
"I...itu peliharaan baruku, namanya Ryusan karena dia lucu seperti Ryu." Jawabku saat Zen menunjukkan Ryu bertopeng kepadaku.
"Ryusan? Kenapa tidak kamu berikan namaku? Zending misalkan?" Tanya Zen masih memperhatikan Ryu bertopeng itu yang sekarang meronta-ronta di apit jari Zen.
"Soal itu, itu karena aku tidak mau menjadikanmu sebuah mainan." Sahutku gugup. Tapi sepertinya Zen tidak mencurigai kegugupanku. Syukurlah.
Zen akhirnya berpamitan pulang. Fiuh, akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Aku segera mengambil Ryu, mengangkatnya dan meletakkandi atas telapak tanganku.
"Kamu baik-baik saja Ryu?" Tanyaku.
Ryu mengangguk, "Kei ini waktunya kamu mencari koin. Jangan menabrak mobil, terbentur sesuatu atau berbicara dengan siapa pun itu. Ayo! Kita akan masuk ke dalam mode Bertualang." Seru Ryu kecil.
Aku mengangguk dan bergegas pergi. Pakaianku pun sudah berganti dengan kaos berwarna merah, celana pendek biru, sepatu keds dan topi kuning.
"Kalau kamu mendapatkan koin kamu bisa mengganti pakaianmu, Kei. Apa kamu tidak pernah sadar kamu tidak pernah mengganti bajumu?" Tanya Ryu.
"Keinginanku untuk segera keluar dari permainan ini lebih besar daripada kesadaran berpakaianku." Sahutku ketus.
"Ah, koin besar! Ambillah, agak melompat sedikit dan sundul dengan kepalamu. Anggap saja kamu sedang jogging, kan?" Kata Ryu.
Aku menuruti instruksi Ryu kecil, dan
Ting!
Aku sudah memgumpulkan tiga ratus koin. Aku melanjutkan perjalananku, "Apa kita perlu mengunjungi Ryu?" Tanyaku kepada Ryu sungguhan. Karena aku melihat Ryu di dalam permainan ini sedang berada di luar rumah, hal yang sulit sekali ia lakukan.
Ryu bertopeng menggeleng, "Tidak perlu! Fokus saja kan tadi sudah kukatakan. Entah kita akan dibawa kemana." Kata Ryu.
"Ketika aku melihatmu bersama Zen aku tidak yakin kalau kamu diserang kepanikan karena kamu menikmati sekali sepertinya Kei." Sahut Ryu bertopeng lagi.
Aku merasakan wajahku memerah,
"Merunduk Kei!" Perintah Ryu.
"Apa!" Tukasku.
"Merunduk! Cepat ikuti saja kataku!" Tukas Ryu gusar.
Aku mengikuti instruksinya sekali lagi,
Syut!
Ting!
Aku menoleh ke belakang, makhluk apa itu tadi? Ah, aku dapat dua koin besar.
"Zen itu pengecualian Ryu. Kan kamu yang menciptakan Zen dan Iria. Dan kuakui Zen sempurna sekali, andai saja dia bisa kubawa pulang." Sahutku melanjutkan pembicaraan kami yang sempat terputus tadi.
"Check point! Itu tidak bisa! Kalau kamu membawa Zen, lalu bagaimana denganku?" Tanya Ryu.
Aku berhenti di tengah untuk mengecek pointku kemudian melanjutkan perjalanan.
"Apa maksud bagaimana denganmu itu Ryu?" Tanyaku. Jantungku berdegup kencang, apakah mungkin Ryu...?
"Siapa yang mengurusku Kei? Siapa yang membawakanku makanan setiap hari?" Geram Ryu.
Aku menyentil Ryu kecil yang mengesalkan itu,
Pluk!
__ADS_1
"Keira! Tidak sopan! Tunggu saja kalau aku sudah kembali ke ukuran normalku akan kulakukan hal yang sama seperti kamu memperlakukanku tadi! Bantu aku!" Seru Ryu sambil mengomel.
Aku membenarkan kembali posisi Ryu yang tadi tergantung di rambutku, "Kamu tidak peka Ryu!" Sahutku.
Kami kembali berjalan sambil berbincang-bincang karena setting tempat ini sama seperti tempat tinggal kami. Ingin sekali rasanya bermain dulu di taman bermain itu tapi Ryu melarangku.
Aku bertemu salah seorang teman kantorku namun Ryu memintaku untuk tetap fokus.
"Kapan aku bisa berhenti?" Tanyaku.
"Kalau kamu mati kita akan mengulang di tempat check point itu. Kita dibatasi oleh waktu Kei. Sekarang berlarilah kita sedang berada di dunia permainan jadi kurasa kita tidak akan merasakan lelah. Kamu hanya mempunyai 60 detik lagi sampai kamu menemukan sebuah bendera berwarna merah." Kata Ryu menjelaskan.
"Baiklah aku akan berlari. Berpegangan yang kuat Ryu!" Sahutku.
Drap... Drap
Drap... Drap
Drap... Drap
"Aaahh Kei jangan terlalu kencang, tolong aku!" Aku melihat ke arah Ryu, wajahnya tertutupi oleh sehelai daun yang terbang.
"Karena aku memakai turbo jadi semua menjadi sangat cepat dan menimbulkan angin kencang, aneh sekali." Sahutku dan membantu menyingkirkan daun itu dari wajah Ryu.
Ting!
Aku dapat tambahan lima puluh koin lagi.
Tit...tit...tit...tit..
"Kei waktumu!" Tukas Ryu.
Tak berapa lama aku melihatnya di sebuah pusat perbelanjaan yang mengibarkan bendera merah
Dan begitu aku sampai disana sebuah musik kemenangan segera bergaung..
Aku mendapatkan 550 koin lagi hari ini. Andai ini di dunia nyata aku bisa sekalian olahraga dan menurunkan berat badanku. Asik sekali!
Total koinku sudah mencapai 1899 koin. Apa yang bisa kubelikan? Aku dan Ryu bertopeng masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang biasa kukunjungi di duniaku.
"Pertama, mampir ke cafe itu. Penuhi energimu." Kata Ryu. Aku mengangguk dan masuk ke dalam cafe tersebut. Bau harum segera menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku.
Aku segera memesan satu buah kroisant keju dengan segelas cokelat dingin. Aku membagi seperempat bagian roti dan cokelatku untuk Ryu.
"Apa yang bisa kuberikan kepada Ryu?" Tanyaku kepada Ryu bertopeng.
"Koinmu belum cukup untuk membeli sesuatu yang mahal. Perbaiki penampilanmu." Jawab Ryu.
Setelah menghabiskan makanan, kami berkeliling ke pusat perbelanjaan itu dan melihat pakaian.
Sekitar dua jam aku berkutat dengan toko pakaian dan akhirnya aku menemukan sebuah dress cantik sederhana dengan aksen pita di belakang. Sudah pasti harganya sesuai dengan koinku. Menyedihkan sekali.
"Bagaimana dengan ini Ryu?" Tanyaku kepada Ryu sambil berputar-putar.
"I...itu cocok sekali padamu dan kamu terlihat cantik." Jawab Ryu kecil.
Aku melihat kepulan asap kecil keluar dari atas kepalanya, menggemaskan sekali.
Aku memakainya dan membeli sebuah roti kesukaan Ryu.
__ADS_1
Kami kembali berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan ini dengan santai dan sambil tertawa bersama. Ini menyenangkan.
Setelah sampi di kawasan apartemen Ryu aku mengetuk pintu apartemennya,
Tok...tok
"Ryu!" Panggilku.
Tak lama Ryu membukakan pintu untuk kami, untukku lebih tepatnya.
"Kei, masuklah." Kata Ryu mempersilahkan kami untuk masuk.
"Terimakasih. Dan ini untukmu." Ujarku memberikan roti kepada Ryu.
Ryu membuka kertas coklat pembungkus roti itu, "Wow, roti kopi? Kamu masih mengingat kesukaanku. Terimakasih Kei. Akan aku makan." Kata Ryu dengan wajah berseri-seri.
Ryu memandangiku, "Kamu cantik sekali hari ini Kei." Katanya.
Blush!
Aku tertunduk untuk menyembunyikan wajah merah meronaku.
"Hei, warna wajahmu dengan dressmu sama." Bisik Ryu kecil.
"Ssshhtt!" Aku mendesis kesal kepada Ryu kecil.
Aku duduk di salah satu kursi milik Ryu, "Dimana Iria?" Tanyaku. Akhir-akhir ini aku jarang melihat mereka bersama.
"Kami sedang bertengkar. Dia marah kepadaku karena jadwal kepergianku di percepat." Jawab Ryu.
Aku mengerutkan keningku, "Apa? Di percepat? Jadi kapan kamu berangkat?" Tanyaku.
"Akhir minggu depan." Jawab Ryu, "Padahal Iria yang mengusulkanku untuk mengambil beasiswa ini tapi dia malah kesal begitu aku memberitahunya bahwa kepergianku di percepat." Sambung Ryu lagi.
Deg!
Iria yang mengusulkan ini? Jahat sekali dia! Ryu akan pergi minggu depan lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan hidupku? Enam tahun lama sekali, aku tidak akan bisa bertahan selama itu.
Sepersekian detik, seluruh ruangan apartemen Ryu menghilang dan aku berada di atap kantorku lagi.
Aku melihat ke kanan dan kiri, "Ryu apa yang terjadi?"
"Pemberitahuan sistem. Iria akan datang." Jawab Ryu kecil.
Benar saja Iria mendatangiku dengan langkahnya yang sempurna ia tersenyum kepadaku.
"Selamat Keira kamu berhasil menyelesaikan level ini dan termasuk sudah menyelesaikan beberapa misi. Maka level dan tantanganmu akan aku persulit." Kata Iria.
"Kenapa kamu mengusulkan Ryu untuk mengambil beasiswa itu?" Tanyaku.
"Itu namanya tantangan. Aku punya satu cara supaya kamu bisa kembali ke duniamu tanpa harus menunggu Ryu." Kata Iria.
Deg!
"Be...benarkah?" Jantungku berlomba-lomba berpacu di dalam tubuhku.
"Bagaimana caranya?" Tanyaku lagi.
Iria tersenyum, "Mudah saja. Bawa aku ke duniamu!" Jawab Iria.
__ADS_1
...----------------...