My Upside Down World

My Upside Down World
My New Partner


__ADS_3

Prit!


Prit!


Prit!


Aku terbangun dan seketika membuka mataku. Aku memastikan dimana aku berada saat ini.


Benar saja aku tidak di rumahku melainkan di sebuah podium sirkuit mobil. Aku melihat sekelilingku, disana sudah ramai sekali mobil Formula One berjajar di belakang garis start.


Aku menuruni tangga podium dan segera keluar ke arah lapangan itu. Semua mobil-mobil Formula One impian Ryu dan Bern juga Mr. Sean semua ada disini.


McLaren, Ferrari, Mercedes Hybrid, serta Red Bull berjajar disana. Dan pertanyaannya adalah apa yang akan aku lakukan disini?


Oh, aku ingat ucapan Iria! Aku akan melakukan balapan mobil di sebuah sirkuit, apakah ini? Aku mendekati mobil-mobil itu dan menyentuh mereka satu per satu. Manakah yang akan jadi milikku?


Andai saja ini sebuah karya wisata, aku akan berswa foto di depan mobil ini dan memamerkannya kepada para pria itu bahwa aku mengendarai mobil Formula One.


Aku sadar di dunia nyata tidak akan pernah terjadi, jadi aku merekam mobil-mobil ini ke dalam otakku dengan baik.


"Keira! Hei, aku disini." Aku mendengar suara Iria memanggilku.


Aku menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari Iria tapi ternyata ia di belakang.


"Ada apa? Kenapa kamu bisa disini?" Tanyaku.


Ia menuruni podium dan menghampiriku, "Tentu saja untuk menjelaskan serta menamanimu bermain hari ini." Jawab Iria.


Iria kemudian mengajakku untuk melihat-lihat mobil-mobil Formula One itu, "Kamu suka yang mana?" Tanya Iria.


"Apakah aku mengendarai salah satunya?" Tanyaku lagi.


Iria mengangguk senang, "Yup, pilihlah salah satu, mana yang kamu sukai?" Ucap Iria.


Mataku berbinar ceria, jujur saja mengendarai mobil Formula One adalah salah satu cita-citaku.


Tak perlu di tanya lagi, mobil racing pembawa kemenangan pembalapnya dari masa ke masa hanyalah McLaren.


"Aku mau ini." Sahutku tersenyum.


"Pilihan yang bagus. Sekarang kamu boleh memilih siapa yang akan jadi co drivermu." Kata Iria lagi.


Dia memberikan aku pilihan berupa hologram, ada Zen, Ryu, Iria, Mr. Sean, Jane, dan yang terakhir adalah Bern.


"Siapa yang mau kamu pilih untuk menjadi co drivermu?" Tanya Iria lagi.


"Kamu." Jawabku.


"Eh? Apa?" Iria memintaku untuk mengulang jawabanku.


Aku manatap matanya, "Aku mau kamu yang mendampingiku. Kemarin kamu berkata kepadaku kalau kamu ingin bermain denganku kan? Sekaranglah saatnya. Ayo kita bermain." Aku mengulang jawabanku.


"Be..benarkah itu Kei?" Tanya Iria lagi seakan ia salah mendengar.


"Kalau tidak mau aku akan memilih yang lain karena aku tidak akan mengulang jawabanku untuk yang ketiga kalinya." Ucapku tegas.


Iria memelukku, "Aku mau! Aku mau! Aku senang sekali sampai ingin menangis rasanya! Aku senang! Aku senang! Terimakasih Kei." Katanya berulang-ulang dan sekarang ia menyenandungkan lagu tema permainan ini.


Biip...


Biip


"Keira, ayo segera masuk!" Seru Iria.

__ADS_1


Aku pun masuk ke dalam mobilku, di dalam Iria menjelaskan bahwa ini akan terbagi menjadi tiga babak dengan lap yang semakin lama semakin sulit.


"Aku tidak tau rintangannya akan seperti apa karena sekarang aku menjadi co drivermu, tapi yang jelas aku akan menunjukkan jalan kepadamu supaya kita terhindar dari halangan atau rintangan itu. Apa kamu percaya kepadaku?" Tanya Iria.


Aku menatap Iria dari kaca spion karena kepalaku sudah terpasang helm, "Kalau aku tidak percaya kepadamu untuk apa aku memilihmu!" Tukasku tak sabar.


Iria terkikik, "Hihihi, baiklah. Terimakasih kalau kamu percaya kepadaku." Katanya.


Tak lama, musik pembukaan sudah bergemuruh. Dan terdengar suara pengumuman dari loudspeaker untuk peserta bersiap menjalankan mobil mereka.


Aku melihat kanan kiriku akan tetapi aku tidak bisa melihatnya karena mereka tertutup helm.


"Lihat di sisi bawahmu, Kei." Ucap Iria seakan tau maksud pikiranku.


Aku segera melihat ke arah yang dimaksudkan Iria, dan benar saja nama-nama peserta balapan itu muncul. Namun, ada sesuatu yang aneh. Aku pikir peserta balapan ini banyak ternyata hanya kami bertiga.


Aku, Ryu dan Zen.


"Apakah pesertanya hanya tiga orang?" Tanyaku kepada Iria.


"Entahlah tapi sepertinya begitu." Jawab Iria.


"Aneh sekali." Sahutku.


Kemudian seorang seperti wasit berdiri dengan membawa bendera,


"Kei, tidak akan ada instalation lap. Jika pria itu meniup peluitnya maka babak pertama akan segera di mulai. Paham Kei?" Tanya Iria


Aku mengangguk dan mengacungkan ibu jariku kepadanya.


Prrrriiiiit!


Suara peluit berbunyi, aku segera menginjak pedal gas untuk melajukan mobilku.


"Sebentar lagi akan memasuki rintangan, Kei. Atur akselerasi mobilmu." Seru Iria.


"Demi Tuhan, bagaimana aku mengaturnya sedangkan aku rasa mobil ini sudah berjalan 250-300km/jam!" Aku berteriak panik.


Dan tiba-tiba saja di depanku ada sebuah gelembung hijau yang sangat besar, "Ambil gelembung itu Kei. Itu senjatamu nantinya." Tukas Iria.


Aku menurutinya,


Blup!


"Itu licin sekali." Sahutku.


"Simpanlah itu untuk melawan lawanmu nanti." Ujar Iria lagi.


Aku menyimpan gelembung itu baik-baik, jangan sampai aku salah tekan tombol atau apa pun itu.


"Kei! Kei! Depanmu! Itu Zen! Tabrak saja atau lempar gelembungmu, kalau tidak dia akan menghadangmu dan kita akan kalah!" Seru Iria.


Aku menekan tombol untuk mengerem sambil melihat lap time.


"Tekan warna hijau untuk melemparkan gelembung!" Tukas Iria.


Aku menurutinya,


Bwosh!


Blup!


"Berhasil! Aku berhasil Iria! Thank you." Ucapku berterimakasih. Aku pun mendengar Iria bersorak senang penuh kemenangan.

__ADS_1


Aku mulai bisa mengikuti ritme reli mobil ini, tapi tetap saja aku tidak boleh lengah.


"Iria, first lap sebentar lagi akan selesai. Bisakah aku berhenti di pit stop?" Tanyaku.


"Harus!" Seru Iria.


Tak lama aku memberhentikan mobilku di pit stop pertama untuk melakukan pengecekan. Pengecekan dilakukan selama lima belas hingga dua puluh menit karena mereka juga harus mengganti roda depan dan belakangku.


Prrit!


"Oke, I'm ready! Iria?" Tanyaku.


"Aku siap!" Jawabnya.


Aku kembali mengemudikan laju mobil balapku.


"Kei, tantangan di lap ini adalah kamu harus mengumpulkan senapan dan turbo. Karena akan ada makhluk aneh yang akan menangkap kita. Lap di level ini jauh lebih sulit, usahan tidak menabrak barre!" Sahut Iria.


"Oke!" Sahutku.


Aku mulai mencari senapan seperti yang di perintahkan oleh Iria.


Namun tiba-tiba dari arah kiri, mobil Ferrari memepetku,


Ckkit!


Ckkit!


Sialan! Siapa dia!


Aku berusaha bertahan supaya aku tidak menabrak barre sambil berupaya untuk memepetkan mobil Ferrari itu.


Ini agak berat untuk menyeimbangkan mobil balapku ini,


"Eerrggghhh!"


Dak!


Aku berhasil menabraknya,


"Kei, tekan tombol biru itu untuk turbo!" Tukas Iria.


Aku menekan tombol berwarna biru, mobil kami berdecit dan tiba-tiba saja aku sudah lolos dari Ferrari itu.


"Thanks Iria." Sahutku.


Itu belum selesai, karena di depanku sudah berdiri raksasa atau monster yang menghalangi jalan. Raksasa itu mengambil semua mobil balap dan memainkannya seperti memainkan mobil mainan.


"Iria bagaimana ini?" Tanyaku.


"Ayo hadapi Kei. Aku akan membantumu!" Jawab Iria mantap.


...----------------...


Temans, kira-kira monster apa yah yang ngalangin jalan Keira?


Daripada pusing-pusing, mampir aja dulu yuk ke karya teman aku yang satu ini,


Blurb :


Dita seorang penulis, biasanya menulis happy ending bagi setiap kisahnya. Kenyataan kehidupan nyatanya tak seindah fiksi yang biasa dia rangkai dalam novelnya. Satu persatu kejadian tak mengenakan terjadi, konflik di ceritanya menjadi nyata. Mampukah dia bertahan? Bagaimana cara dia untuk mengatasi semuanya? Akankah ada kesempatan baru?


__ADS_1


__ADS_2