
Aku merasa bodoh, bisa-bisanya mereka yang tidak nyata mempermainkan perasaan dan hidupku. Aku berlari ke apartemenku dan aku menonaktifkan ponsel serta mengunci dobel pintu apartemenku. Aku tumpahkan semua airmataku di bantal.
Aku kesal, kesal sekali! Aku ingin kembali, aku ingin pulang ke duniaku. Aku sudah muak bertemu dengan Iria, Ryu palsu bahkan Zen yang tidak pernah nyata. Aku benci mereka! Aku bahkan lebih membenci diriku sendiri karena bodoh.
"Hiks,"
"Hiks,"
"Hiks,"
Tidak ada yang mampu mendengar suara tangisanku dan aku tidak akan keluar dari kamarku sampai aku merasa pintar kembali.
Keesokan harinya Zen menjemputku di depan apartemenku dengan seikat bunga mawar putih yang indah sekali, "Selamat pagi Kei." Katanya, memberikan bunga itu kepadaku.
Aku tidak bisa tersenyum, tapi apakah tokoh-tokoh ini dapat membedakan apakah aku tersenyum atau tidak? Aku akan mencobanya.
"Pagi Zen, bunga ini cantik sekali. Terimakasih." Sahutku datar tanpa tersenyum. Reaksi Zen sungguh membuatku tertampar.
Dia tetap tersenyum dan tampak sangat puas, "Ayo Kei, aku akan mengantarmu sampai kantor." Katanya dan menggandeng tanganku.
Dalam perjalanan kami bertemu dengan Ryu. Ryu melambaikan tangannya ke arahku dengan senyum lebarnya dan wajah ceria, "Kei, selamat pagi!" Sahutnya.
Aku hanya membalas lambaian tangannya dengan singkat, dan ternyata pointku tetap bertambah! Lalu, kalau itu Ryu dalam game, kemana Ryu kecilku yang asli?
Karena kebodohanku Ryu asli menghilang padahal dia satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku saat ini. Aku menekan tombol berhenti sebentar kemudian mencari tulisan booster disana, dan aku mengambil turbo life untuk mempercepat kegiatanku sepanjang hari ini.
Begitu tombol itu diaktifkan, gerakanku menjadi sangat cepat, aku makan dengan cepat, rapat dengan cepat, mengerjakan laporan dengan cepat, bahkan sekedar berbicara pun bisa menjadi sangat cepat. Luar biasa!
Mungkin hanya menghabiskan waktu selama lima menit untuk sampai ke sore hari karena menggunakan booster turbo life itu.
Aku masih tetap merasakan lelah yang sama, kupikir tidak akan lelah ternyata sama lelahnya bahkan lebih melelahkan.
Aku merubuhkan tubuhku di atas ranjangku, kemudian memejamkan mataku.
Airmataku kembali bergulir membasahi lengan dan pipiku, "Ryu kamu dimana? Aku tidak akan memaafkan diriku kalau kamu hilang atau tersesat di dunia ini." Ucapku terisak.
Keesokan harinya aku mengulangi aktifitas yang sama seperti hari kemarin, sampai pada akhirnya aku memgumpulkan lebih dari seratus ribu koin dan sistem permainan ini memintaku untuk segera membeli sebidang tanah untuk aku bangun menjadi sebuah rumah.
Persaingan antara Ryu dan Zen mulai ditunjukkan disini. Aku akan memilih siapa yang paling kuat dan paling pintar diantara mereka.
Benar saja, hari ini persaingan mereka pun di mulai. Mereka sudah menunggu di depan apartemenku, "Kei, selamat pagi." Sapa Zen dan memberikanku setangkai bunga matahari.
"Selamat pagi Kei." Sapa Ryu tak mau kalah, ia membawakan roti dan kopi kesukaanku.
__ADS_1
Aku menerimanya dan menyesap sedikit kopi pemberian Ryu itu kemudian kuberikan senyuman semanis mungkin untuk membalas kopi dan rotinya.
"Kei, hari ini bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke kota sebelah?" Ajak Ryu.
Aku hanya tersenyum sekenanya. Zen mendorong Ryu, "Jalan saja denganku Kei." Kata Zen.
Aku tidak mengindahkan mereka berdua, membosankan sekali setiap hari aku harus melakukan aktifitas yang sama setiap minggunya.
Hari itu, aku menbuat surat pernyataan diri untuk kuberikan kepada mr. Sean. Sontak saja dia terkejut, "No way! I never give you permission to resign! Never Kayla!" Tukasnya dan entah sampai kapan dia akan salah menyebut namaku.
Jane dan Bern juga terkejut akan keputusanku yang mendadak ini, "Lalu bagaimana kalau kami ingin bermain denganmu?" Tanya Bern
"Ada aku. Aku bisa bermain dengan kalian." Sahut Iria.
"Betul sekali kalian bisa bermain bersama Iria." Ucapku tertawa.
Jane memelukku, "Tidak akan pernah sama Kei. Kamu teman baik yang sangat baik untukku." Ucap Jane.
Setelah berbasa basi, akhirnya aku dengan di temani Zen dan Ryu pergi ke kota sebelah. Begitu sampai aku membeli sebidang tanah dan aku dengan dibantu oleh Ryu dan Zen membangunnya menjadi tiga rumah.
***
Sesampainya di kota sebelah, benar-benar ini seperti lahan kosong yang sering kulihat di permainan yang dibuat oleh Ryu.
Dengan cepat ia menyingkirkan rumput liar, semak-semak yang lebat, dan kayu-kayu tidak jelas yang entah datang darimana.
Setelah itu, Ryu membuat rumahnya. Hanya dengan tak tok tak tok beberapa menit,
Buuummm!
Tiga rumah telah selesai di bangun. Zen mengajakku untuk berkeliling.
"Kei, kenapa kamu diam saja?" Tanya Zen.
Hati di atas kepalaku berwarna putih, tidak hitam lagi atau tidak berubah menjadi ungu.
"Aku rindu rumahku." Jawabku sekenanya.
"Rumahmu? Kamu belum ada sehari disini Kei. Dan lagi dari kemarin kamu bukan seperti Kei yang kukenal." Kata Zen.
Emosiku menggelegak, "Tau apa kamu tentang aku, Zen? Kei yang kamu kenal Kei yang seperti apa? Kamu tidak pernah nyata begitu pula dengan semua yang ada di dunia sialan ini!" Sahutku kesal. Aku menahan sakit dan tangisku. Aku tidak mau menangis hanya karena masalah bodoh seperti ini, dan lagi ini permainanku jadi aku harus menyelesaikannya sendiri.
Zen memelukku, ini seperti sihir. Hatiku mencair begitu Zen memelukku. Perasaanku ini terlalu murahan! Aku tidak suka hatiku sendiri, aku bahkan membencinya.
__ADS_1
"Kei, suatu saat nanti aku akan menjadi nyata sehingga pada akhirnya aku pantas mendampingimu." Ucap Zen.
Aku selalu tidak mengerti andaikan tokoh-tokoh karakter ini mengungkapkan isi hati mereka, apakah ini yang dimaksud Ryu dengan bergerak sendiri? Karena aku merasa ucapan mereka berasal dari hati.
"Dengan apa?" Tanyaku.
"Dengan menyelesaikan permainan ini dan keluar bersamamu, Kei." Jawab Zen.
"Apa itu bisa membuatmu jadi nyata? Kalian semua menipuku, aku pikir ini dunia nyata karena aku berhasil menyelesaikan permainan sebelumnya tapi Iria tiba-tiba saja berkata padaku, ini masih di dunia permainan. Kamu tau Zen, betapa putus asanya aku saat ini. Pernyataan cintamu kupikir itu nyata. Kalian semua mempermainkanku! Bahkan kalian mengobrak-abrik hatiku! Itu jahat!" Seruku geram.
Tidak! Aku tidak akan menangis! Aku hanya akan marah saat ini kepada siapa pun yang aku temui.
"Pernyataan cintaku itu nyata Kei! Itu di luar sistem dan aku tidak di program untuk menyatakan cinta. Kalau membawakan bunga untukmu, ya itu termasuk program. Tapi menyatakan cinta, itu inisiatifku sendiri dan itu yang aku rasakan padamu. Aku juga tidak tau mengapa aku bisa bergerak sendiri tapi begitu aku bisa bergerak sendiri, aku melakukan apa yang kumau." Sahut Zen.
Ucapannya tampak nyata bagiku, tapi apakah aku bisa mempercayainya?
"Kalau begitu bantu aku keluar dari dunia ini." Ucapku.
"Aku akan membantumu walau pun nantinya aku akan berpisah denganmu." Jawab Zen.
"Dengarkan aku! Selesaikan target yang di berikan oleh permainan ini kemudian hatimu. Hatimu tidak boleh hitam dan tidak boleh putih, mengerti? Setelah itu kita akan mudah menyelesaikannya." Kata Zen lagi menjelaskan.
Aku mengangguk, "Baiklah, sebelum itu bantu aku mencari Ryusan." Pintaku.
Zen menggeleng, "Tidak bisa. Dia akan menjadi tokoh baru yang harus kamu buka."
"Apa! Bagaimana bisa Ryusan menjadi tokoh karakter? Dan bagaimana cara membukanya?" Tanyaku.
"Dengan menyelesaikan level ini." Jawab Zen singkat.
...----------------...
Aku bawa cerita temanku niy, mampir kesana yah
Blurb
Sudah tiga tahun Bara dan anaknya ditinggalkan oleh sang istri, Silvia yang lebih memilih mengejar karir daripada mempertahankan rumah tangganya. Kondisi perekonomian Bara jauh meningkat, namun tidak memiliki wanita di sampingnya. Zack menyarankan agar Bara mau menikah lagi dan mengakhiri kesendiriannya. Namun, Bara masih trauma menjalin hubungan lagi dengan wanita.
Retha, seorang guru TK dengan segala permasalahannya, terpaksa harus mengambil pekerjaan sampingan sebagai pemberi layanan pijat plus plus demi membayar hutang sang ayah dan biaya sekolah adiknya.
Kedua insan yang saling membutuhkan itu akhirnya dipertemukan saat Retha ternyata mendapat panggilan untuk melayani Bara yang ternyata ayah dari muridnya. Meskipun memalukan, Retha tetap melakukan pekerjaannya demi uang. Sementara, Bara juga membutuhkan seorang wanita untuk mengisi kekosongan hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah Bara dan Retha? Akankah cinta mereka berlabuh?
__ADS_1