My Upside Down World

My Upside Down World
Purpose


__ADS_3

Zen mengajakku berjalan menyusuri suatu tempat yang sangat aneh. Zen terus berceloteh tentang apa pun, aku bisa tau Zen yang ada di sampingku sekarang bukan Zen asli. Dia hanyalah sebuah tokoh karakter yang di kendalikan oleh sistem.


Memang aneh rasanya ketika aku menyebut Zen asli dan Zen palsu.


"Duduk dulu yuk Kei." Ajak Zen.


Ada sebuah bench di sepanjang taman itu dan kami duduk disana, "Kamu haus atau lapar?" Tanya Zen


Aku menggeleng, "Tidak. Kita nikmati saja udara ini." Ujarku.


Tempat yang aneh, karena langitnya berubah-ubah dari warna biru menjadi warna jingga dan setelah kuperhatikan langitu aneh itu berubah setiap tiga menit sekali. Aku mengingatnya dalam memoriku. Semua yang kami lewati di tempat ini, aku rekam dengan baik di dalam otakku.


"Kei, setelah ini ayo kita bermain di pantai. Aku ingin sekali saja mengajakmu bermain disana." Kata Zen


Deg!


Apa maksud ucapan sekali saja itu? Tenang Keira, dia hanya karakter yang di jalankan oleh sebuah sistem permainan. Fokuslah kepada Ryu! Fokus!


Aku memerintahkan otak dan hatiku agar fokus pada misiku, yaitu menyelesaikan permainan level ini. Semakin cepat aku menuntaskan level ini, maka semakin cepat pula aku naik level.


"Ayo." Jawabku.


Zen mengulurkan tangannya kepadaku, aku menyambut uluran tangannya dan kami berjalan dengan bergandengan tangan.


Tangan Zen selalu terasa hangat, tidak ada tangan yang sehangat ini.


Segera saja latar taman berubah menjadi pantai. Deru ombak terdengar memecah bibir pantai,


Splash!


Splash!


"Anginnya cukup kencang Zen." Tukasku.


Zen membelikanku sebuah topi anyaman berwarna pink dengan hiasan pita dan boneka kecil di pinggirnya, "Tetap saja matahari masih bersinar dengan terik sekali." Kata Zen sambil memakaikan topi untukku. Bahkan dia mengikatkan tali topi itu.


"Mau bermain apa di pantai?" Tanyaku.


Zen tersenyum lebar, " Aku ingin kamu membantuku untuk membuat sebuah tenda di pinggir pantai sebelah sana." Ucapnya.


Kemudian Zen memegang tanganku, mengajakku jalan bersamanya.


"Kita dirikan tenda disini saja, bagaimana?" Tanyaku.


Zen berpikir sebentar, "Boleh. Ayo bantu aku."


Zen memintaku memegangi ujung tenda selagi dia memaku untuk menancapkan tenda supaya berdiri lebih kokoh.


Setelah selesai, kami masuk ke dalam tenda yang ternyata cukup besar itu.


"Malam ini kita menginap disini bagaimana? Tidur di dalam sleeping bag kurasa cukup hangat." Usul Zen.


Aku menggelengkan kepalaku, "Maafkan aku Zen. Aku tidak ingin menginap." Jawabku.


Aku belum bisa menebak ini permainan model apa karena sampai sejauh ini tidak ada tantangan berarti yang membuatku harus bertahan hidup.


"Ada yang berubah darimu, Kei. Kamu sekarang menghindariku dan menjaga jarak dariku. Apa aku punya salah terhadapmu?" Tanya Zen menatapku sambil membaringkan kepalanya ke lengannya sendiri.

__ADS_1


Aku tidak bisa menatap matanya, bagaimana pun perasaanku untuk Zen masih banyak sekali. Bahkan saat ini aku merasa bersalah karena aku tidak memilihnya.


"Kamu tidak bersalah Zen. Hanya saja aku sedang ingin fokus untuk hidupku." Jawabku.


"Ryu?" Tebak Zen


Deg!


Tebakannya sangat tepat, tapi dia salah mengartikannya.


"Ryu?" Aku bertanya kepadanya dan pura-pura tidak mengerti.


"Ya, Ryu yang menjadi fokus hidupmu saat ini. Beberapa minggu yang lalu kamu masih mengkhawatirkanku, Kei. Entah sejak kapan hatimu berpindah untuk Ryu." Ucap Zen. Dia sekarang menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan lengannya sendiri.


"Hatiku tidak pernah berpindah Zen. Kalau kamu benar-benar Zen, maka kamu bisa merasakan bahwa hatiku masih terpaut untukmu." Aku menanggapinya dengan kesal.


"Lalu? Mengapa kamu menghindariku?" Tanya Zen lagi.


"Sudah kukatakan kepadamu, kan? Aku ingin fokus untuk hidupku Zen! Karena hidupku tidak selalu tentang mencintaimu! Aku harus memikirkan hal yang lain, selain kamu! Brengsek!" Tukasku gusar dan aku bergegas keluar meninggalkan Zen sendiri.


Aku tidak tau apa yang ia pikirkan! Aku juga tidak paham apa maksud permainan sialan ini! Lebih baik aku menghadapi ratusan lebah raksasa daripada harus menghadapi Zen seorang!


Ini sungguh membuatku bingung! Iria! Ini pasti jebakan Iria! Wanita itu!


"Ada apa kamu memanggilku Kei?" Iria tiba-tiba muncul entah darimana.


Aku memandangnya dengan sengit, "Aku benci sekali kepadamu Iria!" Tukasku geram.


"Silahkan." Jawabnya santai.


"Katakan padaku apa maksud di balik kehadiran Zen ini!" Perintahku.


Iria tertawa mengejek, "Sulit yah untukmu memahaminya? Menurutku ini permainan yang sangat mudah walau pun berada di tingkatan permainan akhir." Kata Iria.


Aku terdiam, apakah sejauh ini Zen merayuku dan jika aku termakan rayuannya maka aku kalah? Tapi aku belum kalah sampai sekarang. Aku tidak paham!


"Katakan saja kepadaku!" Tukasku.


"Ikuti saja alurnya, Kei." Jawab Iria, tak lama ia menghilang.


"Aaarrggghhh!" Aku berteriak putus asa.


***


Malam pun tiba, aku sudah kembali ke dalam tenda. Zen menyiapkan tempat barbeque serta bahan-bahannya yang entah ia dapatkan darimana.


"Makan dulu Kei." Katanya sambil memberikanku piring berisi kentang panggang, tomat panggang, beberapa potong kecil paprika merah dan hijau, jagung panggang serta sepotong besar ayam panggang.


"Terimakasih. Aku akan menunggumu." Sahutku.


"Oke. Aku akan mempercepat ini." Ucap Zen.


Tak lama, dia sudah siap juga dengan piringnya dan duduk di sebelahku. Kami pun makan bersama.


"Ini enak Zen." Ujarku.


"Aku senang kalau kamu menikmatinya." Balas Zen tersenyum.

__ADS_1


Selesai makan aku membantunya untuk merapikan piring dan peralatan makan.


Perasaanku tidak menentu saat ini, apakah ini yang dimaksud dengan Iria?


Aku akan menjaga hatiku dengan baik, aku akan memantapkan hatiku supaya aku tidak goyah.


"Kei, bagaimana perasaanmu? Siang tadi kamu tampak kesal dan aku minta maaf karena itu. Aku harap dengan makanan yang aku buat, bisa meringankan hatimu." Kata Zen.


"Aku baik-baik saja, Zen dan aku sangat menikmati makanan yang kamu buat. Itu enak, sungguh. Terimakasih." Jawabku.


Aku dan Zen berbincang-bincang membicarakan segala sesuatu, kami becanda dan tertawa bersama. Sampai akhirnya kami kehabisan bahan pembicaraan.


"Ehem! Senang bisa bercengkrama denganmu lagi, Kei." Ucap Zen tiba-tiba.


"Aku juga." Aku membalasnya.


"Jika ini pertemuan terakhirku bertemu denganmu, aku ingin kamu mendengarkanku Kei." Ujar Zen lagi.


"Kita masih akan bertemu lagi di hari-hari berikutnya, Zen. Jangan khawatirkan itu!" Tukasku geram.


"Aku berkata, jika. Hanya jika ini pertemuan terakhir kita, aku ingin kamu tau bahwa aku selalu mencintaimu. Apa pun wujudku saat ini, aku selalu mencintaimu." Katanya lembut.


Deg


Deg


Deg


Ini yang kutakutkan!


Aku memilih untuk diam, "Anginnya segar kalau malam yah?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


Zen menghadapku dan menggenggam tanganku, "Aku tau jawabanmu, hanya saja aku ingin mencobanya supaya aku tidak hilang penasaran." Canda Zen.


Jantungku semakin kencang,


"Keira Ophelia, maukah kamu menjadi milikku selamanya?" Tanya Zen.


Tes...tes...tes


Airmataku dengan cepat membasahi pipi, aku tidak tau harus senang atau sedih sekarang.


...----------------...


Hai...hai...mampir yuk ke karya temanku. Ceritanya seru loh, ditunggu yah. Makasih


Blurb :


"Setiap orang memiliki sebuah tujuan hidup yang berbeda. Dan aku memilih jalanku ini, untuk sebuah dendam di masa lalu. Bisa saja aku membunuh mereka satu per satu dengan tanganku sendiri. Tapi, bukankah aku akan sama saja seperti mereka?" -Hakim Makutha.


"Jangan terlalu lama berkubang dalam rasa dendam, Utha. Semua justru akan membuatmu lebih menderita. Terkadang melepaskan sesuatu jauh akan lebih melegakan daripada menyimpan dendam yang tidak berkesudahan." -Dokter Hasna.


Sebuah perjalanan mencari keadilan untuk seorang teman yang sudah tiada justru membuat Makutha terbelenggu dalam luka masa lalunya. Dia berjuang mati-matian menumbangkan pemerintahan hingga mengancam keselamatan diri dan juga orang-orang yang ia sayangi.


Apakah Makutha berhasil melakukan aksi balas dendamnya? Atau dia justru gagal dan berakhir dengan kehilangan banyak orang terkasihnya demi membalas dendam di masa lalu?


__ADS_1


__ADS_2