
"Aaaa! Turunkan aku!" Aku berteriak kepada mereka sambil menggerak-gerakkan kedua kakiku.
Bruk!
Akhirnya mereka menurunkanku. Sekarang orang utan ini memandangku seakan aku adalah makanan lezat untuk mereka. Apakah orang utan memakan manusia? Tidak ada sejarah seperti itu.
Biasanya orang utan ini pintar, maka aku akan menguji kecerdasan mereka. Aku duduk di tengah-tengah mereka.
Bruk!
Luar biasa orang utan itu ikut duduk bersamaku. Aku bertepuk tangan,
Clap!
Mereka mengikutiku lagi,
Clap!
Dan apa targetku dengan orang utan ini? Aku belum tau.
Aku berpikir dengan menopangkan tanganku di dagu, dan ini menyenangkan sekali karena orang utan itu mengikuti setiap gerakanku.
Apakah aku harus memberikan mereka makan? Atau aku hanya harus berhasil melepaskan diri dari orang utan ini?
Aaah, aku tidak tau!
Aku membuka ranselku dan mengeluarkan sekotak susu. Mereka melihatku dan memandang ke arah kotak susu yang kupegang, "Kalian lapar?" aku bertanya.
"Uuuuuu.... wuwuwuwu!"
Entah apa artinya tapi aku mengartikan sebagai ya, mereka lapar. Aku mencari gelas plastik di dalam ranselku dan menuangkan susu secukupnya ke gelas itu dan kuberikan kepada orang utan yang dekat denganku, setelah itu aku bergantian memberikan mereka susu.
Ada gunanya juga berladang setiap hari.
Setelah susuku habis, aku kembali duduk. "Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan terhadap kalian. Apa yang ingin kalian makan? Aku tidak menbawa terlalu banyak makanan karena kupikir ini bukan perjalanan panjang." ucapku.
"Percuma juga aku berharap kalian mengerti ucapanku, tapi daripada kita ribut seperti tadi lebih baik kita mengobrol seperti ini, kan?" tanyaku kepada mereka.
Orang utan itu menatapku bingung, dan aku merasa bodoh bagaimana bisa aku berharap kepada seekor orang utan? Aku menghela nafasku, aku rasa sebentar lagi aku akan gila.
"Apakah kalian suka bernyanyi?" aku kembali bertanya kepada orang utan itu.
Mereka saling memandang seolah berkata, "Apa yang manusia itu bicarakan? Dia mengajak kita bernyanyi? Apa dia gila?"
Bahkan aku menterjemahkan tatapan mereka. Menyedihkan sekali.
__ADS_1
Aku berniat mengajari mereka untuk bernyanyi, "Baiklah ikuti aku." Aku beranjak dari posisi dudukku dan berdiri dengan kedua tangan kutangkupkan di depan dada.
"Apakah kalian tau lagu a If You Happy? Tidak? Oke, aku akan mengajari kalian lagu itu. Karena kalian sudah berdiri maka sekarang kita akan mulai bernyanyi,"
"If you happy and you know it, clap your hands,"
"If you happy and you know it clap your hands,"
"If you happy and you know it and you really wanna show it,"
"If you happy and you know it clap your hands."
Mereka mengikuti gerakanku dengan sangat ramai,
"Uuuu...wuwuwuwu..."
"Uuuu...aaaa.... Wuwuwuw."
Aku kembali duduk dan menurunkan tanganku untuk meminta mereka duduk bersamaku. Aku mencari makanan di dalam ranselku tapi tidak ada yang jumlahnya banyak.
Di tengah keputusasaanku dan di tengah orang utan yang mulai menggeram karena lapar, aku menemukan ide untuk menanam biji buah di sekitar tanah kosong itu.
Aku mencangkul dan mencangkul hingga tercipta sepetak tanah. Aku kembali mencari sesuatu di dalam ransek ajaibku dan aku menemukan benih pisang dan apel lalu kutebarkan di sepetak tanah yang kupunya.
Tak sampai lima menit, benih-benih itu sudah bertumbuh menjadi buah pisang dan apel. Aku memetik satu buah apel dan satu buah pisang kemudian aku berikan kepada orang utan itu, mereka memakannya dengan senang.
"Makanlah sampai kalian kenyang dan tidak sanggup berceloteh lagi. Doakan perjalananku semoga lancar. Sampai jumpa." sahutku kepada mereka.
Salah satu orang utan itu memelukku dengan erat seakan mengucapkan terimakasih kepadaku.
Aku melanjutkan perjalananku, satu pelajaran yang aku ambil dari orang utan itu adalah walaupun lapar kita harus bisa menahan diri. Oke, itu pelajaran moral yang cukup bagus.
Perjalanan ini semakin menanjak dan menanjak. Entah sudah berapa lama lagi aku sampai di puncak.
Aku memutuskan untuk beristirahat di dekat pepohonan pinus. Aku naik sebentar ke bebatuan besar yang berbentuk datar dan membuat api unggun disana. Aku tidak mendirikan tenda karena memang aku tidak ingin bermalam disana.
Aku hanya membuat secangkir kopi dan roti panggang. Setelah kenyang aku merebahkan diriku sebentar dan aku melanjutkan perjalananku kembali.
Senja mulai menampakkan dirinya, aku mengambil tendaku dan mendirikannya kembali. Semua peralatan yang akan kupakai untuk malam ini aku siapkan di paling atas.
***
Keesokan harinya aku bangun dan tiba-tiba saja aku menerima amplop pemberitahuan,
"Selamat anda telah berhasil naik level 10. Lanjutkan perjalanan anda, selamatkan orang yang anda kasihi dan berjuanglah untuk bertarung dengan pengendali sistem. Terimalah koin ini sebagai ucapan selamat kami kepada anda!"
__ADS_1
Bunyi gemerincing koin masuk ke dalam akunku. Aku jarang memakai koinku. Mereka kusimpan dan akan aku pakai untuk booster atau membeli sesuatu yang mendadak.
Aku bisa menyelamatkan orang yang aku kasihi? Berarti hanya satu orang? Kalau aku mengasihi mereka semua, apa tidak bisa menyelamatkan mereka sekaligus? Peraturan yang aneh sekali.
Muak? Tentu saja!
Srek
Srek
Aku mendengar suara langkah kaki. Siapa itu? Aku menyalakan senterku untuk melihat lebih jelas ke balik pepohonan siapa yang datang tapi ternyata tidak ada siapa-siapa.
Aku kembali masuk ke dalam tenda dan terdengar lagi suara kaki menginjak dedaunan, "Siapa disana?" tanyaku.
Jantungku berdetak cepat, manusia ataukah seekor binatang? Tidak mungkin binatang berjalan seperti itu. Mungkin saja sih, apakah itu seekor singa? Macan? Atau bahkan beruang?
Aku mematikan api unggunku dan merapikan semua peralatan memasakku kemudian aku masuk ke dalam tenda dan kututup tendaku rapat-rapat.
Ini masih pagi tidak mungkin datang sesuatu yang tidak padat, kan? Aku bergidik ngeri.
Srek
Srek
Suara langkah itu semakin mendekat, aku bisa melihat bayangannya dari dalam tendaku dan itu bayangan seorang manusia. Siapakah dia?
Aku memberanikan diri untuk membuka tendaku dan perlahan aku keluar dari dalam sana.
Dan tiba-tiba saja seseorang itu menyergapku, "Hai, Keira." Sapanya.
Aku terkejut bahkan aku berpikir ini mimpi! Tidak mungkin!
Dia mengulurkan tangannya, "Kaget yah? Kenalkan aku pengendali sistem permainan ini. Tentu saja aku tidak sendiri, aku punya partner yang datang bersamaku." Katanya.
Tak lama teman orang itu datang, "Hai Kei. Lama tidak jumpa." sahutnya dengan senyuman yang masih memukau.
"A... apakah kalian berdua pengendali sistem permainan ini? Dan bagaimana kamu bisa ada disini karena sebelumnya Ryu tidak pernah menciptakanmu!" tanyaku.
Mereka berdua tersenyum, "Sudah banyak yang berkata bahwa permainan ini bisa mengendalikan diri mereka sendiri maka partnerku yang tampan ini menciptakanku. Hebat bukan?" sahutnya tersenyum lebar.
Tidak!
Ini tidak mungkin terjadi!
Aku pasti bermimpi. Aku menepuk pipiku dan bahkan mencubit lenganku tapi aku tidak kunjung bangun.
__ADS_1
Mereka berdua tertawa melihatku, "Hahaha, kamu tidak bermimpi Keira. Sekarang hadapilah kami!" ucapnya.
...----------------...