My Upside Down World

My Upside Down World
Surprise


__ADS_3

Setelah aku mengetahui kenyataan bahwa aku tidak bisa mereset permainan atau level ini, aku mengambil keputusan untuk menikmatinya saja. Kalau Tuhan berbaik hati, pasti Dia akan menolongku keluar dari sini bukan? Jadi aku akan tetap menjalani apa yang aku inginkan disini sambil menyelesaikan semua tantangan di setiap level.


Satu-satunya penghiburku adalah Zen. Pria itu benar-benar selalu ada di sampingku. Baiklah, akan aku lakukan sesuai dengan kata hatiku.


"Hai Zen." Sapaku suatu siang.


"Makan siang yah? Let's go!" Katanya seperti biasa kemudian Zen merangkulku.


Sesampainya di atap, aku membuka kotak bekalku dan seperti yang sudah kuharapkan Zen selalu terpukau melihat masakanku.


"Wowh, Kei." Sahutnya.


Aku tersenyum tersipu, "Cobalah." Aku memberikan satu kotak bekal lagi untuknya.


"Bagaimana?" Aku bertanya harap-harap cemas.


Zen mengambil satu onigiri yang sudah kuisi dengan salmon dan minyak wijen, "Hmmm, ini enak sekali Kei. Kamu pandai sekali membuatnya." Katanya sambil mengunyah.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benakku, "Zen, maukah kamu menjadi kekasihku?" Aku tau pertanyaan itu gila tapi paling tidak ini bisa membuat Iria lengah dan aku bisa masuk di antara Iria dan Ryu.


Zen ternganga mendengar pernyataanku, "Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Zen mengorek-ngorek telinganya.


Aku mengangguk, "Iyalah. Ayo kita berkencan." Ajakku lagi.


Zen memegang keningku, "Badanmu tidak hangat dan kamu dalam keadaan sadar. Apa kamu terbentur lagi?" Tanya Zen lagi.


Reaksi Zen manis sekali dan membuatku berdebar sungguhan, "Aku sehat dan aku dalam keadaan sadar sepenuhnya. Bagaimana? Jangan biarkan aku patah hati." Ucapku.


Zen tersipu malu, "Ba.. baiklah jika kamu memaksaku." Sahutnya.


"Benarkah?" Aku bertanya lagi untuk meyakinkan diriku sendiri.


Zen mengangguk, "Tentu saja. Tapi kamu mendahuluiku aku menunggu saat Natal tiba untuk menyatakan cintaku. Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu namun kamu mengacaukannya." Katanya sambil merengkuhku dalam pelukannya.


Segala rencanaku pun berantakan hanya karena melihat senyum Zen. Bagaimana ini? Biarlah, aku akan tetap mengikuti kata hatiku.


Saat ini aku sudah mengantungi tiga orang teman, termasuk di dalamnya mr. Sean. Untuk Jane dan Bern akan kupikirkan nanti. Aku harus bergerak cepat, cerdik seperti ular dan tulus seperti domba.


Hari Minggu itu, aku mengunjungi Ryu. Aku mengetuk pintu apartemennya karena aku tidak mau asal dobrak seperti saat itu. Dan aku sudah menghubungi Ryu tadi.


Tok...tok


Tok...tok


Ryu membukakan pintunya, "Oh, masuklah." Katanya mempersilahkanku masuk.


"Mana Iria?" Aku bertanya karena begitu aku masuk aku pikir aku akan langsung bertemu dengan wajah galak Iria.


"Kamu mencariku atau Iria?" Tanya Ryu ketus.


"Menurutmu?" Aku kembali bertanya kepadanya.

__ADS_1


Ryu berjalan menuju tempat duduknya yang biasa ia duduki, di depan komputer kesayangannya. Saat di dunia nyata aku berpikir bagaimana supaya aku bisa menjadi komputer Ryu.


"Ada perlu apa?" Tanya Ryu dingin, tangannya sudah sibuk memainkan keypad komouter di hadapannya.


"Apa kamu membuat game lagi?" Aku memberanikan diri mendekatinya dan melihat ke arah layar sama seperti yang sering kulakukan di dunia nyata.


Ryu mengangguk, "Ada perlu apa Kei?" Tanya Ryu lagi.


"Ehem, aku berkencan dengan seorang pria." Ujarku.


Ryu terdiam sebentar lalu melanjutkan aktifitasnya tanpa mempedulikanku.


"Ryu, bagaimana ini? Apa kamu tidak kehilangan aku kalau aku berkencan dengan orang lain?" Aku kembali memancingnya.


Ryu menggebrak meja komputernya,


Brak!


"Lalu aku harus apa? Apa kamu berharap aku akan berkata jangan Kei, jangan tinggalkan aku! Begitu?" Tanya Ryu gusar.


"Ya tidak harus begitu, maksudku dulu kita sangat dekat dan kamu sangat kesal jika ada yang mendekatiku. Jadi kali ini aku meminta ijinmu." Sahutku dan kuberikan sebersit memori untuknya siapa tau dia mengingat itu dan menyukaiku seketika.


Ryu menatapku namun aku sama sekali tidak merasakan getaran apa pun, berbeda sekali dengan Zen. Apa yang terjadi denganku? Sadarlah Kei! Zen itu tidak nyata, memang semua yang tidak nyata itu memabukkan. Ayolah Kei!


"Baiklah, dengan siapa kamu berkencan?" Tanya Ryu pada akhirnya.


"Zen." Aku menjawabnya.


"Ada apa dengan Zen?" Aku bertanya lagi kepadanya.


"Tidak cocok denganmu! Karena dia terlalu baik untukmu!" Tukasnya.


Aku mengernyitkan keningku. Apakah maksudnya Ryu cemburu?


"Maksudmu aku tidak pantas menjadi kekasihnya?" Tanyaku.


"Seperti itulah." Jawab Ryu singkat.


"Huh! Bilang saja kami cemburu padaku." Tukasku.


"Untuk apa cemburu kepadamu? Aku sudah punya Iria kenapa harus cemburu? Aku tidak pernah paham jalan pikiranmu." Kata Ryu tanpa melihatku.


Aku kesal! "Baiklah, aku pulang!" Aku segera keluar dari apartemennya dengan perasaan kesal tak terkira.


***


Selesai sudah masalahku dengan Ryu, aku pikir aku bisa membuatnya cemburu tapi ternyata aku salah. Aku mendongak sedikit melihat hatiku, masih tiga setengah. Wahai hatiku bertahanlah, aku berharap dalam hati.


"Guys, aku mau mengundang kalian ke pesta yang akan aku adakan di atap apartemenku pekan minggu ini. Pesta ini untuk memperingati hari jadiku dan Zen." Hari itu aku membagi-bagikan flyer undangan kepada teman sekantorku dengan harapan Jane dan Bern akan datang dan aku bisa berkesempatan untuk mendekati mereka.


Dan dengan hanya mengaitkan nama Zen di undanganku sontak saja teman sekantorku berbisik-bisik seperti lebah yang berdengung.

__ADS_1


"Kei, benarkan kamu berkencan dengan Zen?" Tanya salah satu temanku.


Aku mengangguk, "Yup, boleh di tanya kepada Zen langsung." Sahutku.


Pancinganku berhasil karena Iria melirik ke arahku tapi aku pura-pura tidak melihatnya.


Zen menghampiriku sesuai dengan harapanku, merengku pinggangku dan mengecup bibirku, "Acara ini bukan acara formal karena hanya untuk bersenang-senang saja. Kalau kalian tidak ada acara malam itu silahkan datang." Kata Zen mengundang.


Setelah keramaian dan huru hara, Iria mendekatiku dan mengajakku berbicara di atap kantor kami.


"Apa kamu sudah gila?" Tanya Iria.


"Belum." Aku menjawabnya santai.


"Atau menyerah? Aku tidak pahan jalan pikiranmu Kei." Kata Iria lagi.


Aku hanya tersenyum melihat reaksi Iria, "Kamu memintaku untuk mencari jalan, dan aku menemukannya." Aku menjawab Iria.


Namun sepertinya Iria kurang paham dengan jawabanku, "Maksudmu? Kamu sudah menemukan strategi untuk menyelesaikan level ini?" Tanya Iria.


"Tentu saja. Aku sering bermain game dan aku tidak pernah kalah saat harus berhadapan dengan vilain sebuah program sepertimu. Dan aku selalu mendapatkan high scores jadi inilah jalanku saat ini." Aku menjelaskan kepadanya.


"Aku hanya memperingatkanmu untuk selalu berhati-hati. Aku tidak ingin kamu memenangkan permainan ini tapi aku hanya menyayangkan segala yang kamu miliki hilang begitu saja kalau kamu kalah." Kata Iria lagi.


Aku memandangnya serius, "Aku tau dan saat ini aku juga sedang berhati-hati. Terimakasih atas perhatianmu." Sahutku.


Sore itu aku pulang bersama Zen, kami berbincang-bincang sepanjang perjalanan kami. Zen memang pria ideal, dia mendengarkan dan ada saatnya dia berpendapat. Tapi aku tidak akan luluh dengan pesonanya.


Begitu sampai di depan apartemenku Zen berpamitan dengan memberikanku ciuman manis nan lembut.


Tak lama Zen pergi aku teringat sesuatu. Aku bergegas menyusul Zen tapi Zen cepat sekali.


Aku berlari dan mencarinya hingga sampai depan apartemenku aku melihat Zen dan Ryu sedang berbicara. Aku mendekati mereka perlahan, aku berjingkat-jingkat dan bersembunyi di dekat semak-semak rimbun.


"Apa maksudmu, Zen! Kamu tidak menyukai Kei?" Tanya Ryu.


Deg!


Apa aku salah dengar? Jantungku mulai berpacu dengan cepat.


"Aku menyukai dia dan aku tau Keira bukan berasal dari sini. Aku ingin Kei berada di sisiku selamanya. Aku tidak akan membiarkan Kei kembali ke dunianya. Maka dari itu, aku meminta kepadamu untuk memgambil keputusanmu itu dengan cepat!" Tukas Zen.


Aku tidak mempercayai pendengaranku! Apa maksud Zen? Selama ini dia berbohong kepadaku? Dan Ryu! Keputusan tentang apa itu?


Aku semakin mendekat dan fokus mendnegarkan.


"Aku hanya menganggap Kei sebagai teman masa kecilku. Dan tanpa kamu minta pun aku akan tetap mengambil beasiswaku ke luar negri itu." Jawab Ryu.


"Bagus. Segerakan saja. Semakin cepat kamu pergi semakin cepat aku mendapatkan Keira." Kata Zen.


Aku menekapkan kedua tanganku, benarkah? Ryu akan pergi? Lalu bagaimana denganku?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2