My Upside Down World

My Upside Down World
Game Over


__ADS_3

"Selamat pagi Kei." Sahut Ryu kecil. Tak lama bunyi ketukan pintu di apartemenku terdengar.


Aku segera membukakan pintu untuk tamuku,


Cup!


"Selamat pagi Kei." Ucap Zen.


Hari ini dia tampan sekali walau pun kemejanya tertutup oleh hoodie. Inilah yang dinamakan dengan kenikmatan semata.


"Se...selamat pagi. Masuklah dulu aku sedang bersiap-siap." Sahutku dan mempersilahkan Zen masuk ke dalam.


Ryu bertopeng segera naiknke atas pundakku, "Hei Kei, ingat tujuanmu Ryu bukan Zen!" Tukasnya.


Aku kembali tersadar, "Kamu benar Ryu terimakasih telah mengingatkan." Ucapku.


Zen tiba-tiba menghampiriku dan memeluk pinggangku dari belakang, "Kei, hari ini kita jalan saja yuk." Rayu Zen.


Aku akui sulit menolak ini, "Kamu mau jalan kemana? Dari minggu lalu kamu selalu mengajakku jalan." Aku bertanya dengan acuh.


Aku harus kuat menahan godaan Zen, ingatlah Kei dia tidak nyata.


Zen kemudian memutar tubuhku sehingga berhadapan dengannya, dan ia membawa tanganku ke lehernya sedangkan tangan Zen masih berada di pinggangku. Dengan perlahan ia menciumku dengan amat sangat lembut.


Pintar sekali Zen ini. Aku memejamkan mataku dan mulai membalas ciumannya.


Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam ciumannya yang memabukan ini sampai tiba-tiba,


Pletuk!


"Ouch!" Aku melepaskan ciumanku dan memegangi kepalaku. Aku melihat ke bawah dan menemukan gelas plastik tergeletak di lantai.


Zen mengambilnya dan dia mendekati Ryu bertopeng yang segera bersembunyi di balik pot bunga kecil milikku, "Sepertinya kamu tidak suka sekali kepadaku, makhluk kecil?" Tanya Zen.


Aku bergegas menghampiri Ryu kecil dan menyelamatkannya, "Maafkan aku, dia bukan manusia seperti kita makanya harus banyak diajarkan sopan santun. Mungkin dia berpikir kamu menyakitiku." Sahutku memberikan pembelaan untuk Ryu bertopeng.


Zen yang kesal memasukan Ryu bertopeng ke dalam tempat kecil dan menutupnya.


"Aarrgghh, keluarkan aku!" Teriaknya dengan suara nyaring.


Dengan cepat Zen menyambar tanganku dan menarikku keluar. Aku sempat melirik ke arah tempat kecil itu dan menjatuhkannya ke lantai.


Kami melewati apartemen Ryu. Ryu tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku, ah aku lupa bekal untuk Ryu. Ternyata ini maksud dari Zen akan terus menggangguku untuk menggapai cintaku kepada Ryu.


"Zen aku mau bertemu Ryu sebentar." Sahutku.


Dengan berat hati Zen melepaskan genggaman tangannya kepadaku, "Cepatlah."


Aku mengangguk dan menghampiri Ryu, "Hai." Sapaku


"Hai, kamu mau bekerja?" Tanya Ryu.


Aku mengangguk, "Maafkan aku karena aku lupa membawa bekal untukmu." Sahutku.


Ryu melirik ke arah Zen, "Tidak apa. Aku mengerti." Jawab Ryu.


"Apakah nanti malam kamu ada waktu?" Tanyaku kepada Ryu.


Ryu tampak berpikir, "Entahlah, tadinya aku dan Iria ingin berjalan-jalan ke taman tapi apakah kamu mau mengajakku keluar juga?" Tanya Ryu.


Aku mengangguk, "Tadinya. Kalau kamu sudah ada janji dengan Iria ya sudah. Mungkin lain kali saja." Jawabku.

__ADS_1


"Keira!" Tukas Zen.


Aku menoleh ke arah Zen dan memberikan tanganku untuk meminta waktunya beberapa menit lagi. Hati di atas kepala Ryu masih berwarna biru dan targetkulah untuk mengubahnya menjadi warna hijau.


"Baiklah Ryu sampai jumpa." Sahutku melambaikan tangan kepada Ryu.


Sebenarnya kalau dipikirkan kembali, waktuku memang lebih banyak kuhabiskan bersama Zen. Karena di level empat ini aku mempunyai hati yang melayang-layang di atas kepalaku jadi sering sekali aku mendongak ke atas untuk mengecek warna hatiku sendiri.


Kadar hati hanya dimiliki olehku dan Ryu. Kalau hatiku hijau aku menyukai Ryu, kalau hatiku biru aku hanya berteman dengan Ryu, kalau berwarna merah tandanya aku mencintai orang lain selain Ryu, dan jika berwarna ungu maka aku dan Ryu sudah saling menyukai.


"Hei!"


"Hai Zen." Sahutku.


"Kenapa melamun dan melihat ke atas? Ada apa di atas kepalamu?" Tanya Zen.


"Hatiku." Jawabku sekenanya.


Zen tertawa, "Hahaha, aku baru tau kalau hatimu ada di atas, kupikir ada si sebelah kirimu." Kata Zen


Blush!


Kembali wajahku memerah karena ucapan manis dari Zen. Zen tepat berada di sebelah kiriku, cerdas sekali dia bisa membuatku tersipu setiap kali datang.


Eits, itulah penghalangmu Kei! Sadarlah!


"Hari Minggu nanti main basket mau?" Tanya Zen.


Mataku berbinar, "Basket? Aku mau sekali. Wah, sudah lama aku tidak bermain basket bahkan aku lupa kapan terakhir aku memainkannya." Ujarku bersemangat.


Basket salah satu olahraga favoritku, aku pandai bermain basket. Sewaktu sekolah aku pernah masuk di dalam tim basket untuk kejuaraan.


Zen tersenyum senang karena melihatku antusias sekali, "Zen pulang kerja temani aku untuk membeli baju dan sepatu basket yah. Karena sudah lama sekali aku tidak bermain jadi sepatuku sudah berganti semua." Jawabku.


***


Hari Minggu pun tiba, aku sudah bersiap-siap dan menunggu Zen menjemputku.


"Kei, kamu hanya bermain berdua dengan Zen?" Tanya Ryu kecil.


Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau tapi kalau main berdua dengannya juga tidak masalah. Ryu, coba kamu ingat aku sudah lama sekali tidak bermain basket dan hari ini aku akan memegang bola basket lagi. Kenapa aku berdebar?"


Aku sangat bersemangat sehingga tidak mendengar Ryu kecil memperingatkanku.


"Kei, apa kamu bodoh? Zen itu distraktormu, jadi dia akan melakukan apa saja supaya kamu masuk ke dalam perangkapnya." Ucap Ryu.


"Ini berbeda Ryu." Sahutku kesal, "kami hanya akan bermain dan itu di lapangan. Kamu boleh khawatir kalau kamu bermain di ranjang!" Tukasku.


"Jangan menangis jika hatimu berubah menjadi merah Kei karena aku sudah memperingatkanmu!" Kata Ryu berseru geram karena aku tidak menggubris nasehatnya.


Selesai bersiap, Zen sudah menungguku di depan namun Ryu kecil yang sedang merajuk bersembunyi di atas tutup gelas. Aku mengulurkan tanganku, "Mau ikut tidak?" Tanyaku.


Ryu kecil membuang muka, "Huh! Aku tidak mau karena aku tidak tega melihatmu menangis nantinya!" Sahut Ryu kecil.


"Ya sudah. Aku tidak akan repot untuk membujukmu! Ada makanan untukmu di meja!" Seruku.


Brak!


Aku pergi dengan membanting pintu karena kesal kepada Ryu kecil yang sok tau itu! Namun kekesalanku berangsur-angsur menghilang begitu melihat Zen memakai baju basket tanpa lengan, celana pendek dan ikat kepala, "Hai Kei. Sudah siap?" Tanya Zen.


Aku mengangguk, jantungku seperti berebutan untuk segera keluar dari tempatny, "Su...sudah siap." Jawabku.

__ADS_1


Cup!


Zen mengecup pipiku, "Kamu cantik sekali memakai pakaian olahraga." Katanya.


Blush!


Kembali rasa panas menjalar sampai wajahku. Zen menawarkan tangannya untuk menggandengku dan aku menerima tangan Zen dengan senang hati.


Ini semua salah Ryu, kenapa dia membuat Zen tampan sekali seperti ini sehingga sulit untukku berpaling darinya.


Begitu sampai di lapangan ternyata ada Ryu dan Iria. Aku terpana memandangnya karena dia tidak kalah tampan dari Zen. Aku rasa sistem permainan ini akan bingung menetukan hatiku.


Kami bermain dua lawan dua, hanya sekedar bermain dribble saja. Tapi antara Zen dan Ryu seolah mereka melakukan seleksi untuk masuk ke dalam tim nasional.


"Kei, ke samping!" Teriak Zen.


Aku menerima passing bola dari Zen dan melakukan lay up,


Zrank!


Dengan mulus bola itu masuk ke dalam keranjangnya.


"Not bad." Ucap Zen tersenyum.


Ya Tuhan kalau saat ini aku pingsan itu bukan karena kelelahan tapi aku tidak sanggup menahan ketampanan Zen.


Sekali lagi Zen mendribble bola dan memberikannya kepadaku, tidak selalu masuk ada beberapa kali Zen harus melakukan rebound karena lemparan bolaku mencuat keluar.


Tim kami unggul dari tim Ryu dan itu membuat Ryu menantang Zen untuk melakukan three point sebanyak tiga kali berturut-turut.


"Zen, lawan aku." Tantang Ryu. Mereka melakukan offense dan defense serta mencetak angka dengan three point.


Ryu menatapku tajam dan Iria melihat gerakan mata Ryu, Zen juga memandang ke arahku. Bagaimana ini?


Jantungku tidak berhenti berdetak, aku tidak tau harus memihak kepada siapa. Kalau aku memihak Ryu maka hati Ryu berubah menjadi hijau, namun andaikan aku memihak Zen hatiku berubah menjadi warna merah.


Zen berhasil mencetak angka untuk pertama kalinya dan mendapatkan score 3. Tembakan pertama untuk Ryu gagal.


Tembakan kedua Zen gagal dan sebaliknya Ryu berhasil. Sekarang score mereka berimbang.


"Kei, dukung aku!" Teriak Zen. Dia berlarian di lapangan dan tertawa aku akui dia seperti bintang di tengah lapangan itu. Bintang yang bersinar dengan sangat terang.


"Kei, Zen itu kekasihmu kan? Dukunglah kekasihmu!" Kata Iria ketus.


"Aku tau! Tapi mereka berdua bermain dengan baik jadi tidak ada salahnya aku mendukung mereka!" Balasku.


Saat ini Ryu dan Zen sedang memperebutkan bola, Zen masih menguasai bola dan memunggungi Ryu. Zen memberikanku flying kiss di tengah pergulatannya dengan Ryu.


Deg! Bagaimana ini? Aku tidak bisa berpaling dari Zen.


Zrank!


"Game Over! 6-3 aku menang Ryu!" Sahut Zen berlari mengitari lapangan kemudian mendekatiku dan menciumku seolah kami sudah lama tidak bertemu.


Drrrt!


Drrrt!


Suara apa itu?


Aku melihat ke atas. Ke hatiku lebih tepatnya, betapa terkejutnya aku warnanya berubah menjadi merah.

__ADS_1


Dan ada suara gema yang sangat besar, "Game Over!"


...----------------...


__ADS_2