My Upside Down World

My Upside Down World
This Is Real


__ADS_3

"Audrey!" Aku terus berseru memanggil Audrey tapi tidak ada yang berubah. Yang ada hanyalah kegelapan total yang mengerikan.


Oh tunggu jika suatu permainan di restart maka akan membutuhkan waktu sekitar 15 sampai dengan 20 menit untuk bisa kembali running. Jadi aku akan menunggu dwn berusaha untuk tetap tenang. Tenang adalah satu-satunya jalan.


Aku melipat kedua kakiku menyilang dan duduk bersila sambil berusaha menenangkan diriku sendiri, "Tenanglah Kei, semua akan baik-baik saja. Semua akan berlalu. Kegelapan ini hanya sementara." Bisikku. Aku mengambil dan membuang nafas untuk membantuku tetap tenang.


Dua puluh menit terasa sangat lama seperti tahunan. Sampai pada akhirnya,


Pet!


Pet!


Semua terang kembali, dan aku bergegas kembali menemui Ryu dan Zen.


"Ingat Kei, pilihlah satu bukan dua dan jangan sesekali kamu mencoba mempermainkan sistem permainan ini!" Tukas Audrey yang kemudian menghilang dalam sekejap mata.


"Zen!" Aku memanggil Zen dari kejauhan dan Zen berlari menghampiriku. Hati di atas kepalanya kembali berwarna biru. Menyedihkan sekali. Perjuanganku sia-sia saja.


Zen memelukku dan menanyakan keadaanku, "Kei bagaimana kabarmu? Kamu dari mana saja?" Tanya Zen.


"Tidak dari mana-mana." Jawabku, "dimana Ryu? Aku belum melihatnya seharian ini." Tanyaku.


"Ryu? Sebentar lagi mungkin akan datang. Ah itu dia!" Zen melambaikan tangan kepada Ryu.


Ryu menghampiri kami, aku segera menarik tangan Ryu untuk berbicara berdua saja dengannya, "Ryu, apakah kamu tau permainan ini baru saja di restart?" Tanyaku berbisik.


Ryu mengangguk, "Ya aku tau. Sepertinya Iria atau Audrey mengontrol permainan ini." Jawab Ryu.


"Sudah kuduga seperti itu. Apa yang harus kita lakukan?" Tanyaku.


"Awasi Audrey atau Iria. Perhatikan gerak geriknya." Kata Ryu.


"Tidak ada yang aneh dengannya. Iria pun begitu." Jawabku sambil mengingat-ingat.


"Tidak ada yang aneh juga dariku kan?" Tanya Zen tiba-tiba muncul dan menyimak diskusi kami.


Ryu memandangnya tajam, "Tetap saja aku mencurigaimu. Bagaimana pun kamu bagian dari permainan ini." Tukas Ryu.


"Audrey mendekat." Bisik Zen.


Aku menoleh melihat ke arah pandangan mata Zen, tapi Ryu dan Zen merangkulku dan berjalan menjauh seakan tidak melihat Audrey yang sudah melambai-lambaikan tangan ke arah kami.


"Zen! Ryu!" Teriaknya, kemudian Audrey menuruni undakan kecil dan menghampiri kami yang harus mengulang pekerjaan kami.


Aku tau, ini pun pasti akan diulang.


"Hai Zen, hai Ryu. Nenekku membawakan kalian pie susu." Kata Audrey.


Benar dugaanku,


Dia memberikan pie susu kepada Ryu dan Ryu akan memberikan pie susu kepadaku.


"Pie itu buatan Keira. Berarti nenekmu memberikan ini untuk Keira bukan untukku." Ucap Ryu.

__ADS_1


Aku harap Ryu merubah alurnya sehingga aku tau kami bisa melawan sistem program di permainan ini, "Bagaimana pun terimakasih." Ucap Ryu.


Ternyata tidak bisa...aku menghela nafas panjang.


Tapi, sekian menit kemudian Ryu menanyakan sesuatu kepada Audrey yang bukan pertanyaan pengulangan, "Kamu akan menetap disini?" Tanya Ryu


Audrey mengangkat bahunya, "Nenek memintaku tinggal tapi entahlah." Jawab Audrey.


"Apakah kamu berasal dari kota besar?" Tanya Ryu lagi.


Audrey mengangguk, "Ya." Jawabnya singkat.


"Semoga kamu nyaman di kota kecil ini." Kata Ryu tersenyum.


Audrey tertawa tersipu, "Semoga." Jawabnya.


***


Ryu memintaku untuk menolak pengulangan, "Kamu pernah kan salah jalan dalam bermain game? Lalu kamu meresetnya dan mengulanginya lagi sesuai yang kamu mau? Dan game itu baik-baik saja. Sekarang kita akan lakukan itu." Ucap Ryu.


Aku mengangguk memahami apa yang diucapkan Ryu, "Jadi, apa yang harus kulakukan?" Tanyaku.


"Hari ini fokus kita adalah mengumpulkan koin dan berjualan tanpa perlu berkunjung ke Nenek Simon. Bagaimana? Karena baik aku dan Zen tidak mau mendekati Audrey." Kata Ryu lagi.


Aku kembali mengangguk, "Oke. Aku akan menanam dan membuat kue hari ini dan menjualnya kepada Ibu Cissy di sebrang." Sahutku.


"Aku akan ikut bersamamu, Kei." Usul Ryu.


"Untuk apa?" Tanyaku.


Aku tercekat, "Tidak bisakah kita keluar bersama seandainya aku memilih Zen?" Tanyaku.


Ryu menundukkan kepalanya, "Haruskah? Apa kamu benar-benar menyukai Zen?" Tanya Ryu serius.


Aku tidak tau! Aku tidak tau! Aku tidak tau! Aku ingin menjawab Ryu seperti itu. Karena kalau berbicara soal perasaan itu sangat membingungkan. Aku tau Zen itu tidak nyata, tapi segala yang diberikannya kepadaku terasa sangat nyata.


"Kei! Keira!" Panggil Ryu.


"Aku...aku..."


Ryu mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan dengan perlahan ia mendaratkan bibirnya ke bibirku. Aku memejamkan mataku dan merasakan sentuhan Ryu, ya ini nyata. Ryu adalah manusia nyata dengan segala yang ada padanya.


"Bagaimana? Kamu membalas ciumanku Kei. Kita akan keluar dari sini bersama-sama." Kata Ryu lembut.


Aku mengangguk, "Baiklah. Dan bagaimana aku menghadapi Zen?" Tanyaku.


"Biasa saja." Jawab Ryu tersenyum.


Ryu menggandeng tanganku dan membantuku menanam gandum dan cokelat. Dan dengan sigap ia membawakanku sekeranjang apel.


Setelah selesai dengan tanaman, aku menyiapkan oven dan segala yang kubutuhkan untuk membuat roti dan pie. Karena ini di dunia permainan aku tidak memerlukan perlengkapan komplit seperti di duniaku.


Untuk membuat roti aku hanya perlu butter, gandum dan susu. Begitu pula untuk membuat pie aku hanya butuh buah-buahan serta tepung dan telur. Mudah sekali bukan?

__ADS_1


Bruk!


Zen meletakan telur di sampingku, "Segini saja?" Tanya Zen.


Aku mengangguk, "Iya. Terimakasih." Sahutku kepada Zen. Tanganku masih sibuk menguleni tepung.


Tiba-tiba Zen melingkarkan lengannya ke pinggangku, "Kei, jangan palingkan hatimu dariku. Aku akan membawamu keluar dari sini. Itu janjiku." Kata Zen.


Deg...deg...deg...deg .


Jantungku seakan bertabuh dengan ribut sekali. Semakin lama semakin kencang suara tabuhannya.


Aku memegang lengan Zen, "Zen, terimakasih." Sahutku tertunduk.


Zen memutar tubuhku sehingga kami berhadapan, "Aku mendengar dan melihat apa yang kalian lakukan tadi. Itu menbuat hatiku sakit Kei. Kenapa? Apa karena aku tidak nyata jadi kamu bisa bebas mempermainkanku?" Tanya Zen.


Aku tidak mereset permainan ini hanya untuk menemukan kebimbangan, "Bukan seperti itu Zen. Hanya saja aku dan Ryu harus segera keluar dari sini. Aku tidak tau apakah kamu nyata atau tidak." Sahutku putus asa.


"Apa yang kamu rasakan terhadapku?" Tanya Zen.


Apakah aku harus berbohong supaya aku dan Ryu bisa fokus menyelesaikan permainan ini. Ya! Itu yang terbaik.


"Tidak ada." Jawabku pada akhirnya.


Zen melepaskan pelukannya dan mundur selangkah, "Baiklah. Maafkan aku selama ini aku menjadi penghalangmu untuk segera keluar dari dunia yang tidak nyata ini." Kata Zen dan ia bergegas keluar dari rumah.


Ini tidak nyata Kei, lalu kenapa aku menangis? Kenapa aku merasa sakit jika ini tidak nyata? Tenagaku seakan hilang dan aku terjatuh. Airmataku mulai membanjiri wajahku, sakit ini nyata Zen.


...----------------...


Guys...guys... Mampir yuk ke karya temenku. Keira biarin aja sendirian dulu, dia juga perlu waktu sendiri kan?


Judul : Jerat Hasrat Kakak Ipar


Nama Pena : Lady MerMaD


Blurb :


Bara Alexander Horisson tidak menyangka bahwa dia akan mewarisi perkebunan, pabrik anggur dan property Horisson.


Masalah muncul karena dia tidak hanya mewarisi usaha keluarga, namun juga mendapatkan Kakak Ipar yang menggoda.


Menurut Bara, kakak iparnya adalah penipu yang licik, namun membuat Bara terjerat, oleh karena itu Bara harus melepaskan diri dari kakak iparnya.


Freya Hathaway atau Freya Horisson karena Freya menikahi saudara laki - laki Bara. Menyimpan rahasia masa lalu yang membuat dia tidak percaya diri. Dan untuk menyelamatkan keluarga Freya membuat rencana gila.


Apakah Bara berhasil melepaskan diri dari Freya? Atau


Bagaimana jika Bara sendiri yang tidak rela melepaskan Freya?


Bagaimana dengan nasib Freya, apakah dia akan berhasil dengan rencana gilanya?


Langsung baca aja yuks.

__ADS_1



__ADS_2