
Tit
Tit
Tit
Suara pemberitahuan waktuku sudah mulai berbunyi, dan aku hanya mempunyai sisa waktu sekitar lima menit.
Aku harus bisa memilih dengan cepat, atau aku akan kehabisan waktuku dan meluncur kembali ke bawah, tempatku memulai.
Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat ke arah bendera,
Satu
Dua
Hup,
Teet....teet....teet...teet
Pot di kakiku menghilang dan kakiku kembali lagi.
Suara tepuk tangan riuh rendah terdengar dan semakin lama semakin mendekat,
Pop!
"Selamat Keira kamu telah berhasil melewati tantangan di level enam ini, aku harap di level berikutnya kamu konsisten terhadap pilihanmu karena itu akan membantumu segera keluar dari permainan ini." Kata Audrey yang berubah-ubah wajahnya menjadi Iria.
Musik pemberitahuan notifikasi telah muncul, dan sebuah amplop merah melayang dan menyala-nyala di hadapanku,
Tring!
"Selamat! Kamu telah naik ke level 7. Perbanyak koinmu dan kamu semakin dekat dengan cinta sejatimu!"
Splash!
Amlop itu melayang, berhenti di sebelah kanan atas kepalaku, dan berpendar-pendar disana.
Tiba-tiba saja aku sudah kembali ke rumahku, dan bibi Jemima menyambut kedatanganku.
Aku melihat koinku, tersisa 1 koin.
Aarrgghh! Aku harus mengumpulkannya kembali. Tubuhku memang tidak merasa lelah, akan tetapi hati dan sisi manusia normalku merasakan hal itu.
Malam itu aku segera terlelap, mungkin karena lelah. Aku bermimpi aku di kejar oleh sekelompok manusia pot yang mengacung-acungkan kampak ke arahku. Dan berisik sekali karena mereka semua berbunyi duk, duk, dan duk.
Aku terbangun dengan keringat membanjiri tubuhku, "Mimpi yang mengerikan." Ucapku kepada diriku sendiri. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil segelas air dingin di dapur, namun tiba-tiba
"Aaaa!"
Bibi Jemima dengan rambut di gerai dan memakai gaun tidur berwarna putih mengejutkanku karena ia muncul dengan tiba-tiba di hadapanku.
"Bibi! Kamu mengagetkanku!" Ucapku.
Bibi Jemima terkekeh, "Maafkan aku nona Kei, hehehe." Jawabnya.
"Apa aku membangunkanmu?" Tanya bibi Jemima.
__ADS_1
Aku menenggak minumanku kemudian menggelengkan kepalaku, "Tidak bibi, aku bermimpi buruk." Jawabku.
"Mimpi itu biasanya cerminan keinginan dan keresahan hatimu, nona." Ucap bibi Jemima.
Aku merenungkan ucapan bibi Jemima, "Sebenarnya itu ketakutanku." Jawabku, dan mengambil bendera bergambar Ryu di tanganku.
Aku memainkan bendera itu di tanganku.
Bibi Jemima seakan membaca pikiranku, "Bukan dia yang ingin kamu ambil, kenapa kamu tidak mengambilnya berdasarkan kemauan hatimu?" Tanya bibi Jemima.
Aku menghela nafas, "Karena aku ingin kekuar dari sini secepatnya." Sahutku.
Itulah alasan kenapa aku memilih Ryu. Dia nyata dan aku ingin keluar dari sini bersamanya. Sedangkan Zen, ya aku mencintainya tapi dia bukan berasal dari dunia kami jadi aku memilih berdasarkan logikaku.
"Tidurlah nona. Besok akan melelahkan untukmu." Kata bibi Jemima.
Aku mengerutkan keningku, "Melelahkan? Memang apa yang akan terjadi?" Tanyaku kepada bibi Jemima.
"Besok pagi kamu akan segera mengetahuinya Nona." Jawab bibi Jemima.
Aku kembali ke kamarku dan tidak bisa melanjutkan tidurku lagi karena aku terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.
Apakah aku akan dikejar manusia pot sungguhan? Ataukah ada zombie? Atau ada sesuatu yang membuatku merasa sangat lelah?
***
Keesokan harinya, aku terbangun dan masih memikirkan apa yang akan terjadi.
Aku melihat bibi Jemima sudah menyiapkan sarapan berupa segelas susu, roti bakar dengan daging asap dan telur mata sapi.
Kami sarapan sambil berbincang tentang apa saja kegiatan yang akan kami lakukan hari ini. Bibi Jemima sama sekali tidak menyinggung tentang apapun yang telah dibahasnya tadi malam.
Setelah keluar tanda hati dari sapi-sapi itu, maka aku bisa memeraskan dengan mudah. Begitu pula dengan kuda, domba dan ayam-ayam. Lucu sekali bukan?
Bibi Jemima membantuku membawakan 4 ember besar susu sapi, dan sebongkah besar bulu domba. Semuanya kumasukan ke dalam gerobak besar.
Tiba-tiba seekor lebah besar berdengung dan mengejarku tanpa aku tau apa kesalahanku. Aku tidak mengusik sarangnya atau mengambil madunya.
Aku segera berlari dan,
Wuuut!
Muncul sebuah tas pinggang yang sudah terlilit rapi di pinggangku, seperti sudah di rencanakan aku membuka tas itu dan mengeluarkan isinya.
Aku mencari senjata atau senapan atau jaring-jaring raksasa untuk menangkapnya, tapi yang kutemukan hanyalah sebuah alat untuk memasak, sutil yang sangat besar.
Tanpa ragu, aku bersiap dengan sutilku dan layaknya seorang pemain baseball aku membentuk kuda-kuda dan kedua tanganku memegang sutil dengan mantap,
Splash!
Lebah raksasa itu mati hanya dengan sekali pukulan sutil.
Aku berjalan terseok-seok menuju rumahku sendiri, aku lemas sekali.
Blip
Blip
__ADS_1
Oh, tanda peringatan energiku menipis sudah berbunyi. Aku melihat koinku dan membeli sebuah roti croissant juga jus jeruk untuk menambah energiku.
Srusut!
Hanya bertambah setengahnya. Aku harus kembali ke rumah dan beristirahat.
Terbersit sebuah ide di benakku, "IRIA! AUDREY! ATAU SIAPA PUN KAMU, KELUARLAH!" Aku berteriak memanggil mereka.
Tak lama Iria datang, "Kenapa kamu berisik sekali sih Kei? Mengganggu saja!" Sembur Iria.
"Apa yang kamu lakukan kalau aku sibuk disini?" Aku bertanya kepadanya.
Dengan senyum puasnya Iria menjawab, "Aku menontonmu." Jawab Iria.
Orang ini gila! Aku yakin sekali.
"Apakah game ini bisa di pause? Aku kehilangan banyak energi saat melawan lebahmu itu!" Tukasku kesal.
"Berapa lama yang kamu butuhkan?" Iria bertanya kembali.
Aku berpikir dengan cepat sambil menghitung berapa waktu yang kubutuhkan untuk mengisi penuh energiku, "10 menit." Jawabku.
"Baiklah. Setelah sepuluh menit aku akan menghidupkanmu kembali." Kata Iria kemudian ia menghilang.
Aku di luar sistem permainan ini, jadi ketika permainan ini di pause, maka aku tidak akan diam. Aku akan tetap bergerak. Begitu pikiranku, dan
PAUSE
Tulisan Pause besar berwarna biru berkelap-kelip di depanku. Tulisan itu mengikutiku kemana pun aku melangkah.
Cerdas juga pikiranku, hanya aku yang tetap bergerak dengan bebas. Apa dengan ini aku bisa mencari Ryu? Tidak! Tidak! Itu curang. Bermainlah dengan professional, Keira.
Sepuluh menit ini aku gunakan untuk berbaring, duduk, dsn memeriksa apa isi tas pinggangku.
Tak lama sepuluh menit pun berlalu, dengan otomatis aku sudah berada di depan gerobakku kembali.
Aku mengecek energiku dan mereka sudah terisi penuh. Paling tidak kalau ada hewan aneh yang menyerangku aku sudah siap dengan senjataku karena aku sudah merapikan tas pinggangku berdasarkan tingkatan senjata yang paling bisa membunuh dengan cepat. Jadi, aku tidak perlu khawatir tentang itu.
"Bibi, aku akan menjual ini kepada Nyonya Cissy. Tunggu saja disini dan beristirahatlah." Ucapku kepada Bibi Jemima.
Aku mendorong gerobakku, "Eeeuuggh!" Ternyata berat sekali.
Aku mencoba mendorongnya kembali, "Eeuugghh!" Ah, ini berat sekali.
Aku terduduk dan berpikir, tiba-tiba saja seseorang menawarkan bantuan kepadaku,
"Mau kubantu untuk mendorongnya? Kelihatannys kamu lelah sekali?" Tanya pria itu menatapku, matanya mampu menembus hatiku dan mengusir siapa pun yang ada disana serta mengunci pintunya.
Deg
Deg
Deg!
...----------------...
Guys, mampir yuk ke karya temanku :
__ADS_1
Sebuah syarat pernikahan dari pria bernama Arvin telah disetujui Fayre. Karena kenangan pahit di hidup masing-masing, keduanya sepakat untuk menjalani pernikahan tanpa ada perceraian di masa depan. Lantas, bagaimana kah keduanya menghadapi masalah yang menerjang bahtera rumah tangga mereka? Mampukah Fayre menjaga syarat yang diajukan suaminya? Atau justru Arvin sendiri yang melanggar syarat tersebut?