My Psychopath Boyfriend

My Psychopath Boyfriend
Episode 40


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim 



Clara POV


Aku merasa seseorang sedang membuka kancing bajuku, ingin sekali rasanya aku menghentikannya, namun entah kenapa berat sekali mata ini seperti tidak ingin dibuka. 


Dan apa lagi ini? aku bisa merasakan bibir seseorang menghujaniku dengan ciuman, cukup lembut tapi itu sangat menyakitkan karena aku merasa seperti dilecehkan. Ingin sekali rasanya berteriak, tapi tetap tidak bisa. 


Samar-samar aku mendengar suaranya, aku sejenak tertegun karena aku sangat mengenali suara ini, “ini suara Dicky’’ ucapku lirih, ingin rasanya aku menangis, hatiku benar-benar hancur setelah tahu kalau Dicky yang melakukan hal bejat ini kepadaku.


Namun akhirnya aku mampu membuka mata setelah bersusah payah bergerak sembari mengembalikan tenagaku yang terkuras habis, setelah aku berhasil sadar sepenuhnya, “PLAAK” aku berhasil menampar Dicky dan tanpa kusadari, air mataku sudah berjatuhan dipipiku.


“BRENGS*K” pekikku kuat, aku fikir dengan  aku menamparnya akan membuatnya sadar dengan apa yang telah di lakukannya, namun ternyata dugaanku salah, dia malah menyeringai tanpa merasa bersalah.


Hatiku benar-benar serasa ter iris pisau yang sangat tajam, dia ternyata tidak seperti yang dia ucapkan, bahkan lebih brengs*k dari Daren.



Mendapat tamparan kecil dari Clara, membuat Dicky geram, entah sudah berapa kali Clara menamparnya hari ini.


“PLAAAK” Dicky membalas.


“DICKY!! Gue benci sama lo!” Clara kembali menangis sambil mengusap pipinya.


“Sst, jangan nangis sayang, kan ada aku, kamu nggak perlu takut, disini cuman ada kita berdua” Dicky berusaha mendekat.


“PERGI! Gue nggak sudi disentuh sama orang kayak lo!”


“Nggak usah muna ra, kemarin-kemarin bukannya lo mau aja ya gue sentuh? Sekarang nggak papa juga dong, anggap saja ini finisingnya” Dicky tertawa sambil berusaha mencium Clara.


“Jangan ki, jangaann, hiks!” Clara berusaha melawan namun apa daya, tenaganya tidak sekuat Dicky, Dicky tetap masih bisa mencuri kecupan dari tubuh indahnya, bahkan kini Dicky benar-benar sudah diluar dugaan. Ia membuka bajunya, dan berusaha menghimpit tubuh Clara.


“DAREEN TOLONG” teriak Clara sambil menangis. Entah kenapa dia menyebut nama Daren, yang pasti kini Clara benar-benar ketakutan.


“Percuma lo teriak dan nyebutin nama dia, dia nggak bakalan datang, dan sebentar lagi lo akan resmi milik gue, tinggal sedikit lagi kok ra, sedikit lagi” Dicky berbisik ditelinga Clara sambil meraba-raba paha Clara yang sangat mulus.


“Plis ki jangan lakuin ini, gue nggak cinta sama lo, hiks hiks” Clara menangis pilu, dia tidak ingin Dicky mengambil miliknya lebih dulu ketimbang Daren, karena bagaimanapun dia sangat mencintai Daren.

__ADS_1


Mendengar ucapan Clara, membuat Dicky murka.


“SREEET” Dicky merobek paksa baju dan rok Clara.


“HIKS JANGAN KI, LEPASSSIN GUEE!!” Clara berteriak sekuat tenaga, berusaha lepas dari dekapan Dicky, namun usahanya sia-sia, dan kini ia hanya bisa pasrah, karena seluruh tenaganya sudah habis terkuras, namun tidak dengan tubunya, tubuh Clara tidak berhenti bergetar. Ya Clara sangat ketakutan, tapi dia tetap berusaha tenang, karena bagaimanapun dia tidak mau terlihat lemah didepan Dicky.


Melihat Clara mulai melemah, Dicky merasa kemenangan sudah di depan mata, sehingga dia segera kembali mencoba melepaskan celana dalam Clara. Namun baru ingin memegang.


“BRAAAKKH” pintu gubuk terbuka, dan seketika wajah Dicky memucat.


“Aisshh bagaimana mungkin dia bisa disini” batin Dicky geram.


“BRENGS*K” Daren langsung menendang kepala Dicky hingga ia tersungkur membentur dinding gubuk.


“Daren” mata Clara berbinar setelah melihat Daren datang menolongnya.


“Sstt, kamu jangan ngomong dulu, tunggu disini” ucap Daren sambil melepaskan jaketnya dan menutup tubuh Clara. Lalu ia melihat kearah Dicky yang sedang kesakitan.


“Bugh”


“Bugh”


“Bugh”


Dicky benar-benar terkapar, wajahnya babak belur, namun dia masih tetap menyeringai.


“Hah, hahaha” Dicky tertawa.


“Setidaknya, gue sudah menyicipi tubuh Clara duluan sebelum lo, hahaha” Dicky tertawa meledek. Clara yang mendengarnya merasakan sakit hati yang amat sangat. Dia menyesal tidak pernah mengikuti apa yang Daren katakan selama ini.


Begitupun dengan Daren, dia sangat kesal mendengarnya, sampai akhirnya Daren teringat sesuatu, lalu dia mengambil sarung tangan yang berada dijaketnya, kemudian mengambil pisau berukuran sedang, tidak lupa mengambil sapu tangan dan kembali kehadapan Dicky yang sudah terkapar tidak berdaya.


“Daren, jangan dibunuh, aku nggak mau kamu dipenjara” ucap Clara pelan sambil menangis.


“Kamu tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan Clara” balas Daren dingin. 


Kini tatapannya tertuju ke tangan Dicky, “Pasti tangan ini yang sudah merobek pakaian Clara” batin Daren.


“M-mau apa lo?” tanya Dicky kaget.

__ADS_1


Melihat Dicky ketakutan, Daren menyeringai senang “Ini yang gue inginkan, gue bakalan balas semua perbuatan lo ki” Lalu Daren menyumpal mulut Dicky dengan sapu tangan, kemudian Daren langsung mengarahkan pisau tersebut ketangan Dicky.


“KRAAAAKK" bunyi retakan tulang terdengar keras diseluruh ruangan, dan Bleess darah segar mengalir deras dari tangan Dicky


“AAAAFFFMMM” Dicky berteriak menahan rasa sakit yang luar biasa, setetes air menetes dari pipinya, dan setedetik kemudian Dicky kehilangan kesadaran.


Lalu Daren bergegas mengambil lengan tangan Dicky dan memasukkannya kedalam kantong khusus yang selalu tersedia didalam jaketnya. Clara tidak sanggup melihatnya, tubuhnya mematung, wajahnya memucat, perutnya seketika mual melihat darah yang sudah berceceran.


Setelah membereskan semuanya, Daren menghampiri Clara.


“Yok kita pulang, kamu nggak perlu khawatir, aku akan selalu ada disisi kamu mulai sekarang, aku janji” 


Mendengar ucapan Daren, seketika hati Clara menghangat, dipeluknya Daren kuat-kuat, “Maaf hiks maafin aku ren” Clara terisak dalam pelukan Daren.


“Nggak, kamu nggak perlu minta maaf, seharusnya aku nggak ninggalin kamu tadi, seharusnya aku nggak kepancing sama omongan Alfi, meskipun aku tahu yang diucapkannya benar, tapi aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu sayang, aku terlalu cinta sama kamu” Daren membelai lembut kepala Clara mencoba memberi ketenangan.


"Huhu Dareen, mak-maksih atas semuanya, tapi maafin aku juga karena nggak bisa ngejaga diri sendiri" Clara kembali menangis pilu mengingat apa yang sudah dialaminya tadi.


Mendengar ucapan Clara, Daren terdiam sejenak, hatinya seolah hancur mengingat apa yang telah dialami Clara sebelumnya, kalau saja dia bisa datang lebih cepat, Dicky tidak akan bisa sejauh itu melecehkan Clara.


Namun Daren berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, dia tidak ingin emosi menguasai dirinya, karena kini fokusnya hanya ingin memberi ketenangan kepada Clara.


"Sudah sudah, kamu nggak perlu minta maaf, aku nggak marah sama kamu, yang terpenting sekarang, kamu tenangin diri kamu," pinta Daren lembut sambil menggendong Clara dan membawanya keluar dari hutan.


"T-tapi gimana dengan"


"Biarin saja dia disitu, aku sengaja tidak membunuhnya langsung, biar dia bisa merasakan perih yang luar biasa ketika dia sadar nanti" ucap Daren lembut.


"Tapi kalau nanti dia ngadu gimana?" Tanya Clara khawatir.


"Biar itu jadi urusanku ra, tugas kamu cuma satu, yaitu mencintaiku selalu" ujar Daren tersenyum manis. 



Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah baca, like dan berkomentar, see you next chapter ♥



salam hangat

__ADS_1


sucinazifah


__ADS_2