My Upside Down World

My Upside Down World
The Apes


__ADS_3

4 bola api di arahkan kepadaku. Aku memukul sebisaku dan menghindari yang tidak mampu aku pukul.


Tanganku hampir lepas karena terlalu lelah memukuli bola-bola api yang menggila ini.


Aku berpikir, apakah raket tenis ini bisa aku upgrade? Aku menekan tombol pause dan aku melihat koinku serta raket tenisku.


Oh, ternyata bisa! Tapi itu mahal sekali dan koinku belum cukup untuk mengupgrade raket ini.


Jangan menangis Keira! Airmataku tidak ada gunanya saat ini!


Aku kembali memukul bola-bola api itu dengan semangat! Aku harus mengumpulkan koin supaya bisa mengupgrade raket tenisku.


Dash!


Dash!


Dash!


Andai ini di dunia nyata, aku pasti sudah menjadi atlet tenis terkenal dengan pukulan bola terkuat dan terbanyak sepanjang sejarah.


Cling!


Oh, suara koin bertambah. Aku segera menekan tombol pause lagi dan memeriksa jumlah koinku. Asik, berhasil bertambah.


Dengan cepat aku mengupgrade raket tenisku menjadi sesuatu yang aneh. Ini seperti raket tenis yang diperbanyak dan di tempelkan ke sebuah meriam.


Aku membava tutorial cara menggunakan raket tenis double act itu.


Oke, jadi hanya tinggal di arahkan maka mereka akan memukulnya untukmu. .


Aku menekan tombol play lagi dan bola-bola api itu kembali beterbangan.


Dash!


Dash!


Dash!


Raket meriam itu mulai bekerja untukku, satu per satu bola ia kembalikan ke tempat asalnya.


Dan,


Dash!


Boom!


Boom!


Bola terakhir meledak dan hancur berkeping-keping. Suara gemerincing kembali terdengar.


Yes!


Tak beberapa hutan tampak seperti semula, tidak ada api, tidak ada yang terbakar dan yang pasti baik-baik saja.


Aku terus berjalan.


Dalam dunia permainan ini, waktu akan bergulir lebih cepat belum lagi energiku.


Kaki gunung mulai terlihat, aku semakin semangat untuk berjalan. Sesekali aku memasang musik di pods yang aku bawa hanya untuk sekedar menemani kesendirianku.


Hari mulai malam dan tenagaku sudah hampir habis jadi aku kembali mengeluarkan tendaku dan mendirikannya di dekat sungai kecil. Dengan begitu aku bisa menghemat air yang kubawa.

__ADS_1


Aku membuat api unggun dan mulai mengeluarkan isi ranselku. Bibi Jemima membawakanku daging iris, daun selada dan banyak nasi instan. Bibi juga membawakanku minuman ringan.


Air sungai ini jernih dan terasa dingin. Tentu saja karena ini berada di kaki gunung.


Banyak kunang-kunang beterbangan membuat suasana malam ini cukup terang.


Selesai makan aku memejamkan mataku. Aku benar-benar rindu dengan duniaku. Aku tidak tau seberapa banyak lagi kejadian aneh yang akan datang.


Aku hanya ingin kembali. Tak terasa airmataku berlinang membasahi kantung tidurku.


Keesokan harinya aku terbangun karena mendengar sesuatu. Aku membuka tendaku dan tampaklah seekor kelinci kecil yang lucu.


Aku memberikan kelinci itu sisa selada tadi malam. Dan begitu dia sudah mendapatkan apa yang ia mau, ia segera pergi.


Aku meregangkan tubuhku dan mencuci wajahku di air sungai, "Ah, segar sekali." Ucapku kepada diriku sendiri. Aku takut suaraku akan berkerak di dalam karena terlalu lama tidak di gunakan.


Aku menyalakan musik dari perangkat pengeras suara bluetooth. Dan aku ikut bernyanyi mengikuti alunan musik yang dinyanyikan.


Sarapanku pagi hari ini adalah oat milk sebutir telur rebus serta buah-buahan hasil ladang.


Aku menganggap diriku sedang berlibur sehingga aku tidak merasakan takut atau pun kesepian. Terkadang manusia membutuhkan waktu untuk sendiri di alam bebas seperti ini. Hanya saja aku terlalu lama sendiri.


Setelah selesai sarapan aku merapikan tenda serta peralatan-peralatan lainnya ke dalam tas ranselku. Kemudian aku duduk sebentar untuk memikirkan ke arah mana aku harus melangkah.


Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke.... Lurus. Sudah kukatakan aku buta arah jadi aku tidak tau mana Utara, Selatan, barat, ataupun timur. Dan akan bertambah bingung jika ada tambahan laut seperti barat laut, Utara laut atau timur laut. Padahal akan lebih mudah menyebut kanan, kiri atau lurus dan berbelok.


Sekarang, jalanan di hutan ini mulai menanjak, agak berat juga karena aku membawa tas ransel di belakang. Aku menyemangati diriku sendiri.


Sejauh ini perjalananku tampak aman.


Sampai,


Pluk!


Pluk!


Apa ini? Biji pinus?


Aku menengadahkan kepalaku ke atas untuk mencari pohon pinus mana yang bijinya berjatuhan.


Namun, semua tampak normal.


Aku melanjutkan perjalanan menanjakku. Dan lagi-lagi sesuatu melempariku dengan biji pinus.


Pluk!


Pluk!


Kali ini lebih banyak yang melempariku. Apakah disini ada sesuatu yang tak tampak dan terganggu dengan kehadiranku?


Aku bergidik ngeri dan mempercepat langkahku.


Namun, biji pinus yang di lemparkan ke arahku semakin banyak.


"Siapa disana?" Tanyaku memberanikan diri.


Tidak ada jawaban.


"Halo! Siapa yang melempariku dengan biji pinus? Keluarlah! Aku tidak akan marah." Sahutku kesal.


Tiba-tiba terdengar suara lolongan dan sangat berisik sekali,

__ADS_1


"Uuuuu....aaaaa!"


Dan tidak hanya terdengar dari satu arah tapi darimana saja. Seolah mereka mengepungku.


Aku memfokuskan diriku untuk bernyanyi dan aku menasang earpodsku untuk menghilangkan suara aneh itu.


Namun,


Tuk!


Sesuatu mengambil earpodsku.


Aku menoleh dan ia menyeringai dengan lebar dan membawa kabur earpodsku .


"Hei! Kembalikan!" Aku berseru. Apa itu tadi? Apakah seekor monyet atau seekor orang utan? Aku tidak tau pasti. Tapi mereka berisik sekali.


"Wuwuwuwu!" Mereka melolong lagi dan bergelayutan.


Masa bodohlah! Aku melanjutkan perjalananku kembali. Tapi orang utan itu menarik rambut ekor kudaku.


"Hei!" Sahutku dan mereka kabur.


Aku mempercepat langkahku bahkan hampir berlari tapi mereka seakan tidak ada habisnya.


"Hei! Hei! Kembalikan topiku!" Seruku kepada salah satu orang utan yang kabur dengan membawa topiku.


Tak hanya topi, namun kacamata, serta kayu untuk aku berpegangan semua di ambilnya.


Habis sudah kesabaranku, "Hei! Hei! Itu kunciran rambutku! Apa mau kalian?" Aku bertanya mendekati mereka.


Mereka datang satu per satu dan mengepungku.


Lalu? Apa yang harus kulakukan?


Mereka memandangku dan kembali melolong, "Wuwuwuwu!"


"Berisik!" Tukasku.


"Aku ingin segera sampai ke tempat tujuanku. Bisakah kalian permisi?" Tanyaku putus asa memohon kepada orang-orang utan itu.


Tapi mereka tidak bergeming. Tentu saja akan menyeramkan kalau mereka mengerti dan paham maksudku, kan?


Satu diantara mereka menarik rambutku, "Aw!" Seruku kesakitan.


"Jangan lakukan itu kepadaku!" Aku kembali berseru.


Tidak hanya itu, mereka mengangkatku tinggi sekali. "Hei..hei turunkan aku!" Tukasku.


Apakah aku bisa melompat dan berlari? Baiklah, aku akan mencobanya.


Aku melepaskan diri dari pegangan mereka, dan bersiap untuk berlari.


"Hup!" Aku berhasil lepas dan berlari.


Orang-orang utan itu mengejarku sambil melolong berisik sekali.


"Wuwuwuw!"


Aku terus berlari, namun aku kalah cepat. Orang-orang utan itu mengepungku lagi dan kali ini salah satu dari mereka mencengkeramku kuat sekali, "Aaarrgghhh! Lepaskan aku! Sialan!" Aku memohon supaya ada yang mau membantuku. Bagaimana ini?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2