
Bismillahirrahmanirrahim ..
…
Author Pov
Setelah empat hari melaksanakan Ujian Akhir Nasional, akhirnya mereka bisa merasakan liburan panjang.
Jum’at, Pukul 10.00 wib di Kediaman Baim.
“Jadi gimana, setuju kan semuanya sama rencana ini?” ujar Siska bertanya.
“Setuju” jawab yang lainnya kompak.
“Oke good, kalau gitu fix ya, besok jam 05.30 subuh kita semua ngumpul di rumah Daren, terus Daren yang jadi sopir di mobil Putih dan Dicky nyopirin mobil Hitam”
“Iyaaa” jawab keduanya dengan suara malas.
“Dan hari ini biar gue sama Dian aja yang pergi beli cemilan” usul Clara.
“Iya, oke gue mau” jawab Dian cepat.
“Nggak usah, biar gue sama Clara aja yang pergi beli cemilannya” potong Daren dingin.
“Tapi kan ren” protes Dian kesal.
“Udah-udah, dari pada berantem, mending yang pergi beli cemilan hari ini Daren sama Dicky aja” celetuk Baim tiba-tiba.
“Apaan sih im, nggak mungkinlah” jawab Daren menolak.
“Ayolah ren, sekalian siapa tahu hubungan kalian berdua bisa membaik, ya nggak ra?”
“Iya bener hehe” Clara tertawa hambar.
Dengan terpaksa, Daren dan Dicky pergi membeli cemilan berdua.
Diperjalanan, keduanya sama-sama bungkam, masing-masing pandangannya lurus kedepan tanpa menoleh sedikit pun.
Melihat Daren yang sedang melamun, Dicky dengan sengaja menginjam rem alhasil membuat kepala Daren mencium dasbor mobil.
__ADS_1
“Chiiiiittz”
“Brukk”
“Aww shit!!!” umpat Daren.
“Eh maaf-maaf, nggak sengaja gue, ada kucing mendadak lewat tadi” ucap Dicky berbohong.
“Ada kucing kepala lo, sengajakan tadi?” hardik Daren kesal lalu menghantukkan paksa kepala Dicky dengan setir mobil.
“Nah mampus lo” ujar Daren geram sambil terus memukul wajah Dicky.
Melihat dirinya yang hampir babak belur, Dicky tak tinggal diam, di tahannya tangan Daren, dan menendang kuat perut Daren hingga Daren terjatuh kebelakang.
Daren POV
Setelah tahu anak-anak itu kompak menyuruhku dan Dicky pergi berbelanja, hatiku terasa sangat panas. Tetapi mau tidak mau aku harus tetap pergi bersama si brengsek ini, karena Clara ikut-ikutan memohon dengan memberikanku raut wajahnya yang menggemaskan.
Selama di perjalanan, kami berdua sama-sama bungkam, sengaja aku menyuruh Dicky yang menyetir, karena aku hanya ingin melamun saja sambil memikiran tingkah laku Clara tadi, “Ahh manisnya anak itu”, pikirku dalam hati.
Namun tiba-tiba Dicky mengerem mendadak dan tanpa aba-aba dahiku ini langsung mencium dasbor yang berada didepanku. Ya sakit bercampur kesal yang pertama kali kurasakan.
Sebelum dia berakting lebih buruk lagi, aku langsung membalasanya dengan menghantuk kan kepalanya ke stir mobil, lalu menghajarnya sekuat tenaga, karena dia dengan sengaja berani melukaiku.
Tidak sakit memang rasanya, tapi setelah aku tahu dia sengaja melakukannya, seakan-akan harga diri ini diinjak-injak, dan musuh terbesarku saat ini adalah emosiku sendiri, yang tidak pernah bisa aku musnahkan. Alhasil terjadilah baku hantam antara aku dan Dicky.
Lima menit berlalu, akhirnya kami berhenti saling memukul. Karena suara klakson dari pengendara lain sangat-sangat memekakkan telingaku, ingin rasanya aku keluar dan membunuh mereka satu persatu, tapi itu tidak mungkin, bisa-bisa Clara langsung meninggalkanku.
Kami berdua ter engah-engah, lalu Dicky segera kembali menjalankan mobil ke supermarket terdekat.
“Lo yakin mau keluar dengan keadaan kayak gini?” Dicky bertanya padaku.
“Yakinlah, lagian gue nggak peduli sama pendapat orang lain” ucapku hendak keluar, namun perkataan Dicky membuatku hampir hilang kendali lagi.
Dicky Pov
Setibanya kami sampai di supermarket, aku bingung haruskah kami keluar atau tidak, mengingat wajah ku dan si kampret ini dalam kondisi terluka, apa kata orang-orang nantik jika mereka melihat kami.
Lalu aku bertanya pada Daren, namun dia mengatakan jika dia tidak peduli dengan tanggapan orang-orang. Mendengar ucapannya, aku langsung mengatakan “Kalau emang lo nggak peduli, kenapa lo harus sembunyiin identitas lo didepan anak kelas?” tanyaku sinis.
__ADS_1
Melihat ekspresinya yang kesal membuatku merasa menang, ini yang aku inginkan darinya, aku menyukai ekspresi marahnya, karena itulah kesempatanku untuk membuka sisi setannya kepada dunia.
“Kenapa, gue bener kan?” ucapku sengaja agar dia kembali kesal.
Tetapi ekspetasi tidak sesuai realita, bukannya menjawab, dia malah pergi dengan ekspresi tenang.
“Dasar bocah sialan!” umpatku.
“Enak ya jadi psycho, mau dalam keadaan marah pun, tetap mampu menunjukkan ekspresi tenangnya, Arrrkkkhh” aku kesal setengah mati hingga memukul setir mobil dan membuat tanganku semakin terasa nyut-nyutan yang luar biasa.
“Akkhhh sakit bangs*t!” ucapku lagi sembari menyusul Daren memasuki supermarket.
….
Setelah berbelanja selama dua jam akibat perdebatan tiada akhir, mereka kini sedang berada dalam perjalanan pulang.
“Jangan salahin gue kalau lo orang pertama yang bakal gue habisi pas di tempat liburan nanti” Daren memecah kesunyian diantara keduanya.
“Kayak bisa aja lo bunuh gue, inget gue punya Sembilan nyawa” ucap Dicky sombong.
“Lo bunuh gue, Clara pasti bakal jauhin lo” ucap Dicky percaya diri.
“Gue nggak peduli, yang penting, penganggu gue hilang, urusan Clara mah kecil, dalam sekejap gue bisa pastiin dia bakal jadi milik gue” ucap Daren tenang namun dengan intonasi penegasan, yang mengisyaratkan bahwa dia lebih kuat dari Dicky.
“Gimana dengan nasib lo? Gimana kalau anak kelas tahu perbuatan lo dan mereka kompak menjatuhkan lo?” Dicky bertanya setenang mungkin, meskipun kini kepalanya sudah terasa mendidih.
“Cih, lo fikir gue setakut itu sama mereka? Dalam setedik, gue mampu ngehabisin mereka semua” jawab Daren dingin.
Mendengar jawaban Daren, Dicky mendadak diam karena dia tahu melawan psycho seperti Daren tidak lah mudah, salah langkah saja sedikit, bisa tamat riwayatnya.
….
Sekian dulu dari author, makasih buat yang sudah like, baca dan komentar, see you next Chapt ❤
….
salam hangat
suci nazifah
__ADS_1