
"Ryu! Tolong aku!"
Zleb!
Aku sudah masuk kembali ke dalam dunia permainan dan di depanku sudah berdiri Iria.
"Selamat datang kembali Kei." Katanya tersenyum.
Semua emosiku kukeluarkan kepada Iria, "Apa maumu? Kenapa kamu menarikku kembali kesini?" Tukasku.
Di luar dugaanku Iria tertawa, "Hahaha, sudah pernah kuberitahukan kepadamu alasan mengapa aku menarikmu, dan jawaban kali ini masih tetap sama. Aku juga tidak tau kenapa kamu bisa terlempar ke duniamu." Sahut Iria.
Airmataku menetes dan terus menetes, ingin sekali rasanya aku menyerang Iria. Tapi itu tidak mungkin kulakukan karena kalau aku terluka lagi entah tersisa berapa hatiku setelah kemarin aku terjun bebas dari atap apartemenku.
Aku mengusap airmataku, "Iria, tidak bisakah kita berteman saja di dunia kita masing-masing? Maksudku aku akan membiarkanmu dengan Ryu di dunia ini dan aku juga memohon kepadamu untuk membiarkanku bersama Ryu di duniaku sendiri." Sahutku di sela-sela isak tangisku.
Iria menatapku sedih, "Aku tidak suka idemu tentang berteman,"
"Bukankah Ryu sudah merubah karaktermu? Dan menghapusnya?" Aku bertanya.
Iria mengangguk, "Betul, tapi aku menolaknya dan aku memaksa untuk membuka portal antara duniaku dengan duniamu, dan akhirnya aku bisa menarikmu lagi." Sahutnya.
Kenapa Iria tidak berubah? Dia tetap jahat padahal aku tidak egois seperti Iria. Apakah dia menolak sehingga virus masuk ke dalam permainan ini?
Deg!
Virus! Itu salah satu kemungkinan yang terjadi maka itu terjadi malfungsi pada karakter tokoh dalam permainan ini. Mengerikan sekali!
"Kamu memaksa portal pembatas antara duniaku dengan duniamu apakah itu berarti virus akan masuk ke dalam sini juga?" Aku bertanya kepada Iria, dan semoga saja prasangkaku salah.
Hatiku mencelos saat Iria mengangguk, "Tepat sekali. Maka dari itu ada beberapa bangunan yang sangat rapuh karena setiap kali portal itu terbuka, virus akan selalu masuk ke dalam permainan ini." Kata Iria menjelaskan.
Jadi aku terjatuh karena virus melemahkan permainan ini? Lalu bagaimana dengan keadaan saat ini?
"Kenapa kamu menarikku?" Tanyaku kesal.
Iria menyeringai dengan mengerikan, "Aku ingin memisahkanmu dengan Ryu. Dan targetku berikutnya adalah kamu tidak kuijinkan kembali ke duniamu!" Tukasnya.
"Bagaimana dengan levelku? Bagaimana kalau aku berhasil menyelesaikan permainan ini? Apa itu tidak akan bisa mengembalikanku ke dunia nyata?" Tanyaku semakin kesal.
Sebelum Iria menjawab, tiba-tiba terdengar suara bel pintu berdentang,
Ting...tong
Ting..tong
Sebuah amplop surat dijatuhkan di atas kepalaku, aku meraihnya dan membuka amplop tersebut kemudian membaca isinya, "Selamat kamu berhasil menyelesaikan level sebelumnya. Sekarang kamu berada di level tiga dan nikmatilah bonus yang diberikan. Jangan lupa, kamu sudah mendapatkan koin! Kumpulkan koinmu sebanyak-banyaknya dan gunakanlah untuk membeli tenaga, pakaian, makanan dan bahkan extra hati untukmu."
__ADS_1
Setelah aku selesai membaca surat itu, surat itu berubah menjadi konfetti yang ramai sekali.
Iria bertepuk tangan, "Sistem masih membuat permainan ini berjalan seperti semula, selamat kamu berhasil naik level. Target temanmu sudah komplit, peningkatan kemampuanmu juga sudah meningkat, baiklah kita akan teruskan permainan ini. Berhati-hatilah jangan sampai terjatuh lagi." Sahut Iria kemudian berjalan pergi.
Aku menahan emosiku dan mengguncang-guncang pegangan pembatas apartemenku, "Eerrrgghhhh...Iria brengsek!" Aku berteriak.
"Hei, aku masih mendengarmu!" Tukas Iria dari bawah, mendongakkan kepalanya ke arahku.
"Aku tidak peduli kamu mendengarku atau tidak! Aku benci padamu, Iria! Benci sekali!" Sahutku kesal.
Iria tertawa, "Aku rasa semakin lama kamu semakin menyenangkan." Katanya melengos pergi sambil menggelengkan kepalanya.
***
Pagi hari aku berangkat kerja dengan langkah yang sangat berat seperti ada rantai besi yang mencengkram kedua kakiku.
Tok...tok
Tok...tok
Pasti ini Zen, pikirku. Aku membuka pintu untuknya, "Ryu?" Sahutku.
"Kei! Biarkan aku masuk." Katanya terburu-buru dan menerobos masuk ke dalamnya.
Aku memandangnya bingung, "Ada apa Ryu? Dan dimana Iria? Apa kamu bersembunyi darinya?" Tanyaku.
"Ini aku, Kei. Ryu dari duniamu." Jawab Ryu.
"Ssttt...ssttt. Ini aneh sekali, Kei. Tidak kusangka aku bisa masuk ke dalam dunia permainan yang kubuat sendiri." Katanya setengah kagum.
"Benarkah? Oke, buktikan kalau kamu Ryu dari duniaku!" Sahutku.
"Buktikan dengan apa? Sudah jelas aku mencarimu bukan Iria." Katanya santai.
Ryu memperhatikan apartemenku dan mengetuk-ngetuk jarinya ke setiap material yang ia temui, "Rapuh sekali bangunan ini." Katanya lagi.
"Virus." Jawabku, "setiap kali kita keluar masuk ke dalsm dunia ini maka semakin rentan permainan ini terinfeksi virus. Dan ini menyebabkan bangunan disini rapuh. Kemudian ada beberapa karakter tokoh yang sifatnya menjadi lebih agresif atau bahkan kebalikannya." Aku menjelaskan kepada Ryu.
Ryu mengangguk, "Atau hilang. Maka itu aku masuk kesini untuk membantumu segera keluar dari sini Kei. Karena kita sudah menjadi karakter tokoh di permainan ini. Aku akan membantumu untuk...."
Tok...tok
"Kei, ini aku!"
"Itu Zen. Sembunyi cepat!" Bisikku kepada Ryu.
"Oke, masuk saja. Aku sedang bersiap-siap." Ujarku setelah Ryu bersembunyi di dalam lemari.
__ADS_1
Zen membuka pintu apartemenku, "Bagaimana keadaanmu setelah jatuh kemarin?" Tanya Zen.
"Masih agak sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja." Jawabku tersenyum.
Zen merengkuh pinggangku dan mengecup bibirku,
Cup.
"Aku merindukanmu, Kei." Katanya.
Pesona Zen memang sulit untuk di tolak, aku berjingkat hanya untuk membalas kecupannya, "Aku juga merindukanmu." Sahutku.
Zen kembali membalas kecupanku menjadi sebuah ciuman maha dahsyat di pagi itu. Di tengah hawa panas yang dibawa oleh Zen ke dalam apartemenku, aku teringat Ryu, "Ayo, nanti kita terlambat." Ucapku.
"Apa kita bolos saja Kei, dan bermain bersama hingga sore nanti." Kata Zen menggodaku.
Aku menggelengkan kepalaku, "Apa kamu lupa aku akan segera di promosikan, aku harus rajin bukan?" Sahutku, melepaskan diri dari pelukannya.
Zen mengedipkan matanya dan mengecup pipiku sebentar, "Aku hampir lupa kalau kekasihku adalah karyawan teladan." Katanya.
Tak lama kami sudah siap berangkat, dan saat Zen keluar aku menuju lemari tempat Ryu bersembunyi dan berbisik, "Aku meninggalkan makanan untukmu. Makanlah sebelum itu menghilang." Bisikku.
Sesampainya di kantor, aku terkejut karena aku berhasil mendapatkan teman bahkan Jane mulai menyapaku, "Pagi Kei, bagaimana kabarmu? Terimakasih untuk pestanya aku sangat menikmati sekali walau pun harus berakhir dengan kamu jatuh. Lain kali hati-hati Kei." Kata Jane.
Aku tersenyum tulus dan terharu, "Terimakasih Jane." Sahutku dan memeluk Jane selama yang aku bisa. Aku rindu sekali kepada Jane. Kemarin aku hanya bertemu sebentar dengannya.
Mr. Sean memanggilku ke ruangannya dan memelukku, "Are you oke Kayla? I wish you oke. I was scared that night, and i prayed so you wasn't died." Sahut mr. Sean.
Ini kedua kalinya dia memanggilku Kayla, apa pun itu aku menerima ketulusan hatinya dengan bahagia, "I wasn't die at least yet." Ucapku.
Mr. Sean tertawa, "Don't tell that words. You will has a long live and happily ever after, Kayla. I love you." Katanya lagi.
Tak lama ia memberikan setumpuk berkas untuk kurevisi sepanjang hari ini, "Oke, go finish your work." Kata mr. Sean tertawa.
Dan seperti biasa, Zen sudah berada di depan ruangan mr. Zen dengan kecepatan kilat dan membantuku untuk membawakan dokumen-dokumen itu.
Iria menarikku ke atap, "Aku tau Ryu yang asli berada disini karena sistem mengindentifikasi kedatangannya." Ujar Iria. Dia berjalan mondar-mandir sambil menggigiti pinggiran jarinya persis seperti yang kulakukan kalau aku gugup dan sedang berpikir keras.
"Apa yang terjadi kalau dia disini?" Aku bertanya kepada Iria.
"Dia harus ikut bermain. Dan dia sudah mempunyai level disini. Kenapa kamu tidak melarangnya?" Tanya Iria kesal.
"Mana aku tau kalau dia akan menyusulku kan?" Sanggahku gusar.
"Karena tidak mungkin ada dua Ryu, maka Ryu asli akan menjadi pendukungmu dan segala kecerdasan serta kekuatannya akan hilang." Sahut Iria, "Ryu sangat menyukaimu sekali sampai dia rela mengikutimu masuk ke dunia permainan ini. Bodoh sekali." Ucap Iria menambahkan.
Ada kesedihan di dalam suaranya, tak lama Iria berbicara lagi, "Kamu harus berjuang untuknya. Targetmu selanjutnya memunculkan kekuatan dan melindungi Ryujin dari segala sesuatu yang menimpanya. Kuatlah Kei." Katanya lagi.
__ADS_1
Dan benar saja, tak lama di atas kepalaku ada selembar kertas bersertifikat merah, bertuliskan New Quest.
...----------------...