pelan.
...
“Jadi, saya dan anggota lainnya sudah menemukan bukti yang sangat kuat untuk menangkap Daren beserta temannya Dicky, tetapi saya benar-benar heran sama kamu, kenapa kamu masih menyembunyikan semua ini? Segitu cintanya kah kamu sama pria busuk seperti itu?” tanya Bryan menahan emosinya.
“Bapak stop!!” lirih Clara pelan.
“Stop menghina Daren, dia tidak sejahat yang bapak bayangkan, dia masih memiliki sisi lembut, dia tidak seperti yang bapak fikirkan” balas Clara kesal.
“Ayolah Clara, jangan munafik, kamu tahu persis seperti apa dia, sisi lembutnya itu hanya sementara, sekali binatang tetaplah binatang” ejek Bryan sekali lagi.
“Plaaak” Clara menampar Bryan pelan. Bryan yang ditampar, hanya tersenyum kecil.
“Baiklah, tapi yang pasti sebentar lagi saya dan anggota saya yang lainnya akan datang untuk menangkap Daren dan Dicky, yaa walaupun akhir-akhir ini saya sudah jarang melihat Dicky membunuh orang, tetapi perbuatannya yang hampir memperk*sa kamu itu benar-benar tidak bisa di toleransi” ujar Bryan tenang sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin.
Sedangkan Clara terhenyak mendengar ucapan Bryan, karena Bagaimana Bryan bisa mengetahui semuanya.
“Akhhh kenapa semuanya menjadi seperti ini?” lirih Clara pelan menahan air matanya.
“Sudahlah Clara, kamu tidak perlu menangis, lagian semua ini juga karena kamu bukan?”
Clara terdiam, dia benar-benar menyadari jika semua ini terjadi karena tindakan cerobohnya, jika saja waktu itu rasa cintanya sudah benar-benar bulat kepada Daren, mungkin dia tidak akan pernah melaporkan Daren. Dan Kejadian seperti ini mungkin saja tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
…
Setelah berbincang-bincang panjang, mereka segera keluar dari café dan waktu ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 malam.
“Borong?” sindir Bryan yang melihat Clara menenteng banyak makanan yang dibelinya dari café ABC.
“Menurut bapak?” Clara memutar bola matanya malas.
“Aiih ini kenapa sih nggak ada satupun ojek yang ngambil punya gue?” gumam Clara kesal.
Lalu tiba-tiba Bryan merebut ponsel Clara dan mematikan ponselnya.
“Eh bapak, Ck, bapak kenapa sih selalu bikin saya kesal?” tanya Clara berusaha merebut kembali ponselnya.
“Kamu itu berisik, mending ikut saya, biar saya yang antar kamu pulang.”
Lalu tanpa persetujuan Clara, Bryan langsung menggendong tubuh mungil Clara.
“Pak, lepasin!!!!!” Clara meronta-ronta tetapi tidak digubris oleh Bryan, dia tetap menggendong Clara menuju mobilnya, setelah sampai di parkiran, Bryan menunduk kan Clara di kursi depan tepat di sampingnya.
“Pak jangan gila deh, apa kata Daren nantik kalau dia melihat saya pulang sama bapak?” Clara benar-benar frusasi melihat kelakuan Bryan.
“Kamu khawatir ya sama saya?” tanya Bryan menggoda. Sedangkan Clara hanya memutar bola matanya, yang menunjukan betapa kesal dan marahnya dia saat ini, tetapi tetap saja dia tidak bisa melawan, dia takut jika Bryan akan menyakitinya jika dia tidak mengikuti kemauan Bryan. Karena bayang-bayang Dicky yang hampir memperk*sanya saat itu masih terekam jelas di ingatan Clara.
…
Sesampai nya dikediaman Alfi.
Daren sudah menunggu didepan pintu sambil duduk bersandar diatas kursi.
Sedangkan Clara masih didalam mobil bersama Bryan, lalu Clara bersiap-siap keluar setelah mengambil nafas panjang.
“Eits tunggu dulu, kamu jangan sampai lupa, jika kekasih kamu dan temannya itu nanti sudah tertangkap, kamu wajib datang kepengadilan dan menjadi Saksi,” ujar Bryan tersenyum smirk.
“Iya Iya berisik amat lo,” Clara bergegas pergi meninggalkan Bryan.
"Hemm dasar Cantik," gumam Bryan pelan melihat Clara keluar dari mobilnya.
…
“Dari mana saja kamu, aku khawatir, terus ini kenapa banyak banget belanjaannya? Kamu beliin makanan buat semua penghuni rumah?” tanya Daren lembut sambil mencium pelan pucuk kepala Clara.
“Iya, soalnya kasihan Dian kalau harus masak terus, aku juga lelah, jadi aku inisiatif pergi ke café terdekat buat beli ini semua,” ucap Clara manja sambil memperlihatkan belanjaanya.
“Oke, baiklah kalau gitu, oh iya itu yang ngantar kamu siapa?” tanya Daren mulai cemburu.
“Jangan cemburu, dia cuman tukang ojek online,” ucap Clara terkekeh lalu memeluk erat pinggang Daren sambil mengajaknya masuk kedalam rumah.
Sedangkan Bryan tersenyum kecut melihat Clara yang dengan sengaja membuatnya kesal.
“Ck, lagian apasih kelebihannya Daren? Masih gantengan juga gue, terus gue nggak psycho, gue itu detektif” ucap Bryan bangga, kemudian ia bergegas pergi melajukan mobilnya menuju kantor polisi guna memberikan semua informasi yang ia miliki.
“Silahkan bersenang-senang Daren, karena sebentar lagi kesenanganmu akan hilang, saya tidak akan membiarkan kamu lebih lama lagi berkeliaran bebas diluar sana, dan tentunya kamu itu tidak pantas mendapatkan cinta tulus dari Clara” ucap Bryan menyeringai kecil.
…
Sekian dulu dari author, terimakasih buat yang sudah baca, like dan komentar, see you next chapter ♥♥♥
…
salam hangat
__ADS_1
sucinazifah