My Upside Down World

My Upside Down World
I'm In Love


__ADS_3

Deg


Deg


Game over? Aku harus mengulang permainan di level ini atau bagaimana?


Jantungku terus berdegup kencang dan seperti biasa Iria sudah berada di depanku dengan latar di atap kantor.


"Si bodoh ini! Kenapa bisa kamu game over? Kamu tau kan hatimu akan berkurang?" Tukas Iria.


"Jadi? Apakah aku harus mengulang?" Tanyaku.


Iria berpikir, "Tidak perlu karena kamu memenangkan tantangan di level ini. Hanya saja hatimu akan kembali menjadi biru begitu juga dengan hati Ryu." Jawab Iria.


"Kenapa kamu tidak membuat Ryu yang berusaha mencintaiku?" Sahutku memprotes situasi yang tidak adil ini.


Iria tersenyum, "Ketika nanti hati Ryu sudah berwarna hijau dia akan menghampirimu dan membuatmu jatuh cinta kepadanya." Jawab Iria.


Aku menghela nafas, "Bagaimana kalau aku maksudku, sudahlah. Lupakan." Sahutku.


Iria tersenyum senang, "Aku tau yang kamu pikirkan. Apa kamu tau di dunia yang tidak nyata ini akan ada cinta? Semua sudah di program Kei. Zen misalkan, dia sudah di program untuk membuatmu bahagia. Kenapa kamu tidak bisa melihat itu?" Kata Iria.


Deg!


Pernyataan Iria membuatku tersadar. Aku mencerna kata-kata Iria itu.


Di dunia permainan ini hanya aku satu-satunya manusia paling nyata yang ada, sekarang di tambah Ryu kecil. Selebihnya mereka hanyalah sistem dari sebuah program yang di ciptakan oleh Ryu.


Bagaimana bisa aku mencintai sesuatu yang tidak nyata seperti Zen?


Saat ini aku bahkan tidak bisa membedakan mana nyata dan mana yang tidak nyata. Perasaanku pada Zen nyata, tapi belum tentu perasaan Zen nyata terhadapku sedangkan dia sendiri hanyalah sebuah program bukan manusia.


Betapa bodohnya aku!


Aku berlari menghampiri Ryu kecil, "Ryu! Ryu!"


Ryu yang sedang asik makan bola ubi buatanku tidak mengacuhkanku.


"Ryu! Ryu! Ryu! Ryu! Ryu!" Sahutku berkali-kali memanggil namanya.


"Berisik!" Tukas Ryu ketus, "kenapa memanggilku sampai berulang kali seperti itu?" Tanya Ryu.


Aku tidak akan menangis, "Ryu tahukah kamu kalau semua yang ada di dalam dunia permainan ini tidak nyata?" Tanyaku.


Ryu mengangguk, "Aku tau. Apakah kamu melakukan suatu kebodohan?" Tanya Ryu kali ini dia tinggalkan bola ubi manisnya.


Aku terduduk dan menyesali kebodohanku, "Ryu, maaf kalau aku tadi galak padamu." Sahutku berusaha tegar.

__ADS_1


Ryu kecil melompat ke tanganku kemudian menaiki lenganku dan menatapku, "Kamu menahan airmatamu, Kei. Katakan padaku ada apa?" Tanya Ryu.


Aku kembali menggeleng, "Tidak ada. Aku dan Zen memenangkan pertandingan basket tadi. Ada Ryu dan Iria juga disana." Jawabku.


Ryu kecil memukul hidungku, "Pembohong! Katakan padaku apa yang terjadi?" Desaknya.


Airmataku menetes,


Tes


"Hiks, Ryu. Aku bodoh." Sahutku terisak, "bisa-bisanya aku jatuh cinta pada Zen. Padahal baik dia maupun perasaannya kepadaku itu tidak nyata. Aku bodoh!" Tangisku.


Ryu memandangku bersimpati, "Kalau soal kamu bodoh aku sudah tau sejak lama. Tapi untuk perasaanmu aku tidak menyangka kamu punya perasaan sedalam itu terhadap Zen." Kata Ryu.


"Aku juga tidak tau Ryu, dan aku baru menyadari kalau Zen tidak nyata itu menyakitkan sekali Ryu." Jawabku, tangisanku sudah semakin kencang.


Ryu menenangkanku, andai Ryu besar mungkin dia akan memelukku tapi karena sekarang Ryu mengecil dia hanya bisa menyandarkan kepalanya ke pipiku.


"Maafkan aku Ryu." Sahutku lagi meminta maaf kepadanya.


"Tidak perlu meminta maaf Kei karena aku yang menciptakannya karena kupikir akan sempurna sekali jika mereka berpasangan. Aku pun tidak menyangka akan masuk ke dalam sini." Jawab Ryu.


Mendengar ucapan Ryu, tangisanku semakin menjadi-jadi dan akibatnya mataku bengkak keesokan harinya.


***


Aku tidak tau harus bagaimana, ini tidak nyata tapi terlalu indah untuk dikatakan tidak nyata. Aku menerima bunga rumput yang diikat dengan pita berwarna putih, "Terimakasih. Ini indah sekali Zen." Sahutku mengucapkan terimakasih.


"Sepertinya kamu sedang sedih, Kei. Ada apa? Apa makhluk kecil itu mengganggumu lagi?" Tanya Zen.


"Kamu yang menganggu!" Tukas Ryu kecil dari atas pundakku.


Syukurlah Zen tidak mendengar ucapan Ryu itu.


"Ryusan tidak menggangguku kok Zen." Jawabku. Tak lama kami sudah berada dalam perjalanan dan seperti biasa aku mulai terlatih dalam memgumpulkan koin-koin yang tersebar di jalanan.


"Kei, selamat pagi!"


Aku menoleh ke arah sumber suara, "Selamat pagi Ryu." Balasku.


Warna hati Ryu di tengah-tengah antara biru dan hijau, begitu juga dengan warna hatiku.


Aku tertunduk lesu. Zen memperhatikanku dan menggandeng tanganku, "Hari ini kita ke taman bermain saja yuk." Sahut Zen.


Aku mengangguk setuju, "Boleh." Sahutku.


Ryu kecil memperingatkanku, "Kei! Kei! Apa yang kamu lakukan! Hei Kei! Kembali!" Perintahnya.

__ADS_1


Aku tidak menggubrisnya aku hanya ingin memastikan perasaanku apakah aku benar-benar menyukai Zen yang tidak nyata ini? Atau hanya berpura-pura senang saja?


Sesampainya di taman bermain, Zen membelikanku es krim cone yang tinggi sekali.


"Makanlah, mungkin saja ini bisa membuatmu tersenyum sedikit." Katanya.


Aku menerimanya, "Terimakasih." Sahutku.


"Huh, pencitraan!" Tukas Ryu kecil.


Zen menggandeng tanganku dan aku berjalan sambil menikmati es krim yang diberikannya kepadaku. Ryu kecil menarik-narik rambutku, "Kei!" Sahutnya.


"Kei! Kei! Kei!" Panggilnya berulang kali.


Aku menoleh ke arah Ryu dengan kesal, "Apa sih?" Jawabku kesal.


"Es krimmu tampak enak, aku mau minta." Katanya, dan tampak kepulan asap di atas kepalanya.


"Ini es krim pencitraan!" Sahutku dan mengacuhkannya.


Sepanjang hari itu, Zen menghiburku dan membuatku tertawa. Andai semua ini nyata aku tidak akan sesakir dan sesedih ini kan?


Airmataku mulai menetes kembali,


Tes!


Tes!


"Kei kamu kenapa?" Tanya Zen.


Aku menangkupkan kedua tangan di wajahku, "Aku hanya bingung Zen." Sahutku.


Zen mengambil tanganku dan menggenggamnya, "Hei, kamu bisa cerita padaku Kei. Kamu bingung kenapa?" Tanya Zen lagi kemudian ia menarikku dalam dekapannya.


Hangat. Pelukan Zen selalu hangat dan membuatku nyaman. Aku tidak peduli dengan Ryu kecil yang terus memanggilku seperti rekaman rusak.


"Zen, andaikan kamu nyata aku tidak ada sedih seperti ini. Andikan kamu di duniaku aku akan sangat menikmati masa-masa ini Zen. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Bagaimana ini Zen?" Tanyaku terisak.


Zen memandangku, "Menurutmu aku tidak nyata?" Tanya Zen.


Aku mengangkat bahuku, "Tidak kan? Kita berbeda dunia Zen. Kamu tidak nyata." Sahutku semakin sedih.


"Aku akan membuat ini menjadi nyata, Kei." Jawab Zen kemudian ia memberikan ciuman termanis di bibirku.


"Bagaimana caranya?" Tanyaku.


Zen berbisik, "Ajak aku ke duniamu. Aku tau bagaimana caranya keluar dari sini."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2