
Keesokan harinya aku terbangun dan Iria sudah ada di rumahku sedang berbincang-bincang dengan Bibi Jemima. Aku segera keluar dari kamarku, Iria dengan cepat melihat serta menyapaku, "Good morning Keira. Bagaimana tidurmu?" Tanya Iria dengan lembut.
"Tidurku nyenyak berkat kamu, terimakasih."Sahutku galak.
Iria menutup mulutnya seolah terkejut, "Kenapa kamu galak kepadaku kalau tidurmu nyenyak?" Tanya Iria.
"Whatever you said, Iria." Ucapku sambil lalu.
Aku memandang lahan pertanianku, entah kenapa pagi hari ini aku merasa bosan dan lelah sekali padahal kemarin aku sudah seharian beristirahat.
Aku duduk di atas sebuah batu besar, aku memejamkan mataku dan menghirup dalam-dalam udara di sekitarku.
Setelah tenang aku berdiri, mengambil ember susu serta sikat untuk mengurus sapi-sapiku serta ternakku yang lainnya.
Terdengar suara langkah kaki di belakangku dan tak lama ia memanggil namaku, "Kei! Keira!" Sahutnya.
"Aku sibuk!" Balasku tetap berjalan, dan tak lama aku sudah berjongkok di sebelah sapi yang kuberi nama Cowy. Aku memiliki lima ekor sapi, yang paling besar ini namanya Cowy, kemudian ada Milky, Silly, Dotty dan Whitey.
Setelah aku mendapatkan susu dari mereka aku berjalan ke gerobakku dan memasukkan susu-susu itu ke dalam gerobak.
Iria membantuku menbawakan ember berisi susu, "Kei, bicaralah kepadaku." Kata Iria.
Aku memandangnya kesal, "Bagaimana aku bisa berbicara denganmu kalau aku membencimu! Karena kamu hidupku menjadi berantakan." Tukasku kesal.
Iria terkikik di belakangku, "Itu karena aku ingin bermain bersamamu, Kei." Jawabya manis.
Plak!
Aku menampar pipi Iria, "Apa aku tidak salah dengar? Kamu ingin bermain denganku sampai aku harus mengorbankan hidupku seperti yang sudah. Dan kamu mempermainkan hatiku." Ujarku geram.
Iria memegangi pipinya, "Sudah kubilang bukan aku iri kepadamu? Namun, begitu kamu kesini Ryu masih saja memperhatikanmu. Belum lagi teman-temanku. Dengan cepat kamu membuat mereka berpaling dariku." Jawab Iria membela diri.
"Untuk apa kamu membawaku kemari kesini?" Tanyaku masih kesal.
"Karena aku ingin berteman denganmu, sampai kapan pun kamu tidak akan aku ijinkan untuk keluar dari sini!" Jawabnya sambil menyeringai seram.
"Kamu gila, Iria! Kamu gila!" Sahutku.
Aku kembali menuruskan pekerjaanku, dan biasanya aku tidak sanggup mendorong gerobak ini, akan tetapi hari ini aku kuat mendorongnya sendiri. Inilah yang di namakan dengan The Power of Kepepet.
Aku emosi sekali kepada Iria!
"Level delapan,"
Deg!
__ADS_1
"Ada apa dengan level delapan?" Tanyaku tanpa menghentikan gerobakku.
"Kamu akan bermain balapan mobil, lokasimu ada di sebuah sirkuit. Tentu saja akan ada halangan dan rintangan yang akan menghambatmu untuk menuju kemenangan jadi persiapkan itu." Kata Iria menjelaskan.
Aku sudah lelah mendengarkan penjelasannya, "Kalau pada akhirnya kamu tidak akan mengeluarkanku dari dunia ini, kenapa aku harus bersusah payah menyelesaikan permainan ini? Aku akan terus disini saja sampai aku tua dan mati." Jawabku putus asa.
Tidak ada gunanya lagi aku berjuang kalau semua Iria menghendaki aku tidak akan keluar dari sini.
Iria mencengkram lenganku dan berdecak kesal, "Kei, kemana semangatmu?" Tanyanya sedikit kesal.
Aku sudah sampai tempat Nyonya Cissy dan dengan cepat aku menukar segala yang kupunya dengan koin.
Membosankan! Sungguh membosankan!
Setelah mengucapkan terimakasih aku mendorong gerobak kosongku kembali, di tengah jalan aku berhenti untuk membeli dua buah corndog.
"Makanlah." Sahutku dan memberikan satu buah corndog kepada Iria.
Iria menerimanya dengan ragu, "Ini untukku?" Tanya Iria tidak percaya.
"Tentu saja untukmu, untuk siapa lagi memangnya!" Tukasku kemudian menggigit corndog mozzarella itu.
"Te... terimakasih. Baru kali ini ada seseorang yang memberikan sesuatu untukku. Aku terharu sekali. Terimakasih Kei." Ucap Iria berkali-kali.
"Hmmm, makanlah selagi hangat." Ucapku.
"Lagu apa yang kamu nyanyikan itu?" Tanyaku.
Aku menyandarkan gerobakku di dekat pohon besar dan duduk di pinggiran lahan pertanianku sambil menikmati corndog ini.
"Lagu permainan ini. Apa kamu tidak pernah mendengarnya?" Tanya Iria.
Aku menggeleng, "Mana bisa aku mendengarnya kan? Maksudku ketika musik ini di mainkan aku menghadapi lebah raksasa yang berdengung, atau aku menjadi sebuah pot dengan kapak yang bersuara bising sekali atau bahkan Zen yang merintih kesakitan, apa kamu berpikir aku akan mendengarkan musik itu?" Sahutku galak.
Iria tertawa, "Hahaha, aku suka kepadamu Kei. Kamu selalu penuh semangat bahkan kamu bisa bercerita dengan semangat. Aku ingin menjadi temanmu sebenarnya." Ucap Iria lagi.
"Aku akan menerimamu sebagai temanku jika kamu tidak mencoba untuk selalu menbunuhku!" Tukasku.
Iria kembali tertawa, "Kamu lucu sekali. Jujur saja aku tidak pernah bermaksud untuk membunuhmu. Hanya saja itu dari sistem permainan, aku tidak bisa mengaturnya." Jawab Iria.
Tunggu sebentar, jawaban Iria membuatku bertanya-tanya.
"Sistem permainan? Bukankah kamu sistem permainan ini dan tugasmulah yang mengatur segala sesuatu di dalam sini?" Tanyaku.
Iria menggeleng, "Tentu saja bukan, aku hanya karakter tokoh permainan ini. Aku tidak tau siapa yang mengendalikan ini semua." Jawab Iria.
__ADS_1
Aneh sekali.
"Lalu siapakah pengatur sistem permainan ini?" Tanyaku.
Iria mengangkat bahunya, "Entahlah, aku tidak tau. Kamu akan bertemu dengannya di level akhir nanti." Jawab Iria.
Aku semakin bertanya-tanya, siapa dalang di balik semua ini? Apakah ada sebuah karakter lagi yang mengatur segalanya? Siapakah dia? Seingatku Ryu hanya membuat karakter permainan ini sama dengan di dunia nyata dan hanya ada dua tokoh tambahan yaitu Zen dan Iria.
Apakah itu Ryu sendiri yang mengatur semuanya ataukah Zen? Atau Bibi Jemima yang tiba-tiba muncul di tengah permainan ini?
Tugasku bertambah satu, mencari tau siapa pengendali sistem permainan ini!
"Dimanakah ruang kendali permainan ini, Iria?" Tanyaku.
Iria kembali mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tau. Namun, jika kamu penasaran selesaikanlah levelmu dengan cepat sampai akhirnya kamu bisa berhadapan dengan pengendali sistem permainan ini." Jawab Iria.
"Apakah kamu serius? Kamu tidak sedang membohongiku kan?" Aku bertanya lagi memastikan dia tidak berbohong.
Iria menggeleng, "Aku tidak pernah berbohong Kei. Kecuali aku di atur untuk itu." Jawabnya.
"Kali ini aku percaya kepadamu Iria. Lalu, kenapa kamu selalu muncul?" Tanyaku, menuntaskan rasa ingin tahuku.
"Aku tokoh utamanya begitu juga denganmu. Wajar saja kita akan selalu muncul." Ucap Iria.
Aku menganggukan kepalaku.
"Baiklah! Aku akan selesaikan level ini dengan segera. Kapan level delapan akan dimulai?" Tanyaku.
"Besok pagi." Balas Iria.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap!" Sahutku semangat.
***
Hai guys, mampir ke cerita temanku yuk..
Blurb
Ainisha menjadi pelakor demi membayar hutang sang ayah pada seorang rentenir.
Memisahkan sepasang kekasih yang telah bertunangan dengan berbagai cara. Bahkan melakukan kebohongan dan berubah diri menjadi sosok wanita dengan karakter berbeda yang bernama Alisha untuk menyembunyikan jati diri.
Bagaimana jika sang pria yang bernama Haikal, adalah laki-laki yang dia kenal dan dia cintai?
Bagaimana jika Haikal jatuh cinta pada Alisha bukan pada Ainisha?
__ADS_1
Ikuti kisahnya.