My Upside Down World

My Upside Down World
That Was A Nightmare


__ADS_3

Tidak mungkin!


Aku tidak percaya dengan apa yang ada di depanku saat ini. Pengendali sistem permainan ini adalah aku sendiri dan Zen.


Sekarang aku harus berhadapan dengan diriku sendiri, bagaimana bisa? Itu aneh sekali!


"Tunggu dulu. Bagaimana aku bisa menjadi pengendali sistem ini? Maksudku aku tidak pernah memainkan permainan ini dan aku tidak menginginkanku untuk berada disini." sahutku.


"Tapi kamu menginginkan Zen. Ingat saat kalian kembali dan kamu menyusul Zen ke dunia ini? Apa kamu sudah mengingatnya Kei? Disitulah kamu menciptakan aku untuk tetap mempertahankan Zen supaya dia tetap hidup dan ada di dalam permainan ini." jawab Keira.


Aneh sekali.


Zen tersenyum dan bersandar pada pundakku maksudku pundak Kei.


"Lalu, aku harus apa untuk mengalahkanmu?" tanyaku kepada mereka.


"Hanya berlari." jawab Zen.


Heh?


"Berlari?" tanyaku.


Kei dan Zen mengangguk, "Ya, hanya berlari."


"Baiklah." sahutku.


Teeet!


Tiba-tiba saja latar kami berubah menjadi di dalam gua yang di pasangi obor di setiap sudut dinding gua itu.


"Lawanmu adalah waktu. Berlari sajalah." kata Kei.


Aku mengangguk dan mengerti maksud permainan itu.


"Oke. Bersiaplah Kei." Sahut Keira yang lain.


Aku akan mengumpulkan koin sebanyak-banyaknya.


"Three! Two! One! Start!"


Aku mulai berlari dan ini sama seperti permainan Temple Run.

__ADS_1


Aku dikejar oleh monster aneh yang mengerikan, dan aku berlari sekencang yang kubisa. Tak lama aku berbelok dengan kecepatan tinggi.


Aku merapat ke kiri karena tiba-tiba ada api yang seakan menyalak ke arahku, dan dengan cepat aku merapat ke kanan karena ada batang pohon yang sangat yang rubuh seketika.


Kemudian aku melompat dan bergelantungan di atas tali, aku mengambil semua koin yang ada disana. Aku melihat waktuku, aku kembali fokus ke jalanku.


Setelah bergelantungan aku menaiki gerobak yang berjalan di atas rel,


Swish!


Swosh!


Sebuah ayunan beroda tajam mengayun ke kanan dan ke kiri siap membelah apa pun yang ada di depannya.


Aku merunduk ke kanan dan merunduk ke kiri di dalam gerobak. Rel itu terpecah menjadi dua, tanpa ragu aku mengambil sisi kanan,


Bump!


Bump!


Aku mendengar suara di pukul-pukul, "Apa itu?" Tanyaku berbisik.


Bump!


Bump!


Gerobakku semakin dekat berjalan ke arahnya, perfect. Seekor gorila besar yang memukul rel, aku menghindar dari pukulannya.


Bump!


Bump!


Bruk!


Pukulan gorila itu berhasil mengenai gerobakku dan sekarang gerobak ini tidak seimbang.


Beruntunglah masih bisa jalan dan dengan satu kali tembakan, gorila itu terkapar.


Aku kembali melanjutkan perjalananku, tak beberapa lama gerobak ini terpecah menjadi dua.


Aku segera melompat dan kembali berlari.

__ADS_1


Sampai kapankah aku harus berlari? Aku melihat waktuku sudah mau habis. Aku mempercepat lariku dan mengambil semua bonus serta booster yang bisa kupakai.


Namun,


"Aaaaaaa!"


Aku terbangun. Apa yang terjadi? Aku terjatuh dari tebing tinggi. Dimana aku sekarang?


Aku melihat sekelilingku, ini di dalam apartemenku.


Apa yang terjadi! Kenapa aku bisa berada disini? Aku harus segera mencari Keira dan Zen.


Aku membuka pintu apartemenku dan betapa terkejutnya aku melihat Ryu sudah berada di depan apartemenku.


"Sulit sekali membangunkanmu, Kei!" Tukasnya kesal.


Aku mengerutkan keningku, "Kenapa kamu bisa ada disini?" Aku bertanya kepadanya.


"Loh, kamu tertidur dari kemarin malam. Belum makan apa pun dan lihat saja bahkan kamu belum berganti pakaian. Astaga Kei. Apakah ini pengaruh obat?" kata Ryu dan mengambil sebuah tabung kecil berisi obat.


"Obat ini memang membuatmu ngantuk tapi bukan berarti kamu bisa tidur seharian Kei." serunya.


Aku duduk dan merenungi apa yang terjadi, "Ryu, dimanakah Zen?" tanyaku.


Ryu memandangku heran, "Zen? Dia tokoh di dalam gameku, Kei! Hahahaha, apakah kamu bermimpi tentang dia? Hebat yah aku bisa membuat karakter setampan itu. Eh, tapi darimana kamu tau namanya Zen?" tanya Ryu.


Aku bergegas keluar dari apartemenku dan melihat ke sekelilingku, ini lingkungan tempat aku tinggal. Apa yang terjadi sebenarnya?


Ryu tampaknya menghubungi Jane karena Jane datang dan segera memelukku, "Kei, astaga Kei! Ryu mengkhawatirkanmu. Dia berpikir kamu tidak akan bangun tapi akhirnya kamu bangun Kei." Katanya dan memelukku lagi.


Aku memutuskan untuk mendengarkan cerita Ryu, "Jadi, kamu itu sekitar semingguan yang lalu pingsan di depan komputerku Kei. Kupikir kamu kelelahan dan aku segera membawamu ke rumah sakit. Disana kamu sempat tidak bangun selama tiga hari. Setelah bangun, kamu diperbolehkan pulang dan diberikan banyak obat serta vitamin." Kata Ryu menjelaskan.


"Semenjak keluar dari rumah sakit, kamu banyak tidur dan kami pikir itu pengaruh dari obat-obatan itu. Sampai kemarin kamu tertidur dan tidak kunjung bangun. Baru saja aku akan membawamu ke dokter lagi tapi syukurlah kamu terbangun." sahut Ryu menutup ceritanya.


Jantungku berdegup kencang, benarkah demikian ceritanya? Jadi aku hanya bermimpi? Lalu bagaimana dengan.... Apakah aku boleh melupakannya sekarang?


Bahkan aku tidak tau lagi mana kenyataan dan mana mimpi. Aku takut jika harus kembali lagi ke dunia itu. Aku memeluk Ryu, "Aku takut Ryu. Aku bermimpi buruk selama ini. Aku takut aku tidak bisa kembali, dan kamu...kamu. aku takut tidak bisa melihatmu lagi." Airmataku mulai mengalir membasahi pundak Ryu.


Ryu dan Jane mengusap punggungku, menenangkanku.


"Tenanglah Kei. Itu hanya mimpi buruk. Kamu tidak akan kehilangan aku karena aku selalu ada disisimu. Lupakanlah mimpi itu dan anggap saja kamu akan memulai kembali hidup bahagiamu." jawab Ryu tersenyum.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2