
Bruk!
Ryu jatuh terjerambab di lantai apartemennya, aku bersorak kegirangan, "Ryu, apakah ini berarti kita kembali? Benarkah kita kembali?" Tanyaku dan melompat-lompat di atas lantai sampai kakiku terasa sakit.
"Apa kamu tidak bertanya bagaimana kondisiku?" Tanya Ryu.
Aku melihat ada benjolan sebesar telur puyuh di keningnya. Aku tertawa dan menghampirinya, "Kamu sekarang punya tanduk Ryu, hahaha." Ucapku.
Ryu berusaha untuk beranjak, dan kemudian ia memelukku. Sepersekian menit yang mengharukan karena akhirnya kami bisa kembali ke dunia kami sendiri tanpa ada permainan bodoh itu lagi.
Kami tidak perlu memikirkan kapan akan naik level, kami tidak perlu bersusah payah mengumpulkan koin dan membelanjakannya, dan kami juga terbebas dari rutinitas kami yang monoton selama di dunia permainan itu.
Aku memeluk Ryu lebih erat, kalau Ryu tidak menemaniku dan tidak menyadarkanku aku pasti masih terjebak bersama Zen.
Deg!
Jantungku berdenyut begitu aku menyebut namanya. Apakah dia tau aku sudah kembali? Apakah dia akan hilang?
Ryu melepas pelukanya dan menatapku, "Apa yang kamu pikirkan Kei?" Tanya Ryu.
"Zen." Jawabku singkat.
Ryu menepuk pucuk kepalaku, "Dia tidak nyata Kei. Perlahan kamu pasti akan melupakannya. Percayalah kepadaku." Kata Ryu.
Kemudian dengan tiba-tiba sekali, ia mengecek komputernya.
Dia mengutak-atik dan jarinya dengan lincah menari-nari di atas keyboard komputer. Tak beberapa lama kemudian, ia tersenyum.
"Kei, kita benar-benar sudah kembali dan menamatkan permainan ini. Lihatlah."
Aku berjalan mendekati Ryu, dan melihat layar komputer yang bertuliskan"You Won." Serta ucapan selamat karena berhasil menyelesaikan permainan itu.
Tapi aku nasih bertanya-tanya, apa yang terjadi? Mengapa bisa secepat itu? Apakah Zen yang mengeluarkan kami dari sana?
Aku teringat wajah Zen yang tampak sedih saat melihat Ryu mendekatiku. Itulah pertemuan terakhirku dengannya. Kalau benar Zen yang mengeluarkan kami dari dunia itu, aku akan berdoa dan mengucapkan terimakasih kepadanya.
***
Sebulan sudah aku kembali. Tidak ada yang berubah, hanya saja pekerjaanku menumpuk. Saat aku dan Ryu tidak ada, kami dianggap sedang pergi berlibur. Berbeda saat pertama aku yang ditarik oleh Iria ke dunia permainan itu. Di dunia nyata aku tertidur selama tiga hari. Tetapi begitu kedua kalinya Iria menarikku dan Ryu menyusulku, kami menghilang begitu saja dari dunia kami sendiri.
"Kei! Ayo kita jalan, sudah lama kamu tidak ikut dengan kami." Sahut Bern.
Aku mengangguk, "Boleh. Mau kemana?" Tanyaku.
Jane berjalan di sisiku, "Ke tempat yang agak jauh sedikit kali yah, lupakan besok. Hahaha." Jawab Jane tertawa.
__ADS_1
Aku mengambil ponselku untuk mengabari Ryu, tapi Jane sudah merebut ponselku lebih dulu.
"Kalian ini sebenarnya sudah menikah atau belum? Kenapa dekat sekali? Liburan bersama dan tanpa jejak. Saling memberi kabar. Ceritakan kepada kami! Ayo, kita culik dia!" Tukas Jane.
Aku hanya bisa tertawa karena Jane dan Bern menyembunyikan ponselku serta memaksaku untuk ikut bersama mereka.
Jane membawaku ke sebuah kafe dekat pantai di kota sebelah. Jaraknya cukup jauh dari tempat kami tapi disini cukup tenang.
"Jadi?" Tanya Jane dan Bern
"Jadi apa?" Aku balik bertanya.
"Hubunganmu dengan Ryu dong!" Kata Jane berseru.
Aku tersenyum tipis, "Tidak ada yang berubah. Kami menjadi lebih dekat karena saat itu kami mengalami sesuatu bersama." Jawabku, karena aku yakin mereka akan menertawaiku saat aku berkata bahwa aku dan Ryu terjebak dalam dunia game.
Jane dan Bern saling berpandangan, "Wowh, apa sesuatu itu Kei? Ceritakan kepada kami lebih detail." Kata mereka menggodaku.
"Tidak ada yang perlu di ceritakan karena kalian tidak tau apa maksudku tentang sesuatu itu. Berhentilah menggodaku." Sahutku tersipu.
Bern menyenggol-nyenggol pundakku, "Kei, ayolah apa sesuatu itu? Apakah itu tentang mmmm atau mmm?" Tanya Bern sambil menutup mulutnya dengan gaya centil.
Aku membiarkan mereka hanyut dalam imajinasi mereka masing-masing.
Tiba-tiba saja airmataku menetes karena aku sudah tidak bisa menahan mereka lagi.
Tes...tes...tes
"Loh Kei? Kenapa? Hei." Jane segera memelukku dan menenangkanku.
"Apa yang terjadi denganmu, Kei? Kenapa menangis? Ceritakan kepada kami ada apa denganmu?" Tanya Bern mengusap-usap punggungku.
Aku merindukannya...
Aku merindukan Zen tapi aku tidak bisa bercerita kepada teman-temanku bahwa aku jatuh cinta pada tokoh karakter dalam game.
***
Hari-hari berikutnya aku terkungkung dalam perasaanku sendiri. Aku bukanlah aku saat ini. Aku seperti tersesat padahal aku berada di tempat seharusnya aku berada.
Ryu yang sering menemaniku karena mungkin dia merasakan apa yang aku rasakan juga.
"Kei, sewaktu dalam dunia sana seberapa jauh hubunganmu dengan Zen?" Tanya Ryu suatu malam saat kami berada di atas atap apartemenku.
Aku menghela nafasku, "Aku tidak tau sampai sejauh mana. Aku yakin kamu bisa menebak hubunganku sejauh mana." Jawabku berkelit.
__ADS_1
Ryu menatap bintang-bintang yang berkelap kelip dengan cantiknya di langit, "Saat itu aku kira kamu terprogram oleh sistem permainan tapi aku sadar kamu bergerak sesuai kemauanmu. Memang ada beberapa waktu dimana Zen bergerak sesuai program tapi saat ia bersamamu dia adalah Zen bukan karakter tokoh permainan." Kata Ryu.
Kemudian ia menatapku tersenyum, "Apakah aku cemburu dengan tokoh game? Apakah saingan cintaku seorang karakter game? Beberapa hari ini aku memikirkan itu, Kei." Kata Ryu lagi menambahkan.
"Dia tidak akan pernah menjadi saingamu, Ryu karena dia tidak pernah nyata dan tidak pernah ada di dunia ini." Sahutku.
"Jadi? Bolehkah aku menjadi kekasihmu, Kei?" Tanya Ryu.
Aku memandangnya, melihat kesungguhannya.
Ryu mendekatiku dan memperkecil jarak di antara kami, dengan perlahan ia menyusup ke arah bibirku dan mendaratkan bibirnya disana.
Aku ragu untuk membalasnya karena di hatiku bukan Ryu tapi Zen. Aku memejamkan mataku dan bergerak mundur sedikit, sampai..
Pletuk!
"Ouch." Pekik Ryu.
Sesuatu di lemparkan ke arah Ryu dan tepat mengenai kepalanya, "Kaleng? Siapa disana?" Sahut Ryu.
Aku dan Ryu bergegas menghampiri arah lemparan kaleng itu,
"Hai, lama tidak jumpa. Aku menepati janjiku Kei untuk segera menemuimu."
***
Hi, friends. Mampir yok ke karya buatan temanku judulnya Terpaksa Menikah,
Blurb :
Author: Lena Laiha
Raka Adijaya Prasetya adalah seorang pengusaha muda yang sukses terpaksa harus menikahi Rea Anastasya gadis cantik dan manja. Bukan perjodohan yang memaksa mereka harus menikah tapi kesalah pahaman diantara keduanya yang mengharuskan Raka menikahi Rea.
Hingga akhirnya hari pernikahan itu tiba, Rea dan Raka membuat satu perjanjian diawal pernikahan mereka.
Setelah satu tahun ternyata mereka menjadi saling mencintai.
Saat Rea hamil Lisa mantan kekasihnya Raka mendorong Rea ke jurang yang menyebabkan Rea keguguran dan harus kehilangan rahimnya.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah Raka akan meninggalkan Rea karena Rea tak bisa memberinya keturunan dan Raka akan kembali kepada sang mantan kekasih?
__ADS_1