My Upside Down World

My Upside Down World
Where Am I?


__ADS_3

"Mengapa kamu mengajakku Ryu?" Tanyaku saat Ryu memberikan tiket pesawat itu kepadaku.


Wajah Ryu memerah, "Karena aku ingin kamu menemaniku, dan karena mungkin aku menyukaimu Kei." Jawab Ryu.


Deg!


Deg!


"Benarkah kamu menyukaiku? Sejak kapan?" Tanyaku. Karena ini begitu mendadak dan tiba-tiba, biasanya Ryu selalu menempel pada Iria.


"Sejak lama sebenarnya hanya saja Iria selalu menghalangiku saat aku ingin pergi keluar bersamamu." Jawab Ryu tersipu.


Aku tidak paham! "Lalu, selama ini apa hubunganmu dengan Iria? Bukankah kalian kekasih?" Tanyaku lagi.


Kenapa tidak sejak awal aku masuk ke dalam permainan ini saja Ryu mengungkapkan perasaannya? Mengapa harus selalu Zen yang ada di sampingku bukan Ryu? Aku marah! Marah sekali!


"Kami memang berkencan, tapi akhir-akhir ini hubungan kami tidak terlalu baik. Dan aku memutuskan untuk tidak bersamanya lagi. Begitu melihatmu bersama Zen, hatiku tidak nyaman. Seperti ada seekor singa mengaum di dalam diriku saat aku melihatmu bersama Zen." Jawab Ryu lagi.


Wajahnya berubah menjadi biasa lagi yaitu dingin dan tidak peduli. Aku tersadar Ryu ini pun hanya permainan, segala yang ada padanya tidak nyata.


"Mengapa kamu baru mengatakannya sekarang Ryu? Paling tidak kamu bisa bertanya tentang kabarku, menemaniku saat aku sedang ditindas?" Tukasku geram.


Aku memperhatikan warna hatiku yang berputar-putar di atasku, warnanya tetap hijau keunguan. Aku juga memperhatikan warna hati Ryu yang tepat berada di atas kepala Ryi dan hati itu berwarna sama denganku, hijau keunguan. Apa maksud semua ini?


Tiba-tiba saja latar permainan ini kembali berputar dan berubah, di atap kantor. Bukan Iria, melainkan Zen.


Musik theme dari permainan ini pun terdengar, "Selamat Keira Ophelia yang telah berhasil menyelesaikan permainan ini dengan baik. Sampai jumpa di permainan berikutnya."


"Zen? Apa maksud semua ini? Pagi tadi level permainanku masih jauh dan masih tersisa lima hari lagi." Tanganh kepada Zen.


Zen tersenyum, "Kamu memintaku untuk membuktikan apakah sayang dan rasa cintaku padamu itu nyata atau tidak. Aku hanya bisa membuktikan ini, tenang saja kami tidak bisa mati. Paling tidak kamu tau kalau rasa sayangku nyata kepadamu walau pun aku hanya sekedar karekter dalam permainan ini tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu, Kei." Kata Zen.


Aku tercekat dan tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun untuk Zen, "Kamu mempercepatnya?" Tanyaku.


Zen mengangguk, "Kamu ingin kembali jadi kembalilah Kei." Jawab Zen.


Aku hanya bisa terdiam dan berpikir apa yang ada di pikiran Zen saat ini? Aku meninggalkan Zen dan mencari Ryu.


Tok....tok


"Ryu!" Panggilku di depan apartemennya.


"Ryu!"


Selang beberapa detik kemudian, Iria membukakan pintu untukku, "Masuklah. Aku akan keluar." Kata Iria. Aku menarik tangan Iria dan mengajaknya berbicara.


"Apa yang akan terjadi jika aku menerima ajakan Ryu?" Tanyaku.


"Sesuai peraturan, kamu akan kembali." Jawab Iria.


Aku berusaha menebak apa yang membuat Iria bersedih, "Kamu sedih karena aku berhasil menyelesaikan permainan ini dan permainan ini akan hilang?" Tanyaku.


Iria membuang muka, "Huh! Aku tidak bersedih karena kamu, aku hanya .." sebutir airmata mengalir di pipi Iria.


Aku memeluknya, "Terimakasih Iria. Kamu sudah memberikanku banyak pelajaran berharga selama disini. Kamu mengajariku untuk kuat dan bagaimana cara menggunakan kekuatanku. Terimakasih." Sahutku.


Alih-alih membalas pelukanku, ia mendorongku, "Pergilah. Temui Ryu." Ucapnya.

__ADS_1


Aku mengangguk dan bergegas menemui Iria, "Kei, ingatlah ini belum selesai. Kami akan selalu menunggumu." Sahut Iria tersenyum.


Aku mengerutkan keningku, "Apa maksdumu? Aku tidak akan kembali kesini lagi kan? Setelah ini semua selesai kan?" Tanyaku.


Ryu! Dia pasti mengetahui maksud Iria.


Aku menemui Ryu terlebih dahulu untuk memberitahukan jawabanku, "Ryu! Aku akan ikut denganmu." Sahutku dengan wajah bahagia yang aku buat sedemikian rupa.


Ryu memandangku tersenyum, "Benarkah itu Kei?" Tanya Ryu.


Aku mengangguk dan memberikan hatiku untuk Ryu, begitu Ryu menerima hatiku dengan cepat semua karakter muncul dan menari bersama. Ini aneh sekali.


Aku melihat Ryu kecil dan menaikannya di atas bahuku, "Ryu apa maksud semua ini?" Bisikku sambil menari.


"Permainan selesai kamu berhasil menamatkannya tapi ada sesuatu yang aneh." Jawab Ryu.


"Apa itu?" Aku bertanya kembali, sekarang aku menari berputar dengan satu tangan terangkat ke atas. Aku juga tidak paham bagaimana aku bisa mengikuti tarian ini.


"Aku juga tidak tau karena aku belum menemukannya." Jawab Ryu kecil.


Jawaban yang sangat mengesalkan, "Hei Ryu, beruntunglah tanganku sibuk menari. Kalau tidak, kamu sudah kusentil. Menyebalkan sekali jawabanmu itu!" Tukasku.


Ryu kecil tertawa terkekeh, "Hehehe ... Tidak usah terlalu di pikirkan." Kata Ryu kecil.


"Kei!" Panggil Ryu.


"Apa? Dan kapan ini selesai?" Tanyaku kepada Ryu. Karena aku sudah mengulang tarian ini sebanyak empat kali.


"Tidak akan selesai jika tidak ada yang mematikan atau menekan tombol end di pojok kiri atas." Jawab Ryu kecil.


"Lalu? Kita akan terus menari?" Tanyaku lagi melihat Ryu kecil dengan tatapan tak percaya.


Aku mengangguk dan menari lagi untuk yang kelima kalinya.


Tak lama,


Pet!


Semua gelap dan tidak ada setitik cahaya masuk ke dalam sana. Suasananya terasa mencekam sekali. Ini tidak akan menjadi game horor kan yang tiba-tiba saja aku harus memukul sesuatu yang terbang atau subjek yang melompat-lompat?


Aku mencari Ryu kecil, "Ryu! Ryu! Ryu!" Aku memanggilnya dengan cepat.


"Ryu! Kamu dimana? Ryu!" Aku terus memanggil Ryu tapi tidak ada jawaban darinya.


"Ryu!" Aku semakin berteriak karena aku takut. Airmataku sudah menggenang di ujung mataku.


Tak beberapa lama ada sebuah tangan yang menarikku dengan cepat,


Syut!


Seberkas cahaya menyilaukan tiba-tiba memenuhi penglihatanku.


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan membukanya. Aku melihat ke sekeliling ke tempatku berada saat ini. Ini apartemenku, dan dimana Ryu?


Aku segera mengambil ponselku dan menghubungi Ryu,


Ring.... ring

__ADS_1


Terdengar jawaban dari sebrang, "Apa Kei? Aku baru saja bangun." Jawab Ryu.


"Kamu dimana Ryu?" Aku bertanya.


"Di apartemenku. Kamu mau kesini?" Sahut Ryu.


"Tunggu aku!" Aku berseru keoada Ryu, kemudian mengakhiri panggilanku.


Aku bergegas pergi ke apartemen Ryu dan mengetuk pintu apartemennya,


"Ryu!" Panggilku.


Tok...tok


"Ryu!"


"Ryu!" Aku terus memanggilnya.


Tak lama Ryu membukakan pintu untukku, "Sabarlah aku sedang di kamar kecil tadi. Masuklah." Kata Ryu.


Sepertinya Ryu tidak ingat apa yang terjadi, "Ryu, apa kamu mengingat sesuatu?" Tanyaku.


Ryu menggeleng, "Apa sesuatu itu?" Ryu kembali bertanya.


"Tidak apa-apa." Jawabku.


Kalau Ryu tidak ingat, kenapa aku ingat? Apa yang terjadi?


Selagi aku sedang berpikir pintu apartemen Ryu di ketuk. Siapa itu? Ryu jarang sekali mendapat tamu kecuali jika dia memiliki tunggakan listrik atau air atau keamanan.


"Kei, tolong bukakan pintunya mungkin itu temanku." Kata Ryu.


Aku semakin bingung dengan jawabannya, "Teman? Sejak kapan kamu bersosialisasi selain denganku?" Tanyaku.


Aku bergegas membukakan pintu untuk siapa pun itu, "Silahkan ma..."


"Hai Keira." Sapa teman Ryu.


Aku terkejut dan mematung di depan pintu. Apa ini mimpi? Dimana aku berada saat ini?


Ryu menghampiriku, "Kei bodoh, kenapa diam saja? Masuklah Zen." Kata Ryu.


Zen? Mengapa bisa ada disini? Ini duniaku bukan dunianya dan bagaimana ia mengenal Ryu? Sejak kapan mereka berteman?


...----------------...


Mampir ke karya temanku juga yah guys,


Ini blurbnya


Catherine Zeta Jones, sosok gadis pekerja keras yang hanya hidup sebatang kara.


Pekerjaan sebagai buruh pemetik anggur di salah satu perkebunan anggur terbesar di desanya. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan untuk menyisihkan sebagian gajinya untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan ke dokteran.


Nasih baik membawanya, pada keberuntungan, saat menyelamatkan nyawa seorang wanita setengah baya, yang ternyata nyonya besar dan pemilik perkebunan anggur tempatnya bekerja. Nyonya Margaretha, wanita yang ia tolong menjodohkan dirinya dengan putra semata wayangnya.


Siapa yang menduga, kalau putra nyonya Margaretha sudah memiliki seorang istri yang dalam keadaan koma. Bagaimana kah' nasib Catherine selanjutnya? Apakah kebahagiaan atau penderitaan yang ia dapat?

__ADS_1



__ADS_2