
Sejak pernyataan cinta Zen kepadaku hari itu, duniaku seakan diambil alih oleh Zen. Segala sesuatunya selalu tentang Zen dan entah kenapa itu terlihat baik-baik saja.
Tapi ini kan dunia nyata jadi kupikir tidak apa jika Zen mengalihkan duniaku. Seperti hari ini aku melupakan janjiku bersama Ryu, dan Ryu yang kesal mendatangi apartemenku.
Tok...tok
"Kei!"
Tok... tok
"Keira!"
Ketika Ryu datang aku sedang asik bermain bersama Zen. Dia membawakanku sebuah disk yang berisi sekumpulan permainan, salah satunya adalah permainan gokart.
"Apakah itu Ryu?" Tanya Zen, "biar aku yang membukakan pintu untuknya." Ucap Zen lagi.
"Hai Ryu, masuklah. Kami sedang bermain." Terdengar suara Zen dari ruangan depan.
"Bermain? Mana Kei?" Tanya Ryu.
"Kemarilah Ryu! Aku sedang tanggung dan tidak bisa meninggalkan permainan ini sebentar lagi aku,..."
Pet!
Ryu mematikan PCku, "Kenapa kamu matikan?" Tanyaku kesal.
Zen datang menghampiriku, "Ada apa denganmu Ryu?" Tanya Zen ikut campur.
Ryu menarik tanganku dan memberikan isyarat kepada Zen untuk tidak mencampurinya. Ryu membawaku keluar.
"Kamu lupa janjimu untuk menemaniku membeli software dan mencoba permainan baruku, Kei. Ini bukan yang pertama kali semenjak kamu dan Zen, you know." Tukas Ryu.
"Kamu bisa jalan sendiri kok atau ingatkan aku sehari sebelumnya tanpa harus marah seperti ini!" Jawabku geram.
"Tapi kamu sudah berjanji, Kei." Tuntut Ryu.
"Baiklah, maafkan aku." Ucapku dingin.
Ryu melihatku kecewa, "Tidak perlu. Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah mengganggu kalian. Maafkan aku." Kata Ryu berjalan lunglai kembali ke apartemennya.
Zen menyusulku, "Ada apa Kei?" Tanya Zen.
"Aku melupakan janjiku, dan Ryu tampak kecewa. Aku jadi merasa tidak enak." Jawabku.
"Biar aku yang menyusulnya. Ini kesalahanku bukan salahmu." Kata Zen cepat kemudian ia mengecup keningku dan berlari menyusul Ryu.
Saat bersama Zen aku bisa sangat menikmatinya, bahkan sampai lupa waktu. Biasanya aku selalu tepat waktu tapi itu tidak berlaku dengan Zen.
Seperti kata Jane, aku berada di bawah pengaruh hipnotis Zen. Aku baru menyadarinya, ini seperti terbalik! Peranku dan peran Ryu begitu juga dengan peran tokoh Zen dan Iria.
Sadarlah Kei! Kamu sudah kembali ke duniamu! Berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri kalau aku sudah pulang dan ini adalah duniaku, tempat dimana aku seharusnya berada.
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di apartemen Ryu.
Dan sekarang dia sedang mengomel, "Apa maksudmu mengetuk rumah orang lain di pagi buta seperti ini? Dan demi Tuhan Kei, apa yang kamu bawa?" Tanya Ryu yang menatapmu dengan ngeri karena melihat bawaanku yang seperti mau pergi berkemah.
Aku tersenyum lebar karena aku sudah memikirkan alasan ini, "Gas di rumahku habis dan aku sedang ingin makan ommurice. Jadi aku akan meminjam dapurmu untuk memasak. Boleh Ryu?" Tanyaku merayunya.
Dengan terpaksa dan demi memanjakan perutnya, Ryu mempersilahkanku masak dan membantuku membawakan wajan berukuran sedang milikku.
"Silahkan pakai sesukamu setelah itu bersihkan!" Katanya dan ia kembali tidur.
"Baik!" Aku berseru kemudian mulai menyiapkan apa yang akan aku butuhkan.
Tak beberapa lama kemudian, ommuriceku sudah tersaji di meja makan kecil Ryu beserta dua gelas susu putih untuk Ryu dan susu cokelat untukku.
Aku masih ada sisa roti tawar, aku kembali ke dapur dan mulai membuat french toast.
Tidak sampai sepuluh menit semua sudah tersusun rapi di tempatnya semula.
Aku membangunkan Ryu, "Ryu, aku pulang. Aku meninggalkanmu sarapan dan susu di atas meja. Terimakasih yah sudah boleh meminjam dapurmu." Sahutku.
Aku beranjak pergi, namun Ryu menahan tanganku dan menariknya kembali ke sisinya. Kemudian ia memeluk pinggangku, "Jangan pergi dulu." Katanya.
****
Apa yang barusan terjadi? Mengapa Ryu seperti itu? Dan kenapa jantungku tidak berhenti berdetak? Aku sudah memiliki Zen tapi kenapa dengan Ryu aku juga berdebar?
Lupakanlah Kei! Lupakan!
Dengan setengah tertawa ia bertanya, "Kamu habis perang? Pagi-pagi bawa wajan, bawa sayuran, bawa telur, bawa magicom, bawa susu. Astaga Kei. Atau kamu baru saja membuat dapur darurat?" Tanya Zen.
Aku tersenyum juga, "Bukan membuat dapur darurat tapi aku baru saja pulang berkemah." Sahutku.
"Kamu darimana? Ryu?" Tanya Zen.
Aku mengangguk. Zen membukakan pintu apartemenku dan menahan pintunya dengan menggunakan lengannya yang kekar.
Sambil merapikan kembali barang bawaanku, Zen bertanya lagi, "Kenapa kamu kesana dengan membawa barang-barang ini? Apa Ryu baik-baik saja?" Tanya Zen lagi.
Aku kembali mengangguk, "Aku meminjam dapurnya untuk membuat sarapan." Jawabku dan aku memberikan sepiring untuk Zen dan aku.
Begitu selesai aku membersihkan piring-piring kotor dan peralatan dapur lainnya.
Zen tiba-tiba datang dari belakang dan memelukku, "Kei, i love you." Bisiknya.
Aku segera mengelap dan mengeringkan tanganku, "I love you too Zen."
Zen memasukanku ke dalam dekapannya, "Kei, terimakasih untuk sarapannya." Sahut Zen.
"Terimakasih karena sudah mau memakannya." Ucapku.
Zen dan Ryu pagi ini sungguh membuatku bingung, dulu aku biasa bercerita kepada Jane tapi sekarang aku takut kalau Jane ternyata tokoh karakter permainan bukan Jane yang asli. Apalagi sekarang ada Iria.
__ADS_1
Ah, aku berjalan dengan lemas ke dalam ruanganku. Tak lama, Iria mendatangiku, "Hai Kei." Katanya.
"Hai, masuklah." Sahutku ceria, "ada apa? Mana Jane dan Bern?" Tanyaku.
"Mereka sedang sibuk dengan laporan. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apakah kamu ada waktu?" Tanya Iria.
"Selama mr. Sean belum datang, aku selalu ada waktu. Duduklah." Sahutku mempersilahkan Iria untuk duduk.
"Jadi begini, apa kamu tau ini masih ada di dalam dunia permainan?" Tanya Iria. Dengan perlahan senyumnya mengembang.
Deg!
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Selama masih ada aku atau Zen tandanya kamu masih ada di dalam dunia permainan." Jawab Iria.
Aku mengerutkan keningku, "Tidak mungkin! Aku sudah menamatkan permainan sialan itu!" Tukasku.
"Oh yah? Lalu aku dan Zen? Kamu menganggap kami sebagai manusia sungguhan? Oh, aku terharu sekali." Kata Iria perlahan.
"Tapi aku sudah menyebrang ke duniaku dan kembali ke tempat seharusnya aku berada!" Ujarku berseru.
Iria menggelengkan kepalanya, "Kei, Kei. Kapan kamu pintarnya? Aku dan Zen tidak pernah ada di dunia ini. Kami hanyalah karakter ciptaan. Dan kamu tentu saja mempunyai tantangan baru." Kata Iria menyerahkan sebuah amplop kecil.
Aku membuka amplop itu dan membacanya, "Anda telah memperbaharui sistem permainan ini. Tantangan untuk anda selanjutnya adalah membuat sebuah kota anda sendiri. Selamat berjuang!" Begitu isi amlop tersebut.
"Kota?" Tanyaku.
Iria mengangguk, "Artinya kamu harus mempunyai pasangan kemudian pindah tempat karena suatu hal dan membuat kotamu sendiri disana. Untuk pasangan kamu bisa memilih antara Ryu dan Zen." Jawab Iria.
"Dan bagaimana kalau aku menolak?" Tanyaku.
"Sudah kubilang kamu akan terjebak selamanya di dalam sini. Pilihan ada di tanganmu." Kata Iria lagi kemudian beranjak pergi.
Benar firasatku aku masih berada di dalam dunia permainan. Berarti Ryu dan Zen adakah tokoh karakter. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?
...----------------...
Halo teman-temanku mampir ke karya temanku yuk,
Blurb :
David Walker tewas di tangan paman dan sepupunya sendiri yang serakah akan peninggalan harta kekayaan keluarga Benjamin dari pihak ibu.
David tewas di tepi danau Ray Hubbard, Dallas. Karena kesalahan Brayan, David kembali hidup ke 336 jam sebelumnya.
Ada harga yang harus di bayar oleh David untuk kehidupan keduanya. Dia harus menjaga Elaina, yang tak lain adalah salah seorang maid di mansion miliknya.
Apa kaitannya Elaina dengan kehidupan kedua David?
Akankah David kembali tewas jika gagal melindungi Elaina?
__ADS_1