My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 47


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim



Flashback On


Bryan POV


“Drrrrttt..Drrrrrrttt” aku mencoba menelfon temanku Nita.


“Nita, hari ini saya melihat mobil Daren sedang berada di Taman Griya, dan menurut data yang kita miliki, lokasi taman ini berada di lingkungan nona Clara, dan nona Clara adalah orang yang melapor tentang Daren waktu itu,” ucapku sambil menelfon Nita yang tidak lain adalah salah satu rekan kerjaku sesama detektif.


“Oke baiklah Cap, laporan Cap sudah saya terima, apa perlu saya kirimkan bantuan untuk menemani Captain disana?” Nita bertanya kepadaku.


“Ahh tidak, tidak perlu Nita, untuk saat ini tidak perlu, saya bisa sendiri, lagian saya hanya akan mengawasi saja.” Ucapku sembari mematikan ponsel, karena aku melihat Daren buru-buru memasuki mobil tanpa Clara dengan ekspresi tidak menentu.


Kemudian aku mengikuti Daren yang sudah pergi meninggalkan lokasi dan aku menyusulnya dengan menggunakan motor kesayanganku. Beruntung aku sudah mengganti knalpot motor ini, sehingga Daren tidak akan menyadari jika aku mengikuti dirinya.


“Hemm kemana sih ni bocah, ngapain masuk jalan Lonely II, ini kan arah hutan yang sangat sepi? Terus yang satu lagi mobil siapa?” aku bergumam sambil terus menjaga jarak dari mobil yang ada didepanku.


Tidak lama kemudian tibia-tiba aku melihat mobil Daren beradu kecepatan dengan mobil satunya lagi, lalu tiba-tiba mereka berdua sama-sama berhenti.


Melihat hal itu, aku pun ikut berhenti di dekat pepohonan yang cukup besar, tidak terlalu jauh memang, namun masih terlindungi dari jangkauan Daren. Setelah merasa posisi ku sudah aman, aku kemudian mengeluarkan camera dan mulai merekam apa yang mereka perbuat.


“Oh Shit!” umpatku sambil menutup rapat-rapat mulutku. 


Aku bisa melihat dengan jelas apa yang tengah diperbuat Daren, dan samar-samar aku mendengar jika pria itu bernama James. “Ah malangnya nasib mu kawan, sayangnya aku tidak dapat membantu, karena aku benar-benar butuh bukti ini.”


“Oucch, huueefmmm” aku seketika mual, dan langsung menutup mulutku rapat-rapat, karena takut jika anak itu mendengarnya.


“Ahhh Shit! Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal sekeji itu, aku hampir muntah melihatnya,” 


“Ayo Bryan lo pasti bisa menahan ini, bukannya lo sudah biasa melihat yang seperti ini?” gumamku terus sembari meyakinkan diri.


Aku bisa melihat dengan jelas melalui kamera jika Daren benar-benar menghabisi James dengan sangat keji, dimulai dari menyayat perut hingga memotong jari kaki dan jari tangannya.


Memang aku sudah biasa melihat tubuh-tubuh manusia yang terpotong-potong, terutama ketika sedang bertugas, tetapi belum pernah sebelumnya aku melihat dengan jelas seperti ini cara melakukannya, Ahh aku benar-benar ingin muntah dibuatnya.


Setelah melakukan aksi kejinya, Daren bergegas membersihkan tempat itu dan aku bisa melihat dengan jelas kemana Daren membuang mayat James yang sudah terpotong-potong itu. Kemudian setelah membersihkan semuanya, bocah itu bergegas pergi meninggalkan lokasi kejadian.


Setelah Daren pergi, aku langsung memfoto tempat kejadian, dan manandai dimana mayat James berada.


“Drrrrttt.Drrrrt” aku langsung menelfon teamku.


“Halo Nita, kamu dengarin saya baik-baik, sekarang kamu dan yang lainnya segera menuju kesini, jalan Lonely II tepatnya diantara dua hutan belantara saya tunggu kamu dan yang lainnya disini, karena saya sudah mendapatkan bukti kuat tentang bocah itu.” ucapku bangga.


“OKE CAPT!” balasnya semangat.


Kemudian aku mengakhiri panggilan.


“AHAHAHAHA Daren Daren, ternyata kamu tidak sepintar yang saya bayangkan, bagaimana bisa kamu ketahuan seperti ini?” ujarku sambil tertawa tertawa puas.


Flashback Off



Pukul 22.40 Wib di kediaman Alfi.


Beberapa penghuni sudah ada yang tidur, namun Daren, Alfi, Dicky dan Siska masih terjaga sampai saat ini. Dicky dan Siska sedang berada di dapur, mereka tengah berbincang-bincang hangat.


“Ki, kayaknya perasaan gue sama Daren mulai hilang deh.” Ucap Siska tiba-tiba.


“Loh kenapa bisa?” tanya Dicky penasaran.

__ADS_1


“Entahlah, semenjak lo bilang dia itu psycho, gue jadi takut.” Jawab Siska jujur.


“Astaga Sis, gue becanda doang keles, nggak beneran itu.” Ucap Dicky meyakinkan Siska.


“Yang benar? Lo nggak bohongin gue kan?” tanya Siska memastikan.


“Iya Siska bawel, gue serius.” Dicky mengusap pelan kepala Siska.


“Hehe iya iya gue percaya sama lo,” Siska kemudian memeluk erat Dicky.


“Lah ni cewek kenapa jadi meluk gue gini, hemm yaaa wajar sih, secara gue kan ganteng, lebih ganteng ketimbang Daren” Gumam Dicky dalam hati, sambil sesekali tersenyum pelan.


Disisi lain Alfi dan Daren sedang bercengkrama di halaman depan.


“Fi, entah kenapa perasaan gue dari tadi itu seperti ada yang mengganjal,” Daren mengusap-usap pelan Dadanya.


“Maksudnya mengganjal gimana?”


“Gue nggak tahu, semenjak sore tadi perasaan gue itu gelisah seperti ada sesuatu hal yang mengganjal, dan gue nggak tahu itu apa,” 


“Mungkin karena lo masih syok kali, pas ngira Clara ngilang.” Ucap Alfi mencoba menenangkan.


“Nggak, gue ngerasa seperti ada satu hal besar yang akan terjadi, atau ini karena gue sudah lama tidak memuaskan hasrat membunuh gue dengan orang lain?” ucap Daren kembali bertanya-tanya.


“Hemm mungkin saja ren, bisa jadi itu penyebabnya, ya sudah abaikan saja dulu untuk sementara waktu.” Ujar Alfi menepuk pelan bahu Daren. Lalu kemudian mereka kembali duduk termenung sambil melihat langit-langit malam.


Tiba-tiba..


“Aish lampu mobil siapa sih ini? Silau banget!” Daren segera berdiri. Namun ketika ingin berdiri Daren dan Alfi sama-sama terdiam melihat siapa yang keluar dari mobil.


“Selamat malam Daren,” ucap Bryan tersenyum tipis. 


“Selamat malam, ada perlu apa ya bapak dan yang lainnya kesini?” tanya Daren setenang mungkin. 


“Iya benar pak, ada apa ya, sampai dua mobil singgah disini, hehe” Alfi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Haha tentu saja boleh, lagian belum jam dua belas malam kok pak, masih SAH-SAH saja bertamu.” Ucap Daren menyindir.


“Oke terimaksih.” Jawab Bryan masih dengan senyum tipisnya, lalu mengekor Daren dan Alfi memasuki rumah.


“Kalian tunggu didepan sini saja, perintahkan yang lain untuk berjaga-jaga disetiap sudut rumah ini,” Bryan bergumam pelan. Lalu ia segera masuk kedalam bersama Jerry, Jefri dan Anton.



Sesampainya didalam Bryan dan yang lainnya di persilahkan duduk. Dan ternyata semua penghuni tiba-tiba sudah mulai turun kebawah, Daren yang melihatnya hanya bisa pasrah, terutama Clara.


“Loh kalian kok bangun?” ucap Alfi pura-pura bertanya.


“Itu si Siska tadi ngebangunin kita semua, katanya ada tamu, dan dia minta tolong gue dan yang lainnya buat bikinin minuman.” Ujar Dian masih setengah sadar sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Ooo ya sudah, kalau gitu sana gih kedapur,” usir Alfi sedikit kesal. Bukan, dia bukan kesal dengan Dian, tapi dengan Siska. 



“Baiklah, sepertinya ini waktu yang tepat, tujuan saya kesini, oh tunggu, maaf sebelumnya, perkenalkan, nama saya Bryan ini Jerry, sebelahnya Jefri dan sebelahnya lagi Anton. Jefri dan Anton ini dari pihak kepolisian, sedangkan saya dan Jerry adalah seorang detektif.” Ucap Bryan memperkanal kan diri.


“Silahkan dilanjut Pak Anton,” Bryan mempersilahkan Anton untuk melanjutkan, karena yang memiliki wewenang untuk menangkap seseorang adalah polisi.


“Terimakasih sebelumnya Bryan, baiklah langsung saja tujuan saya dan detektif Bryan kesini adalah untuk menangkap saudara Daren dan saudara Dicky, kalian berdua telah ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan berencana dan untuk saudara Dicky, selain didakwa atas pembunuhan berencana, anda juga didakwa atas tuduhan pelecehan se*sual terhadap saudari Clara. Maka dari itu saudara Daren dan Dicky akan kami tahan sekarang juga.” ucap Anton menjelaskan, dan segera dia memborgol tangan Daren dan Dicky secara bergantian.


Semua penghuni kaget setengah mati, tidak ada satupun yang berani berbicara, begitupun Clara, dia tidak sanggup melihat siapa-siapa, terlebih melihat Daren, dia benar-benar merasa bersalah.


Bukannya melawan, Daren dan Dicky hanya terlihat pasrah, karena untuk kabur pun sudah tidak bisa, mereka benar-benar sudah terkepung sekarang.

__ADS_1


“HAHA, nggak mungkinlah pak, bapak becanda ya?” Alfi mencoba memecah suasana canggung itu.


“Iya bener pak, nggak mungkinlah teman kita sekejam itu,” sahut Baim ikut-ikutan. Lalu ia menghampiri Daren dan Dicky berdiri bersebelahan.


“Woi, lo berdua pasti bercanda kan? Ini nggak mungkin kan Ren?” tanya Baim kembali memastikan dengan air mata yang sudah berlinang. Sedangkan Siska Dian Clara dan yang lainnya juga sudah ikut menangis.


“Hiks.. Hiks.. Dicky, lo jujur sama gue, nggak mungkin kan lo ngelecehin Clara?” Siska menarik kerah baju Dicky. Sedangkan Dicky hanya terdiam seolah membenarkan tuduhan yang diarahkan kepadanya. 


Lalu tiba-tiba Daren berbicara, “Maaf, tapi yang diucapkan polisi itu benar.” Daren tersenyum tipis.


“BRENGS*K!!!” umpat Baim tiba-tiba. 


"Jadi benar selama ini lo itu psycho? Gue nggak sudi punya teman kayak lo berdua. Dasar BINATANG!!!!!!!" Teriak Baim murka.


“Iya gue setuju, anak kelas yang lainnya harus tahu berita ini Im, biar mereka juga dapat hukuman dari segi mental!” ucap Siska berapi-api. Dirinya sangat kesal, terutama terhadap Dicky, dia tidak menyangka Dicky berbohong kepadanya selama ini, dan dengan bodohnya, perasaan sayangnya terhadap Dicky masih terasa di hatinya, namun Siska berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh, yaitu dengan cara menyakiti Dicky.


“BUGGHH” Baim tiba-tiba menghajar wajah Daren.


“BUGGHHH” Baim kembali menendang kuat kaki Daren dan Dicky secara gantian. Sehingga membuat Daren dan Dikcy berlutut.


“HEI ANAK-ANAK, sudah hentikan, jika kamu masih melanjutkan, kamu akan kami bawa juga kekantor polisi!” Ancam Jefri.


Sedangkan Alfi tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya diam saja, sesekali mencoba menenangkan Baim, sebenarnya ingin sekali dia membela Daren, tapi itu tidak mungkin, dia tidak ingin kedoknya juga ikut terbongkar, bisa hancur reputasinya.


“Daren, Hiks … Hiks maafin aku, huhuhu,” Clara akhirnya buka suara. Ia berusaha meraih tangan Daren, namun Daren segera menepisnya.


“Ayo pak, mending bawa saya sekarang, saya gerah lama-lama disini,” ucap Daren kesal akibat menahan emosi.


Lalu Anton dan yang lainnya segera menyeret mereka keluar agar segera masuk kedalam mobil.


“Daren tunggu, hiks … hikss , please Bryan jangaaaan bawa dia, huhuhu.” Ucap Clara menangis memohon kepada Bryan.


“Maaf Clara, sudah cukup selama ini saya mengabulkan permintaan kamu, saya sudah mengabulkan permintaan kamu agar tidak kasar saat melakukan aksi penangkapan, tapi tidak kali ini, dia harus segera dibawa kekantor polisi.” Ucap Bryan tegas.


“Dan ini surat panggilan untuk kamu dari pengadilan, kamu akan menjadi saksi ketika Daren dan Dicky menjalani sidang nanti,” ujar Bryan sembari memberikan amplop berwarna putih.


Clara kembali menangis ketika amplop itu diberikan kepadanya, ia benar-benar merutuki kebodohannya selama ini.


“Hemm saya tahu, kamu pasti sangat sedih saat ini, tapi ini harus dilakukan Clara, saya tidak ingin menunda masalah ini, jika saya menundanya, kita tidak akan tahu berapa banyak orang lagi yang akan menjadi korban kebengisan mereka berdua” Bryan mencoba menenangkan Clara sambil sesekali mengusap tangan Clara lembut.


Daren yang melihatnya sekilas langsung tersenyum getir, “Dasar Pelac*r!” ucap Daren dingin.


“Hei!! Jaga ucapan kamu!” Bryan memukul kepala Daren dari belakang, sedangkan Daren hanya tersenyum smirk.


“DAREN, INI NGGAK SEPERTI YANG KAMU BAYANGKAN, HIKSS..HIKSS, PLEASE PERCAYA SAMA AKU, Huhuhuhu” Clara terus saja berteriak dan hendak mengejar mobil yang ditempati Daren ketika mobil itu mulai berjalan pergi.


“Raaaa!! Sudah jangan bodoh! Dia itu psycho, nggak seharusnya lo ngebela dia.” Teriak Dian berusaha menyadarkan Clara.


“IYA BENER RA!!! Bahkan gue salut sama lo, karena lo berani melaporkan kejahatan mereka berdua,” sahut Baim yang di setujui Dian, Siska, Yola dan Tania kompak. Sedangkan Alfi hanya diam saja.


“Lo kenapa diam saja?” tanya Baim karena melihat Alfi yang sedari tadi hanya diam.


“Ahh enggak, gue masih syok saja Im, nggak nyangka ternyata Daren bisa sekeji itu.” Ujar Alfi berbohong.


...


Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah baca, like dan berkomentar, see you next chapter ♥♥♥ 



Oh iya, jika ada yang berkenan, silahkan juga baca cerita author yang lainnya, yang berjudul "not" Perfect Couple. Selamat membacaa ♥


...

__ADS_1


salam hangat


sucinazifah


__ADS_2