
"Ma...maksudmu?" Tanyaku.
Jelas saja aku tercengang, bagaimana bisa dia membawaku kembali ke dunia nyata bersama dirinya?
"Ya, maksudku kita pergi ke duniamu. Kita akan tinggalkan Ryu dan Iria dan segala hal yang kamu benci disini." Ucapnya.
"Itu tidak mungkin Zen." Sahutku menyanggahnya. Maksudku, kalau pun ada yang kembali ke dunia nyata hanya aku dan Ryu, tidak Iria atau pun Zen.
"Tapi aku ingin selalu bersamamu, Kei." Kata Zen lagi.
Ryu kecil terdiam di bahuku. Dia tidak menanggapi apa pun dan tidak berkomentar apapun tentang pernyataan Zen ini.
Aku tidak menjawab pernyataan Zen, dan mengajaknya pulang, "Kita akhiri hari ini disini, Zen. Aku perlu berpikir." Sahutku.
Sesampainya di apartemen Ryu kecil memanggilku, "Kei, lihat ke atasmu." Pinta Ryu.
Warna hatiku menghitam, apa artinya itu?
"Kenapa dia menghitam Ryu?" Tanyaku.
"Apa karena kamu sedang bimbang? Bagaimana perasaanmu saat ini?" Tanya Ryu.
Aku merasakan apa yang di rasakan oleh hatiku, "Sepertinya aku sedang takut dan bimbang." Jawabku, "lalu kenapa kamu tidak berkomentar saat Zen mengajakku untuk keluar dari dunia ini bersamanya? Biasanya kamu super cerewet Ryu!" Tukasku tiba-tiba teringat kejadian di taman bermain tadi.
Ryu kembali terdiam, "Sepertinya sifat di setiap karakter utama yang kubuat ini di luar kendaliku, Kei. Aku tidak menciptakan mereka berkeinginan keras seperti ini. Konsep permainan ini adalah kamu yang berjuang untuk merebut hati Ryu. Hanya itu." Jawab Ryu.
"Maksudmu mereka bergerak sendiri?" Tanyaku.
Ryu mengangguk, "Untuk apa Iria menarikmu masuk ke dalam dunia permainan ini? Dan darimana ia mendapatkan sifat iri? Aku tidak menciptakan karakter dengan sifat sedetail itu, Kei." Jawab Ryu menjelaskan.
"Jadi bisa saja perasaan Zen terhadapku..."
"Nyata Kei. Nyata. Dia benar-benar mencintaimu tidak hanya sekedar aku memprogram dia untuk mencintaimu tapi dia sungguh-sungguh mencintaimu." Sambung Ryu lagi.
Jantungku berpacu dengan cepat. Jadi aku tidak bodoh? Aku mencintai seseorang yang mempunyai perasaan cinta yang nyata juga kepadaku. Apa artinya ini aku dan Zen bisa seperti pasangan lain? Tapi, tunggu dulu kami tidak di dunia nyata.
"Tapi dunia ini tidak nyata Ryu." Ucapku lemas.
Ryu terduduk lemas, "Itu dia yang sedang aku pikirkan. Bagaimana bisa ini terjadi? Kadang-kadang aku berpikir aku terlalu pintar sampai aku bisa menciptakan permainan yang nyata seperti ini." Kata Ryu, setengahnya berbangga diri.
"Kamu memang super cerdas Ryu. Aku bangga padamu. Tapi sekarang waktuku tersisa lima hari lagi, apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku.
Ryu berpikir kembali, "Hmmm, katakan kepada Zen kalau kamu tidak bisa pergi bersamanya karena kamu harus menyelesaikan permainan ini hingga mendapat cinta Ryu dan tamat." Jawab Ryu.
Aku menimbang-nimbang jawaban Ryu, "Ide bagus bisa kucoba." Sahutku.
__ADS_1
Keesokan harinya, masih seperti hari-hari kemarin Zen sudah menunggu di depan pintu apartemenku dengan penuh senyuman manis.
"Morning princess." Sapa Zen.
Cup!
Ia mengecup pipiku manis, dan dengan lembut ia pindahkan kecupan manis itu menjadi sebuah ciuman yang menggairahkan.
Biasanya Ryu kecil akan melempar sesuatu kepadamu, tapi kali ini tidak ada lemparan atau cubitan. Kemana Ryu kecil? Ciuman Zen semakin membuatku menginginkannya lebih dan tiba-tiba,
Pletuk!
"Hentikan pria mesum!" Ryu memukul Zen menggunakan sendok plastik bekas sarapan.
Zen melepaskan ciumannya dan mengangkat Ryu kecil, "Aku tau siapa kamu! Jangan ganggu kami atau Kei. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri." Ucap Zen.
Aku mengambil Ryu kecil dari tangan Zen, "Dia suka begitu memang. Maafkan dia. Sampai mana kita tadi? Oh iya..."
"Sampai sini." Kata Zen melanjutkan ciumannya sampai aku kehabisan nafas.
"Ayo kita berangkat!" Ujarnya setelah membuat wajahku memerah dan jantungku tidak karuan. Luar biasa pria satu ini!
"Zen, sambil jalan aku ingin membahas tentang kemarin. Aku ingin menuntaskan permainan ini dan segera kembali ke duniaku." Sahutku.
"Bukan seperti itu. Kita berbeda dunia, Zen. Apa yang terjadi jika kamu berada di duniaku begitu pula dengan sebaliknya? Dunia ini tidak nyata untukku Zen!" Tukasku gusar.
Zen memghadangku, dan tiba-tiba saja latar belakang kami berubah menjadi di taman bermain kemudian berubah lagi menjadi di atap kantor, berubah lagi menjadi di dalam apartemenku, "Maksudmu ini tidak nyata?" Tanya Zen.
Dan ia memberhentikan latar permainan di sebuah ruangan serba putih, "Dan menurutmu cintaku tidak nyata?" Tanya Zen lagi.
"Zen, andaikan kamu berada di duniaku aku akan dengan sangat senang hati tinggal bersamamu. Tapi disana tidak ada kamu!" Tukasku.
Kembali aku menyalahkan Ryu! Kenapa dia harus membuat Zen sesempurna ini sampai membuat dadaku sesak setiap kali aku bertemu dengannya? Ryu bodoh!
"Maka itu, ajak aku ke duniamu Kei!" Sahut Zen. Aku tau ia menahan kekesalannya juga. Dia tampak nyata sekali bagiku.
"Ijinkan aku menyelesaikan permainan ini Zen. Setelah targetku berhasil dan aku bisa menyelesaikan segalanya, aku minta satu hari saja untuk kuhabiskan bersamamu setelah itu aku akan memutuskannya." Ucapku pada akhirnya.
Sepertinya aku sudah cinta mati kepada Zen. Tidak bisa orang lain, harus Zen!
Zen terdiam dan berpikir, "Baiklah jika itu maumu. Tapi aku diciptakan untuk menjadi kekasihmu. Aku bisa menjadi nyata jika kamu membawaku ke duniamu." Kata Zen lagi memaksa.
Aku harus berpikir rasional, "Maafkan aku Zen. Aku harus segera menyelesaikan permainan ini supaya aku bisa kembali ke duniaku. Aku menyayangimu, sungguh. Tapi kamu dan segala yang ada di dunia ini tidak nyata dan hanya sebuah program. Maafkan aku." Ucapku.
Setelah aku berbicara demikian, Zen menghilang. Latar permainan berubah menjadi kawasan apartemenku kembali. Aku melihat Ryu melambaikan tangan kepadaku, "Keira! Selamat pagi." Sapanya dengan riang.
__ADS_1
"Selamat pagi Ryu." Aku membalas sapaannya, aku melihat Iria di samping Ryu dan menatapku dengam tidak suka.
Tidak masalah untukku. Fokusku adalah mendapatkan cinta Ryu kemudian kembali ke duniaku dan melupakan rasa sakit ini. Semoga rasa sakitku tidak nyata.
Ryu kecil tetap mengawasiku, "Jadi, kamu benar-benar mencintai Zen?" Tanya Ryu kecil.
Aku meletakkan Ryu kecil di atas telapak tanganku dan membiarkan ia memanjat lenganku dan duduk di bahuku seperti biasa.
"Semoga perasaanku tidak nyata, Ryu." Ucapku.
"Semoga. Karena kalau kamu menyukai Zen lalu bagaimana denganku?" Tanya Ryu kecil.
"Apa maksudmu? Aku akan kembali bersamamu, aku tidak mau tinggal disini. Aneh sekali tinggal bersama tokoh karakter ciptaanmu dan aku lebih aneh karena aku bisa jatuh cinta pada karakter itu." Sahutku mulai menangis lagi.
"Aku juga tak akan membiarkanmu jatuh cinta kepada tokoh fiksi itu Kei. Karena aku...aku menyukaimu. Entah sejak kapan rasa itu muncul. Kamu baik, perhatian, dan aku suka caramu yang selalu bisa menanggapi keegoisanku." Kata Ryu kecil dan dari atas kepalanya sekarang tampak seperti kereta uap yang tidak berhenti menyemburkan uapnya.
"Be...benarkah? Apa kamu sedang menggodaku Ryu?" Tanyaku.
Ryu kecil menggeleng,
Tok...tok
Tok...tok
Suara ketukan pintu terdengar, dan betapa terkejutnya aku itu Ryu yang datang.
"Ada apa Ryu?" Tanyaku.
Ryu menyerahkan tiket pesawat, "Ikutlah denganku Kei." Katanya.
"Ikut kemana?" Tanyaku.
"Ikutlah bersamaku. Temani aku ke negri sebrang." Jawab Ryu.
Aku masih belum paham bagaimana maksudnya, apa maksud Ryu dan bagaimana sistem permainan ini.
"Maksudmu?" Aku masih belum mengerti dengan semua yang terjadi.
"Aku memutuskan hubunganku dengan Iria, dan aku ingin kamu ikut bersamaku." Jawab Ryu.
Aku menatap Ryu kecil meminta penjelasan tapi Ryu kecil mengangkat bahunya tanda ia juga tidak mengerti apa yang terjadi.
Tapi kemudian aku melihat hati Ryu berubah menjadi hijau keunguan, dan aku melihat ke atas kepalaku. Warna hatiku sama seperti Ryu, apakah ini maksudnya permainan ini sudah selesai? Apakah Zen menyelesaikan semuanya untukku?
...----------------...
__ADS_1