
"Zen?" Tanyaku
"Hai Kei. Senang bertemu denganmu lagi." Kata Zen tersenyum.
Di bawah sinar lampu temaran, wajah Zen yang tersenyum tampak manis sekali.
Ryu berdiri dan mendekati Zen dengan ragu-ragu ia menyentuh Zen,
Puk
Puk
"Ka...kamu nyata Zen? Bukan hologram? Maksudku bagaimana bisa?" Tanya Ryu, wajahnya berada di persimpangan antara takut, takjub, dan kagum.
"Atau kita yang masih berada di dunia permainan?" Tanyaku.
Zen duduk di bale-bale tempat aku dan Ryu duduk tadi, "Virus. Karena kalian terus berpindah, sistem permainan itu mengindentifikasi kalian sebagai pembawa virus. Aku bisa keluar dari dunia game karena memanfaatkan kerusakan yang disebabkan oleh virus itu." Kata Zen menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan Iria?" Tanya Ryu.
Zen menggelengkan kepalanya, "Dia tokoh utama jadi dia pemegang sistem utama di permainan ini dan andaikan dia keluar dari sana dia akan musnah dan hilang. Dia terjebak di dalam sana." Jawab Zen.
"Ada satu hal yang menarik yang baru saja kuketahui, karena virus di dalam permainan itu, kalian akan terus terlempar keluar masuk ke dalam dunia sana. Status permainan kalian belum selesai hanya naik level. Jangan kaget kalau tiba-tiba kalian masuk kembali kesana. Dan karena virus itu juga, Iria tidak bertahan lama. Ia harus menemukan bentuk baru setiap waktu supaya tetap bertahan hidup. Itulah kenapa ada Audrey." Sambung Zen lagi menjelaskan.
Aku melempar pandang ke arah Ryu yang memandangku juga, "Jadi nasib kita belum jelas?" Tanyaku kepada Zen.
"Bisa dikatakan demikian." Jawab Zen singkat.
Tampaknya Zen senang sekali berada di dunia ini. Ia melihat ke sekeliling dengan pandangan antusias.
"Bagaimana caranya supaya kami tidak terlempar kesana?" Tanya Ryu.
"Selesaikan permainan kalian." Jawab Zen. Setelah menjawab itu Zen tampak sedih dan tertunduk, tak beberapa lama ia kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Cepat atau lambat aku dan Iria akan menghilang dan harus menghilang. Tidak mungkin kalian berada di dunia permainan itu terus kan? Begitu pula denganku. Suatu permainan harus selalu di selesaikan karena kalau tidak akan termakan virus. Mau tidak mau kami akan punah juga." Jawab Zen.
Kami semua terdiam, terutama Ryu yang tidak menyangka bahwa permainan yang ia ciptakan bisa berdampak sebesar ini.
Ryu menepuk Zen, "Baiklah, aku akan tinggalkan kalian berdua disini karena harus ada yang aku kerjakan terlebih dahulu." Kata Ryu.
Saat ini hanya ada aku dan Zen, jantungku berdetak kian cepat tapi tidak ada satu patah kata pun yang bisa kukeluarkan.
"Bolehkah aku memelukmu, Kei?" Tanya Zen.
Airmataku merembak terjatuh dengan derasnya begitu Zen memasukanku ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu Zen. Sangat. Maafkan aku di saat pertemuan kita terakhir disana. Maafkan aku." Ucapku sambil terisak.
Zen tidak bicara sepatah kata pun akan tetapi belaian tangannya mampu menenangkanku.
"Habiskan waktumu bersamaku Kei sebelum aku menghilang dari sini. Karena aku tidak tau berapa lama aku sanggup bertahan di dunia ini." Kata Zen.
Aku mengangguk dalam pelukannya.
***
Zen tinggal bersama Ryu yang setengah hati menerimanya karena dia masih berpikir Zen adalah tokoh yang jahat.
"Baiklah, Zen akan tinggal bersamaku. Ayo Zen." Sahutku.
Ketika Zen hendak mengikutiku Ryu menahannya, "Kamu tidur di sofa!" Sahut Ryu tiba-tiba.
Selesailah sudah acara pemiliham tempat tinggal sementara Zen.
Pagi ini seperti biasa aku berkunjung ke apartment Ryu untuk memberikan mereka makanan yang telah kubuatkan.
Tok... tok
__ADS_1
"Ryu." Aku mengetuk pintu apartemen Ryu tapi tidak ada jawaban dari mereka.
Tok...tok
"Zen." Aku memanggil Zen kali ini, tapi tetap tidak ada jawaban.
Aku mengetuk lebih kencang,
Tok...tok
Tok...tok
"Ryu,! Zen! Aku membawakan kalian makanan, aku sudah terlambat." Aku kembali berseru.
Tok...tok
"Aku tinggalkan makanan kalian di depan pintu! Hati-hati dengan kucing yang berkeliaran. Aku berangkat kerja sekarang!" Tukasku kesal.
Kemana mereka? Kenapa tidak ada yang menjawabku? Dan karena aku masih penasaran, aku menghubungi ponsel Ryu.
Ring.... ring
Ring...ring
Tetap tidak ada jawaban.
Aku bergegas pergi meninggalkan apartment Ryu dengan sedikit kesal.
Sesampainya di kantor, Ryu belum merespon panggilanku atau mengirimkan pesan kepadaku.
Tidak mungkin kan mereka bertengkar sampai pagi? Atau mereka bermain? Atau mereka terhisap ke dunia game dan aku tertinggal karena aku tidak dekat komputer Ryu? Itu lebih mungkin.
Lalu? Bagaimana aku harus menyusul mereka?
Dok...dok!
Aku gelagapan, "I'm so sorry mr. Sean. Can I help you or you need something?" Tanyaku.
"Yes. I need you to preparing meeting room right now!" Tukas mr. Sean.
"Alright mr. Sean. I'll go right now." Ucapku.
Aku lupa ada meeting. Karena aku terlalu fokus kepada Ryu dan Zen, semuanya berantakan. Aku tidak akan memikirkan mereka lagi! Huh!
***
Selesai jam bekerja, Jane dan Bern menemuiku dengan wajah cetah ceria, "Kei, siapa pria seksi yang menjemputmu itu?"
Aku memandang mereka, "Pria seksi?" Tanyaku.
Mereka mengangguk, "Ya, sore ini kamu di tunggu oleh dua pria tampan." Kata Jane.
"Threesome, huh? Hahahaha." Tanya Bern menggodaku.
Aku tertawa, "Adakah tertulis di wajahku aku penggeman threesome?" Tanyaku.
"Kenalkan kepada kami Kei. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya." Sahut Jane.
Aku masih merapikan laporan-laporan yang telah kususun hasil rapat tadi untuk kuberikan kepada mr. Sean pagi ini.
Aku berjalan keluar dengan Jane dan Bern di samping kanan dan kiriku. Setelah sampai di pintu keluar aku melihat Ryu dan Zen sedang bermain. Entah apa yang mereka tertawakan dan entah apa yang mereka bahas, tapi ini pemandangan yang sangat indah.
"Boleh kuabadikan mereka Kei? Mereka seperti lukisan." Kata Jane dan mengambil foto mereka dengan ponselnya.
"Kei!" Ryu dan Zen melambaikan tangan kepadaku.
Aku membalas lambaian tangan mereka, "Hai."
__ADS_1
Aku memperkenalkan Jane dan Bern kepada Zen, "Kenalkan ini Zen. Zen ini itu mmm..."
"Zen ini saudaraku. Dia sedang berlibur bersamaku disini, ya kan Zen?" Jawab Ryu.
Jane dan Bern mengulurkan tangan mereka kepada Zen, "Bolehkah dia berlibur bersamaku, Ryu?" Tanya Jane centil.
"Tanyakan saja kepadanya." Kata Ryu.
Zen tersipu.
Setelah kami berpisah jalan dengan Jane dan Bern, Zen sangat terkejut melihat Jane dan Bern, "Tidak kusangka mereka berbeda sekali dengan di dalam game." Ucap Zen.
"Kemana saja kalian tadi pagi!" Aku teringat kejadian oagi tadi saat aku datang hendak menemui mereka.
"Maafkan kami. Aku membantu Ryu memperbaiki sistem game My World. Dan kami lupa waktu." Jawab Ryu.
"Aku pikir kalian tersedot kembali ke dalam dunia game. Aku takut sekali." Sahutku.
Zen dan Ryu merangkulku, "Kami akan segera keluar jika kami terjebak Kei. Maaf membuatmu khawatir." Kata Ryu lagi.
***
Malam itu Zen menemuiku di apartemenku.
"Kei, bagaimana kalau aku nyaman tinggal di dunia ini? Ryu baik sekali, dan kamu, dan kalian. Apalagi tadi Ryu sempat memakai kata kami saat kamu mengkhawatirkan kami. Itu membuatku terharu Kei." Kata Zen.
"Ryu memang baik. Itu yang membuatku jatuh cinta kepadanya, Zen." Jawabku.
"Dan lagi, aku selalu menganggapmu nyata. Begitu pula dengan Ryu." Aku menambahkan.
Bzzt
Bzzt
"Zen! Kamu baik-baik saja?" Tanyaku.
Zen seperti sebuah hologram yang hilang timbul.
Bzzt
Bzzt
"Kei, apa yang terjadi?" Tanya Zen ketakutan.
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Ryu, "Ryu, cepatlah kesini. Ada yang aneh dengan Zen."
Zen memelukku, "Kei, aku takut." Kata Zen.
"Tenanglah Zen. Aku akan selalu bersamamu." Sahutku menenangkan Zen.
Bzzt
Bzzt
***
Guys, mampir ke karya temanku yuk. Ceritanya seru loh
Blurb:
Azizah, seorang guru PAUD dan guru ngaji, harus kehilangan rahimnya karena kanker rahim. Tunangannya pun memutuskan hubungan mereka saat tahu Azizah tidak akan pernah bisa memberinya keturunan.
Irwansyah adalah suami dari Rela Ambarita, yang penyayang dan penyabar. Rumah tangganya yang harmonis menjadi hancur, saat Irwansyah minta izin untuk menikahi Azizah. Bahkan ibu kandungannya pun berubah jadi membencinya.
Kebaikan hati Rela, memberikan izin pada Irwansyah untuk menikahi Azizah setelah mendengar kisah pilu gadis itu. Akankah rumah tangga mereka bahagia di tengah gunjingan para tetangga yang menyebut mereka dengan pelakor dan istri bodoh? Tekanan batin dirasakan oleh kedua wanita itu. Ditambah dengan kedatangan tantenya yang suka mengadu domba dan menyebarkan gosip.
Apakah Irwansyah akan mempertahankan keduanya atau melepas salah satunya?
__ADS_1